Mas Harsa

Mas Harsa
Masa lalu kelam


__ADS_3

Suji ibaratnya udah masuk kedalam lubang buaya saat terima pinangan Varres. Udah jadi rahasia umum kalo Varres tuh agak belok.


Ara pernah pergoki Varres jalan sama pacar cowoknya dan masuk ke sebuah hotel, dan itu gak cuma sekali doang tapi udah sering.


"Gak ada yang tau. Papi gue, Hani. Dan juga lo, Olla.. Harsa cuma cerita hal ini ke gue karena dia rasa dia lebih nyaman kalo berbagi cerita sama saudara kembarnya." ucap Jillian lirih.


Hani udah angguk disana sambil usap punggung Jillian. "Aku bisa ngerti kok, Beb."


Begitu pula dengan Seolla, mungkin kalo dia juga punya saudara kandung, dia juga bakalan lebih nyaman buat cerita sama saudaranya itu.


"Waktu kita masih umur lima tahun, kedua orang tua kita cerai. Harsa ikut mami, gue ikut papi." Jillian mulai cerita lagi.


Seolla udah pernah dengar cerita ini dari Harsa sebelumnya dan sama persis.


"Lima tahun setelah perceraian, mami gue nikah sama Varres."


Kalo ini, Seolla belum tau. Seingat dia kala itu Varres pergi ke luar negeri buat lanjutin pendidikan dia. Setelah itu Seolla gak pernah denger kabar mengenai Varres lagi.


"Gue emang gak pernah berada disana, tapi gue bisa bayangin ketakutan seperti apa yang harus dihadapi sama saudara kembar gue setiap harinya. Tiap Harsa pulang sekolah, dia selalu disambut sama Varres yang terlihat seperti sosok monster dimata dia." ucap Jillian.


"Sorry, Olla.. Gue ngomong kayak gini, tapi beneran paman lo itu gak normal, dia suka sama sesama jenis." sambung Jillian.

__ADS_1


Seolla gak pernah tau fakta ini. Harapan Seolla cuma satu sekalipun itu mustahil, Seolla berharap Varres yang Jillian maksud bukan lah Varres sang paman.


Di dunia ini 'kan banyak Varres-Varres yang lain, gak cuma satu orang doang! Bisa aja 'kan mereka salah orang?!ㅡtapi kayaknya enggak!


"Dua bulan setelah pernikahan doang Varres perlakukan Harsa dengan baik sampai Harsa merasa bersyukur dia punya papa baru yang beneran tulus sayang sama dia. Tapi setelah mami di terima kerja di tempat baru yang wajib'in mami banyak habisin waktu di perusahaan. Rumah rasanya bagaikan neraka dimata Harsa. Di usia dia yang baru menginjak sepuluh tahun, dia hampir aja diperkosa sama si Varres. Si monster itu suka sama Harsa!"


Seolla langsung kehilangan kata-kata, hati dia sakit banget denger apa yang udah dialami sama Harsa.


"Bebㅡ" Hani udah shock disana. "Kasian Kak Harsa."


"Selama nikah Varres cuma numpang hidup doang! Gak peduli sama mami yang kerja keras banting tulang, bahkan saat mami hamil anak Varres yang pertama dan kedua dia tetep kerja buat penuhi kebutuhan keluarga mereka. Sementara Varres dengan kurang ajarnya dia selalu bawa pacar cowoknya pulang ke rumah, ngelakuin hal yang gak bener disana, tanpa sepengetahuan mami tentunya, dan anceman buat Harsa kalo sampe berani ngadu."


"Puncaknya ketika Varres udah gak tahan lagi sama larangan Harsa buat bawa pacar cowoknya main ke rumah. Varres sama pacarnya kompak hajar Harsa, saat udah lihat Harsa yang gak berdaya, Varres manfaatin hal itu dengan kerja sama bareng pacarnya. Mereka ambil banyak foto Harsa yang pelukan sama pacar Varres diatas ranjang tanpa pakaian. Pacar si Varres ini meskipun cowok tapi lemah gemulai, itu awal mula si Harsa takut banget sama banci."


Oke.. Seolla paham sekarang.


"Varres tunjukin hasil foto itu ke mami gue dan sukses bikin mami gue murka. Gak sampe disitu doang, Varres bahkan sebarin rumor Harsa secara luas hingga orang-orang disekitar dia mulai jauhin dan bahkan buli dia di sekolah. Mereka semua anggap Harsa anak yang gak normal. Hubungan Harsa dan mami sempat merenggang kala itu, mami gue gak lagi sapa dan peduli'in Harsa. Mami gue tau kalo Varres sering main tangan, dia bahkan bisa lihat dengan jelas luka-luka di tubuh Harsa yang makin bertambah di setiap harinya tapi mami tutup mata akan hal itu. Anggap itu sebagai bentuk didikan keras dari Varres biar Harsa bisa kembali normal. Dari umur sepuluh tahun hingga delapan belas tahun, delapan lamanya Harsa selalu dihantui sama rasa takut dan kesakitan."


Seolla dan Hani bisa lihat kedua mata Jillian yang udah berkaca-kaca.


"Kapanpun itu, setiap harinya, saat mami lagi gak ada di rumah, pintu kamar Harsa selalu berusaha didobrak ama Varres. Dia kesel karena Harsa selalu ngelawan dan bikin kebutuhan biologis si Varres gak tersalurkan. Sangking putus asanya, Harsa pernah nekat buat bunuh diri."

__ADS_1


Hani udah nangis tersedu-sedu disana, dia udah gak tahan lagi denger cerita masa lalu kakak iparnya yang kelam. Dia beranjak dari tempatnya duduk, nyamperin Harsa di ranjang pasien.


"Kak, ayo bangun! Gue mau kasih lihat ke lo, gimana cara bunuh si Varres itu!" ucap Hani makin nangis.


Tentu aja Harsa gak bakalan denger ataupun ngerespon ucapan Hani. Obat-obatan yang tadi sempet diberikan sama dokter buat dia tertidur lelap, semakin masuk kedalam alam mimpinya yang tenang dan damai, sejenak melupakan masalah yang tengah dia hadapi saat ini.


"Walaupun pada akhirnya mami sadar kalo Varres tuh busuk setelah pergoki dia jalan bareng sama pacar cowoknya dan pada akhirnya mereka milih buat bercerai, tapi itu udah terlambat banget sih.. Meskipun sekarang semuanya kelihatan baik-baik aja tapi mami masih sering merasa bersalah sama Harsa dan terus menerus minta maaf. Hubungan mami sama Varres emang udah selesai, tapi urusan Varres dan Harsa gak bakalan ada ujungnya. Varres berusaha buat rusak hidup Harsa dan sampe sekarang pun masih."


"G-gue gak tau, Ji.. jujur aja gue bingung." ucap Seolla yang udah nangis disana. "Gue malu, gue ngerasa bersalah dan gue nyesel atas apa yang udah paman gue lakuin ke mas Harsa."


"Olla, lihat gue.." pinta Jillian.


Seolla segera nurut.


"Ini bukan salah lo, sekalipun Varres ada hubungan darah sama lo, lo gak ada sangkut pautnya sama masalah ini." jelas Jillian.


Seolla masih nangis sesenggukan disana. "Gue gak tau gimana caranya gue tunjukin muka gue dihadapan mas Harsa setelah ini!"


"Enggak, Olla.. Lo harus tau satu hal. Sejak Harsa mutusin buat pergi dari Maldives dan kemudian pindah disini. Dia rajin pergi konsultasi ke psikolog. Tapi udah hampir setahun ini, gue lihat dia udah gak pernah pergi konsultasi lagi, dan gue menyadari itu bertepatan dengan sejak dia kenal sama lo. Artinya.. Lo tuh semacam penyembuh bagi Harsa. Dia butuh lo, Olla. Gue mohon dengan sangat sama lo, jangan pernah lo berpikir buat pergi tinggalin Harsa." ucap Jillian.


***

__ADS_1


__ADS_2