
"Harus banget ya ngobrolnya didalem kamar?" tanya Seolla curiga.
"Gue lebih nyaman disini. Lo keberatan?"
Kok?
Lo-gue lagi ngomongnya?
"Gak, asal jangan dikunciin aja pintunya, biarin tetep terbuka." bales Seolla.
Alvaro ketawa kenceng. "Apa sih? Gue gak nafsu ya ama lo!" tapi tetep aja tuh pintu di tutup sama dia.
Seolla merasa tersinggung.
"Lagipula Camelia masih mampu kok penuhi hasrat gue setiap harinya."
Seolla jelas kaget dengar omongan Alvaro, mereka udah sejauh itu dan bablas kemana-mana ternyata.
"Makanya gue lebih milih buat nikahi dia. Karena semua yang gue mau ada didalam diri Camelia."
"Selamat deh kalo gitu." bales Seolla udah terlanjur males duluan.
Alvaro cuma pasang raut heran. Seharusnya jawaban Seolla yang dia mau tuh gak kayak gini!
Harusnya Seolla sadar diri, tau kesalahan dia apa yang kemudian mohon-mohon ke Alvaro biar mereka bisa kembali seperti dulu lagi.
"Gue tadinya kesini mau lo pikirin sekali lagi buat gak batalin pernikahan kita. Gue udah berencana mohon-mohon ke lo, bahkan kalo perlu sujud dibawah kaki lo segala, rela buang harga diri gue. Tapi setelah denger omongan lo ini. Gue jadi bersyukur karena gue gak perlu ngelakuin hal-hal rendahan seperti itu sama cowok nafsuan macem lo!"
"Apa maksud lo ngomong kayak gitu?!" tanya Alvaro kelihatan gak terima.
"Gak ada! Do'a dari gue, semoga pernikahan lo sama Camelia dua minggu yang akan datang bisa berjalan dengan lancar ya. Langgeng terus sampe kakek nenek." bales Seolla sebelum dia pergi.
Alvaro tiba-tiba aja halangi langkah Seolla didepan pintu.
"Minggir! Gue mau keluar!" pinta Seolla gak tahan lagi lihat wajah Alvaro.
"Empat tahun terakhir lo biarin gue menderita! Cuma bisa bayangin tubuh polos lo dibawah kungkungan gue. Bahkan mimpi'in lo tiap malem! Udah selama itu lo nyiksa gue, Seolla Kamala! Lo benar-benar definisi dari cewek gak tau diri ya?!"
Seolla ketawa sinis denger omongan Alvaro. "Tadi lo bilang gak nafsu ama gue, tapi ternyataㅡoke, Al.. gue paham."
Alvaro sadar kalo dia baru aja buka kedoknya sendiri.
"Empat tahun dan tersisa sebulan lagi tapi lo rusak dengan pengakuan sehari saat kita berada di butik kemarin. Terus sekarang lo malah salahin gue? Ngaca lo!"
Seolla coba buat terobos keluar dari kamar Alvaro, tapi Alvaro malah dorong dia buat menjauh dari pintu.
__ADS_1
"Lo gak bakalan gue biarin keluar dari sini!"
"Apa perlu gue teriak sampe kedengaran mama dan Camelia dibawah sana?!!" ancem Seolla yang sebenarnya udah merasa mulai ketakutan, cuma dia berusaha tutupin.
"Silahkan! Asal lo tau aja, kamar gue ini didesain kedap suara." bales Alvaro.
Dan Seolla gak bisa sembunyiin raut paniknya lagi.
Gimanapun juga, Seolla tuh cewek! Sekuat-kuatnya Seolla, tenaga dia tuh bakalan tetep kalah sama Alvaro.
Meskipun Seolla udah ngelawan sekuat tenaga, tetap aja dia bisa dilumpuhkan Alvaro dengan mudah hingga jatuh terlentang diatas permukaan kasur.
"Gak, Al! Biarin gue keluar dari sini! Perasaan gue udah lo hancurin hingga lebur gak tersisa! Jangan lo tambah dengan ngerusak tubuh gue!"
"Gue gak peduli! Malem ini, lo bakalan jadi milik gue!" balas Alvaro yang udah kesetanan.
"Al! Ingat Camelia! Dia sama mama nunggu lo dibawah!" teriak Seolla hampir putus asa.
Alvaro beneran gak peduli, udah lama dia tahan diri, sekarang ini waktu yang pas buat wujud'in fantasi liarnya.
Posisi tubuh Seolla udah berada dibawah kungkungan Alvaro. Bibir Alvaro bahkan udah mendarat dibibir Seolla. Ini adalah puncaknya, rasa benci Seolla ke Alvaro.
Benci sebenci-bencinya!
Pintu mendadak terbuka, Ela dan Camelia ada disana. Mergoki mereka pada posisi yang gak seharusnya.
"Alvaro!!" teriak Ela gak percaya dengan apa yang barusan dia lihat.
Alvaro buru-buru bangkit dari posisinya dengan ekspresi panik. "Dia ngerayu aku!"
Sementara Seolla disana masih dalam keadaan shock.
"Dasar cewek murahan!" seru Camelia emosi. Camelia tarik tangan Seolla dengan kasar sampe Seolla bangun dari posisinya.
"Alvaro, dia hampirㅡ"
Tamparan keras dengan segera Camelia layangkan, hingga Seolla gak bisa lagi lanjutin kalimat yang pengen dia ucapkan.
Sudut bibir Seolla berdarah akibat perbuatan Camelia. Meskipun masih merasa shock berat, Seolla lari keluar dari kamar Alvaro setelah raih tasnya yang tergeletak diatas permukaan lantai.
***
Harsa masuk kedalam mobil, dia lihatin Seolla masih nangis disana.
"Coba sini mas lihat. Ijin obatin luka dibibir adek ya?"
__ADS_1
Harsa baru aja balik dari apotik, beliin salep buat luka sobek dibibir Seolla. Harsa ambil selembar tisu, bersihin sisa darah dibibir Seolla.
Dapat perlakuan gitu, Seolla gak bisa tahan buat gak meringis sakit. Lumayan perih juga ternyata efek dari tamparan Camelia.
"Sabar ya.." ucap Harsa. 'Gue harus kuat! Gue gak boleh mimisan cuma gara-gara ini. Anggep aja gue lagi obatin bibir si Jillian.' Harsa terus ulang kalimat itu dalam hati.
Harsa keluarin sedikit salep dijari telunjuk dia, secara hati-hati mulai olesin dibibir Seolla.
"Perih gak, dek?"
Seolla geleng pelan.
"Untung aja tadi mas nungguin lo disana." ucap Harsa.
Coba kalo gak, pasti bakalan kebingungan banget si Seolla.
"Iya, mas.. makasih atas bantuannya yang kesekian kalinya." bales Seolla.
"Iya, sama-sama. Bentar ya, tadi mas pesan martabak manis sama martabak telor disana buat ayah ama bunda. Mas mau tanyain ke abangnya masih lama gak jadinya? Kalo masih ntar minta dianterin aja ke mobil kalo udah jadi."
Seolla gak jawab, emang sejak keluar dari rumah Alvaro dia jadi sering blank, kebanyakan bengong mulu.
Harsa ngerasa ngeri pas lihat Seolla yang tiba-tiba aja usap-usap kasar bibir dia pake tangan, sampe tuh luka kembali keluarin darah.
"Dek, lo kenapa sih?" Harsa tangkap tangan Seolla biar dianya berhenti. "Bibir lo berdarah lagi tuh!"
Lagi-lagi Seolla gak jawab, malah nangis.
"Lah? Kok nangis lagi? Udah dong, dek! Mas ikutan nangis juga nih!" ancem Harsa kayak bujuk keponakan tetangga.
"Gue jijik, mas! Gue jijik sama bibir gue sendiri!" jawab Seolla marah.
"Emang bibirnya kenapa sih, dek? Kalo perkara itu luka, besok juga bakalan baikan kok! Jadi gak perlu merasa jijik." ucap Harsa salah paham.
"Bukan itu!"
"Terus apa?"
"Alvaro tadi maksa ***** bibir gue! Gue marah dan kesel sama diri gue sendiri karena gak bisa lawan dia! Gue benci Alvaro! Bibir gue udah gak suci lagi!" Seolla jelasin sambil nangis kejer.
"Nyebut, dek! Astaga.."
Seolla malah makin nangis.
***
__ADS_1