Mas Harsa

Mas Harsa
Klinik Sehat Sejahtera


__ADS_3

Seolla udah lirik sinis kearah Harsa. "Kenapa gak diangkat?"


Jeli amat itu kedua mata Seolla sampe bisa lihat siapa yang lagi hubungi Harsa.


"A-aku tolak nih.." bales Harsa gelagapan yang segera tolak telfon dari Monica.


Seolla dengus sebel.


"Dekㅡ"


"Itu yang kamu bilang gak bakalan gangguin kamu lagi?" sela Seolla nyindir.


"Aku juga gak tau, dek. Tapi beneran dari kemarin Monica emang gak ada hubungin aku sama sekali, baru kali ini kok." Harsa jelasin pake raut wajah frustasi.


Seolla cuma pasang wajah datar ogah bales ucapan Harsa.


Beberapa saat kemudian Monica kembali hubungi HP Harsa lagi yang bikin Harsa kaget pas lihat layar HP-nya.


"Tuh 'kan!" lagi-lagi Seolla ngerasa kesel.


"Aku matiin deh HP-nya biar dia gak bisa hubungi aku lagi." ucap Harsa pasrah.


Dia sebenarnya udah capek disalah-salahin mulu sama Seolla, padahal Harsa 'kan emang gak ngapa-ngapain sama Monica, jalin hubungan dibelakang Seolla juga enggak.


Ini tuh emang murni salah paham doang!


"Sini!" Seolla udah sodorin tangan dia buat minta HP Harsa. "Biar aku aja yang angkat, sekalian mau tau dia pengennya apaan!"


"Udah, dek.. Daripada ribut mas matiin aja HP-nya."


"Apa sih? Mas takut ketahuan?" tuduh Seolla tanpa alasan.


"Ketahuan apa? Orang mas gak ngapa-ngapain." bales Harsa.


"Ya kalo gitu angkat! Aku pengen denger dia ngomong apa sampe hubungin kamu terus-terusan."


"Gak, dek! Gak usah, ntar yang ada kamu bakalan salah paham lagi." tolak Harsa.


"Kalo kamu gak angkat sekarang justru aku bakalan lebih salah paham lagi." bales Seolla.


Susah sih ini.. Pada akhirnya Harsa milih buat ngalah aja.


"Ya udah iya.." ucap Harsa pasrah.


"Loudspeaker aktif'in!" pinta Seolla.


"Iya.." Harsa angkat tuh telfon dari Monica.


"Halo.."

__ADS_1


"Halo.." kedengaran suara orang diseberang sana tapi bukan Monica melainkan suara laki-laki.


Harsa yang ngerasa heran coba buat cek layar telfonnya sekali lagi dan bener kok itu nomer HP Monica.


"Ini siapa ya? Yang punya HP orangnya kemana?" tanya Harsa.


Harsa masih coba buat berpikir positif. Kali aja HP Monica jatuh di suatu tempat kemudian ditemuin sama orang ini. Bisa aja 'kan?


"Oh iya.. Ini saya Andreas, salah satu perawat yang bekerja di Klinik Sehat Sejahtera. Mau menyampaikan kabar kalau yang punya ponsel saat ini sedang berada di Klinik kami." laki-laki itu kasih penjelasan.


"Iya, terus? Kenapa, mas? Kok bisa sampe ke Klinik." tanya Harsa, perasaan dia udah gak enak aja.


"Yang punya ponsel ini tadi pingsan di minimarket, pak."


"Hah?! Terus gimana sekarang?" Harsa udah panik duluan.


"Bapak tenang dulu.. Ini pasiennya tadi udah kami tangani dan keadaanya juga udah baik-baik saja. Kami hanya mencoba untuk memberikan informasi karena pasien tidak ada identitas sama sekali saat dibawa kesini. Kami coba cek ponselnya dan pesan terakhir yang dia kirim adalah ke nomor bapak jadi pihak Klinik berinisiatif menghubungi bapak untuk menyampaikan kabar ini."


"Klinik Sehat Sejahtera 'kan, mas?" Harsa coba tanyain sekali lagi, takutnya dia salah denger tadi.


"Iya, benar.."


"Saya bakalan segera nyusul kesana, sementara tolong jaga pasiennya sampe saya datang." ucap Harsa buru-buru.


"Baik, bapak.."


Sambungan telfon berakhir setelah itu, Harsa mau langsung main cabut aja, lupa kalo Seolla masih ada disana.


"Yuk, dek! Kamu ikutan sekalian aja!"


"Ogah!"


"Dekㅡ"


"Kalo kamu mau pergi ya pergi aja! Gak usah pake bawa-bawa aku segala!"


"Biar gak salah paham, dek!"


"Udah salah paham! Kelihatan jelas loh dari ekspresi kamu kalo kamu sebenernya masih ada sesuatu sama si Monica ini! Udah pergi sana, aku mau pulang aja."


"Dek, aku begini karena gak mau jadi seseorang yang selayaknya kacang lupa sama kulitnya. Coba deh kamu bayangin kalo aja kamu yang berada diposisi aku, dulu dia yang buat aku bangkit dari keterpurukan. Sekarang ini giliran dia yang jatuh terpuruk.. Dia disini cuma kenal sama aku, dek! Masa iya aku diem aja? Tutup mata seolah gak lihat apa-apa. Itu kejam namanya, dek.."


Pada akhirnya, sekalipun masih merasa kesel Seolla tetep ikutin Harsa. Bukan karena dia peduli sama Monica, dia terpaksa ikut karena gak mau Monica bakalan macam-macam kalo lagi gak ada Seolla disekitar Harsa.


Ntar tuh orang malah keblablasan!


***


📍 Klinik Sehat Sejahtera..

__ADS_1


Seolla ditinggal sendirian barengan sama Monica yang lagi tiduran dengan posisi membelakangi Seolla disana.


Monica kayak yang ogah lihat wajah Seolla.


Sementara Harsa dia lagi dipanggil dokter buat dengerin penjelasan masalah kondisi Monica juga urusin masalah administrasi.


Ada kali sekitar dua puluh menitan Harsa baru balik lagi kesana.


"Dek.."


"Gimana, mas? Perlu rawat inap gak dia?" Seolla tunjuk Monica pake dagu.


Seolla gak tau hal apa yang udah buat Harsa jadi selesu ini, dia bahkan jawab pertanyaan Seolla pake gelengan pelan doang.


"Dokter bilang apa, mas?" tanya Seolla penasaran.


"Bentar, dek. Mas kudu tanyain secara langsung ke Monica tentang masalah ini." jawab Harsa.


Seolla angguk paham, dia kasih jalan buat Harsa jalan deketan ke ranjang pasien tempat Monica rebahan disana.


"Dia tidur ya, dek?" tanya Harsa.


"Enggak kok." jawab Seolla, karena emang gak, tadi dia lihat Monica bahkan lagi nangis.


"Mo, gue mau ngomong sesuatu sama lo. Lo hadap gue bentar deh, sini.." ajak Harsa.


Monica langsung nurut, dia balik badan terus ambil posisi duduk ditepi ranjang. Harsa dan Seolla bisa lihat wajah Monica yang sembab habis mewek.


"Kenapa lo gak jujur sama gue dari awal? Kalo ternyata lo tuh hamil." tanya Harsa pake nada alus.


Seolla kaget denger pertanyaan Harsa.


"Hamil? Anak siapa, mas? Bukan anak kamu 'kan?" tanya Seolla ngawur.


Harsa cuma bisa hela nafas mencoba buat sabar.


"Dek, please.. Jangan kumat kamu! Dokter bilang usia kandungan Monica udah hampir tiga bulan loh. Aku baru ketemu sama dia dua minggu yang lalu. Jadi gimana ceritanya kamu anggap itu anak aku?"


"Iya maaf.. Tadi itu reflek, mas.. Habisnya akhir-akhir ini kamu selalu bikin aku su'udzon mulu." bales Seolla.


Harsa udah balik ke Monica lagi. "Gue bakalan kasih lo biaya buat balik ke Maldives."


"Gue gak mau!" Monica tatap Harsa pake ekspresi marah.


"Itu anaknya Johan 'kan? Dia berhak tau kalo lo lagi hamil anaknya. Sini, bagi gue nomor HP si Johan, kalo lo gak mau pulang biar dia aja yang jemput lo kesini." bales Harsa.


"Sekali gak ya gak!" sentak Monica, dia udah nangis lagi disana.


'Situasi macam apa ini?' batin Seolla ngerasa gak nyaman.

__ADS_1


"Pergi lo dari sini! Tinggalin gue sendiri! Gue gak butuh lo, Maung!" usir Monica.


***


__ADS_2