
"Saya seblak-nya level lima ya, bang." Seolla ngomong sama tukang seblak.
"Pedes gak tuh?" tanya Harsa penasaran.
"Banget."
"Turunin lah.."
"Apanya?"
"Levelnya. Dua aja."
"Gak mau, orang maunya yang pedes."
"Berak api lo besok pagi, dek!"
"Bodo!"
"Bang, saya level setengah aja."
Seolla udah pasang wajah datar denger pesenan Harsa.
"Eh gak, bang! Level seperempat aja deh." ralat Harsa.
"Kenapa sih, mas? Gue gak paksa lo ikutan makan kok, temenin doang udah cukup."
"Gue juga penasaran sama rasanya seblak, dek. Baru kali ini gue makan ginian." ucap Harsa.
"Gue gak tanggung jawab ya kalo besok perut lo sakit."
"Lo segitu khawatirnya sama gue ya, dek? Makasih ya udah perhatian." si Harsa salah fokus.
"Males ah! Gue mau cari tempat duduk dulu. Mas pesenin minuman dong sekalian."
"Mau minum apa?"
"Es teh anget."
"Oke."
Seolla udah jalan menjauh cari tempat duduk disana.
"Lah? Es teh anget tuh gimana maksudnya?" gumam Harsa bingung.
Abang yang jualan seblak tanya Harsa mau pesen minuman apa? Tapi dia masih bingung sama omongan Seolla tadi.
"Teh anget deh, bang. Tiga ya." ucap Harsa pada akhirnya.
Sengaja dia pesan minumnya tiga gelas. Jaga-jaga kalo nanti seblak-nya pedes mampus, Harsa udah punya dua gelas minuman. Seolla satu aja udah cukup, dia mah udah pro sama makanan pedes.
Sepuluh menit kemudian, seblak pesenan mereka udah dateng.
"Ngiler banget, enak nih pasti." seru Seolla girang.
"Serem, dek! Kuahnya merah menyala gitu."
Punya Harsa warnanya pucet, gak mengundang selera Seolla buat nyobain. Gak lama dari itu pesenan minuman mereka juga dateng.
"Bang, ini satu gelas lagi kayaknya salah meja deh." ucap Seolla pas tuh abang seblak taruh tiga gelas teh anget di meja mereka.
"Gak salah kok, dek. Emang mas sengaja pesen tiga gelas tadi, takut kepedesan." sahut Harsa.
"Oh, tapi mas kok teh anget sih? Gue 'kan bilangnya es teh." Seolla protes.
"Lo bilangnya es teh anget ya, dek. Mas mana paham sih?"
Seolla cemberut.
"Pesenin lagi gak? Yang baru?" Harsa tawarin.
"Gak usah."
"Jangan ngambek."
"Enggak."
__ADS_1
Seolla mulai makan seblak punya dia. Harsa juga, makan sesuap udah keringetan, minum teh hangat hampir setengah gelas.
"Payah ih!" ejek Seolla tapi Harsa masa bodo.
Harsa coba makan sesuap lagi, habis teh anget dua gelas. Bibir rasanya udah jontor, Harsa gak kuat, pengen nyerah aja.
"Dek.."
"Hm?" Seolla masih asik nikmatin seblak.
"Bagi minum dong!"
"Ambil aja."
"Nanti mas beliin yang baru."
"Gak usah, mas.."
"Emang gak kepedesan?"
"Kurang pedes malah."
Harsa menganga gak percaya.
Mungkin lidah Seolla udah mati rasa. Gak cuma lidah tapi perasaannya juga udah mati rasa gara-gara Alvaro. Malang banget emang!
"Dek.."
"Apa sih? Panggil-panggil mulu."
"Lo sadar gak? Kita udah sejauh ini tapi masih belum kenal satu sama lain."
Bener sih! Bahkan tadi udah saling tempelin bibir satu sama lain didalam mobil. Ups!
"Biar cepet saling mengenal satu sama lain, gimana kalo kita saling lempar pertanyaan satu sama lain secara bergantian? Tanya apa aja yang lo pengen tau tentang gue, begitu pula sebaliknya, gue bakalan tanya apa aja yang pengen gue ketahui tentang lo."
"Oke."
"Gue mulai duluan ya?"
"Nama lengkap lo siapa, dek?"
"Seolla Kamala. Kalo mas nama lengkapnya siapa?"
"Harsa Adrian Kawindra." jawab Harsa. "Umur lo berapa, dek? Sekalian sama tanggal lahir deh."
"Dua puluh sembilan tahun, tanggal lahir enam Maret. Pertanyaan yang sama buat mas juga."
"Gue tiga puluh tahun, tanggal lahir lima belas Juni. Asli orang mana?"
"Orang sini-sini aja. Sejak lahir sampe sekarang gue belum pindah-pindah."
Harsa angguk paham.
"Mas berapa bersaudara?"
"Dua bersaudara doang kalo dari papi Doni dan mami Suji. Gue ama Jillian."
"Jillian tuh adek lo ya, mas?" ini Seolla beneran penasaran sih, soalnya dia inget Harsa pernah bilang kalo Seolla tuh mirip sama adeknya.
"Iya. Lebih tepatnya saudara kembar gue."
"Beneran kembar?"
"Beneran, ntar gue kenalin deh. Kalo dilihat-lihat terus nih ya, wajah kita tuh sebenernya mirip banget loh meskipun kata orang-orang gak ada mirip-miripnya sama sekali."
Harsa teguk teh anget sebelum dia mulai cerita lagi. Haus juga loh ternyata..
"Dulu pas gue sama Jillian masih umur lima tahun, papi sama mami cerai. Gue ikut mami, Jillian ikut papi."
"Sempet pisah dong kalian?"
"Lama banget, dek. Gue ama Jillian aja baru tinggal barengan lagi pas udah lulus SMA."
"Untung adek lo gak lupa ama lo ya, mas?"
__ADS_1
Harsa ketawain pikiran gak masuk akal Seolla. "Ya gak lah. Gak mungkin juga. Kalo lo anak tunggal ya, dek?"
"Iya, mas.. kata ayah sama bunda biaya hidup tuh mahal. Jadi punya satu anak aja udah cukup."
"Oh, jadi itu alasannya. Padahal sebenernya bagus loh kalo lo punya saudara kandung."
"Kok bisa?" tanya Seolla penasaran.
"Iyalah.. rugi tuh ayah sama bunda cuma punya anak satu doang!"
"Rugi gimana? Kan enak, gue doang yang jadi prioritas mereka."
"Gimana gak rugi, padahal bibit mereka bagus banget, dek. Buktinya ya lo ini, tumbuh jadi wanita yang cantik."
Cinta udah menyapa, jadi Harsa gunain segala cara buat modusin Seolla.
"Yee, modus mulu kerjaan lo, mas!" Seolla tutupin rasa malu dia pake ekspresi sebel.
"Oh ya, mas."
"Apa cantik?"
Ekspresi Seolla langsung berubah datar. Masih aja si Harsa, modus jalan terus gak putus-putus!
"Serius ih!" seru Seolla sebel.
"Ya udah, ngomong aja gue dengerin."
"Gue kemarin pas gak sengaja nginep di rumah lo kok orang tua lo pada gak ada, sekarang gue tau sih kalo mereka udah gak bersama lagi, jadi yang tinggal di rumah sama kalian siapa? Papi atau mami?"
"Gak dua-duanya. Gue sama Jillian mutusin buat hidup mandiri sejak usai delapan belas tahun. Mami ada di Maldives sementara papi di Hawaii. Dulu gue tinggal sama mami disana, juga suami barunya, hampir tiga belas tahun lamanya. Dari pernikahan mami dan suami barunya gue jadi punya dua adek perempuan. Sekarang mereka masih barengan sama mami gue disana. Tapi lima tahun yang lalu gue denger mami udah cerai lagi. Papi gue sampe sekarang belum punya keinginan buat nikah lagi, dia di Hawaii jalanin bisnisnya disana." jelas Harsa panjang tapi Seolla gak bosen buat dengerin.
"Panjang juga cerita hidup lo, mas.. menarik gitu buat didenger. Kalo gue mah biasa aja jalan hidupnya, monoton."
"Ceritain dong, dek."
"Intinya sih lima belas tahun pertama hidup gue banyak dipenuhi dengan penyesalan. Kenapa gue harus terlahir ditengah keluarga miskin? Kenapa ayah gue gak bisa menghasilkan banyak uang? Kenapa bunda gak bisa ngertiin apa yang gue mau? Semacam gue orang yang gak tau namanya bersyukur. Lalu empat belas tahun selanjutnya hidup gue diwarnai oleh Alvaro tapi rusak gitu aja dalam sekejap." muka Seolla langsung berubah sedih, inget lagi sama kejadian di butik kemarin.
"Dek, yakin deh.. kebahagiaan lo bakalan dateng sebentar lagi, jadi lo yang sabar ya." hibur Harsa.
"Iya, mas.. tapi ada sesuatu yang bikin gue penasaran sama lo sampe sekarang."
"Apaan?"
"Sejak kejadian malam itu, setelah lo nolongin gue, gue pikir gue gak bakalan ketemu sama lo lagi. Tapi ternyata, hari ini lo malah samperin gue. Kayak kebalik, mas.. seharusnya 'kan gue yang datengin lo buat ucapin makasih."
"Gue 'kan udah bilang. Lo tuh mirip ama adek gue. Jadi gue penasaran pengen makin kenal dekat sama lo."
"Kok bisa gue mirip Jillian? Dia cowok 'kan ya?"
"Iya, emang."
"Lihat fotonya coba. Gue penasaran semirip apa gue sama dia. Apalagi dia cowok sementara gue cewek."
Harsa keluarin HP, cari tuh foto Jillian di galeri. Pas udah ketemu langsung aja dia tunjukin ke Seolla.
"Mas.."
"Apa?"
"Dari segi apa lo bisa anggep gue ama Jillian mirip? Ini tuh gak ada mirip-miripnya sama sekali loh!" komentar Seolla pas udah lihat foto Jillian.
"Emang bukan dari segi wajah sih miripnya." jawab Harsa.
Terus kenapa tadi Harsa turutin aja permintaan Seolla yang pengen lihat wajah Jillian? Padahal udah tau kalo bukan wajah yang bikin mereka mirip.
"Lo ama Jillian tuh punya vibe yang serupa, tapi gak yang sama-sama banget sih, cuma sekitar empat puluh persenan lah kesamaan kalian, jadi gue ngerasa lihat sosok adek gue didalam diri lo. Secara otomatis rasa sayang itu muncul, rasa ingin melindungi, juga rasa marah kalo lo lagi disakiti orang dan gue juga bakalan ngerasa sedih kalo lo sakit ataupun terluka."
Kalo Harsa ngomong gini cuma buat gombalan doang, parah sih dia! Karena udah berhasil bikin Seolla merasa terharu.
Intinya sih Harsa bakalan kualat kalo omongan dia ini gak murni dari dalam hati, Seolla udah taruh harapan besar loh. Baru kali ini dia segitu gampangnya percaya sama orang baru.
Sifat Harsa tuh aneh, tapi bikin nyaman.
Gimana dong?
__ADS_1
***