Mas Harsa

Mas Harsa
Di terima


__ADS_3

Dan sesuai sama tebakan Seolla barusan kalo dia tuh bakalan ditembak sama Harsa.


Gimana nih?


Kok dadakan!


Seolla belum siap karena 'kan dia gak pernah mikir Harsa bakalan seriusin dia secepat ini.


"Mas.." panggil Seolla.


"Ya?" bales Harsa.


"Lo serius?"


"Iya, dek."


"Tapi kok secepat ini? Kita baru kenal kurang dari dua bulan loh." ucap Seolla gak yakin.


Bisa aja 'kan Harsa ini cuma cinta sesaat karena rasa penasaran dia aja.


"Sekarang coba aja lo pikir. Kenapa gue harus repot-repot belain lo? Antar jemput lo udah macem kang ojol? Gue lakuin itu seolah tanpa beban dan ngalir gitu aja. Sehari aja gak ketemu ama lo, gue udah ngerasa kebingungan. Dan akhirnya gue sadar, kalo gue sesayang itu sama lo. Gak sayang doang sih, tapiㅡc-cinta." ucap Harsa makin lirih di akhir kalimat.


'Ya Gusti.. gugup banget gue! Gue harus tetap nafas, gak boleh ditahan-tahan. Ntar kalo gue sampe pingsan 'kan malu sama si adek!' batin Harsa udah jerit-jerit.


Gak pake lama Harsa keluarin sesuatu dari kantong celana dia, itu kotak kecil dengan bahan bludru berwarna peach.


Harsa buka tuh kotak terus disodorin ke Seolla.


"Ini apa, mas?" tanya Seolla kaget, bingung juga.


"Cincin, dek." jawab Harsa polos.


"Ya gue tau kalo ini cincin. Tapi kenapa lo kasih gue cincin segala? Lo cuma nembak gue, mas. Gak perlu pake cincin segala, kita belum ke tahap lamaran lagian." ucap Seolla jelasin.


"Anggep aja ini sebagai hadiah pertama yang mas kasih ke lo pas kita baru aja jadian. Itu juga sih kalo adek mau terima gue jadi pacar." bales Harsa.


"Kenapa, mas?" gumam Seolla.


Harsa udah pasang ekspresi bingung. "Kenapa apanya, dek?"


"Kenapa lo suka ama gue yang katanya mamanya Alvaro gue ini udik dan kampungan?" tanya Seolla pake wajah sedih.


"Lo tuh gak udik, dek.. apalagi kampungan. Mamanya Alvaro aja yang salah nilai lo. Maklumin aja sih, namanya juga orang udah berumur, mungkin aja udah agak rabun, ehㅡ" Harsa sadar barusan ngatain orang yang udah tua, dia takut kualat.


Seolla ketawa.


"Gak apa-apa kok, mas. Emang kadang ucapan yang keluar dari mulutnya mama tuh keterlaluan. Bunda aja gak pernah ngomong kasar ke gue." ucap Seolla curhat.

__ADS_1


"Bunda 'kan orangnya baik, dek." tanggap Harsa. "Jadi ngobrol kemana-mana nih. Gimana, dek? Mas diterima gak?"


Harsa was-was lihat Seolla yang lagi mikir.


Gak lama dari itu Seolla angguk. "Iya, mas.."


Harsa langsung kelihatan gak percaya tapi senyum lebar juga. "Yang bener, dek?"


"Iya, beneran."


Harsa hampir aja loncat kegirangan, tapi segera sadar diri, seenggaknya dia kudu jaim dihadapan pacar baru.


"Gue gak bisa bayangin kalo sampe tolak perasaan lo, mas. Karena akhir-akhir ini selalu ada nama lo yang temani hari-hari gue, bantuin gue, baik sama gue. Gue pikir lo kayak gitu karena gue mirip sama Jillian, makanya mas perhatian sama gue. Gak nyangka sih, kalo mas ternyata ada rasa sama gue."


"Ada satu hal yang lo miliki tapi gak dimiliki oleh Jillian." ucap Harsa yang bikin Seolla penasaran.


"Apa tuh?"


"Senyum manis lo, dek. Beda gitu sama Jillian, dan itu yang bikin gue jatuh hati."


Seolla lagi-lagi ketawa. "Gombal gak nih?"


"Enggak dong! Ini seriusan."


"Tapi mas, pacaran sama gue tuh ribet. Lo yakin bisa tahan?" tanya Seolla masih gak percaya diri.


Iya juga sih!


"Dek, cincinnya lo terima ya? Gue belinya penuh perjuangan loh." bujuk Harsa.


"Malah ngomong kayak gitu. Gue makin gak tega buat terima. Bawa balik aja, mas. Sekalipun gak pake cincin, gue udah jadi pacar lo kok sekarang." bales Seolla.


"Justru gue seneng banget kalo lo mau pake, itu artinya lo hargai perjuangan gue, dek."


Lihat gak ada tanda-tanda penolakan dari Seolla, Harsa keluarin tuh cincin dari dalam kotaknya, dia raih tangan Seolla dan pasang cincin itu tepat di jari manis pacar barunya.


"Pas banget loh, dek.." seru Harsa girang.


Seolla lihatin cincin itu. "Cincinnya cantik, mas."


"Sama kayak yang pake." bales Harsa.


"Mas.."


"Apa, dek?"


"Karena kita sekarang udah resmi jadian. Boleh gak gue minta sesuatu?" tanya Seolla.

__ADS_1


"Minta apa, dek? Kalo bisa pasti mas turutin kok." jawab Harsa.


"Kita manggilnya jangan lo-gue lagi tapi aku-kamu, biar lebih enak dan manis dengernya."


"Ya ampun, dek.. baru aja mas juga mau bahas masalah itu, ternyata malah keduluan kamu."


Malam ini tuh, bakalan jadi malam yang indah bagi Harsa dan Seolla.


Seolla pikir dia gak bakalan bisa jatuh cinta lagi sama cowok manapun setelah dapet perlakuan gak berperasaan dari Alvaro.


Tapi ternyata, Harsa berhasil mematahkan anggapan itu. Malah dalam waktu yang begitu singkat.


"Padahal gak perlu sewa private room segala mas kalo emang niatnya mau nembak aku." ucap Seolla.


Kayak sayang aja 'kan, padahal sekalipun gak di private room, restoran ini udah jadi tempat yang bagus banget buat ungkapin perasaan.


"Gak apa-apa, dek. Karena kamu 'kan orang yang spesial buat aku." bales Harsa.


"Tapi 'kan jadi lebih mahal."


"Sesekali boleh dong, dek. Momen kayak gini 'kan gak bakalan terulang lagi. Jadi aku pengen kasih yang terbaik."


Seolla cuma kasih senyum manis ke Harsa.


Gak lama dari itu pintu private room diketuk dari luar. Setelah di kasih ijin masuk sama Harsa, seseorang masuk kedalam. Pakaiannya rapi, wajahnya ganteng dan bersih, mana wangi pula.


"Perkenalkan, saya Doni. Manager dari restoran K.Young steak house. Bapak Harsa dan ibu Seolla, gimana rasa masakannya? Apakah memuaskan?" tanya Doni dengan senyum ramah.


"Steaknya enak. Saya suka." bales Seolla jujur.


"Saya sangat senang sekali mendengarnya, karena kepuasan pelanggan adalah prioritas utama kami."


Doni kemudian lihat steak milik Harsa yang masih utuh gak tersentuh. Dia langsung pasang wajah kesel.


"Bapak kenapa gak makan steaknya, pak?!" suara Doni naik dua oktaf yang bikin Seolla kaget.


Tiba-tiba banget lagian!


"Gue tadi gugup banget, Don! Takut di tolak Seolla. Maaf, gue gak bermaksud buang-buang makanan enak." bales Harsa pake muka menyesal.


"Jadi gimana hasilnya, pak? Bapak Harsa ditolak atau diterima?" tanya Doni penasaran.


"Diterima dong." jawab Harsa yang udah senyum bahagia.


Sumpah!


Seolla gak ngerti dengan obrolan ini. Mereka kayaknya udah kenal sejak awal. Atau cuma Seolla aja yang salah mengira?

__ADS_1


***


__ADS_2