
07:45
Pagi-pagi Ara udah uring-uringan, sementara Andi coba buat tenangin. Seolla yang baru keluar dari kamar mau berangkat kerja jadi heran sendiri, apalagi pas Ara mulai nangis.
"Kenapa sih, Bun? Yah? Masih pagi loh ini. Kok malah berantem?" tanya Seolla.
"Kita gak berantem, nak." bales Andi.
"Itu buktinya bunda sampe nangis."
"Udah, gak apa-apa." ucap Ara coba buat hapus air matanya. "Kamu mau berangkat kerja 'kan? Hati-hati dijalan ya, Olla."
"Iya, Bun." bales Seolla meskipun dia masih heran kenapa Ara nangis.
Pas Seolla lihat diatas meja ruang tamu. Dia kayak kenal kertas yang tadi sempat Ara lempar dengan asal disana. Seolla nekat ambil itu meskipun udah dilarang sama Andi.
Undangan pernikahan Alvaro dan Camelia.
"Nakㅡ" Andi gak bisa ngomong sementara Ara udah mulai nangis lagi.
"Tega banget mereka, Ya Tuhan.. anak aku udah di khianati, di sakiti sekarang bahkan dengan kurang ajarnya mereka kirim undangan. Dasar keluarga laknat! Pasangan gak berguna!" umpat Ara sangking marahnya, padahal biasanya Ara tuh orangnya kalem-kalem aja.
"Bun, tenang ya.. omongan kayak gitu cuma akan bikin anak kita makin down." ucap Andi usap-usap punggung Ara biar ngerasa tenang.
"Bun, udah tenang aja! Hal kayak gini tuh gak bakalan bikin aku jatuh terpuruk. Justru aku udah siap buat bangkit. Tujuan mereka kirim undangan ini biar aku dateng kesana 'kan? Aku bakalan turutin maunya mereka." ucap Seolla dengan semangat menggebu-gebu.
"Serius kamu mau datang, nak?" tanya Andi.
"Iya, Yah.."
"Nanti kamu kesananya sama siapa?" tanya Andi lagi.
"Sendirian gak apa-apa kok."
Ting tong!
Bel pintu depan bunyi. Padahal ini masih terlalu pagi buat seseorang datang bertamu. Siapa sih gerangan?
Ara hapus air matanya.
"Biar bunda yang buka pintunya." ucap Ara yang kemudian jalan kedepan buat lihat siapa tamu mereka.
"Perasaan sewa rumah bulan ini udah dibayar kemarin. Apa ini tagihan yang lain ya?" gumam Andi ikutin langkah Ara kedepan karena penasaran.
Seolla ngekor aja.
__ADS_1
"Ada kok. Yuk, masuk dulu."
Dari suaranya Ara kelihatan seneng nih, mana sambut tamunya pake senyum lima jari pula padahal tadi baru aja habis nangis, kan Seolla makin penasaran.
"Olla, nih loh dicariin." ucap Ara.
Si tamu masuk kedalam yang ternyata Harsa. Tapi kok ya bertamunya pagi banget? Mana Seolla udah mau cabut buat kerja.
"Pagi, Yah.." sapa Harsa ke Andi.
"Pagi, nak Harsa." bales Andi ramah.
"Nih, Bun. Dari Harsa khusus buat ayah dan bunda." ucap dia sambil sodorin kantong plastik isi berbagai macam buah-buahan.
Dari kantongnya Seolla kenal itu dari 'villa buah' toko buah yang terkenal banget sama kualitas buahnya yang super di kota ini.
"Kok repot-repot sih, nak Harsa. Bunda jadi gak enak sendiri nih." ucap Ara pas udah terima itu kantong.
"Bukan apa-apa kok, Bun. Aku senang banget kalo bunda mau terima itu."
"Makasih loh."
"Iya, Bun. Sama-sama."
"Iya, Yah.. makasih udah di ijinin." bales Harsa pake senyum manis.
"Duduk dulu yuk! Bunda siapin minuman. Nak Harsa udah sarapan belum? Bunda siapin sarapan sekalian ya?" Ara tawarin.
"Eh, gak usah, Bun.. tadi aku udah sarapan di rumah kok. Ini niatnya kesini mau jemput Seolla berangkat kerja." jawab Harsa.
"Padahal aku gak minta loh, mas." ucap Seolla.
Harsa senyum lagi. "Aku yang mau, dek. Gimana dong?"
'Mas kalo ngomong gak pake senyum bisa gak sih? Jangan bikin gue makin jatuh terperosok kedalam pesona lo ya! Bahaya.' batin Seolla udah jerit-jerit gak karuan.
"Loh, dek! Lo diundang?" tanya Harsa pas lihat undangan Alvaro dan Camelia yang gak sadar udah Seolla bawa sampe depan.
"Oh ini.." Seolla lihatin tuh undangan sekali lagi. "Iya, mas.. gak tau deh pikiran mereka pada kemana pas mutusin buat undang gue."
"Dateng lah, dek." ucap Harsa seolah bilang 'Lo harus dateng dan buktiin kalo lo baik-baik aja dan masih bisa bangkit kembali.'
"Emang dateng kok rencananya."
"Gue temenin."
__ADS_1
Seolla langsung kaget.
"Serius nak Harsa mau temenin Seolla kesana?" tanya Ara takut salah dengar.
Andi udah hela nafas lega denger omongan Harsa barusan.
"Iya, Bun. Boleh 'kan aku temenin Seolla kesananya?" tanya Harsa.
"Boleh banget lah, nak Harsa." bales Ara.
"Ayah jadi gak khawatir lagi kalo Seolla ada temennya gini." ucap Andi.
"Makasih banyak mas kalo emang lo mau temenin gue kesana. Karena sejujurnya gue emang pengen dateng, tapi bingung juga kalo cuma sendirian. Untungnya ada lo." ucap Seolla tunjukin senyum lega dia.
"Gemes banget sih dek kalo lo lagi senyum tuh! Sering-sering aja ya." ucap Harsa salah fokus.
Seolla gak bisa bales omongan Harsa. Malu dia dibilang kayak gitu, mana didepan Andi sama Ara pula.
"Ayah? Bunda?" panggil Harsa.
"Ada apa, nak Harsa?" tanya Andi balik.
"Kenapa?" Ara ikutan nanya.
"Boleh gak Seolla-nya buat aku aja? Nanti aku ganti'in sama cucu yang lucu-lucu hehe.."
Untuk kesekian kalinya di pagi hari yang damai ini, Seolla kaget sama perilaku Harsa yang lain dari pada yang lain.
"Kayaknya dalam waktu dekat ini gue mau resign aja." ucap Seolla pas mereka ada di dalam mobil, masih perjalanan menuju hotel tempat dia kerja.
"Kenapa, dek?" tanya Harsa penasaran.
"Mau meniti karir sendiri. Udah lama gue pengen punya butik, mas. Itu cita-cita terpendam gue." jawab Seolla.
"Bagus tuh dek kedengarannya. Mas bakalan dukung lo sebisa mungkin."
Gini nih, bedanya Harsa ama Alvaro.
Dulu Alvaro gak ngebolehin Seolla ngapa-ngapain. Pokoknya kudu cantik aja. Gak usah kerja keras, gak usah meniti karir, karena ujung-ujungnya Seolla cuma perlu di rumah aja ngerawat suami dan Ela.
Kalo Harsa, apapun itu rencanae Seolla, yang penting tujuannya ke arah positif pasti bakalan didukung secara penuh.
"Mamanya Alvaro sering bilang kalo gue ini kampungan, mas. Gak paham fashion, gak kayak Camelia. Beliau juga selalu tuduh gue porotin Alvaro. Padahal gak loh, mas.. mama cuma gak tau cerita yang sebenarnya aja." ucap Seolla yang mulai cerita.
***
__ADS_1