Memperbaiki Traumamu Season 2

Memperbaiki Traumamu Season 2
Bab 21 : Awal Kegelisahan


__ADS_3

Isabel dan Ednan telah sampai di puncak dan menikmati sunset sore tadi. Malamnya mereka sudah memasang tenda untuk di huni berdua. Isabel memasak ramyon untuk dinikmati keduanya di malam yang dingin.


"Bau nya sangat enak" ujar Ednan.


"Tentu saja masakan ku selalu enak" jawab Isabel.


"Apa Nesya berani tidur sendirian?" tanya Ednan.


"Tentu saja dia berani, dia anak yang kuat" ujar Isabel.


"Aku senang sekali akhirnya Nesya merestui kita menikah" ujar Ednan seraya membelai lembut rambut Isabel.


"Tentu saja dia merestuinya, kamu lelaki yang baik" ujar Isabel tersenyum.


"Kamu bisa saja memujiku" jawab Ednan.


"Nesya pasti tahu mana laki-laki yang baik mana yang jahat" ujar Isabel tersenyum.


"Dia sangat berbeda denganku saat SMA, bodohnya aku menganggap semua orang baik" ujar Isabel teringat masa lalu.


"Bel lupakan itu semua, kenapa kamu masih mengingat itu?" tanya Ednan.


"Dia bahkan menghirup udara segar sekarang, kita tidak tahu dia dimana dan apakah dia masih punya rasa dendam pada kita" ujar Isabel lagi mulai ketakutan.


"Bel, kamu aman, dia jauh di luar negeri" ujar Ednan mencoba menenangkan.


"Kamu yakin? bisa saja dia kembali" ujar Isabel lagi.


"Kamu punya aku dan Nesya, kamu tidak boleh merasa ketakutan seperti dulu lagi" ujar Ednan.


"Iya aku tahu, aku juga sangat ingin melupakan ini semua" ujar Isabel lagi.


"Ayo kita nikmati keindahan alam ini tanpa memikirkan apa pun" ujar Ednan.


Ednan dan Nesya makan ramyon bersama menikmati langit dengan sedikit bintang. Ednan memegang tangan Isabel dan kemudian mencium kening wanita itu. Isabel bersandar di bahu Ednan yang hangat.


"Aku merindukan masa-masa bahagia kita dulu" ujar Ednan.


"Aku juga begitu" jawab Isabel.


Mereka berpelukan kembali dan mengingat masa lalu mereka. Ednan mengambil ponselnya dan berfoto dengan Isabel. Setelah lelah melihat bintang mereka akhirnya masuk ke tenda dan istirahat.


Keesokan harinya Qenzo menjemput Nesya ke sekolah. Ednan dan Isabel belum pulang ke rumah. Nesya dan Qenzo hanya diam selama perjalanan.

__ADS_1


"Zo rasanya tadi malam ada yang masuk ke rumah aku deh" ujar Nesya setelah lama saling diam.


"Ah gak mungkin, cuma perasaan kamu aja kali" ujar Qenzo berpikiran pisitif.


"Nggak Zo, aku sangat yakin" ujar Nesya.


"Ada yang hilang nggak?" tanya Qenzo.


"Rasanya sih gak ada, barang" aku pada aman semua" ujar Nesya.


"Tapi aku gak tahu kalau di kamar Mama, soalnya aku gak cek ke sana" lanjut Nesya lagi.


"Sudah lah kamu pasti salah dengar, selaman kan kamh kelelahan" balas Qenzo mencoba menenangkan.


"Iya sih Zo, semoga begitu" jawab Nesya.


Tak lama kemudian mereka tiba di sekolah. Untungnya gerbang belum di tutup, mereka hampir saja terlambat.


"Ayo Nes cepat" ujar Qenzo memegang tangan Nesya agar bisa berlari bersama.


Nesya dan Qenzo berlari menuju ruangan kelas. Mereka belajar seperti biasa tanpa ada kendala yang terjadi. Saat jam istirahat mereka ke perpustakaan dan belajar bersama.


Sementara itu siangnya Ednan dan Isabel tiba di rumah. Isabel hendak bersih-bersih badan terlebih dahulu. Dia masuk ke kamarnya dan ingin mandi di kamar mandi yang berada di kamarnya.


Mendengar teriakan itu Ednan segera menuju ke tempat suara Isabel berasal. Betapa terkejutnya dia menunukan Isabel yang terjatuh di kamar mandi.


"Kenapa Bel?" tanya Ednan.


"Ituuuu lihat" ujar Isabel menunjuk ke arah cermin wastafel dengan suara bergetar.


Terlihat tulisan mengerikan berwarna merah di cermin itu. Seperti disengaja menggunakan lipstik warna merah agar terlihat seperti dar*h.


"Siapa yang melakukan ini" ujar Ednan sangat marah.


'Hai Isabel apa kabar, kamu pasti merindukan aku' isi tulisan mengerikan itu.


"Bel kamu jangan panik, akan mencari tahu apa yang terjadi" ujar Ednan.


"Itu pasti Yudha, diii dia kembali" ujar Isabel terbata-bata ketakutan.


"Kamu jangan takut ada aku Bel" ujar Ednan mencoba menyadarkan Isabel.


Ednan segera menghubungi Helma dan menyuruh gadis itu datang ke rumah untuk menemani Isabel. Mendengar hal itu Helma segera berangkat ke rumah Isabel.

__ADS_1


"Jangan sampai Nesya tahu hal ini" ujar Isabel pada keduanya.


"Aku tidak mau dia khawatir dan kecewa" ujar Isabel lagi.


"Iya Bel kita tidak usah memberitahu hal ini pada anak-anak, biarkan mereka fokus belajar" ujar Helma menenangkan Isabel.


"Kita harus segera melapor polisi atas kasus ini" ujar Ednan.


"Kita lihat dulu cctv depan rumah, kalau kita langsung menghubungi polisi akan menimbulkan keributan" ujar Helma memberi pendapat.


"Aku setuju dengan Helma kita cek dulu cctv di rumah ini" jawab Isabel.


Mereka segera menuju ruangan keamanan dan melihat rekaman cctv. Terlihat seorang pria menggunakan topi hitam masuk ke rumah di malam hari. Wajahnya tidak begitu terlihat dikatenakan tertutup oleh topi dan masker.


"Aku yakin dia orangnya, hanya dia, Qenzo dan Nesya yang terekam cctv semalam" ujar Helma.


"Aku setuju, akan memeriksa seluruh cctv wilayah sini apa ada yang merekam wajah pria ini" ujar Ednan.


"Itu ide yang bagus" jawab Helma.


"Titip Isabel ya, kamu jaga dia baik-baik" ujar Ednan sebelum pergi.


"Kamu tenang saja aku akan menjaga Isabel, kamu fokus saja mencari pelaku nya" jawab Helma selaku wanita yang jago bela diri.


Ednan segera pergi untuk mencari tahu siapa pria itu. Dia pergi ke minimarket terdekat untuk memeriksa pria bertopi hitam itu. Selain itu Ednan juga mengunjungi beberapa rumah warga yang memiliki cctv.


"Sial tidak ada, dimana lagi aku harus mencari tahu pria bertopi hitam ini" ujar Ednan.


Ednan segera menghubungi temannya di luar negeri untuk mencari tahu keberadaan terkini Yudha. Teman Ednan ditugaskan untuk memastikan apakah Yudha masih di Negera X.


"Minggu lalu aku cek dia masih terlihat di sini" ujar teman Ednan.


"Coba kamu cek hari ini, ada hal aneh muncul di rumah Isabel" ujar Ednan.


"Baiklah nanti akan ku kabari lagi" jawab pria itu.


Ednan melanjutkan memeriksa cctv lain yang mungkin terlewat olehnya. Setelah lama mencari dia berhenti di toko poster yang kebetulan dekat dengan jalan raya. Toko itu selalu dilewati jika ingin menuju ke rumah Isabel.


"Permisi Pak boleh saya melihat rekaman cctv di dekat jalan Pak" ujar Ednan.


"Kamu ingin melihat apa?" tanya pemilik toko.


"Saya ingin memastikan wajah seseorang yang masuk tanpa izin ke rumah kami pak" ujar Ednan seraya memperlihatkan foto pria bertopi hitam itu.

__ADS_1


"Ya sudah kamu boleh melihatnya" ujar pemilik toko itu berbaik hati.


__ADS_2