
Saat mereka semua sudah berkumpul di malam hari untuk bakar-bakar dan menikmati kebersamaan, dering handphone Ednan tengah berbunyi. Sebuah panggilan masuk yang sangat dia tunggu-tunggu kini tengah menghubunginya.
"Halo Ednan" ujar suara itu.
"Bagaimana, apakah kamu menemukan Yudha disana?" tanya Ednan.
"Aku sudah menemukan Yudha dia ada disini, selaman aku menguntiy di kediamannya dan mengambil sebuah foto, aku akan mengirimkannya padamu" ujar teman Ednan.
"Kamu yakin dia masih berada disitu?" tanya Ednan memastikan.
"Aku sudah mengirimkan fotonya kamu cek dulu" ujar teman Ednan.
Ednan segera membuka pesan dan melihat foto yang dikirimkan temannya. Benar saja itu merupakah foto Yudha yang sangat Ednan kenal. Karena selama ini dia selalu mengikuti tentang Yudha agar ia bisa tahu bahaya yang akan datang pada mereka.
"Baiklah terimakasih terus awasi dia, aku akan mengirimkan gaji mu bulan ini" ujar Ednan.
"Terimakasih Ednan" jawab pria itu.
Ednan masih bingung dengan apa yang dia lihat. Bagaimana mungkin wajah yang ada di cctv begitu mirip dengan Yudha. Akan tetapi temannya juga mengirim foto yang sama persis dengan Yudha.
"Apa yang sedang terjadi" tanya Ednan pada dirinya.
"Apa aku sudah tidak perlu khawatir lagi?" tanya Ednan kembali meyakinkan dirinya.
"Aku harus tetap waspada bisa jadi dia mengirimkan seseorang untuk menyakiti Isabel" ujar Ednan lagi.
Ednan kembali ke keramaian dan berkumpul dengan yang lainnya. Mereka sangat ramai dan suasa begitu ceria. Rafael semakin gemuk dan terlihat seperti Ayah sejati.
"Apa kabar Rafael?" tanya Helma.
"Ya aku sehat, kalian bagaimana?" tanya Rafael.
"Kami juga begitu, aku membesarkan Qenzo sendirian sekarang" jawab Helma.
"Tidak apa-apa, kami yakin Kakak sangat kuat, bukankah dulu Kakak jago bela diri?" tanya Sandrina memastikan ingatannya.
__ADS_1
"Haha jangan ingat itu lagi" jawab Helma.
"Pantas saja aku sangat ketakutan saat Ibu marah, ternyata karena Ibu sangat jago bela diri" balas Qenzo.
"Dia bahkan lebih kuat dari Ayahmu" ujar Isabel pada Qenzo.
"Haha Ayah pasti sangat tertekan" ledek Qenzo.
"Kamu jangan salah, Chiko yang lebih dahulu mengejar Helma dan cinta mati padanya" ujar Ednan membela Helma.
"Wah ternyata Ibu tidak bohong saat bilang Ayah duluan yang menyukai Ibu?" tanya Qenzo.
"Tentu saja, dulu Ayahmu sangat tergila-gila pada Ibumu" jawab Isabel.
"Syukurlah, setidaknya aku menjadi tenang karena Ibu cinta pertama Ayah" balas Qenzo.
"Oh iya Suho bagaimana kuliah sebagai mahasiswa baru?" tanya Ednan.
"Seru Om, tetapi masa SMA jauh lebih seru dibandingkan kuliah" balas Suho.
"Iya Om" balas Suho.
"Kak Suho ambil jurusan apa?" tanya Qenzo.
"Olahraga, Kakak ingin memperkuat basket Kakak" jawab Suho lembut.
"Wah Suho semakin ganteng saja ya" ujar Helma.
"Mirip sepertiku" ujar Sandrina tidak mau mengalah.
"Aku tidak setuju, dia bahkan lebih mirip dengan Rafael dibandingkan kamu" ledek Isabel.
"Wah benar gen Rafael benar-benar kuat, apalagi dia jago bermain basket" ujar Ednan setuju.
"Wah kalian bersekongkol untuk membela Rafael ya" jawab Sandrina tidak mau kalah.
__ADS_1
"Haha baiklah dia ganteng karena Ibunya cantik" balas Helma agar Sandrina tidak marah lagi.
"Memang hanya Kak Helma yang mengerti semua ini" ujar Sandrina tersenyum.
Mereka membakar jagung dan membuat steak untuk hidangan utama. Tak lupa Ednan membawa gitar dan menyanyi bergantian dengan Qenzo. Mereka bahkan bermain truth or dare sebelum mengakhiri malam perkumpulan.
Botol pertamana menunjuk ke arah Ednan. Dia memilih dare untuk pilihan TOD. Helma menyuruhnya untuk menyanyi seraya menari di depan mereka. Ednan menyanggupi hal tersebut dan melakukannya tanpa hambatan.
Putaran kedua mengenai Qenzo, karena takut disuruh yang aneh-aneh, Qenzo memilih jujur (truth). Sandrina berinisiatif untuk bertanya kepada Qenzo sebagai hukumannya.
"Sebutkan nama pacarmu, kalau tidak ada nama wanita yang kamu sukai!" ujar Tante Sandrina bersemangat.
Semua mata menatap ke arah Qenzo, Isabel dan Helma yang sudah tahu hanya diam mendengar jawaban Qenzo. Dengan gugup dan menarik nafas sejenak, Qenzo akhirnya buka suara.
"Nesya Clara Quena" jawabnya seraya melirik ke arah Nesya.
"Uuuuuuuuuu" suara memadu membuat Qenzo tersipu malu.
"Ternyata selera Qenzo bagus juga" puji Tante Sandrina.
"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Suho.
"Baru saja Kak" jawab Qenzo malu.
"Hahah kalian bahkan tidak memberi tahu kami ya" ledek Sandrina lagi.
"Sudah sudah kita juga pernah muda seperti mereka, jangan di ledekin dong" ujar Ednan membantu pasangan muda itu.
"Iya sih tentu saja, Tante saat SMA jauh lebih bar-bar dari kalian, Tante sendiri yang mengejar Om Rafael sampai mau dengan Tante" ucap Sandrina santai,
"Ha? serius Tante?" tanya Qenzo
"Serius dong sayang, Tante tidak akan malu, itu juga sebuah usaha dan perjuangan" ujar Sandirna.
"Mama keren sekali" puji Suho.
__ADS_1
"Iya dong jelas" jawab Sandrina.