
Ednan tengah bekerja di tempat melukis seperti biasa. Pelanggan nya sangat banyak dan tempat itu menjadi semakin terkenal. Ednan yang sudah memiliki penghasilan yang cukup banyak merekrut karyawan tambahan. Hal ini dia lakukan agar dirinya lebih leluasa dan bisa berlama-lama menjaga Isabel di rumah.
Tak terasa hari pernikahan mereka semakin dekat. Hari ini mereka berjanji akan fitting baju bersama. Undangan telah di cetak dengan sempurna tanpa banyak mengundang orang lain. Mereka hanya mengundang keluarga terdekat dengan beberapa teman dekat juga. Acara pernikahan mereka akan digelar di gedung pilihan Nesya.
"Saya pergi dulu ya, kalian semangat bekerjanya, pastikan semua pengunjung merasa nyaman disini" ujar Ednan pada karyawannya.
"Baik Tuan, kami akan bekerja sebaik mungkin" ujar karyawan itu.
Ednan segera menuju tempat fitting baju. Terlebih dahulu dia akan menjemput Isabel ke rumah wanita itu. Setelah setengah jam perjalanan, Ednan akhirnya sampai.
"Ayo kita berangkat" ujar Ednan.
"Ayo aku sudah tidak sabar memilih baju yang cocok untukku" balas Isabel.
Mereka akhirnya berangkat ke tempat fitting baju. Isabel sangat bahagia dan sesekali memeluk Edna yang sedang menyetir. Mereka bernyanyi sepanjang perjalanan ke tempat fitting baju.
Sesampainya di tempat tujuan, Isabel dan Ednan diarahkan ke tempat pertemuan oleh karyawan desainer. Mereka dipersilahkan duduk dan memilih terlebih dahulu.
"Sudah ada model yang cocok Nyonya?" tanya desainer itu.
"Kami ingin melihat baju yang ini" ujar Isabel menunjuk ke salah satu foto yang tertera.
__ADS_1
"Baik Nyonya, mari kita coba" ajak desainer itu.
Isabel segera berdiri menuju ruang ganti. Dia segera mengganti pakaian nya dan rambutnya sedikit di tata agar lebih rapi. Beberapa saat kemudian Isabel keluar dari panggung khusus tempat berdiri dan memamerkan gaunnya kepada Ednan yang sudah terpana sedari tadi.
"Bagaimana ini cocok tidak?" tanya Isabel.
"Sangat cocok, kamu semakin cantik menggunakan gaun ini" ujar Ednan.
"Masih mau mencoba gaun lain untuk perbandingan Nyonya?" tanya desainer itu.
"Hmm boleh tapi tidak usah terlalu banyak, nanti saya bingung memilih nya, pilihkan dua lagi saja" ujar Isabel agar dia dapat memilih dari tiga gaun terbaik.
Untuk gaun ke dua respon Ednan tetap sama dengan gaun ke tiga. Dia bingung karena Isabel sama-sama cantik menggunakan keduanya.
Kali ini pandangan Ednan berubah, semula dia hanya bertepuk tangan dan memuji Isabel untuk dua gaun pertamana. Bedanya pada gaun ke tiga Ednan sempat berdiri dan menghampiri Isabel.
"Ini yang paling cantik, kita pilih ini saja, sangat cocok untukmu" ujar Ednan.
"Saya setuju Nyonya, gaun ini paling cocok untuk anda" ujar Desainer memberikan pendapat.
"Aku juga berpikir demikian, saat pertama kali melihat gaun ini aku yakin ini gaun yang tepat" ujar Isabel pada Ednan.
__ADS_1
Mereka sepakat akan memilih gaun itu. Tidak ada yang perlu di ubah untuk gaun itu. Tidak kebesaran atau kekecilan. Seolah-olah gaun itu memang dibuat untuk Isabel. Sangat pas di badannya dan nyaman saat digunakan.
Setelah urusan gaun selesai, Isabel dan Ednan makan siang bersama. Ternyata fitting baju cukup menguras tenaga mereka. Isabel dan Ednan makan di dekat sekolah Nesya dan Qenzo. Disana ada restoran yang biasa mereka kunjungi.
"Nesya dan Qenzo belum pulang ya" ujar Isabel.
"Belum, lagi pula Qenzo bawa kendaraan, Nesya akan pulang bersama Qenzo" jawab Ednan.
"Iya juga sih, ya sudah lah kalau begitu, ayo kita pulang" ajak Isabel.
Mereka akhirnya pulang dengan perut kenyang. Semua urusan pernikahan telat selesai. Tinggal mempersiapkan kondisi tubuh masing-masing harus dalam keadaan fit.
Setibanya di rumah Ednan mendapatkan pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isi pesan tersebut mengagetkan Ednan dan dia merasa kurang nyaman.
"Ednan ini aku Windria, aku hanya datang untuk sebentar mengunjungi keluarga ku, lusa aku akan kembali ke luar negeri dan tidak akan kembali lagi ke sini untuk selamanya. Kamu mau kan bertemu denganku untuk terakhir kalinya?" isi Pesan itu.
Ednan terdiam membaca pesan masuk itu. Melihat raut wajah Ednan berubah Isabel tertanya apa ada masalah yang terjadi dengannya.
"Kamu tidak apa-apa, ada masalah?" tanya Isabel.
"Tidak ada sayang, tidak ada yang lerlu dikhawatirkan ayo kita masuk" ajak Ednan dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Isabel mengangguk dan berjalan beriringan dengan Ednan. Pikiran Ednan sedang kacau dan dia tidak tahu bahwa dirinya sedang dalam bahaya.