
Qenzo dan Nesya segera berangkat ke rumah Qenzo selepas makan siang. Mereka menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah Nesya. Tak lupa Qenzo membawa peralatan mandi dan handuk mereka.
"Udah semua Zo?" tanya Nesya.
"Udah Nes, ayo kita pergi ke rumah mu" ujar Qenzo.
"Ayo Zo" balas Nesya.
Keduanya segera keluar rumah dan bergegas pergi. Sepanjang perjalanan mereka memikirkan alasan apa yang membuat mereka dalam kondisi seperti ini.
"Apa jangan-jangan pernikahan Om Ednan dan Tante Isabel dipercepat?" tanya Qenzo menerka-nerka.
"Bisa jadi, mungkim kita akan lebih mudah mempersiapkan semuanya jika tinggal bersama untuk sementara waktu" ujar Nesya.
"Iya, pasti itu alasannya" balas Qenzo lagi.
Beberapa menit kemudian Qenzo dan Nesya tiba di rumah Tante Isabel. Mereka disambut oleh Om Ednan, Ibu Qenzo, dan Ibu Nesya.
"Kalian sudah tiba" ujar Helma.
"Iya Ma, Qenzo sudah membawa semua yang ada di list" ujar Qenzo.
"Bagus lah, untuk sementara waktu kita akan tinggal di sini sayang" ujar Helma.
"Baik Ma" jawab Qenzo.
"Sebenarnya ini ada apa Ma?" tanya Nesya pada Isabel.
"Berhubung kalian sebentar lagi akan tammat dan berkuliah di luar negeri, kita akan membuat perpisahan disini agar ramai, kamar kita kan banyak yang kosong, kamu pasti kesepian selama ini" ujar Isabel menjelaskan senatural mungkin.
"Ooo begitu Ma, kami kira pernikahan Mama dan Om Ednan akan dipercepat" ujar Nesya.
__ADS_1
"Tidak sayang, kami akan menikah bulan depan dan undangan sudah disiapkan, tidak mungkin kita mengubah jadwal lagi" ujar Isabel.
"Apa sebaiknya Adik kamu dan Rafael juga kita undang untuk tinggal bersama beberapa hari ini?" tanya Ednan memberi usul.
"Aku setuju, sudah lama kita tidak bertemu Sandrina dan Rafael" ujar Helma.
"Ya sudah aku menghubungi Sandrina dulu agar ia membawa Rafael dan Suho kesini" ujar Isabel.
"Oooo Kak Suho itu sepupu kamu?" tanya Qenzo pada Nesya.
"Iya dia puteranya Tante Sandrina, sepupu aku" ujar Nesya.
"Kak Suho sangat ganteng ya, tinggi lagi" ujar Qenzo.
"Dia anak tim basket, sama seperti Papanya" ujar Qenzo.
"Om Rafael itu anak basket?" tanya Qenzo.
"Nesya benar, Om Rafael itu ketua tim basket setelah masa jabatan Om Ednan, mereka berdua itu sama-sama ketua tim basket di sekolah kami" ujar Helma.
"Wah keren sekali, kalau Papa Ma?" tanya Qenzo.
"Papa juga anak basket tapi tidak ketua" ujar Mama.
"Tidak apa-apa, menjadi anggota tim basket juga sangat keren" ujar Qenzo bersemangat.
"Kenapa kamu tidak ikut menjadi anggota tim basket Qenzo?" tanya Tante Isabel.
"Dia hanya anak pintar yang malas berolahraga Ma" ujar Nesya.
"Hahaha kamu betul sekali Nesya, Tante sampai muak melihat dia selalu bersama buku-bukuny" tambah Helma.
__ADS_1
"Mama jangan dibilang dong" ujar Qenzo cemberut.
"Ya sudah aku menghubungi Sandrina dulu" ujar Isabel di tengah tawa mereka.
Isabel segera mengambil handphone nya dan mencari nomor Sandrina. Dia menghubungi Adik semata wayangnya itu.
"Halo Kak" ujar Sandrina.
"Halo San, kamu sibuk nggak?" tanya Isabel.
"Tidak begitu Kak, aku sedang santai" ujar Sandrina.
"Kamu mau nggak beberapa hari ini nginap di rumah ku bersama-sama dengan Suho dan Rafael, disini ada Helma dan Ednan serta anak-anak, kita akan bakar-bakar di halamab rumah dan saling mengenang masa lalu" jelas Isabel.
"Wow kalian sedang ber ramai-ramai ya, seru sekali" ujar Sandrina bersemangat.
"Kamu dan keluargamu ikut dong" ujar Isabel.
"Ya sudah aku akan datang, oiya tidak ada masalah kan?" tanya Sandrina.
"Aku sedikit ada masalah, nanti akan aku ceritakan kalau kamu sudah datang" ujar Isabel.
"Baiklah kalau begitu, nanti malam aku akan datang beserta keluargaku" ujar Sandrina.
Isabel sangat senang mendengar jawaban Adiknya. Sekarang rumah mereka sudah ramai dan suasananya lebih hidup. Rasa takut Isabel perlahan memudar berganti menjadi rasa bersemangat. Melihat raut wajah Isabel yang sedang Ednan segera menghampirinya.
"Kamu terlihat sangat senang" ujar Ednan.
"Iya, aku suka keramaian" jawab Isabel.
Ednan memeluk Isabel dengan lembut, dia tahu Isabel berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia terlihat tidak begitu khawatir dengan keadaan ini. Padahal kenyataannya Ednan yakin Isabel saat ini sangat ketakutan dihantui oleh masa lalunya yang kelam bersama Yudha.
__ADS_1