
Setelah lelah bermain mereka akhirnya istirahat. Di rumah Seira ada 5 kanar tidur. Helma dan Isabel berada di satu kamar, Rafael dan Sandrina berada di kamar kedua, Suho dan Qenzo berada di kamar ketiga, Ednan berada di kamar keempat, dan Nesya sendiri berada di kamar kelima yaitu kamarnya sendiri.
Setelah jam menunjukkan pukul dua belas, mereka beranjak tidur di kamar masing-masing. Berhubung besok hari minggu Nesya tidak langsung tidur dan masih bermain ponsel.
Dia menghubungi Qenzo yang berada di kamar lain. Qenzo membalas pesan Nesya dengan cepat karena ia belum juga mengantuk. Suho yang tidur di sebelah Qenzo sudah terlelap lebih dulu.
"Kamu belum ngantuk?" tanya Qenzo pada Nesya melalui pesan.
"Belum nih, kamu gimana?" tanya Nesya.
"Belum juga, rumah kamu besar ya ada 5 kamar" ujar Qenzo.
"Iya dahulu Papa buat beberapa ruangan untuk asisten rumah tangga kami dan kamar tamu" ujar Nesya.
"Kamu pasti sangat merindukan Papamu" ujar Qenzo.
"Iya kamu benar sekali, aku sangat merindukan Papa" jawab Nesya.
"Papa kamu orang yang seperti apa?" tanya Qenzo lagi.
"Dia laki-laki yang hebat, orang yang mampu mencintai sepenuhnya tanpa mengharap apa pun" jawab Nesya yang sangat mengenali kepribadian Ayahnya.
"Luar biasa, pantas saja kamu sangat mirip dengan Papamu" ujar Qenzo.
"Tapi aku juga senang atas kehadiran Om Ednan, Mama jadi jarang termenung sendiri" ujar Nesya.
Baguslah kalo begitu, Om Ednan juga sangat baik, dia seperti sosok malaikat tak bersayap bagi kehidupanku" ujar Qenzo.
"Iya aku tahu" jawab Nesya lagi.
"Ya sudah kita tidur, aku takut besok susah bangun" pesan Nesya.
"Good night Nes" ujar Qenzo menyudahi.
"Good night Zo" balas Nesya seraya tersenyum di depan handphonenya.
Nesya segera mencoba tertidur dan meletakkan handphonenya. Dia memejamkan matanya dan perlahan mulai tertidur.
Begitupula dengan Qenzo dia terlelap begitu memejamkan mata. Qenzo berharap mimpi indah dan bertemu Nesya di dalam mimpinya.
Keesokan harinya Isabel terbangun lebih dulu. Dia segera ke dapur tanpa membangunkan teman-temannya. Bagaimana pun juga mereka adalah tamu yang harus Isabel layani.
__ADS_1
Isabel mulai membuat sarapan setelag mengikat rambutnya. Dia membuat sandwich untuk sarapan pagi ini. Untungnya bahan-bahan di kulkas masih lengkap. Isabel juga menggoreng beberapa telur yang masih tersedia. Tak lupa wanita itu menyiapkan susu dan kopi untuk anak-anak dan orang dewasa.
Helma bangun tak lama setelah Isabel terbangun. Melihat sahabatnya sedang menyiapkan sarapan dia turut membantu di dapur.
"Kenapa kamu tidak membangunkan ku" ujar Helma.
"Kamu terlihat begitu nyenyak, bagaimana pun kamu itu juga tamu" ujar Isabel.
"Bel bel udah berapa lama kita berteman kamu masih saja seperti itu, aku tidak suka ada jarak diantara kita, apalagi mungkin kita akan berbesan" bisik Helma nakal.
"Kalau itu Qenzo sepertinya aku harus merestui keduanya" balas Isabel.
"Pilihan yang tepat" ujar Helma senang.
"Kalau Qenzo menikah dengan Nesya aku akan senang memiliki penerus yang akan meneruskan bisnis Papa Nesya, walaupun Rezwan sudah tiada setidaknya aku mau Nesya dan suaminya lah yang akan mengurus itu semua" ujar Isabel.
"Kamu tenang saja, kedua anak kuta itu anak-anak yang cerdas, mereka bahkan akan berkuliah jurusan bisnis" ujar Helma.
"Iya aku tahu, Nesya sudah cerita tentang Qenzo yang pintar dan rajin membaca" puji Isabel.
"Kamu sudah berhasil mendidik anak" ujar Isabel lagi.
"Kamu juga begitu, Nesya tumbuh menjadi wanita yamg cantik dan pintar, kamu harus berbangga diri" puji Helma balik.
"Wah ada yang bernostalgia nih" ujar Sandrina.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sandrina menyodorkan bantuan.
"Kamu siapin peralatan makan aja ya" pinta Isabel.
"Baik kak" jawab Sandrina seraya menyediakan alat-alat yang akan mereka gunakan untuk sarapan.
"Kita kekurangan dua telur, aku akan pergi keluar untuk membelinya" ujar Isabel.
"Aku saja Ma" terdengar Nesya menyahut dari dekat dapur.
"Ya sudah kamu beli ke minimarket depan saja ya biar dekat" ujar Isabel.
"Ayo aku temani" ajak Qenzo yang juga sudah bangun.
Nesya mengangguk dan nemerima ajakan Qenzo. Mereka berdua pergi ke minimarket untuk membeli telur dan beberapa cemilan. Sepanjang jalan Qenzo menggandeng tangan Nesya. Mereka berjalan kaki karena jarak rumah ke minimarket cukup dekat.
__ADS_1
Sesampainya di minimarket Nesya dan Qenzo memilih barang yang akan mereka beli. Setelah memastikan semuanya lengkap keduanya segera pulang ke rumah. Sebelum sampai rumah seseorang menghampiri mereka berdua.
Wanita itu terlihat seperti seusia dengan Ibu mereka. Wajahnya lesu dan kurus, seperti tidak memiliki semangat hidup.
"Apa kalian mengenal Ednan?" tanya wanita itu pada keduanya.
"Iya kami kenal, anda siapa ya?" tanya Nesya.
"Saya teman Ednan, dimana dia sekarang?" tanya wanita itu lagi.
"Dia sedang ada di rumah saya" ujar Nesya tidak menaruh curiga sedikit pun.
"Kamu siapa? anaknya?" tanya wanita itu lagi.
"Ooo bukan, saya puteri teman Om Ednan, Om Ednan belum punya anak" ujar Nesya lagi.
"Anda mau ikut dengan kami menjumpai Om Ednan?" tanya Qenzo.
"Ooo tidak usah, lain kali saja" ujar wanita itu seraya pamit pergi.
Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Windria. Mendengar Ednan yang belum menikah membuat wanita itu sangat senang dan bahagia. Dia sudah lama mencari Ednan dan mengikutinya semalaman. Dia menunggu di supermarket tapi malah melihat anak-anak yang biasa bersama Ednan. Windria ingin memastikan apakah Ednan sudah menikah atau belum.
Windria ingin memiliki Ednan kembali sepenuhnya. Dia segera ke salon untuk memperbaiki dirinya. Wanita itu sudah tidak sabar menunjukkan dirinya di hadapan Ednan.
"Ednan pasti tidak bisa melupakanku makanya dia belum menikah sampai kini" ujar Windria seperti psikopat.
Sesampainya di rumah Nesya dan Qenzo memberikan belanjaan mereka pada Helma. Nesya dan Qenzo juga bercerita jumpa dengan seseorang di perjalanan dari minimarket.
"Kalian jumpa sama siapa?" tanya Helma sedikit khawatir.
"Katanya dia teman Om Ednan" jawab Qenzo.
"Ha siapa?" tanya Om Ednan lagi.
"Dia seorang wanita, memang terlihat seusia Mama" ujar Qenzo.
"Syukurlah dia wanita, berarti bukan Yudha" ujar Helma dalam hati.
"Kalian tidak boleh berbicara dengan sembarangan orang ya" nasehat Helma.
"Mama kenapa sangat khawatir? apa ada masalah Ma, kami sudah dewasa loh Ma" ujar Qenzo mengingatkan Mamanya kalau dia bukan anak-anak lagi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, kita kan memang harus selalu waspada" balas Helma agar mereka tidak khawatir.