
Setelah beberapa hari menginap di rumah Isabel, Sandrina dan keluarganya pamit pulang. Rafael masih ada kerjaan yang harus diselesaikan secepat mungkin. Suasana rumah juga sudah kondusif dan rasa takut Isabel juga sudah berkurang.
"Aku pulang dulu Kak, kabari aku kalau terjadi sesuatu" ujar Sandrina.
"Kamu hati-hati ya, Kakak akan selalu mengabarimu" jawab Isabel.
"Suho pamit Tante" ujar Suho pada Isabel.
"Iya sayang yang rajin ya kuliah nya" ujar Isabel seraya mengelus kepala Suho.
Qenzo dan Nesya masih di sekolah karena hari ini bukan weekend. Hanya Ednan dan Helma yang tersisa menemani Isabel hari ini.
"Kalau kamu ada kegiatan kamu boleh pulang Hel" ujar Isabel sungkan.
"Kamu menghusirku?" ledek Helma.
"Bukan, aku takut kamu ada keperluan mendadak" jawab Isabel.
"Kamu sudang merasa tenang?" tanya Helma.
"Tentu saja, kamu jangan khawatir" balas Isabel.
"Ya sudah besok aku akan pulang bersama Qenzo, takutnya kami merepotkan kalau berlama-lama disini" ujar Helma.
"Kamu tidak merepotkan sama sekali, aku bahkan merasa tenang dan nyaman kamu ada disini bersamaku" ujar Isabel.
"Sungguh?" ujar Helma memastikan.
"Tentu saja" jawab Isabel.
"Wah persahabatan kalian membuat ku iri" ledek Ednan.
"Haha kamu juga sahabat kita" balas Helma.
"Tapi aku masih kepikiran siapa perempuan yang dimaksud oleh Qenzo dan Nesya" ujar Ednan.
"Yang mereka temui di minimarket?" tanya Helma.
"Iya, bagaimana bisa dia menanyakan tentang aku pada anak-anak? bukankah itu sedikit aneh?" tanya Ednan.
"Iya juga ya, bagaimana dia mengenali anak-anak kita" ujar Isabel lagi.
"Mungkin dia teman dekatmu saat kuliah dan pernah kamu bawa bertemu dengan Qenzo?" tanya Helma.
"Qenzo saja tidak mengenali wanita itu" balas Ednan.
"Iya ya, sudah lah tidak usah terlalu dipikirkan" jelas Helma.
********
__ADS_1
Di sekolah Ednan tengah fokus membaca di perpustakaan dengan Nesya. Bedanya kali ini mereka berempat. Jack dan Lydia meminta ikut ke perpustakaan. Mereka juga ingin fokus menuju perkuliahan.
"Kamu nyambung dimana Nes?" tanya Jack pada Nesya.
"Aku belum begitu yakin, sepertinya di luar negeri" balas Nesya.
"Wah keren sekali, kalau kamu Zo?" tanya Lydia pada Qenzo.
"Aku juga berkuliah di luar negeri" balas Qenzo.
"Wah kalian janjian ya" ledek Lydia lagi.
"Aku juga akan keluar negeri kalau begitu" balas Jack.
"Ada-ada aja kamu jack, bahasa inggris mu aja masih banyak salah" ledek Lydia.
"Aku kan bisa belajar" balas Jack.
"Sudah terlambat pendaftaran akan segera di buka, kamu kuliah disini aja sama aku" ajak Lydia.
"Aku tidak mau kuliah denganmu" balas Jack.
"Huh dasar" ledek Lydia tak ada habisnya.
Bel berbunyi menendakan jam istirahat telah usai. Mereka berempat segera merapikan buku yang mereka pakai. Saat hendak ke kelas Nesya menyuruh teman-temannya terlebih dahulu.
"Kalian duluan saja ke kelas, aku ma ke toilet dulu" ujar Nesya.
"Gausah Lyd, akh cepat kok" ujar Nesya langsung pergi.
Lydia, Jack dan Qenzo segera kembali ke kelas saat Nesya sudah pergi. Nesya segera mencari toilet yang kosong dan masuk ke dalam. Saat itu Lily juga ada di toilet tapi Nesya tidak sadar.
Melihat Nesya masuk ke dalam dan disana tidak ada siapa-siapa, Lily berniat melakukan hal yang buruk pada Nesya. Dia mengunci pintu kamar mandi dari luar. Karena bel sudah berbunyi toilet itu kosong dan hanya menyisakan mereka berdua.
"Rasain kamu Nesya, berani-berani nya kamu jadian sama Qenzo" ujar Lyli dalam hati seraya pergi meninggalkan toilet.
Setelah selesai memakai toilet Nesya hendak keluar tapi pintu tidak bisa dibuka. Nesya mengira pintu itu hanya macet dan dia tetap berusaha membukanya. Hal itu sia-sia karena pintu itu telat dikunci dari luar. Nesya yang mulai panik karena pelajaran akan dimulai segera berteriak.
"Halo apa ada orang, tolong bukain pintu" ujar Nesya.
"Tolong bukain pintu" ujar Nesya semakin kuat.
Akan tetapi nasib buruknya tidak ada orang yang mendengar suara Nesya. Mungkin para siswa sudah kembali ke kelas masing-masing.
Di kelas Lydia sudah resah karena Nesya lama sekai kembali dari toilet. Guru mereka akan segera tiba, dia melirik ke arah Qenzo.
"Zo Nesya belum balik juga" ujar Lydia.
"Iya dia lama sekali" ujar Qenzo.
__ADS_1
"Mungkin pencernaan Nesya sedang buruk" ujar Jack positif thinking.
"Atau aku coba cek ke toilet?" tanya Lydia.
"Ya sudah kamu cek dulu sebelum guru kita datang" jawab Qenzo.
Baru saja Lydia hendak berdiri guru mereka telah tiba di kelas. Lydia kembali duduk karena takut harus permisi padahal baru saja masuk ke kelas.
Bu Guru mulai cek kehadiran para siswa di mata pelajarannya. Saat nama Nesya di sebut tidak ada sahutan sama sekali. Dengan sigap Lydia angkat bicara agar Bu Guru tahu keberadaan Nesya.
"Nesya masih di kamar mandi Bu, tadi kami sama-sama ke perpustakaan" ujar Lydia.
"Kenapa dia belum juga balik, tidak biasanya Nesya tidak tepat waktu" ujar Bu Guru.
Lyli tersenyum tipis saat melihat kursi Nesya masih kosong. Berarti belum ada yang membukaan pintu kamar mandi yang dikunci dari luar.
"Bu apa boleh saya izin cek ke kamar mandi sebentar Bu, Nesya sudah terlalu lama di kamar mandi" ujar Lydia khawatir.
"Ya sudah kamu lihat dulu ke sana, jangan lama" ujar Bu guru mengingatkan.
"Baik Bu, terimakasih Bu" jawab Lydia kemudia pergi menuju toilet.
Nesya yang mulai kelelahan teriak berlahan menangis. Dia sangat takut di kamar mandi sendirian dalam keadaan terkunci. Sayup-sayup dia tetap memanggil tetapi tidak sekuat di awal.
"Tolonggg" ujar Nesya.
Sesampainya di kamar mandi Lydia segera mencari Nesya. Dia mendengar pelan suara Nesya minta tolong. Lydia segera mempercepat langkahnya dan memanggil Nesya.
"Nes kamu dimana?" tanya Lydia.
Mendengar suara Lydia memanggil namanya membuat semangat Nesya kembali membara. Dia segera mengetok pintu tempat dia dikunci.
"Lyd aku disini, tolong bukain" ujar Nesya.
Mendengar suar itu Lydia segera memeriksa pintu Nesya dan membuka kuncinya. Terlihat Nesya yang menangis di dalam kamar mandi yang terkunci.
"Nes kok kamu bisa terkunci kayak gini?" tanya Lydia.
"Aku gak tahu apa yang terjadi Lyd, saat aku hendak keluar pintu sudah di kunci" ujar Nesya mulai menangis.
Lydia menenangkan dan memeluk sahabatnya. Dia takut terjadi apa-apa pada Nesya. Lydia juga memeriksa apakah ada bagian tubuh Nesya yang terluka. Setelah memastikan semua aman tanpa luka Lydia mengajak Nesya kembali ke kelas.
Saat tiba di kelas Nesya menceritakan dirinya yang terkunci pada Bu Guru. Mendengar hal itu Bu Guru mengizinkan mereka masuk ke kelas.
"Pasti ada yang iseng sama kamu Nes" ujar Bu Guru.
"Atau ada yang benci dan tidak suka melihat kamu" lanjut Bu Guru lagi.
"Tapi saya tidak punya musuh Bu" jawab Nesya.
__ADS_1
"Mungkin dia menganggap kamu musuh nya walaupun kamu tidak begitu" balas Bu Guru.
Nesya terdiam mendengar penjelasan Bu Guru. Siapa kira-kira yang tega menguncinya di kamar mandi. Kemungkinan besar adalah wanita karena itu toilet khusus wanita. Qenzo menatap Nesya begitu lama penuh rasa khawatir. Dia kurang fokus di jam terakhir mata pelajaran ini. Qenzo tidak sabar untuk pulang dan menenangkan Nesya.