
Nesya keluar dari kamar dan melihat sekeliling nya sudah ramai. Jack dan Lydia datang mengunjunginya di sore hari ini. Mereka membawa buah-buahan kesukaan Nesya.
"Kamu sudah bangun Nes" ujar Lydia.
"Kalian kapan datang kesini?" tanya Nesya.
"Baru saja, kamu gimana udah enakan?" tanya Nesya.
"Sudah, kalian repot sekali harus datang mengunjungiku, padahal aku tidak sakit" ujar Nesya lagi.
"Kami dilarang main kesini?" tanya Jack.
"Tentu saja tidak begitu, aku senang kalian ada disini bersamaku" balas Nesya.
Isabel datang dengan empat buah jus jeruk dan makanan ringan. Dia memberi masing-masing satu kepada Nesya, Qenzo, Lydia, dan Jack.
"Ini diminum dulu" ujar Isabel.
"Iya makasih ya Tante" ujar Jack dan Lydia.
"Mama mu cantik sekali Nes" puji Jack.
"Oh ya? tentu saja aku kan cantik" ujar Nesya bercanda.
"Lebih cantik Mama mu" ledek Jack.
"Haha dasar kamu" balas Nesya.
"Kamu kesini untul mengajak kalian nonton bareng, sudah lama kita tidak main berempat" ujar Lydia.
"Gimana Nes kamu mau kan?" tanya Jack.
"Iya aku mau kok" balas Nesya.
"Kamu gimana Zo?" tanya Lydia.
"Aku juga bisa, kita nanti naik mobil aja kesana berempat" ujar Qenzo melihat cuaca mulai mendung.
"Iya cuaca mendung, aku titip motor ku disini saja ya Nes" ujar Jack.
"Oke Jack tidak masalah" jawab Nesya.
Nesya dan Qenzo pamit pada Ibu mereka dan tentu saja diizinkan. Mereka naik mobil milik Seira yang dikendarai oleh Qenzo. Jack duduk di samping Qenzo dan Nesya duduk dibelakang bersama Lydia.
"Aku ingin menikmati masa muda lagi" Ednan melihat anak-anak naik ke mobil.
__ADS_1
"Aku juga apa kita juga nonton bioskop juga?" udul Helma.
"Nanti mereka canggung dan tidak leluasa" jawab Ednan.
"Kata siapa kita harus pergi bersama mereka, kita kan bisa mengambil film yang berbeda dengan jadwal yang berbeda juga" ujar Helma.
"Helma benar juga, kita pergi saja yuk" ajak Isabel.
"Tapi kita cuma bertiga? aku tidak ingin menjadi nyamuk di antara kalian" ujar Helma cemberut.
"Tenang saja kita ajak Sandrina" ujar Isabel.
Setelah semuanya setuju Isabel menghubungi Sandrina. Tentu saja wanita itu ingin ikut juga. Mereka segera naik mobil Ednan dan menjemput Sandrina ke rumahnya terlebih dahulu.
Sementara itu Nesya dan teman-teman telah sampai di bioskop. Mereka memilih film action yang baru release di bioskop.
"Wah sepertinya film ini akan seru" ujar Lydia sangat senang.
"Kamu benar-benar pecinta action ya, padahal aku ingin film horor" ujar Nesya.
"Tidak boleh, nanti kamu ketakutan dan kepikiran terus, apalagi kamu tidur sendirian" ujar Qenzo mengingatkan.
"Bilang saja kalian pada takut" ujar Jack mencoba membantu Nesya semaksimal mungkin.
"Iya deh iya, berikutnya kita akan menonton film horor" jawab Lydia.
Mereka segera masuk karena jawdal film sudah tiba. Nesya duduk di antara Lydia dan Qenzo. Sedangkan Jack duduk disamping Lydia.
*******
Setelah menjemput Sandrina para orangtua segera menuju bioskop. Mereka setuju untuk menonton film horor untuk menguji adrenalin mereka yang semakin lemah.
"Aku tidak setuju film horor itu menakutkan" ujar Sandrina.
"Kamu harus melatih keberanian mu, cuma film" ledek Isabel.
"Iya kamu harus berani San" ujar Helma juga.
Karena hanya Sandrina yang tidak suka horor, maka pemungutan suara jatuh kepada film horor. Mereka membeli popcorn dan minuman sebelum masuk ke bioskop.
"Aku mau rasa karamel" ujar Sandrina.
"Oke karamel dua yang jombo ya Pak, minumannya empat" ujar Ednan dan membayar seluruh pesanan.
"Uuuu calon suami ya baik" ledek Sandrina melihat Ednan yang sungguh sigap.
__ADS_1
"Pantas saja cinta Isabel tidak pernah memudar" bantu Helma meledek Isabel juga.
"Kalian ini suka sekali meledek kami" ujar Isabel tertawa.
"Wah dia masih bisa tertawa Kak, ledekan kita tidak berhasil" ujar Sandrina pada Helma.
Mereka segera masuk karena film mereka juga segera di mulai. Tanpa mereka sadari ada dua orang yang tengah mengikuti mereka sejak dari rumah tadi. Dua pasang mata itu menatap dengan penuh dendam dan amarah. Mereka tidak ingin nelihat Ednan dan kawanannya bahagia begitu saja.
"Apa kabar Isabel" guman pria bertopi hitam.
"Ednan bisa-bisanya kamu bahagia dan masih bersama wanita itu" guman seorang wanita juga.
Mereka berdua adalah Yudha dan Windria yang saling mengikuti Ednan dan Isabel. Mereka tidak tahu bahwa mereka berada di posisi yang sama, yaitu menjadi penguntit.
Bagaimana bisa Yudha berada di sini padahal dia baru saja terlihat di luar negeri oleh orang suruhan Ednan. Apa yang sebenarnya terjadi, ada plot twist dibalik kejadian ini.
Yang sebenarnya terjadi :
Ternyata Yudha sejak lahir memiliki kembaran bernama Yudhi. Akan tetapi Yudhi dibesarkan oleh Nenek Yudha yang berada di luar negeri sejak mereka lahir. Jadi selain anggota keluarga inti tidak ada yang tahu bahwa Yudha memiliki kembaran. Pria yang dilihat oleh suruhannya Ednan sebenarnya bukan Yudha, akan tetapi kembarannya yang bernama Yudhi.
Yudha sengaja di ungsikan di negara yang sama tempat Yudhi dibesarkan. Hal ini membuat Yudha bebas kemana saja karena saat Yudhi masih berada di negara itu, orang-orang akan mengira Yudha masih disana. Karena mereka tidak tahu bahwa mereka adalah saudara kembar.
Saat Yudha hendak keluar dari bioskop setelah menguntit Isabel dia tidak sengaja bertabrakan dengan sorang wanita. Hal ini mengakibatkan ponsel wanita itu terjatuh. Terlihat foto di walpaper ponsel itu seperti seseorang yang dikenali Yudha.
"Kamu Windria bukan? mantannya Ednan" ujar Yudha.
"Yudha? kamu disini?" tanya Windria.
Yudha yang panik segera menarik tangan Windria keluar dari bioskop. Dia membawa Windria ke tempat yang tidak terlalu ramai.
"Apa kamu akan memberi tahu Ednan?" tanya Yudha dengan nada mengancam.
"Kalau kamu bersedia membantuku aku tidak akan memberi tahu mereka kalau kamu ada disini" jawab Windria mencari kesempatan.
"Bantu apa?" tanya Yudha.
"Kamu harus membantu aku memisahkan Ednan dan Isabel, lagi pula kamu diuntungkan untuk hal ini, bukankah kamu menyukai Isabel? aku juga bisa mendapatkan Ednan untuk diriku" ujar Windria memulai kesepakatan.
"Boleh juga, ini ide yang sangat brilian" jawab Yudha tersenyum jahat.
"Kita akan mulai menyusun rencana untuk memisahkan mereka terlebih dahulu" jawab Yudha.
"Aku akan mengikuti saran kamu asalkan kamu berhasil memisahkan keduanya" jawab Windria penuh semangat.
Mereka akhirnya saling bertukar nomor telepon untuk membahas rencana mereka selanjutnya. Windria sudah tidak sabar ingin melancarkan rencana mereka untuk memisahkan Ednan dan Isabel.
__ADS_1