Menanti Pelangi Diujung Senja

Menanti Pelangi Diujung Senja
Pindah Rumah


__ADS_3

Adelio mengajak Elena untuk segera pindah dari rumah orang tua Elena, ia merasa segan jika harus tinggal di rumah orang tua Elena meskipun kedua orang tua Elena menyuruhnya tetap tinggal di rumah mereka.


"Bukan aku tidak mau tinggal bersama orang tua mu Elena, tapi akan lebih baik jika kita tinggal di tempat lain saja, apa-apa semua kebutuhanmu akan kupenuhi meskipun gajiku kecil, aku sudah terbiasa dengan hidup sederhana dari sejak aku kecil, jadi aku mohon kita cari kontrakan lain saja ya," ujar Adelio.


"Suamiku, kemanapun kamu pergi aku akan selalu ikut denganmu, aku adalah milikmu jadi aku wajib patuh kepadamu Mas," ucap Elena seraya tersenyum kepada Adelio ia tidak keberatan dengan apa yang diinginkan Adelio ia bersedia menjalani dan mengikuti Adelio dalam kondisi apapun meskipun ia terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya.


"Terimakasih sayang, kau sungguh pengertian terhadapku, beruntung sekali aku mendapatkanmu, tak sia-sia aku memperjuangkan dirimu sayang," Adelio memeluk istrinya ia tersenyum lebar, ia merasa sangat bahagia mendapatkan Elena yang mencintainya tanpa melihat kekurangannya.


"Cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanannya Mas, kalau tidak ada perjuangan dan pengorbanan berarti bukan cinta," ucap Elena terkekeh seraya bersandar di dada bidang Adelio.


"Iya kamu benar sayang, aku berharap kita tetap seperti ini sampai kakek nenek ya sayang," Adelio menatap Elena dengan mesra.


Elena menganggukkan kepalanya hingga air matanya menetes haru, karena ia tidak menyangka Adelio bisa menikahinya setelah pacaran selama 8 tahun terlebih lagi, perjuangan untuk sampai pernikahan sangatlah berat karena orang tua Elena meminta mahar yang cukup besar, dikarenakan Elena anak perempuan satu-satunya dalam keluarganya.


Karena sangat mencintai Elena, Adelio pun berusaha sekuat tenaga ia bekerja keras mengumpulkan uang selama 3 tahun demi menikah dengan gadis yang dicintainya itu, beruntung Elena tidak mengkhianatinya hingga uangnya terkumpul sampai mereka menikah.


"Sudah sayang jangan menangis, aku juga ikut sedih, untuk mendapatkanmu tidaklah mudah maka dari itu aku akan selalu merawat dan menjagamu sampai kapan pun itu," ucap Adelio seraya menghapus air mata Elena.


***


Sore itu, mereka berdua pindah dari rumah orang tua Elena dan hanya membawa pakaian saja tidak ada satu barang pun yang mereka bawa dari rumah orang tua Elena.


"Nak kamu yakin mau pindah?" tanya Ibu Elena yang biasa dipanggil Ibu Tuti.


"Iya yakin Bu, ini sudah menjadi kesepakan kamu berdua," ucap Elena seraya melirik ke arah Adelio.


"Kalau enggak ada makanan, datang saja ke sini nak, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian," Ibu Tuti membawakan Elena dan Adelio sebuah kantong plastik yang berisikan sedikit makanan untuk mereka makan di kontrakan malam harinya nanti.


"Terimakasih banyak Bu," ucap Elena dan Adelio serentak.

__ADS_1


Suara langkah kaki terdengar sangat keras, Bapak Elena menghampiri mereka.


"Bu enggak usah terlalu dimanjakan, mereka siap pisah dari kita berarti mereka sudah mampu jadi biarkan saja mereka pergi," Pak Ujang mengusir mereka secara halus.


Adelio sangat peka apa yang dikatakan oleh bapak mertuanya itu, akhirnya dia langsung mengajak Elena berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Ibu Tuti sedih melihat mereka pergi, karena rumahnya menjadi sangat sepi, Kakak Elena sudah menikah sedangkan Abang Elena masih menyelesaikan studi S3 di luar negeri, tidak ada yang lagi menghibur dan menemaninya masak setiap hari, karena Elena sudah pindah bersama Adelio.


"Sudahlah Bu, jangan ditangisi wajar mereka pergi, mereka sudah berumah tangga bulan anak kecil lagi," kata Pak Ujang seraya menyalakan rokoknya.


"Elena anak bungsu kita, dia sangat kita manjakan apa bisa dia berumahtangga dengan keadaan seadanya," Ibu Tuti menangis sejadinya.


"Itu pilihan Elena Bu, kalau dia menuruti apa kata Bapak mungkin dia sudah ku menikah dengan pengusaha asal China, hidupnya akan lebih terjamin, ini dia malah memilih laki-laki miskin mengumpulkan uang saja begitu lama sampai 3 tahun, kalau kita uang segitu 2 hari bisa kita dapatkan," Pak Ujang meremehkan menantunya.


Ibu Tuti tidak menggubris omongan suaminya, karena ia tau berdebat dengan suaminya semakin menambah masalah baru, ia pegi ke kamar meninggalkan suaminya sendirian.


***


"Sayang sekarang ini rumah kita, kalau ada uang akan aku belikan kasur untuk kita berdua agar lebih empuk tidurnya," kata Adelio yang saat itu sedang melepaskan bajunya yang basah karena hujan lebat.


"Iya enggak masalah mas asalkan kita bisa berteduh disini," ucap Elena yang bibirnya sudah kebiruan karena kedinginan akibat hujan.


Lalu Deon mengambil handuknya, menyuruh Elena menggantikan bajunya, setelah itu ia membuatkan teh panas untuk mereka berdua.


"Mas makasih ya sudah buatin teh, ini membuat tubuhku menjadi hangat," Elena tersenyum melihat suaminya yang sedang duduk menggunakan selimut.


"Apa kamu benar sudah merasa hangat?" tanya Adelio sembari mendekati Elena yang sedang menyeruput secangkir teh.


"Ia sudah lumayan dari yang sebelumnya massss," Elena berteriak ketika Adelio menggendong tubuhnya.

__ADS_1


"Sttt jangan berteriak sayang, kau aman bersamaku, sayang aku merasa masih sangat dingin ayo panaskan dulu tubuhku," Adelio membawa Elena ke dalam kamar mereka.


Malam itu, Adelio dan Elena melewati malam yang indah diiringi rintik hujan yang berirama sedang menemani malam mereka, huhhhh sungguh mengasikkan malam itu, walaupun kini tinggal di rumah yang agak kecil tetapi mereka merasa sangat aman dan tentram.


"I love you Elena," napas Adelio turun naik tak beraturan.


"Love you to Mas," Elena membuka matanya seraya tersenyum.


Adelio terus saja memuji istrinya itu,"Kau tidak hanya baik tapi juga sangat cantik dan legit istriku," goda Adelio.


"Mas kau jangan memujiku seperti itu, jika kamu mau nambah lakukan saja Mas," Elena sepertinya paham apa yang diinginkan oleh Adelio.


"Wah kamu sangat peka terhadap suamimu ini sayang," Adelio mengecup kening istrinya ia tidak hentinya bersyukur memiliki istri seperti Elena sudah cantik, baik, pintar, seksi bahkan sangat peka dan pengertian terhadapnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam akhirnya keduanya pun terlelap sambil berpelukan, begitulah kebiasaan Adelio jika tidur ia harus memeluk Elena.


Alarm berbunyi menunjukkan pukul 6 pagi, Adelio sudah membuka matanya sementara itu Elena baru saja bangun dan akan menuju kamar mandi, belum lagi keluar kamar, Adelio langsung menggendong tubuhnya membawanya ke kamar mandi.


"Astaga Mas, kamu bikin kaget aku loh," Elena menepuk punggung Adelio.


"Aku pingin mandi bareng sama kamu sayang boleh kan plisss," pinta Adelio.


"Jangan deh Mas, aku malu biasanya di rumahku kita mandi sendiri kok," Elena menolak permintaan Adelio.


"Yah, kamu gimana sih nabi aja mandi bareng istrinya, kan ini sunah sayang," ucap Adelio yang kini sudah berada di kamar mandi.


"Ya udah deh kalau sunah nabi gassss," ucap Elena terkekeh ia setuju dengan Adelio walaupun sebenarnya ia malu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2