Menanti Pelangi Diujung Senja

Menanti Pelangi Diujung Senja
Berangkat keluar Negeri


__ADS_3

Sejak kejadian kemarin, Adelio masih saja tidak bekerja ia membantu pekerjaan Elena setiap hari di rumah, jika Elena memasak Adelio mencuci piring, kemudian jika Elena menyapu Adelio mengepel lantai. Begitulah kegiatan mereka setiap hari selama Adelio tidak bekerja.


Pada hari itu, setelah membantu Elena membereskan rumah Adelio mencoba mencari pekerjaan ditemani oleh Elena, satu persatu perusahaan ia datangi, namun tak ada lowongan kerja yang didapatkan.


"Bagaimana ini Sayang sejak dari lagi hingga malam aku belum mendapatkan pekerjaan," Adelio menjadi lesu.


"Ya sudah Mas kita lanjutkan besok saja mari kita pulang," ajak Elena.


Namun ketika akan naik motor mereka bertemu dengan Bapak Elena.


"Kasihan sekali hidup kalian semakin hari semakin susah tidak ada kemajuan sedikitpun," Pak Ujang terkekeh menertawakan Adelia dan Elena.


"Pak, hidup sukses itu tidak mudah, emangnya bapak dulu langsung kaya raya tidak kan!" Elena geram dengan tingkah sikap Bapaknya.


"Diam kamu! seandainya dulu kamu mengikuti apa kataku mungkin sekarang hidupmu enak Elena kamu diputrikan oleh pengusaha asal China yang tampan dan kaya itu, tidak susah begini, itu sih salahmu sendiri lebih memilih pria ini pria miskin ini," Pak Ujang terus menghina Adelio.


"Cukup Pak! Jangan hina kami, dia menantumu Pak! jalan Mas tinggalkan saja Bapak disini sendirian," Elena tidak tahan mendengar bapaknya yang menghina dirinya dan juga Adelio.


Adelio menuruti keinginan Elena, ia membawa motor dengan kecepatan tinggi, sehingga tidak bisa dikejar oleh bapak mertunya itu.


"Memang kenyataan Elena, aku berasal dari keluarga miskin jadi wajar bapakmu bilang seperti itu," Adelio sabar dengan apa yang dilakukan mertunya terhadapnya.


"Tapi aku tidak terima Mas, dia menghinamu sama saja dengan menghina anaknya sendiri," Elena menangis sejadinya di pundak Adelio.


Adelio membujuk Elena malam itu mereka menghabiskan waktu menonton bioskop, ia ingin sekali membahagiakan istrinya itu.


***

__ADS_1


Keesokan harinya Adelio mendapat telpon dari temannya Tono, ia menawarkan pekerjaan untuk Adelio tapi kali ini ia akan berangkat ke luar negeri dengan gaji yang dijanjikan cukup besar.


"Bagaimana apa kau mau ikut ke ke Thailand denganku?" tanya Tono.


"Baiklah akan ku diskusikan dengan istriku dulu," Adelio menutup telponnya.


Lalu Adelio menceritakan kepada Elena tentang pekerjaan yang ditawarkan Tono kepadanya.


"Sayang aku ditawarkan Tono pekerjaan dengan gaji yang cukup besar," kata Adelio sembari mengelus rambut Elena.


"Wah bagus dong tapi kerja dimana Mas?" tanya Elena.


"Tapi apakah kau mengizinkan aku untuk kerja di Thailand?" Adelio balik bertanya.


Elena terdiam sejenak, ia merasa sangat berat jika harus berjauhan dengan sang suami, namun keadaan ekonomi rumah tangganya semakin kritis membuat Elena berfikir ia tidak boleh egois, ia harus merelakan Adelio merantau mencari nafkah.


"Makasih sayang, kau telah mengizinkan aku untuk bekerja ke luar negeri, ini semua demi mengubah nasib kita biar aku tidak dihina oleh orang tuamu Elena, aku akan video call denganmu setiap hari sayang," Kata Adelio.


"Kamu jangan bohong ya aku rekam perkataan mu ini mas, jika suatu hari terjadi sesuatu diantara kita aku akan memutar rekaman ini, biar kau mengingatnya," Elena terkekeh.


***


Satu Minggu berlalu sejak ditelpon oleh Tono, akhirnya tiba masanya Adelio dan Tono berangkat ke Thailand, pagi itu Elena mengantarkan Adelio ke bandara untuk segera berangkat ke Thailand.


"Mas akan menelponmu setiap hari, dan akan mengirimkan uang untukmu jika sudah gajian sayang, jaga dirimu untukku ingat, selalu kunci pintu selama aku tidak berada di sisimu sayang, aku janji akan pulang tepat waktu," Adelio mengecup kening dan memeluk istrinya di bandara dan dilihat banyak orang disana.


"Kau juga mas jaga dirimu dimana pun kau berada, tetaplah setia kepadaku, aku akan selalu menantimu kembali," wajah Elena memerah ia menahan agar air matanya tidak jatuh dipipinya.

__ADS_1


Da ... da ... da .. da Elena melambaikan tangan melihat suaminya semakin menjauh darinya karena pesawat akan segera berangkat.


"Ya Tuhan apa.aku kuat menjalani keadaan seperti ini," gumam Elena.


Perasaan tidak bisa dibohongi, sebenarnya ia tidak rela jika harus berjauhan dengan suami tercinta, namun keadaan lah yang membuat mereka menjadi terpisah sementara.


***


Malam menjelma kini, dikamar terasa sunyi, biasa setiap malam ada canda tawa yang tak pernah berhenti setia harinya.


Ia menunggu telpon dari Adelio, namun sampai jam 10 malam Adelio tidak juga menelponnya akhirnya tanpa disadari Elena pun terlelap.


Satu jam kemudian, handphone milik Elena berdering panggilan masuk dari Adelio, 19 kali ia menelpon Elena namun tetap saja tidak diangkat oleh Elena karena ia sudah tidur.


"Kamu dimana? kenapa telponku tidak di angkat," Adelio sangat khawatir dengan keadaan Elena, karena baru kali ini ia meninggalkan Elena sendirian di rumah.


Malam itu Adelio tidak dapat tidur karena memikirkan Elena yang sendirian di rumah.


***


Keesokan harinya ketika Elena bangun ia melihat handphonenya segera ia menelpon Adelio.


"Sayang Maafkan aku tadi malam aku ketiduran, sehingga aku tidak mendengar kau menelponku," kata Elena.


"Aku sangat mengkhawatirkan dirimu Elena, sejak dari tadi malam aku tidak tidur karena memikirkanmu sendirian, aku takut kau kenapa-kenapa, tapi syukurlah sekarang aku merasa lega bisa mendengar suaramu sayang," Adelio merasa lega karena Elena menghubunginya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2