
Honeymoon yang dibayangkan oleh Shela tidak seperti yang ia bayangkan indah layaknya sepasang suami istri, Adelio tidak pernah tidur seranjang dengannya ia sangat tidak suka dengan Shela, ia menikah karena menghargai pimpinannya Pak Steven.
"Mas kamu kenapa sih tidak mau dekat denganku, aku ini sayang sama kamu mas, untuk apa kita berumah tangga kalau kau terus seperti ini!" Shela tidak terima dengan sikap Adelio yang cuek terhadapnya
"Ini salah kamu sendiri, udah tau aku sudah punya istri masih nekat kau memaksaku untuk menikahi mu, ya ginilah jadinya," Adelio sedari tadi tidak melihat wajah Shela ia hanya berbicara dengan melihat kearah luar jendela kamar tanpa melihat Shela sedikitpun.
"Mas aku kurang apa! cantik ia, montok ia, wanita mandiri ia, masak kamu tidak tertarik dengan aku!"
"Shela ini bukan tentang fisik atau apa, tapi ini masalah hati tidak bisa dipaksakan Shela, kamu tau kan dihatiku hanya ada untuk Elena seorang," ujar Adelio dengan menatap sinis Shela.
"Aku tidak pernah jatuh cinta dengan laki-laki, tapi kenapa ternyata sesakit ini mencintai seseorang, sabar Shela masih ada cara lain untuk mendapatkan hati Adelio, cinta memang butuh pengorbanan," Shela memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya ia menahan air matanya agar tidak tumpah karena pantang baginya untuk menangis karena itu akan dianggap lemah oleh orang lain.
"Bangkit Shela teruslah berbuat baik kepadanya, berikan segala perhatianmu kepada suamimu, kamu pasti bisa," Shela yang saat itu menyenderkan tubuhnya di tembok terus bergumam dalam hatinya.
Shela mengambil benda pipih yang berada diatas nakas, ia menghubungi sahabatnya dan menceritakan semua yang dialaminya kepada sahabatnya.
"Suamiku sangat dingin dan cuek terhadapku, bukan hanya itu dia juga tidak mau tidur seranjang denganku, selama dua minggu ini kami menikah ia tidak pernah menyentuhku bahkan berbicara denganku pun tidak mau Ra," Baru kali ini Shela menghadapi orang yang keras kepala seperti dirinya.
"Hahahaha," terdengar suara Era menertawakan Shela dari seberang telpon.
"Pasangan itu cerminan diri Shel, makanya jadi orang jangan keras kepala jadinya kan kau dapat pasangan yang sama seperti dirimu," ucap Era.
"Bantu aku bagaimana menaklukkan hati suamiku," Suara Shela terdengar seperti tidak berdaya namun kali ini dia sangat serius tidak bercanda.
"Shela baru kali ini aku melihatmu susah hati, biasanya kau tidak pernah memikirkan soal cinta, tapi akhirnya kau bisa merasakan jatuh cinta sakit bukan Shela?," ejek Era.
"Diam kau gendut, cepat kasi tau aku bagaimana caranya!" Shela terus memaksa Era untuk mencarikan solusi untuknya agar bisa membuat Adelio mencintainya.
Akhirnya Era pun memberikan solusi kepada sahabatnya Shela, dan Shela pun akan mengikuti semua masukan dari Era.
***
Saat itu mereka baru saja pulang dari honeymoon, jam sudah menunjukkan pukul 21.00 wib, terlihat Adelio sangat kecapean karena perjalanan yang jauh dan melelahkan.
Setelah selesai mandi ia pun mencampakkan tubuhnya secara sembarangan diatas kasur king size di kamarnya dengan Shela, namun pikirannya terus terpikir dengan Elena ia sangat rindu kepada Elena.
Adelio pun akhirnya terlelap "Zzzzzzzzzzzz"
__ADS_1
Malam itu Shela membuatkan minuman untuk Adelio di dapur, ia membuatkan segelas susu.
"Mudah-mudahan dengan cara ini kau akan lengket denganku Mas," Shela tersenyum licik sembari meletakkan sesuatu ke dalam susu yang ia buatkan untuk Adelio.
Shela membawakan Segelas susu untuk Adelio yang kini tengah berbaring diatas kasur.
"Mas ... sayang minum dulu susu nih aku bikin susu untukmu," ucap Shela sembari menepuk punggung Adelio.
Adelio pun dengan reflek terbangun menerima segelas susu dari Shela, tanpa berpikir panjang ia pun mereguk segelas susu itu.
"Kita lihat saja Mas apa yang terjadi selanjutnya," batin Shela, ia sangat senang melihat Adelio minum segelas susu yang ia berikan.
Adelio pun kembali memejamkan matanya lalu tertidur diatas tempat tidur, dan Shela mematikan lampu kamar mereka.
Selang setengah jam kemudian Adelio terbangun dari tidurnya, hasratnya kembali memuncak setelah sekian lama ia jauh dari Elena.
Adelio meraba Shela ia menganggap kalau Shela adalah Elena.
"Elena sayang aku rindu denganmu," ucap Adelio yang saat itu memeluk Shela.
Namun Shela membiarkan Adelio menyentuh tubuhnya meskipun ia sedikit kecewa ketika Adelio menyebut nama Elena.
Malam itu Adelio melakukannya bersama Shela, Shela pun merasa sangat bahagia akhirnya ia bisa melayani Adelio.
"Aku harap benihmu akan tumbuh Mas," ucap Shela memeluk Adelio yang kini kembali terlelap.
Pagi itu Adelio membuka matanya ia sangat terkejut ketika melihat di dalam selimut ia tidak mengenakan sehelai benang pun dan Shela yang tidur di sampingnya.
"Apa yang terjadi?!" Adelio merasa sangat heran dengan keadaannya sekarang.
"Mas kau telah melakukannya denganku, aku bahagia dan menikmatinya begitupun juga denganmu, lihat ini bekas percintaan kita semalam," Shela menunjukkan bercak merah diatas spray.
tiba-tiba Adelio terbangun dari tidurnya huhhhhh hahhhhhhhhh nafas Adelio turun naik dengan cepat.
"Huhhhhh untung saja ini cuma mimpi, kalau tidak aku akan menyesali akan hal ini" ucap Adelio yang terbangun dari tidurnya
Terlihat jam sudah menunjukkan pukul 21.15 menit, ia melihat Shela tidak ada dikamar mereka.
__ADS_1
"Kemana perempuan itu, Shela ...Shela!" Teriak Adelio mencari Shela di kamar mandi.
Mendengar Adelio mencarinya, Shela pun kembali masuk ke kamarnya.
"Kamu dari mana aja?" tanya Adelio.
"Aku lagi buatin susu buat kamu Mas," kata Shela sembari memberikan susu kepada Adelio.
teringat mimpinya tadi Adelio menolaknya."Tidak mau aku tidak suka susu, minum saja untukmu."
Adelio takut kalau mimpinya menjadi kenyataan.
***
3 bulan di negeri orang Adelio akhirnya mendapatkan cuti dari pimpinannya, ia akan pulang ke Indonesia menemui istrinya yang tercinta Elena.
Sebelum pulang ia berniat akan membelikan oleh-oleh untuk Elena, ia singgah di sebuah toko yang berada tidak jauh dari perusahaannya bekerja. Sudah lama sekali ia ingin membelikan perhiasan emas untuk Elena karena hidupnya dulu sangat susah hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan makan saja.
Tapi kali ini 1 bulan gaji terbilang cukup besar sehingga ia mampu membelikan cincin, gelang dan kalung untuk Elena.
Dengan rasa yang menggebu sudah tidak sabar ia ingin ketemu dengan istrinya Elena.
Perjalanan yang di tempuh cukup lama memakan waktu 10 jam hingga sampai ke daerah tempatnya tinggal, Adelio yang saat itu sudah berada di depan pintu rumahnya
Tok ... tok ... tok Adelio mengetuk pintu rumahnya dari luar, namun Elena masih enggan berdiri untuk membuka pintu ia sangat takut sewaktu-waktu kalau Joko datang mencarinya.
Karena kejadian kemarin Elena tidak berani membuka pintu rumahnya, ia masih merasa trauma dengan kedatangan Joko yang hampir saja akan berbuat jahat kepadanya.
"Elena ... Elena ...!" teriak Adelio dari luar rumahnya.
Mendengar suara yang tidak asing Elena yang tadi sedang ketakutan berubah menjadi tersenyum lebar, ia berlari membuka pintu rumahnya.
"Mas Adelioooo."
"Elenaaaaa."
Keduanya saling berteriak rasa rindu yang tertimbun kini sudah tercurahkan. Mereka berdua saling berpelukan.
__ADS_1
Bersambung.