Menanti Pelangi Diujung Senja

Menanti Pelangi Diujung Senja
Perusahaan Bangkrut


__ADS_3

Seperti biasa Elena selalu bangun pukul 4 subuh, dia menyiapkan makanan untuk Adelio, setelah selesai masak ia pun membersihkan seluruh ruangan rumahnya, setelah itu lanjut membersihkan halaman rumahnya.


Udara pagi di sekitaran rumahnya sangat dingin, membuat Elena betah tinggal di sana, asik membersihkan halaman rumah ia lupa membangunkan Adelio yang masih tidur, tanpa ia sadari jam Sudah menunjukkan 6.30 ia pun bergegas masuk ke kamar.


"Mas bangun sebentar lagi jam 7 aku lupa membangunkanmu," Elena menepuk pundak Adelio.


Adelio sengaja memejamkan matanya, Padahal ia sudah dari sejak tadi bangun, namun ia mau melihat reaksi Elena jika ia lambat bangun.


"Baaa!" teriak Adelio sembari membuka selimutnya.


"Aaaaaa!" Elena merasa sangat kaget ia pun berteriak sekuatnya.


"Sttt jangan berisik, malu di dengar tetangga," ucap Adelio sembari jarinya mendarat dibibir Elena.


"Kamu sih bikin aku kaget Mas," Elena menghela nafas panjang seraya menggosok dadanya karena kaget.


Adelio bangun dari tempat tidurnya ia mendekati Elena lalu menciumnya, kemudian ia berlalu ke kamar mandi. Setelah berpakaian rapi ia pun menuju Elena yang sudah menunggunya di meja makan.


Seperti biasa Elena selalu menunggu suaminya untuk makan bersama, meskipun terkadang ia makan terlebih dahulu, ia akan makan lagi jika Adelio belum makan,


Pukul 7.00 Adelio berangkat kerja, tak lupa pula Elena membawakan bekal makan siang untuk suaminya itu.


"Aku berangkat kerja dulu ya, jaga dirimu selama aku tidak ada di rumah kunci pintu rumah ini setelah aku berangkat ya," titah Adelio lalu mencium kening Elena


"Baik Mas, aku melakukannya setiap hari," Kata Elena sembari mencium tangan Adelio.


"Baiklah cintaku aku berangkat dulu," Adelio menyalakan motornya dan segera belalu dari hadapan Elena.


"Iya Mas, kabari aku Mas jika sudah sampai kantor!" teriak Elena melihat suaminya yang sudah agak jauh dari rumahnya.


Sementara itu Adelio memberikan kode jempol tanda oke.


***


Setelah melalui perjalanan yang tidak begitu lama akhirnya Adelio sampai di perusahaan tempat ia bekerja, keadaan kantor pagi itu sangat sangat sibuk temannya berkumpul di sebuah meja.


"Adelio kemarilah!" teriak salah seorang temannya bernama Tono.


"Ada ap sih pagi-pagi udah gosip aja ya kalian," ucap Adelio sembari menghampiri teman-temannya.


"Lu udah tau berita hari ini?" tanya Tono.


"Emang ada ap sih, kok muka kalian keliatan lesu semua?" Adelio balik bertanya.


"Bentar lagi kita akan kumpul di ruangan bos, katanya perusahaan kita bangkrut, itu artinya kita akan kehilangan tempat mengais rupiah Del hhhh," Tono menghela nafasnya.


"Astaga," Adelio kaget mendengar kabar yang ia dengar dari Tono.

__ADS_1


"Makanya Del, kita pusing ini mikir kerja apa lagi setelah ini, lu mendingan masih berdua, sedangkan gue otw anak 6 mau kasi makan apa anak sama istri gue, aduhh," Jeri merasa bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Busetttt lu, banyak amat anaknya, lu sih gas terus tiap hari, kan sekarang pusing jadinya, ap lagi keadaan lagi seperti ini," ejek Oki.


"Biarin itu kan wajar lagi pun dia istri gue jadi gue gas terus, dari pada lu blom nikah padahal udah tua makanya nikah dong biar hidup terjamin," kata Jeri.


Adelio dan teman-teman nya membicarakan masalah kerjaan mereka, mereka berencana mencari pekerjaan baru agar bisa menafkahi anak dan istri mereka.


Pengumuman


kepada seluruh karyawan agar segera dapat berkumpul ke ruangan pimpinan, mengingat ada hal penting yang akan disampaikan, atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Astaga suara operator bikin gue merinding," Tono, Adelio dan teman lainya menuju ruangan pimpinan yang berada di lantai 2.


"Terimakasih telah menemani dan setia bekerja di perusahaan selama 10 tahun ini, saya minta maaf dengan kalian semua perusahaan ini tidak bisa dilanjutkan dan bangkrut, untuk itu saya akan memberikan sedikit gaji dan pesangon untuk kalian semua," pimpinan perusahaan terlihat sembab menyampaikan maksud dan tujuannya pada pagi itu.


Semua karyawan menangis sedih, karena pimpinan mereka sangat baik, dan tidak pernah marah kepada semua karyawannya, karena suatu kesalahan membuat perusahaanya bangkrut dan tidak bisa diselamatkan lagi akhirnya semua aktifitas dihentikan.


Satu persatu karyawan mendapatkan cek dari pimpinan dan keluar dari ruangannya dengan wajah lesu dan mata yang berair.


Saat itu Adelio adalah karyawan paling terakhir ia meminta maaf dan memeluk pimpinan yang umurnya selisih 5 tahun.


"Pak tetap semangat ya saya berharap perusahaan bapak dapat berdiri kembali dengan cepat," ucap Adelio.


"Aamin, makasih Adelio, oh ya Adelio saya ada sedikit uang untuk kamu ini ceknya sebesar 20 juta," Pak Jaya mengulurkan selembar kertas.


"Aku sudah menyiapkan semua upah untuk karyawan ku Adelio, ini khusus untukmu nilainya 10 juta lebih banyak dari pada karyawan yang lain walaupun ini tidak seberapa Del, ini juga reward selama kamu bekerja disini terimalah," Pak Jaya mengambilkan kertas yang ada di atas meja kemudian memberikan ke tangan Adelio.


Adelio tidak bisa menolak lagi, karena pimpinannya akan marah jika ia tidak menerimanya.


"Terimakasih Pak, aku terima uangnya semoga bapak selalu dimurahkan rezekinya," Adelio pamit dan meninggalkan ruangan pimpinannya.


***


Pagi itu sekitar jam 10 pagi, semua karyawan keluar dari perusahaan.


"Aku pulang dulu ya guys," Tono pergi menggunakan motornya.


Kemudian disusul Jeri dan Oki di belakang, Adelio pun akhirnya juga memutuskan untuk pulang kerumahnya.


...


Brmmmmm ... brmmmm ...


Suara motor dari luar rumah membuat Elena bertanya


"Seperti suara motor Mas Adelio, tapi mana mungkin dia pulang jam segini," gumam Elena.

__ADS_1


Elena berjalan membuka pintu depan membuka pintu rumahnya.


"Tumben Mas kamu cepat sekali pulangnya?" tanya Elena.


Adelio diam, dia tidak menjawab pertanyaan Elena ia masuk ke dalam rumahnya seraya melepaskan baju kerjanya. melihat suaminya diam saja Elena pun juga diam tidak lagi bertanya.


"Perusahaan bangkrut, jadi semua karyawan diberhentikan," Adelio terlihat lemas.


"Sabar Mas, semoga kamu dapat kerjaan lain natinya," Elena membuatkan segelas teh dan memberikan kepada suaminya.


"Terimakasih sayang, ini ada uang dari pimpinanku sebesar 20 juta, aku rasa ini cukup untuk kita makan sembari aku mencari pekerjaan baru," Adelio memberikan uang yang sudah ia tarik kepada Elena.


"Alhamdulillah ini lebih dari cukup Mas," Elena sangat bersyukur dengan apa yang suaminya berikan untuknya.


***


Tok ... tok ...tok


Mendengar ada yang mengetok pintu Elena menyimpan bergegas menyimpan uang ke dalam kamarnya, kemudian ia membuka pintu.


"Eh Bapak, Ibu kenapa tidak bilang mau ke sini?" tanya Elena.


"Kami sengaja ke sini mau melihat kamu dengan suamimu," kata Pak Ujang.


Mendengar suara mertuanya Adelio segera menyusul ke ruang tamu dan menyalami mertuanya.


"Kamu kok tidak kerja?" tanya Pak Ujang.


"Perusahaan bangkrut pak jadi semua karyawan diberhentikan, untuk sementara ini saya nganggur dulu," Ujar Adelio.


"Apa! lalu bagaimana kamu menafkahi Elena, kerja sekarang susah, sebenarnya aku tidak terlalu yakin denganmu kau kurang usaha lihat tempat tinggal kalian bagiku ini tidak layak huni," Kata pak ujan meremehkan Adelio.


"Pak saya akan berusaha sebisa saya," Adelio tertunduk tidak bisa menatap mertuanya yang arogan itu.


"Harga diri laki-laki itu bekerja, ingat ya kamu jangan jadi orang malas," kata pak Ujang seraya berdiri.


"Hust Pak kita muda dulu juga susah, kasian Adelio dia baru saja diberhentikan dari perusahaan karena bangkrut jangan menambah pusing menantumu Pak," bisik Bu Tuti.


"Ah diam kamu! Adelio kamu itu berasal dari keluarga miskin apa mungkin kau akan sukses seperti aku?" aku rasa mentalmu lemah jadi tidak mungkin sukses, kerja dikit udah nggak mau usaha lagi," Pak Ujang terus mengejek Adelio, namun Adelio hanya diam ia tidak mau melawan bapak mertunya itu.


"Pak jangan seperti itu, keadaan kamu sedang susah ditambah lagi bapak mengejek dan menghina mas Adelio cukup pak," Elena tidak tahan dengan perkataan Bapaknya.


"Kamu berani melawan bapak, beginikah ajaran Adelio kepadamu berani melawan orang tua sendiri ha!" Pak Ujang emosi ia tangganya mendarat di pipi Elena.


Plakkk ...


Adelio memeluk Elena, sementara itu Bu Tuti mengamankan Pak Ujang mereka pun pergi dari rumah Adelio dan Elena.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2