Menanti Pelangi Diujung Senja

Menanti Pelangi Diujung Senja
Godaan Adelio


__ADS_3

Pada hari itu, hari pertama Adelio bekerja di perusahaan sebagai programmer di Thailand, ia merasa sangat bersyukur bisa bekerja disana, karena gaji yang dijanjikan cukup besar.


Adelio sedang sibuk dengan laptopnya, ada seorang yang masuk tanpa mengetok pintu di ruangannya, namun ia tidak menghiraukannya ia fokus tetap bekerja.


"Halo," kata seorang wanita.


Adelio masih tetap diam, ia tetap lanjut bekerja, lalu wanita itu mengomel sendiri.


"Dasar lelaki nggak punya telinga apa tuli ya," gumam Siska.


Mendengar wanita tersebut berbicara bahasa Indonesia, Adelio pun sontak langsung berbicara."Kamu berasal dari Indonesia juga ya?" tanya Adelio.


"Eh akhirnya kamu bicara juga," ucap Siska sembari duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan Adelio.


Singkat cerita akhirnya mereka pun ngobrol dan Siska memberikannya secangkir kopi.


"Apa kau sudah menikah?" tanya Siska dengan penasaran.


"Menurutmu aku ini bujangan atau sudah punya istri?" Adelio balik bertanya kepadanya.


"Menurutku belum, soalnya kau terlihat masih sangat muda sekali," ujar Siska.


"Hmppp jawabanmu salah, aku ini sudah menikah tau," Adelio terkekeh menertawakan Siska yang salah menebak pertanyaannya.


"Ohh aku kira kamu belum menikah, tapi kita masih bisa berteman kan Adelio?" tanya Siska.


"Iya boleh," ucap Adelio.


***


Keesokan harinya mereka kembali bekerja, Siska pun sering keluar masuk di ruangan Adelio.


"Adelio, ada yang bisa aku bantu?" tanya Siska sembari mendekati Adelio yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Tidak Siska, aku masih bisa mengerjakan ini sendiri," kenapa kau ke ruanganku apa pekerjaanmu sudah siap?" Adelio merasa agak heran karena Siska sering kali masuk ke ruangannya entah itu ada hal kecil, atau tidak penting selalu ke ruangan Adelio.

__ADS_1


"Aku sudah mengerjakannya, tapi aku santai sejenak, oh ya Adelio bisakah nanti malam kau menemaniku untuk mencari barang, soalnya barangnya banyak sekali dan akan dikirim ke Indonesia besok," ucap Siska sembari memutar rambutnya menggunakan jari telunjuknya


Adelio mengerenyitkan keningnya,"Kenapa mengajakku bukankah banyak teman yang lainya," Adelio sebenarnya malas menemani Siska.


"Mereka semuanya pada sibuk, ayolah temani aku malam ini saja please Adelio mau ya," Siska terus saja memohon kepada Adelio untuk menemaninya.


Adelio pun terpaksa mengiyakan ajakan Siska walaupun sebenarnya ia sangat keberatan.


***


Siap mencari barang Siska mengajak Adelio singgah di sebuah tempat.


"Ngapain kita ke sini ayo pulang," Adelio tidak suka pergi ke diskotik dia tidak pernah menyentuh barang haram.


"Eh tunggu, kau harus duduk disini, temani saja aku minum kalau kau mau kau juga boleh meminumnya," kata Siska ia menuangkan minuman ke dalam gelas.


Adelio yang tidak biasa berada di tempat seperti itu menjadi pusing karena melihat ruangan yang agak gelap ditambah lampu yang berkelap kelip.


Siska sudah menghabiskan minuman satu botol, Lalu ia tetap menambahkan minuman ke dalam gelasnya.


"Adelio kemarilah ayo berjoget," Ucap Siska.


Namun Siska tidak menghiraukannya ia tetap tidak mau pulang.


lalu datang seorang pelayang mengantarkan segelas minuman kepada Adelio.


"Silahkan diminum pak, ini minuman biasa, bukan Alkohol," kata seorang pelayan.


Lalu Adelio pun mengambil gelas yang sudah diletakkan pelayan dia atas meja ia pun meminumnya, selang beberapa menit Adelio mengantuk dan akhirnya tertidur diatas sofa.


"Wah bagus sekarang kau sudah tertidur, tunggu disini ya aku mau menjumpai pacar gelapku," kata Siska yang berbicara dengan Adelio yang sudah tertidur pulas.


Siska menuju sebuah kamar, ia menjumpai kakek tua tajir yang sudah menunggunya dari tadi.


"Kenapa lama sekali aku sudah tidak sabar ingin bersamamu malam ini," kata kakek tua yang sedang berbaring diatas tempat tidur.

__ADS_1


"Sabar atuh kek saya masih mau minum bersama teman-teman ku tadi," ucap Siska sembari menghampiri kakek yang sedang berbaring.


***


Elena malam itu tidak enak hati, ia memikirkan Adelio yang jauh di negeri orang.


"Ya Tuhan lindungilah suamiku dimanapun berada jauhkanlah dia dari hal buruk," Kata Elena yang saat itu sedang bersimpuh diatas sajadah.


Sudah satu bulan Adelio bekerja disana, raja bimbang dan khawatir selalu bermain di pikiran Elena.


Entah sampai kapan Adelio bekerja disana, Elena merasa sangat kesepian, setiap hari menjalani kehidupan sendirian.


***


Pukul 09.00 WIB


Tok ... tok ... tok


terdengar suara ketokan pintu dari luar rumah, Elena pun bergegas membuka pintu, ternyata kedua orang tuanya datang kerumah, ia pun menyalami keduanya.


"Kamu sehat nak?" tanya Ibu Tuti.


"Alhamdulillah sehat Bu, Ayo masuk lah bapak, Ibu," kata Elena mempersilahkan kedua orang tuanya masuk.


"Pulanglah kerumah Elena, toh kau disini juga sendirian," kata Bu Tuti.


Elena hanya diam, karena sewaktu Adelio berpesan ia tidak boleh pergi kemana-mana dan tetap tinggal di rumah saja jika tidak ada keperluan lain.


"Elena bapak rasa, kau harus menikah lagi untuk apa tinggal sendirian begini, bapak akan menjodohkan mu dengan anak teman bapak yang kaya itu," kata pak Ujang yang saat itu sedang merokok.


"Pak, Elena sudah menikah, mana mungkin menikah lagi, lagi pun 2 bulan lagi mas Adelio akan pulang," Elena tidak mau dijodohkan sedangkan ia menanti kepulangan suaminya Adelio.


"Lihat keadaanmu sekarang, status memang menikah, tapi tidak seperti menikah, apa kau tahan hidup seperti ini terus, memanglah Adelio mengirimmu uang tapi kau tidak bersamanya, ini sulit sekali bagiku Elena, aku yang melihat keadaanmu saja kasihan, kau pasti tertekan sekali," kata pak Ujang.


"Tidak pak, aku sudah siap seperti ini, makanya aku mengizinkan mas Adelio kerja di sana, lagipun aku yakin tidak selamanya ia bekerja disana, suatu saat ia akan pulang," kata Elena.

__ADS_1


"Aku tidak mau tau kau, kali ini kau harus mengikuti semua keinginanku, besok Joko dan keluarganya akan datang melamar kamu, kau tidak boleh menolaknya," kata Pak Ujang.


Bersambung


__ADS_2