Mencari Cinta Masa Kecil

Mencari Cinta Masa Kecil
Bab 3. Persiapan


__ADS_3

Gedung sudah dipersiapkan dengan konsep dekor yang dipilih oleh Wulan dan Tia, karena Agatha dan Ray malas sekali mengurusi pernikahannya ini, mereka akan menikah disalah satu hotel bintang lima milik keluarga Mandokta. Bahkan cincin dan gaun pengantin juga disiapkan oleh Wulan dan Tia, Agatha dan Ray hanya disuruh fitting baju dibutik terbaik langanan Wulan dan Tia.


Hari ini Ray harus terpaksa menjemput Agatha untuk fitting baju pengantin mereka, semua ini karena paksaan Wulan. Dia mau Ray dekat dengan Agatha, biar saat malam pertama nggak cangung, ya itu lah pikiran mesum Wulan. Bahkan Wulan dan Tia sudah menyiapkan lingeri untuk dipakai Agatha saat malam pertama, mereka memang segitu niatnya ingin punya cucu.


“Ck....kenapa harus cantik banget sih jadi cewek” batin Ray kesal melihat Agatha berjalan ke arah mobilnya, iya Ray nggak turun dari mobil untuk menjemput dan membukakan pintu untuk Agatha, dia hanya membunyikan kelakson saat sampai didepan rumah Agatha.


Agatha menggunakan dress diatas lutut sedikit dengan bahu terbuka dan rambut digulung keatas, hingga menampilkan leher jenjangnya dan tubuh seksinya. Saat Agatha masuk ke dalam mobil Ray langsung menelah salivanya.


“Aduh....kok makin ganteng sih” batin Agatha saat masuk kedalam mobil.


“Kenapa pakai baju kayak gitu” gerutu Ray kepada Agatha.


“Baju gimana? Emang ada yang salah? Aku biasa begini” ucap Agatha binggung.


“Ntar kalau kita udah nikah nggak usah pake baju kayak gitu” kesal Ray.


“Baju gimana sih? Aku nggak paham deh” ucap Agatha sambil melihat baju yang dia kenakan.


“Lihat bahumu berbuka, lehermu tampak, paha dan betis mu juga tampak, kamu mau pamer kesiapa lagi? Kita kan mau menikah, kamu mau cari cowok lagi” omel Ray tanpa sadar akan ucapannya.


“Jadi kamu serius dengan pernikahan kita? Kirain kamu nggak setuju” ucap Agatha sambil tersenyum, setelah lihat betapa menggodanya Ray sebenarnya dia nggak masalah kalau dijodohkan dengan cowok setampan dan seseksi Ray, apa lagi mapan, tinggal buat Ray jatuh cinta sama dia aja, walaupun udah sempat kesal saat pertemuan pertama.


“Siapa bilang aku setuju” gagap Ray, dia juga binggung kenapa dia jadi kesal dan nggak rela ada mata lain melihat betapa cantik dan seksinya Agatha.


“Kalau nggak setuju kenapa protes” ucap Agatha cemberut, dia kesal dengan Ray yang nggak setuju, padahal tadi dia pikir Ray setuju dan hatinya udah berbunga-bunga.


“Sial,,,, tu bibir minta dicium apa?” batin Ray melihat bibir Agatha maju satu senti.


“Aku hanya nggak suka kalau istri aku nantinya pakai baju yang bisa buat mata laki-laki lain lirik-lirik, walaupun aku nggak cinta, aku hanya menghargai orang tua kita, dan asal kamu tahu aku sudah punya gadis yang aku cintai” ucap Ray,,, tapi entah mengapa hatinya rasa nyesek saat dia mengucapkannya.


“Kenapa seakan aku nggak terima yach ucapan aku tadi” batin Ray bertanya-tanya dengan cemas.


Deg....


“Ya....aku tahu” ucap Agatha sambil memalingkan wajahnya ke jendela,,, dia seakan ingin menanggis mendengar ucapan Ray,,, karena dia berharap lebih.


Ray lalu menjalankan mobilnya menuju butik langanan orang tua mereka, sepanjang perjalanan mereka diam dengan pikiran masing-masing. Tak lama mereka sampai kebutik langanan orang tua mereka. Semua pegawai menyambut kedatangan mereka dan langsung mengantarkan mereka keruangan Elisa si perancang sekaligus pemilik butik tersebut.


“Waaww.... calon pengantin yang sangat serasi” ucap Elisa sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kearah Ray dan Agatha.


“Terima kasih” ucap Agatha dan Ray bersamaan sambil tersenyum dan menyambut jabatan tangan Elisa.


“Mari ikut saya keruangan untuk melihat baju pengantinya, siapa tahu ada yang mau di tambahkan atau dikurangin, masih ada waktu seminggu juga kan, masih sempat kalau ada yang mau di perbaiki” ucap Elisa sambil berjalan menuju ruangan tersebut dan diikuti oleh Ray dan Agatha.

__ADS_1


Saat mereka sampai keruangan tersebut mata Agatha nggak berkedip sedikit pun melihat betapa menakjubkannya maha karya baju pengantin yang dibuat oleh tangan Elisa untuk Agatha,,, dia merasa pilihan ibunya dan calon mertuanya emang amazing.


“Ayo kita coba dulu” ucap Elisa kepada Agatha, Agatha hanya menggangukkan kepalanya saja.


Mereka menuju ruangan ganti, Agatha dibantu oleh Elisa dan satu pegawainga untuk mencoba gaun pengantin berwarna putih gading yang bertabur swarovski. Agatha telihat bak princess yang sangat cantik dan seksi dengan tubuhnya yang sangat indah.


“Waaw... You're beautiful Agtaha” ucap Elisa, Agatha hanya tersenyum melihat dirinya didepan cermin.


“Tuan Ray pasti sangat terpesona melihatmu” Elisa menambahkan.


“Benarkah? Apa kamu yakin?” ucap Agatha dengan mata berbinar, ya Agatha sesungguhnya merasa sudah mulai jatuh cinta kepada Ray, cuma dia malu mengungkapkan, apa lagi Ray sendiri bilang dia memiliki gadis yang dia cintai, tapi apa salahnya dia berusaha memikat calon suaminya sendiri.


“Yakin sekali, pria mana yang berani menolak pesona mu nona” ucap Elisa sangat yakin.


Agatha keluar dari ruangan ganti,,, Ray sedang asik dengan handphonenya sambil duduk disofa yang menghadap kearah ruang ganti dengan menyilangkan kaki dan bersandar disofa tanpa menyadari bahwa Agatha telah keluar.


“Ehem...” deheman diberikan oleh Elisa, tetapi Ray masih fokus pada handphonenya entah apa yang dilakukannya.


“Tuan ray,,, bisa menilai apakah nona Agatha sangat cocok dengan gaunnya atau ada yang harus di perbaiki” ucap Elisa menyadarkan Ray.


Ray menoleh keasal suara.


Deg,,, deg,,,, deg,,,,,


“Sial kenapa dia cantik dan seksi banget sih! Junior pun ngapa pula harus bereaksi kayak gini! Apa jadinya hidup dengan dia nih, bisa tersiksa aku” batin Ray murka.


“Tuan Ray....” Elisa menyadarkan Ray kembali, dia senang melihat ekspresi Ray yang begitu terpesona melihat Agatha.


“Aduh dia kenapa sih,,, aku jelek atau cantik sih” batin Agatha malu-malu ditatap Ray begitu, walaupun dia sebenarnya tahu arti tatapan itu sangat memujanya.


“Ah....lumayan” ucap Ray lalu fokus pada handphonenya padahal dia sedang berusaha menenangkan jantung dan juniornya.


“Udah sampe mau ngeces gitu bisa bilang lumayan,,, hahahaha” batin Elisa ketawa.


“Yah....kirain dia terpesona” batin Agatha kecewa.


Kemudian giliran Ray mencoba tuxedonya, Agatha sangat terpesona melihat tampang gagah Ray, dia sampai malu sendiri ketahuan oleh Ray nggak berkedip memandang Ray. Tapi dia berhasil menyembunyikan ekpresinya.


“Bilang aja kamu terpesona tadi lihat aku kan?” ucap Ray bangga.


Saat ini mereka sudah ada didalam mobil, Agatha enggan menjawab dia hanya membuang wajahnya kearah jendela menutupi merah dipipinya karena malu.


“Sial pake ketahuan segala sih” batin Agatha malu.

__ADS_1


“Nggak usah malu-malu, ngaku aja” Ray terus berusaha menggoda Agatha, dia sangat suka sikap malu-malu Agatha, sangat mengemaskan.


“Apaan sih,,, siapa juga yang terpesona” ucap Agatha masih pada posisinya.


“Kalau nggak terpesona kenapa nggak lihat kesini” ucap Ray sambil tersenyum melirik Agatha.


“kamu aja nggak terpesona sama aku, kenapa aku harus terpesona sama kamu” ucap Agatha sambil menoleh kearah Ray dengan wajah cemberut.


“Bibir jangan digituin bisa nggak? Mau dicium?” ucap Ray keceplosan.


“Apa???” syok Agatha mendengar ucapan Ray. Padahal dalam hati senang dan ingin bilang iya mau dicium kamu.


“Aduh...kok bisa ngomong gitu sih,,, junior pake on segala lagi,, bisa mati aku kayak gini terus dekat dengan dia nih” batin Ray kesal.


“Kita makan siang dulu mau?” ucap Ray mengalihkan pembicaraan.


“Jangan berharap lebih Agatha” batin Agatha kecewa.


“Boleh,,, tapi ini sudah jam tiga sore bukan siang lagi” cemberut Agatha.


Ray terkekeh mendengar ucapan Agatha, sungguh dia benar-benar ingin mencium bibir mungil Agatha. Dia bingung kenapa harus selalu bereaksi berlebihan setiap bersama Agatha, apa pun yang Agatha lakukan sungguh membuat dia gemas, dan apa pun yang Agatha pakai membuat dia terpesona, sampai-sampai dia harus selalu mengigatkan dirinya ada Fara yang dia cintai.


Tak lama mereka sampai ke sebuah restoran seafood kesukaan Ray, Ray menghentikan mobilnya.


“Kamu suka seafood?” ucap Ray sambil tersenyum melihat Agatha.


“Sial tampannya dia....” batin Agatha.


“Kamu ada alergi seafood?” ucap Ray lagi karena tidak ada respon dari Agatha.


“Hah apa?” ucap agatha gugup.


“Kamu melamun?” ucap Ray sambil menjitak kening Agatha.


“Sakit....” manja Agatha sambil mengelus keningnya.


Reflek Ray langsung ikutan mengelus dan meniup kening Agatha, sehingga membuat Agatha bergeming, dia syok dan juga senang melihat respon Ray.


“Apa aku mimpi? Jangan bangunkan aku kalau aku mimpi” batin Agatha senang.


“Masih sakit?” tanya Ray pelan tepat didepan wajahnya.


“Hah...” mulut Agatha terbuka sedikit karena syok melihat wajah Ray tepat didepan wajahnya.

__ADS_1


Cup...


__ADS_2