
Agatha berjalan menuju mall sendirian, dia telah lama di luar negeri, sejak kecil hidupnya di luar negeri, sehingga saat kembali ke negaranya dia tidak memiliki teman sama sekali. Dia tersenyum sambil mengandeng tas belanjaannya.
“Ah...capek dan laper banget ni, ternyata menghabiskan uang capek juga yach” Agatha terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Dia memilih makan di food court, saat dia masuk dan menuju tempat ayam kalasan yang saat di luar negeri salah satu makanan yang ingin sekali dia makan, dia melihat Ray dengan seorang wanita, wanita cantik itu menggengam tangan Ray, Ray tersenyum kepada wanita itu. Agatha sebenarnya ingin keluar tapi dia penasaran siapa wanita itu, apakah itu wanita yang di cintai Ray.
Setelah dia memesan makanan dan minuman, Dia memilih duduk nggak jauh dari meja Ray agak tertutupin dengan bunga hias agar Ray nggak bisa melihatnya.
“Cepet banget sih udah ketemu aja dengan ceweknya” batin Agatha kesal.
“Kenapa juga pake pegangan tangan” batin Agatha ingin memergokin mereka dan bilang keperempuan itu bahwa dia itu calon istrinya dan jangan pegang-pegang tangan calon suaminya.
“Kenapa juga pake senyum manis segala sih” ucap Agatha sambil menatap tajam kearah Ray tanpa dia sadari makanan dan minuman telah sampai.
“Silahkah dinikmati nona” ucap pelayan.
“Hah...” Agatha bengong menatap pelayan.
Tiba-tiba selera makan dan rasa lapar Agatha menghilang, dia sudah muak melihat betapa dekatnya Ray dengan perempuan itu, saat Ray mencium punggung tangan perempuan itu Agatha langsung bangun dengan cepat dan membuat piring makanannya terjatuh.
Hal itu membuat semua pengunjung menoleh ke arah Agatha, begitu juga Ray dan perempuan tadi. Ray terkejut melihat Agatha, saat mata mereka beradu pandang, mata Agatha mengarah kearah tangan Ray yang mengenggam tangan perempuan itu. Tapi Ray nggak melepaskan ngenggaman tangannya. Agatha langsung berlalu sambil meletakan uang dimeja tersebut untuk menganti rugi kekacauan yang dia buat.
“Hiks,,, aku kenapa sih?” tangis Agatha di dalam mobil.
Tak lama terdengar ketukan pintu kaca mobilnya, dia menoleh melihat Ray, saat dia ingin melajukan mobilnya pintu mobil yang belum sempat dia kunci terbuka, dengan cepat tangan Ray membuka pintu dan menarik Agatha keluar.
Cup...
Kecupan berubah manjadi ******* Ray menahan tengkuk Agatha satu tangannya lagi menahan tangan Agatha yang memberontak. Agatha kesal saat Ray mencium bibirnya, dia masih ingat senyum manis dan ciuman yang Ray berikan kepada perempuan tadi.
Ray terus ******* dan menghisap bibir Agatha tanpa ampun, karena nggak mendapat balasan dari Agatha, Ray mengigit bibir bawah Agatha, spontan Agatha membuka mulutnya dan Ray langsung memasukan lidahnya mengeksplor seluruh rongga mulut Agatha,,, ciuman mereka semakin lama dan panas. Hingga akhirnya Agatha menepuk-nepuk dada Ray karena kehabisan oksigen.
“Huff....kamu mau membunuh ku hah!” teriak Agatha tanpa sadar air matanya mengalir.
“Maaf,,,, dia adik sepupuku sayang, kamu boleh bertanya pada mama dan papa” ucap Ray sambil menghapus air mata Agatha.
“Aku nggak bertanya” ucap Agatha malu dan ikutan menghapus air matanya.
“Tapi tadi kamu lari tanpa menghabiskan makanan mu” ucap Ray sambil membawa Agatha kepelukannya, dia bingung dengan hati dan logikanya kenapa nggak sejalan, kenapa harus sibuk-sibuk menjelaskan pada Agatha.
__ADS_1
“Aku...aku nggak selera makan tadi, dan kenapa kamu manggil aku sayang?” ucap Agatha gugup dan senang saat teringat Ray memanggilnya sayang, dia juga ragu ingin membalas pelukan Ray atau nggak.
“Makannya aku jelasin biar kamu bisa selera makan lagi' ucap Ray sambil mengecup kening Agatha dan mengelus rambutnya tanpa menjelaskan kenapa dia memanggil Agatha sayang, karena itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“Bukan karena kamu kok” ucap Agatha akhirnya dia membalas pelukan Ray, tapi air matanya makin deras keluar, dia bahagia sekali sekaligus kesal karena Ray nggak menjawab pertanyaannya sehingga dia menanggis.
“Sudah jangan menanggis lagi yach” ucap Ray sambil melepaskan pelukannya kemudian menghapus air mata Agatha.
“Aku nggak nanggis ini kelilipan” ucap Agatha sambil cepat-cepat menghapus air matanya.
“Rupanya seperti ini yach wanita cemburu” ucap Ray sambil terkekeh.
“Siapa cemburu, enak jak” ucap Agatha sambil menepis tangan Ray.
Tapi Ray malah terkekeh dan memengang tangan Agatha lalu membawanya ke pelukannya. Pelukan ini sangat memenangkan bagi Agatha, rasanya enggan sekali melepaskan pelukan ini. Tak lama perempuan tadi menghampiri mereka.
“Dia fara?” tanya perempuan itu sambil menunjuk Agatha.
“Fara siapa?” tanya Agatha melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Ray.
“Bukan,, Doni belum berhasil menemukannya” ucap Ray melihat perempuan itu.
“Agatha, dia diana sepupuku” ucap Ray mengalihkan pembicaraan dia nggak mau mambuat Agatha semakin menanggis dan kesal jika dia berbicara tentang Fara saat ini.
“Diana sepupu Ray” ucap Diana mengulurkan tangan.
“Agatha” ucap Agatha menjabat tangan Diana, dia ingin sekali bilang bahwa dia calon istri Ray, tetapi dia ragu.
“Katakan Ray, jawab pertanyaan aku tadi” ucap Diana sambil melihat tajam Ray.
“Ibu menjodohkan aku dengannya, aku terpaksa menerima, kamu tahukan ibu ngebet sekali ingin punya mantu, sedangkan aku nggak berani bilang kalau aku hanya mau menikah dengan Fara sebelum aku pertemukan Fara pada ibu, soal ciuman tadi itu juga hanya reflek” ucap Ray gugup dia benar-benar menyesal mulut jahatnya bebicara seperti itu, dia terpaksa harus menjelaskan karena Diana pasti terus mengejar penjelasan darinya, ada sesak didadanya saat mengucapkannya apa lagi saat melihat keterkejutan dari wajah Agatha.
“Hanya reflek, jadi selama ini hanya reflek? Nggak ada rasa sedikit pun” batin Agatha perih, dia sepontan menjauh dari Ray.
“Maaf...” batin Ray melihat Agatha menjauh.
“Bagus lah,,, aku pikir kamu telah berpaling dari Fara” ucap Diana, sebenarnya dia kasihan dengan Agatha, cuma dia nggak terima kalau Ray berpaling.
Ya...sebenarnya Fara adalah teman Diana saat Fara pindah ke daerahnya, dan dia juga yang mengenalkan Fara kepada Ray sepupunya, Cuma saat Fara berusia 7 tahun dia ikut ayahnya pindah, antara Ray dan Diana nggak ada yang tahu Fara pindah kemana.
__ADS_1
Diana sedih melihat Ray sering menanggis dan sering sakit saat Fara pergi. Awalnya dia pikir hanya cinta monyet, tapi sampai dia tahu bahwa Ray terus mencari Fara hingga sekarang, dia baru sadar bahwa perasaan Ray pada Fara bukan cuma cinta monyet. Maka dia nggak terima Ray mudah goyah padahal perjuangannya udah sampai segininya.
“Ayo aku antar pulang” ucap Ray sambil ingin memengang tangan Agatha.
“Nggak perlu aku bawa mobil sendiri” Agatha menepis tangan Ray dan kemudian masuk kedalam mobil, nggak lupa mengkunci pintu dan langsung melaju.
Ray terteguh melihat reaksi Agatha, ada sakit dihatinya. Cuma dia binggung menghadapinya. Sedangkan Agatha terus menanggis air mata nggak bisa berhenti keluar.
“Ray sialan!!!!” teriak Agatha sambil menanggis kencang.
“Kamu yakin nggak jatuh cinta dengan dia Ray?” tanya Diana memecahkan lamunan Ray.
“Aku hanya kasihan kalau dia berharap lebih” ucap Ray sambil menoleh Diana.
“Makannya jangan suka main sosor, jadi salah paham kan” ucap Diana kesal.
“Nama juga cowok” ucap Ray santai.
“Gimana nggak main sosor ngegemesin gitu, mana jadi candu lagi tu bibir” batin Ray.
Sesampainya dirumah Agatha langsung masuk kekamarnya, dan berbaring di kasurnya.
“Aku harus melupakan Ray” batin Agatha.
“Cuma kalau kami nikah bagaimana bisa” ucap Agatha sambil menanggis.
Tia mendengar suara isakan tangis dari kamar putrinya menjadi khawatir. Dia pun langsung masuk karena pintu emang nggak terkunci.
“Putri mama kenapa?” tanya Tia sambil mengelus kepala Agatha sayang.
Agatha bangun dan langsung memeluk mamanya sambil menanggis kencang.
“Kenapa sayang” ucap Tia masih mengelus rambut Agatha.
“Ray ma.... Ray jahat....” tanggis Agatha semakin pecah.
“Ray kenapa? Jahat kenapa? Dia selingkuh kah?” tanya Tia khawatir.
“Agatha nggak mau nikah dengan Ray ma,,, Agatha benci Ray” tanggis Agatha semakin menjadi-jadi.
__ADS_1