Mencari Cinta Masa Kecil

Mencari Cinta Masa Kecil
Bab 6. Hampir


__ADS_3

Saat Ray sampai dirumah dia dikejutkan dengan tatapan tajam dari orang tuanya. Seperti ingin memakannya.


“Mama sama papa kenapa?” Tanya Ray heran.


“Kamu punya kekasih lain?” Tanya Wulan dingin.


“Kenapa bertanya seperti itu?” Ucap Ray masih dalam kebinggungannya.


“Jawab pertanyaan mama!” Bentak Wulan.


“Nggak ada ma,,, hanya gadis yang aku cintai belum ketemu” ucap Ray sambil menundukan kepalanya.


“Sampai kapan kamu mau mencarinya?” Tanya Hendro tenang.


“Sampai Ray berhasil menemukannya pa” ucap Ray sambil melihat wajah papanya, dia bingung kenapa orang tuanya menanyakan masalah ini lagi.


“Kalau nggak pernah berhasil kamu temui bagaimana?” tanya Hendro dengan tenang lagi, dia sebenarnya kesal dengan anaknya, apa yang dipikirkan kenapa nggak bisa melupakan gadis itu.


“Aku pasti bisa menemukannya pa” ucap Ray yakin walaupun sampai saat ini tanda-tandanya saja belum dia dapatkan.


“Hufff” Hendro dan Wulan menghela napas. Mereka nggak bisa memaksa anak mereka kalau malah menyakiti hati Agatha.


Ya tadi Tia menelepon ingin membatalkan pernikahan anak mereka, dia nggak tega melihat Agatha bersedih dan berharap lebih pada laki-laki yang nggak mencintainya. Saat tadi Agatha bercerita dia pun merasa seakan menjerumuskan anaknya kependeritaan jika menikahkan dengan Ray.


Apa lagi suaminya Andrew mendukung keinginan Agatha, jadi itu juga yang membulatkan tekatnya untuk menelpon Wulan dan mengabarkan pembatalan pernikahan anak mereka, walaupun dalam hati kecil kecewa karena mimpinya untuk berbesan dan keluarga sahabatnya gagal. Karena yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan Agatha.


“Kami sudah sepakat pernikahan kalian di batalkan” ucap Hendro saat melihat putranya akan menaiki tangga.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Ray dengan dada sesak saat melihat ayahnya, matanya tiba-tiba memerah rasa ingin mengeluarkan air mata.


“Agatha menginginkannya” tambah Wulan dia syok melihat ekpresi anaknya.


Tanpa bertanya lagi Ray langsung berlari menuju mobilnya dan melajukan mobilnya. Hendro dan Wulan terheran-heran melihat putranya.


“Katanya nggak cinta tapi kok ketakutan” ucap Wulan tertawa.


“Sok-sokan bilang cinta sama gadis yang udah lama nggak tahu rimbanya,, iya kalau masih hidup” kekeh Hendro.


“Hus...papa” tawa Wulan pun mengelegar, sebenarnya dia juga setuju dengan ucapan suaminya karena siapa yang tahu nasib seseorang, apa lagi sudah lama nggak ada kabarnya.


Ray melajukan mobilnya seperti pembalap F1, dia takut pernikahannya batal, dia benar-benar takut kehilangan Agatha. Dia bingung dengan pikirannya sendiri, satu sisi dia mencintai dan ingin menikah dengan Fara, satu sisi dia nggak rela kehilangan Agatha.


Jarak rumahnya kerumah Fara yang seharusnya di tempuh tiga puluh menit menjadi hanya sepuluh menit, syukur hari sudah malam dan kendaraan tidak padat jadi Ray nggak terlalu banyak halangan. Sesampai dirumah Agatha, Ray langsung menekan bel dengan tidak sabaran. Tia menuju pintu dengan perasaan kesal.


“Siapa sih malam-malam bertamu? nggak sabaran banget” ucap Tia kesal, apa lagi saat ini jam menunjukan pukul sebelas malam.


“Tante Agatha ada?” tanya Ray nggak sabaran, dia ingin sekali berlari mencari Agatha, tetapi itu nggak mungkin yang ada malah membuat mama Agatha makin membencinya.


“Kenapa kamu mencari Agatha? Bukannya kamu mencintai gadis lain, dan itu bukan anak saya” ucap Tia kesal, dia teringat cerita anaknya tentang gadis lain yang dicintai Ray.


Ray syok mendengar ucapan Tia,,, dia yakin Agatha pasti telah bercerita, pantas saja pernikahan mereka akan di batalkan, rupanya mama Agatha telah mengetahuinya. Sebenarnya Ray paham orang tua mana yang terima anaknya akan menikah tetapi calon suaminya nggak mencintai anaknya malah mencintai gadis lain.


“Tante maaf....bolehkah saya bertemu Agatha?” ucap Ray memelas, hanya dengan cara memelas dia bisa bertemu Agatha pikirnya.


“Pernikahan kalian sudah dibatalkan, kami akan mengadakan konferensi pers besok atas undangan yang telah terlanjur disebar, jadi kamu tenang aja” ucap Tia santai, dia ingin melihat sejauh mana usaha Ray.

__ADS_1


“Nggak tante nggak, aku nggak mau di batalkan” melas Ray, dia hampir menanggis mendengar ucapan Tia.


“Trus saat wanita itu hadir kamu akan menduakan anak saya? Atau kamu akan menceraikan anak saya” ucap Tia kesal bercampur syok melihat mata Ray yang telah memerah seperti ingin mengeluarkan air mata.


“Nggak tahu tante,,, tapi saat ini saya hanya ingin dengan Agatha,,, saya mohon tante” ucap Ray memelas, bahkan di sudut matanya ada air mata yang memaksa ingin keluar tapi sepertinya Ray berusaha menahannya.


“Ck....baiklah kamu bisa jumpa dengan Agatha, kalau dia nggak mau kamu jangan memaksanya, saya hanya beri waktu tiga puluh menit” ucap Tia kesal tapi rasa kasihan dengan Ray membuat dia mengambil keputusan menemukan Agatha dan Ray. Dia ingin anaknya menyelesaikan masalahnya sendiri, walaupun nanti dia nggak tahu apa yang terjadi, dia hanya ingin mereka menyadari perasaan masing-masing.


Tadi Wulan sudah cerita melalui telepon bagaimana paniknya Ray saat tahu pernikahan akan dibatalkan, bahkan Wulan melihat air mata Ray hampir keluar saat bertanya kenapa. Dan saat ini Tia melihat apa yang dikatakan oleh Wulan ternyata benar, seorang Ray yang tegas dan tanpa ekpresi bisa hampir menanggis karena anaknya Agatha.


Maka Tia yakin sebenarnya mereka telah jatuh cinta, hanya Ray masih malu mengkungkapkan atau terjebak dalam masa lalu. Sedangkan Agatha juga masih malu mengungkapkan kalau dia juga telah jatuh cinta kepada Ray.


Ray langsung berlari tanpa bertanya dimana kamar Agatha,,, sampai di atas dia kebingungan sendiri, untung ada pelayan lewat dan dia bisa bertanya dimana kamar Agatha. Ray mengetuk pintu namun nggak ada jawaban.


Tok tok tok


Saat ketukan pintu yang ke lima Ray baru mendengar jawaban dari dalam kamar Agatha.


“Kenapa ma?” Tanya Agatha dari dalam dia pikir itu mamanya.


Tok tok tok


Ray semakin mengetuk dengan nggak sabar setelah mendengar suara gadis yang telah membuat dia gelisah.


“Sebentar ma” ucap Agatha kesal karena sepertinya mamanya nggak sabaran. Dia langsung cepat-cepat berjalan tanpa memakai pakainnya terlebih dahulu, dia hanya memakai handuk.


Ya Agatha baru selesai mandi karena tadi dia sibuk menanggisi Ray hingga melewatkan mandi dan makan malamnya, saat dia berusaha tidur dia merasa semakin nggak bisa tidur. Dia baru sadar ini efek nggak mandi makanya badannya terasa gerah.

__ADS_1


Saat pintu terbuka Agatha syok melihat Ray ada di depan kamarnya. Ray jauh lebih syok melihat Agatha hanya mengenakan handuk dengan rambut tergerai basah. Ray susah payah menelan salivanya. Apa lagi Ray bisa melihat belahan dada Agatha yang terlihat hampir mau keluar serta paha dan betis mulus Agatha.


Agatha spontan menutup pintu namun di tahan oleh Ray. Akhirnya Agatha lari mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi untuk memakai bajunya. Ray masuk kedalam kamar Agatha dia syok melihat foto gadis kecilnya ada terpajang didalam kamar Agatha.


__ADS_2