
Ray bangun dengan kepala yang sangat pusing akibat alkohol semalam. Dia mengeliat di atas kasur sambil memengang kepalanya.
“Sial kenapa sakit banget sih” teriak Ray.
Dia melihat handphonenya ingin menelpon Agatha, saat mencari kontak Agatha dia baru ingat kalau mereka nggak pernah bertukar nomor handphone, karena selama ini mamanya Wulan dan Tia mamanya Agatha yang menjadi penghubung mereka.
“Sial” teriak Ray sambil melepar handphonenya ke kasur.
“Kenapa nggak pake minta nomor telponnya sih dulu” ucap Ray sambil menarik rambutnya frustasi, dia kesal dengan kebodohannya yang nggak berniat minta nomor telpon Agatha.
"Agatha kenapa kamu buat aku pusing sih....." ucap Ray dengan suara melemah.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Agatha, dia berjalan menuju ruang makan, dia mendengar perkataan papanya Andrew dan mamanya Tia sedang membicarakan Ray, dia berhenti sebentar untuk mencuri dengar, dia yakin kalau dia lanjut berjalan mama sama papanya pasti menyembunyikan dan nggak akan bercerita padanya.
“Kasihan juga yach ma si Ray itu” ucap Andrew sambil menyeruput kopinya yang telah di hidanghkan oleh istrinya.
“Ya gimana lagi pa, salah dia juga kan” ucap Tia sambil menyiapkan makanan di meja makan.
Walaupun ada pelayan dirumah, tapi Tia lah yang lebih sering memasak dan menyiapkan makanan untuk keluarganya. Tia merasa ini moment yang paling berharga sebagai seorang istri dan ibu.
“Wulan cerita Ray sejak kenal Agatha udh nggak pernah mabuk-mabukan lagi, bahkan rokok juga nggak, tapi semalam Ray malah pulang dalam keadaan mabuk dan nyebut-nyebut nama Agatha, Ray nggak mau banget pernikahan ini di batalkan” ucap Tia kembali sambil duduk di meja makan menghadap suaminya.
“Harusnya kalau dia gantel pilih salah satu dong” ucap Andrew, dia masih kesal dengan Ray yang mau dengan Agatha tapi juga mau dengan gadis yang entah ada dimana sekarang ini.
“Itu lah Wulan juga bilang, iya kalau gadis itu masih hidup dan lajang, kalau udh mati atau punya keluarga kan dia percuma nungguinnya” ucap Tia.
“Makannya aku juga nggak mau putri kita jadi korban, saat perempuan itu kembali” ucap Andrew dengan wajah kesal.
“Jadi semalam Ray mabuk gara-gara nggak mau pernikahan ini di batalkan” batin Agatha ada rasa hangat di dalam hatinya mengingat Ray menyebut namanya.
“Jadi gimana pa, kita batalin atau terusin ni?” tanya Tia.
“Tanya Agatha aja, dia yang jalan ma” ucap Andrew, dia nggak mau salah langkah lagi seperti saat pertama kali menjodohkan Ray dan Agatha, dia takut putri satu-satunya itu menanggis dan terluka lagi karena Ray. Tapi jika Agatha mau dan bahagianya adalah Ray Andrew sebagai orang tua juga nggak bisa melarang.
Tak lama Agatha datang menunjukan batang hidungnya di depan orang tuanya setelah dia merasa cukup menguping.
“Pagi ma, pa” ucap Agatha sambil mencium pipi mamanya dan papanya.
“Pagi sayang” ucap mereka kompak.
Andrew dan Tia spontan terdiam saat tadi mendengar langkah kaki Agatha, mereka seolah enggan menceritakan hal yang tadi mereka bicarakan kepada Agatha.
__ADS_1
“Duduk nak kita sarapan dulu” ucap Andrew,,, dia takut agatha mendengar pembicaraan mereka.
“Hari ini kamu mulai masuk kerja sayang?” tanya Tia sambil mengambilkan makanan untuk Andrew, Tia sangat hapal apa saja makanan yang suaminya itu suka bahkan porsinya.
“Iya ma” ucap Agatha sambil mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Saat setelah selesai makan Andrew sama Tia saling lirik-lirikan mereka ingin mengatakan sesuatu tetapi nggak enak hati dengan Agatha.
“Mama sama papa ingin bicara apa?” tanya Agatha tahu akan gerak-gerik kedua orang tuanya.
“Kamu masih tetap ingin pernikahan ini di batalkan?” tanya Andrew dengan perasaan was-was takut Agatha menggingat lagi dan kembali terluka.
“Hufff....kan udah di bicarakan semalam” ucap Agatha walaupun hatinya bimbang dengan ucapannya, apa lagi saat mendengar Ray mabuk karena nggak ingin pernikahan ini di batalkan, tetapi dia masih enggan meneruskan menggingat Ray memiliki gadis yang di cintai dan itu buka dia.
Dilain tempat Ray berjalan menuju cafe tempat dia janjian dengan Diana, dia ingin menanyakan perihal Fara kepada Diana, karena dulu Diana sering bermain di rumah Fara sedangkan Ray nggak pernah bisa bermain lama karena ayahnya sangat disiplin dan nggak suka Ray banyak bermain dari pada belajar, jadi mereka hanya bertemu sebentar di taman kota atau bertemu di rumah nenek Agatha yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah Ray.
“Hai....ada apa Ray?” ucap Diana sambil jalan menuju meja Ray dan mereka berpelukan.
Ray telah duluan sampai dan hanya menunggu Diana sekitar lima belas menintan.
“Ada yang mau aku tanyakan” ucap Ray melepas pelukan Diana dan kembali duduk.
“Saya capucino es saja” ucap Diana kepada pelayan.
Ray nggak memesan minuman karena dia telah lebih dulu memesan kopi hangat saat menunggu Diana.
“Kamu masih ingat orang tua Fara?” tanya Ray langsung tanpa basa-basi.
“Sepertinya ingat kalau ketemu” ucap Diana sambil mengingat-ingat.
“Apa Fara punya saudara?” tanya Ray lebih lanjut.
“Aku kurang tahu Ray, tapi setiap aku main kerumahnya dia selalu sendiri sih” ucap Diana sambil tersenyum ke arah pelayan karena telah mengantarkan pesanannya.
“Terima kasih” ucap Diana kepada pelayan.
“Aku melihat foto kecil Fara terpanjang di kamar Agatha” ucap Ray bimbang ingin cerita atau nggak kepada Diana, tapi kali ini dia merasa hanya Diana yang dapat membantunya.
“Oh yach.....” syok Diana mendengarnya.
“Iya,,, tapi saat aku tanya dia malah jawab pertanyaan aku dengan pertanyaan” ucap Ray dengan wajah kesal.
__ADS_1
“ Kalian akan menikah, jadi kamu bisa menanyainya nanti pelan-pelan” ucap Diana sambil menyeruput es capucinonya.
“Pernikahan kami di batalkan” ucap Ray sambil tertunduk.
“Apa!!!” pekik Diana hampir menyenburkan minumannya.
“Iya....di nggak mau saat nanti aku ketemu Fara dia di madu atau di ceraikan” ucap Ray melihat Diana.
“Hahahahaha jelas, siapa juga yang mau” ucap Diana sambil menertawakan Ray.
“Ck, tapi aku nggak mau batal Diana” ucap Ray kesal.
“Syukur kalau Fara adalah Agatha, kalau bukan dan Fara kembali apa yang mau kamu lakukan?” tanya Diana sambil menatap Ray.
“Aku nggak tahu, aku binggung” ucap Ray menunduk, sungguh Diana membuat dia bertambah galau.
“Kamu tetapkan dulu hatimu untuk siapa, setelah itu baru kamu melangkah, jangan gegabah” ucap Diana bijak.
Ray nggak menjawab dia pun bingung dengan hatinya, satu sisi dia menginginkan Fara, di sisi lain dia nggak ingin melepaskan Agatha. Jika Agatha memang punya saudara dan itu adalah Fara mana mungkin dia bisa memiliki keduanya.
Dalam keadaan bimbang Ray memutuskan kembali ke kantornya setelah berbicara kepada Diana. Sesampainya di kantor dia langsung menyuruh Doni masuk keruangannya.
“Cari informasi mengenai Agatha” ucap Ray tanpa melihat ke arah Doni, dia masih menatap jendela besar di ruangan kerjanya.
“Agatha? Calon istrimu bos?” ucap Doni bingung kenapa sekarang harus nambah kerjaan lagi pikir Doni.
“Aku melihat foto kecil Fara terpajang di dinding kamar Agatha, aku ingin tahu apa mereka memiliki hubungan” ucap Ray masih membelakangi Doni.
“Kalau mereka orang yang sama?” ucap Doni santai.
“Itu lebih baik, makannya aku mau kamu menyelidiki semua tentang Agatha”ucap
Ray sambil menghadap kearah Doni.
“Kenapa nggak tanya orang tua mu saja bos?” tanya Doni heran.
“Mereka lagi kesal,,, pasti mereka membisu” ucap Ray, dia kesal dengan pertanyaan Doni.
“Baiklah bos” ucap Doni akhirnya menambah lagi kerjaannya.
"Oh yach....di televisi ada keluarga Agatha sedang mengadakan konferensi pers, tapi sepertinya berbeda dari apa yang Agatha bilang pada mu bos" ucap Doni sambil melangkah keluar ruangan kerja Ray.
__ADS_1