
Ray langsung mengambil handphonenya dan mencoba menelpon Diana, dia berpikir Diana pasti tahu siapa keluarga Fara, terutama kedua orang tua Fara. Tapi sayangnya Diana tidak kunjung menjawab telepon dari Ray sampai akhirnya Agatha keluar dari kamar mandi.
Klek...
"Kenapa kamu kesini?" tanya Agatha dengan wajah kesal saat Ray masih memengang handphonenya menoleh kearah Agatha.
Ray berjalan menuju Agatha dan langsung memeluk tubuh Agatha dan mencium seluruh wajahnya. Agatha berusaha menolak dengan mendorong tubuh Ray namun gagal karena tenaga Ray lebih kuat dari pada Agatha. Walaupun Agatha merasa risih namun dia sebenarnya juga bahagia, karena dia bisa merasakan kasih sayang dari Ray..
"Kenapa sih?" tanya Agatha saat berhasil mendorong Ray menjauh darinya meski kedua tangan Ray masih memengang pundaknya.
Ray nggak menjawab pertanyaan Agatha dia bahkan hanya melihat wajah Agatha dengan intens. Ray ingin mencari kemiripan dari wajah Agatha apakah sama dengan Fara gadis yang dia nantikan selama ini, yang dia cari selama ini. Sampai akhirnya Agatha risih karena terus ditatap Ray dia menjentikan tangannya untuk menghapus lamunan Ray. Walaupun sejujurnya dari hati yang terdalam dia sangat malu ditatap Ray seperti itu, tapi dia berhasil menyembunyikan rona pipinya yang memerah.
"Jangan batalin pernikahan kita yach" ucap Ray dengan wajah memelas saat dia tersadar dari lamunannya.
"Tapi kamu nggak mencintaiku, kamu kan mencintai gadis lain, siapa namanya tu Fara kan?" ucap Agatha dengan nada kesal, dia masih teringat jelas ucapan Ray tadi.
"Itu foto siapa Agatha?" tanya Ray menujuk foto gadis kecil di dinding kamar Agatha, Ray ingin sekali mendengar bahwa itu foto Agatha, jika benar dia akan menikahi Agatha malam ini juga bila perlu.
"Orang nggak penting" ucap Agatha dengan kesal karena bukannya menjawab pertanyaannya Ray malah bertanya masalah foto yang terpajang di kamar Agatha.
Ray kecewa dengan jawab Agatha buka itu yang mau dia dengar dia ingin Agatha menjawab dengan serius bukan dengan asal seperti ini. Karena ini demi hubungan mereka jika benar Fara adalah Agatha itu akan menjadi jawaban atas doanya selama ini.
"Tapi kenapa foto itu ada di pajang di dinding kamarmu?" tanya Ray, dia masih penasaran dan ingin memastikan siapa Agatha.
"Apa foto itu lebih penting bagimu?" tanya Agatha dengan heran, kenapa dari tadi pembahasan Ray hanya soal foto, bukan menyelesaikan masalah mereka.
"Bukan begitu..." ucap Ray bingung karena sepertinya Agatha enggan membahas foto itu.
"Kalau bukan Agatha terus siapa foto itu? Apa dia punya adik atau kakak?" batin Ray semakin menambah penasaran.
"Lalu apa?" tanya Agtha dengan nada kesal membuyarkan lamunan Ray.
"Apa kamu punya adik atau kakak?" tanya Ray, dia tetap berusaha bertanya walaupun dia melihat ekpresi kesal Agatha karena bukan menjawab pertanyaan Agatha tapi Ray malah bertanya kembali.
"Kalau iya kenapa kalau nggak kenapa?" tanya Agatha, dia tambah kesal karena sifat Ray yang nggak selesai membahas masalah foto.
__ADS_1
Kemudian Ray menghirup nafas dalam-dalam, dia lelah menghadapi sifat kekanak-kanakan Agatha, dia bukan nggak mau menjelaskan yang sebenarnya. Ray takut jika itu bukan Agatha, tapi karena Ray merasa Agatha mencintainya lalu Agatha akan mengakui bahwa itu dia. Nanti saat Ray tahu yang kebenarannya bukan hanya dia yang terluka tetapi juga Agatha.
"Kenapa kamu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?" ucap Ray yang mulai ikut kesal namun di tahannya.
"Keluar kamu!" Bentak Agatha sambil mendorong tubuh Ray keluar kamar walaupun tubuh Ray nggak bergeser sedikitpun..
Mendengar teriakan Agatha dari dalam kamarnya, Tia dan Andrew berlari menuju kamar Agatha, Mereka syok melihat Agatha berteriak keluar sambil mendorong tubuh Ray yang nggak berseger sedikitpun dan Ray malah terus memeluk tubuh Agatha.
"Ada apa ini!" teriak Andrew.
"Aku nggak ingin dia ada di sini pa" ucap Agatha yang masih ada di pelukan Ray sambil berusaha melepas pelukan dan mendorong tubuh Ray dengan suara yang terdengar hampir menanggis.
Ray hanya diam, dia terus memeluk tubuh Agatha dan menciumi kening Agatha. Ray tahu dia salah harusnya dia menyelesaikan masalah dia dulu baru dia bertanya baik-baik tentang foto itu. Sekarang dia menyesal karena bukan menyelesaikan masalah dia malah datang menambah masalah.
"Aku nggak ingin menikah dengan dia pa..." ucap Agatha lagi tapi kali ini dengan suara tanggis yang memilukan hati Ray.
"Enggak, jangan...." ucap Ray ketakutan, hatinya teriris mendengar permintaan Agatha dan mendengar suara tanggisan Agatha. Ray semakin kuat memeluk Agatha dia takut melepaskan Agatha dari pelukkannya dia takut kelihangan Agatha.
"Kamu dengar anak saya bilang apa? kamu boleh pergi!" ucap Andrew dengan nada tegas, dia merengkuh tangan Ray berusaha melepaskan pelukan Ray kepada Agatha.
"Ibu macam apa aku, hanya demi pertemanan menjadi keluarga aku rela menawarkan anak ku, maaf kan ibu nak..." batin Tia menanggis melihat Agatha yang terluka.
"Enggak...aku nggak mau, kita harus tetap menikah" ucap Ray berusaha memengang tangan Agatha saat pelukannya terlepas tetapi malah di tepis oleh Agatha.
"Aku nggak mau menikah sama kamu!" teriak Agatha berlari menuju kepelukan papanya.
"Agatha please...." ucap Ray memelas dan mengulurkan tangannya ke pada Agatha.
"Pulang lah, kami nggak bisa memaksa Agatha untuk menikah dengan mu, kami lebih menyayangi Agatha dari pada apa pun" ucap Andrew mengingat undangan telah tersebar semuanya.
"Agatha please menikahlah dengan ku" ucap Ray dengan nada bergetar seperti ingin menanggis.
Sebenarnya Andrew dan Tia kasihan melihat Ray dan Agatha, kenapa mereka sama-sama egois dan nggak berpikir jernih, padahal mereka sebenarnya saling mencintai. Semua itu tampak dari mata mereka yang sama-sama takut kehilangan.
Dengan langkah gontai Ray berjalan menuju keluar rumah Agatha, dia bukan menuju pulang dia malah memilih pergi ke club malam. Sesampainya di sana dia memesan banyak minuman berakohol. Banyak wanita penghibur datang menawarkan diri tetapi Ray tidak melirik sama sekali, sikap dinginnya dan cueknya membuat para wanita itu takut sendiri.
__ADS_1
Ray mabuk dan terus memanggil nama Agatha, Ray seperti orang gila karena cinta yang tanpa dia sadari telah hadir di dalam hatinya dan menghapus nama Fara. Bartender di club tersebut menelepon Doni, club tersebut memang sering di datangin oleh Ray jika dia sedang galau seperti ini.
"Agatha siapa kamu sayang...." ucap Ray dalam mabuknya.
"Agatha menikahlah dengan ku, jangan batalin pernikahan kita" ucap Ray kembali sambil meletakkan kepalanya di meja.
Doni yang datang dengan kesal hanya mengelengkan kepalanya melihat kelakuan bosnya ini. Dari dulu setiap galau karena patah hati pasti seperti ini kelakuannya, nggak pernah beres.
"Siapa Agatha Don?" tanya Denis, bartender sekaligus pemilik club malam, dia adalah teman Ray dan Doni sejak SMP.
"Calon istri?" ucap Doni santai sambil duduk di samping Ray.
"Biasanya dia memanggil Fara, sejak satu minggu nggak pernah kesini lagi berubah jadi Agatha, cepat sekali?" tanya Denis heran.
"Biasa labil" ucap Doni sambil terkekeh melihat bosnya yang udah bucin dengan Agatha tanpa dia sadari.
Doni kemudian membawa Ray pulang kerumahnya, sesampainya di rumah Wulan dan Hendro terkejut melihat anaknya pulang dalam keadaan mabuk lagi. Padahal dia sudah senang melihat anaknya seminggu ini nggak pernah mabuk-mabukan semenjak berkenalan dengan Agatha. Anaknya terlihat bahagia dengan senyum yang mengembang setiap saat dan kerjaanya pun terlihat lebih bagus nggak seperti dulu.
"Kenapa bisa kayak gini lagi?" tanya Wulan kesal sambil melihat Doni.
"Agatha jangan batalin pernikahan kita" ucap Ray dalam keadaan mabuknya sambil menanggis.
"Mama dengarkan?" ucap Doni sembil meletakkan Ray di sofa. Doni dan Denis telah dianggap anak oleh Wulan dan Hendro, karena orang tua mereka juga berteman.
Mendengar itu Wulan dan Hendro sangat kasihan, tapi apa yang bisa mereka perbuat sekarang. Mereka nggak tega melihat Ray, tapi mereka juga nggak bisa memaksa Agatha untuk menikahi Ray jika Ray masih terus memikirkan gadis masa lalunya.
"Aku nggak tega melihat Ray pa" ucap Wulan sedih melihat anaknya.
"Tolong antar dia kekamar Don" ucap hendro pada Doni.
"Baik pa" ucap Doni kemudian memapah Ray ke atas kamarnya.
"Bagaimana pa? apa kita minta dengan Tia dan Andrew di lanjutkan saja atau bagaimana?" tanya Wulan sambil menatap cemas suaminya, hatinya mulai goyah untuk mengorbankan Agatha agar Ray bahagia kembali.
"Nanti kita bicarakan dengan mereka ma" ucap Hendro sambil mengusap punggung istrinya, dia tahu kegelisahan istrinya.
__ADS_1