
Melinda yang sudah pulang ke rumah Melinda masih tidak mengerti satu hal, Hero yang seharusnya marah pada Nanda malah membiarkannya dan malah merasa senang karena dirinya sudah pulih, Melinda Berpikir itu pasti akal-akalan hero saja yang ingin mencari perhatian padanya agar Tidak Dianggap bersalah.
memikirkan itu semua Melinda merasa sakit kepala, Tapi besok dirinya sudah harus kembali bekerja yang berarti dirinya akan bertemu lagi dengan Hero, Melinda tidak tahu nantinya Bagaimana dirinya bisa menghadapi Hero yang seorang CEO diperusahaannya.
"Mel, Kenapa dengan matamu?" tanya Nanda yang berjalan di samping Melinda.
Karena semalam tidak bisa tidur mata Melinda terlihat lebih gelap dari biasanya, semua karena Hero jika dirinya tidak memikirkannya semalam dirinya pasti akan tertidur pulas seperti biasanya.
"Tunggu, Apa kamu masih kepikiran tentang Hero?" tanya Nanda.
"Bukankah itu sangat jelas, Jujur Saja Aku sangat malas melihatnya saat ini," ucap Melinda.
"Ada aku di sini, aku akan membantumu mengatasinya," sahut Nanda sambil tersenyum memamerkan giginya yang tidak terlalu putih.
"Baiklah ibu," ucap Melinda.
"Akhirnya anakku ini mau mengakuiku, betapa senangnya aku," sahut Nanda.
"Jadi kamu benar-benar serius ingin menjadi Ibu tiri ku?" tanya Melinda.
"Tentu saja, bagian mana dari tubuhku yang mengatakan kalau aku hanya main-main, aku sangat serius," ucap Nanda.
"Tapi Ayahku sudah berusia 40 tahun lebih dan kamu 20 tahunan seumuranku, yang berarti perbedaan usia kalian sangat jauh," sahut Melinda.
" Memangnya kenapa asal kami saling setia Bukankah itu cukup," sahut Nanda.
" setia dari mana saat ini saja kamu masih memiliki pacar, setelah kamu memutuskan pacarmu itu baru kita bicarakan lagi," ucap Melinda.
"Baiklah, kamu yang berkata seperti itu jangan menyesalinya," sahut Nanda sambil tersenyum sendiri.
Keduanya yang sudah sampai di kantor langsung masuk ke dalam, keduanya tidak ingin terlambat dan membuat mereka harus dimarahi lagi.
berbeda dari yang dipikirkan Melinda sepanjang malam sudah pukul sepuluh tapi Hero belum juga datang, Melinda berpikir Haruskah dirinya merasa sangat lega tapi kenapa dirinya malah mencarinya.
"CEO datang, duduk rapi kerjakan tugas kalian masing-masing atau kita semua akan terkena masalah," ucap salah satu karyawan.
__ADS_1
Mendengar itu semua langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tidak ada satupun dari karyawan yang berani melihat ke arah pintu masuk karena tidak mau disemprot oleh Hero.
Prooook prooook prooook.
suara tepukan tangan membuyarkan karyawan yang sibuk dan membuat mereka melihat ke arah pintu masuk, dari arah pintu masuk semua karyawan termasuk Melinda menatap ke arah Hero yang menggandeng seorang wanita cantik dan tersenyum sendiri.
"Kalian semua Dengarkan Aku baik-baik, mulai sekarang yang ingin bertemu denganku harus melaluinya lebih dulu, dia adalah asisten pribadiku sekaligus Kekasihku," ucap Hero membuat semua karyawan tersentak kaget termasuk Melinda.
Padahal mereka mengakhiri semuanya belum tapi Hero sudah memiliki kekasih baru, Melinda yang melihat itu langsung mengepalkan tangannya karena merasa sangat kesal.
" Kenapa kamu terlihat kesal Bukankah Seharusnya kamu senang karena dia sudah memiliki kekasih baru dan tidak akan lagi mengganggumu," bisik Nanda yang berbisik di telinga Melinda.
"Aku biasa saja, aku malah ingin mengucapkan selamat padanya dan semoga dia segera menikah dan memiliki anak segunung," ucap Melinda membuat Nanda yang mendengarnya tertawa kecil.
Tatapan mata Melinda terus melihat ke arah wanita yang berada di samping Hero, Melinda berpikir wanita itu tidak sekaligus bahkan saat tersenyum sekalipun tidak ada apa-apanya dengan dirinya.
Melihat Melinda yang terus memperhatikannya asisten pribadi Hero tersenyum, senyumannya itu dianggap Melinda sebagai ejekan Karena dia sudah berhasil mendapatkan hati Hero.
"Jangan sombong, aku yang sengaja membuangnya."
"Kenapa kamu terus menatapnya Bukankah kamu yang tidak akan memikirkannya lagi buktikan padanya kalau kamu gitu bisa mendapatkan kekasih," bisik Nanda.
"Tunggu saja, selama beberapa hari ke depan aku pasti akan berhasil mendapatkan satu yang jauh lebih baik darinya kamu yang akan menjadi saksiku," ucap Melinda.
"Ibumu ini akan mendukungmu, buktikan padanya kalau kamu sebelumnya memiliki mata yang salah karena mau berpacaran dengannya," bisik Nanda lagi.
"Tentu saja," ucap Melinda penuh semangat.
"Baiklah, kalian semua Lanjutkan pekerjaan masing-masing, memberitahu pacarku lebih dulu sebelum kalian mencariku," Ucap Hero.
"Baik," sahut semua serentak.
Tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Hero Melinda kembali melanjutkan pekerjaannya sambil terus bergumam sendiri, Melinda bahkan terus mengumpat dan mengatakan kalau Hero sangat bodoh.
Di jam makan siang Melinda yang baru kembali bersama Nanda tiba-tiba menghentikan langkahnya sebelum sampai ke mejanya, Keduanya mebghampiri Lara dan Rani yang sibuk bergosip tanpa menyadari kedatangan mereka.
__ADS_1
"Heeeh," ucap Nanda menepuk pundak Lara dan Rani secara bersamaan.
"Copot copot... ."
Lara yang memang latah berteriak keras, serentak Lara dan Rani memukul pelan Nanda yang baru saja mengejutkan mereka.
"Kalian ini," ucap keduanya serentak.
"Kalian yang ada apa? bergosip di kantor apa kalian tidak takut dimarahin lagi olehnya," sahut Nanda.
"Ini bukan sembarang gosip, tapi ini gosip yang luar biasa," ucap Lara penuh semangat.
"Benar, ini gosip yang luar biasa, salah satu teman kita melihat pak Hero mencium pacarnya itu sebelum masuk lift, Mereka terlihat sangat... ."
Nanda menutup mulut Lara agar segera menghentikan perkataannya, Nanda tidak ingin Melinda mendengarnya dan membuatnya cemburu apalagi sampai menyesal karena sudah meninggalkan Hero.
"Kenapa main tutup tutup mulut, kami sama sekali tidak berbohong, kalau tidak percaya tanya saja pada yang lainnya," ucap Nanda.
"Benar, kami juga melihatnya secara langsung," sahut karyawan lain.
"Haduh, Kenapa kalian tidak mengerti juga maksudku," ucap Nanda kesal.
" Aku sama sekali tidak masalah jangan pedulikan aku," sahut Melinda mencoba tetap tenang,
"Apa kamu yakin?" tanya Nanda.
"Apa calon ibu tiri itu sudah tidak lagi mempercayai ku," ucap Melinda.
"Heeeeeh, anak tiriku yang baik tenang saja aku pasti akan percaya padamu lagi pulang Jika benar kamu tidak bisa melupakanmu aku sudah menyiapkan satu langkah terakhir," sahut Nanda sambil tersenyum.
"Baiklah, kalian juga masuk ke dalam, jika kalian di pecat aku tidak mau tanggung jawab, karena aku sudah mengingatkan," sambung Nanda yang langsung menarik tangan Melinda masuk ke dalam kantor.
"Ahhhhh, mereka berdua sudah kaya saudara aku sangat Iri kepada mereka," ucap Lara.
"Bagaimana jika aku juga memperlakukanmu seperti saudara," sahut Rani.
__ADS_1
"Hehehehe Tentu saja aku sangat senang, karena kamu akan menjadi saudara terbaik ku," ucap Lara yang langsung memeluk Rani.