Mencintai Mantan Kakak Tiriku

Mencintai Mantan Kakak Tiriku
Ditembak Hero


__ADS_3

Tak berselang lama Hero berjalan keluar dari ruangan Ibunya, Hero menatap Melinda yang juga menatapnya penuh pertanyaan. Hero menarik tangan Melinda berjalan keluar menuju parkiran rumah sakit jiwa, setelah membuka mobil Hero meminta Melinda masuk ke dalam dan mereka bergegas pergi.


"Aku mohon biarkan ini menjadi rahasia," ucap Hero tanpa menatap Melinda.


"Tentu, tapi bisakah Pak Hero menjelaskan semua padaku," sahut Melinda.


"Maaf aku tidak bisa," ucap Hero.


"Tapi, kenapa?" tanya Melinda.


Melinda tidak habis pikir kenapa tidak ada yang mau menjelaskan padanya, sebenarnya siapa Hero dan Ibunya kenapa Ayahnya tidak mau memberitahunya dan Hero juga bahkan tidak mau menjelaskannya.


Melinda terdiam menatap keluar jendela, semua yang ada di dalam pikirannya hanya membuatnya pusing apa lebih baik dirinya melupakan saja semuanya dan tidak perlu mencaritau lagi.


"Ayo kita makan," ucap Hero yang memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran.


Melinda hanya menganggukkan kepalanya dan turun dari mobil, Hero yang melihat Melinda turun dari mobil bergegas menghampirinya dan menggandeng tangannya masuk ke dalam restoran.


Hero membawa Melinda duduk di meja yang jauh dari pelanggan restoran lain karena ingin mengatakan sesuatu. Semua sudah dipikirannya sangat matang semalam, tidak hanya karena ingin menjaga dan melepaskan rasa bersalah Ibunya ke Melinda, Hero baru menyadari kalau sebenarnya dirinya menyukai Melinda saat pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.


Hero menatap Melinda yang memainkan ponselnya sambil menunggu pesanan, Hero tau Melinda hanya ingin mengalihkan perhatiannya agar tidak tegang karena makan berdua dengannya.


"Mel aku mau bicara sesuatu," ucap Hero.


Mata Melinda yang menatap ponselnya kini beralih menatap Hero.


"Mau bicara apa Pak?" tanya Melinda.


"Sebenarnya aku menyukaimu, maukah kamu menjadi pacarku," ucap Hero.


Melinda terdiam menatap Hero tidak percaya apa yang didengarnya, setelah kembali tersadar Melinda mencubit tangannya.


"Aw sakit," ucap Melinda.


"Kamu kenapa?" tanya Hero yang melihat Melinda kesakitan.


"Tidak apa-apa, aku hanya seperti sedang bermimpi," sahut Melinda.


"Ini bukan mimpi, aku sangat serius," ucap Hero lagi.


"Permisi," ucap pelayan restoran sambil menaruh makanan pesanan Melinda dan Hero di atas meja.


"Terima kasih," sahut Leo yang melihat pelayan kembali berjalan pergi.

__ADS_1


Hero menatap Melinda yang langsung memakan makanan di depannya, Hero bisa melihat tangan Melinda yang gemetar karena gugup.


Selesai makan Hero bersiap menanyakannya kembali apa jawaban dari Melinda, Hero berharap jawaban dari Melinda bukanlah penolakan.


"Bagaimana Mel?" tanya Hero sambil menatap Melinda.


"Sebenarnya kenapa Bapak tiba-tiba memintaku menjadi pacar Bapak, kalau hanya agar aku menjaga rahasia Bapak tidak perlu seperti itu," sahut Melinda.


"Itu karena aku menyukaimu, aku benar-benar menyukaimu," ucap Hero yang langsung menggenggam tangan Melinda.


"Tapi kenapa tiba-tiba saja," sahut Melinda.


"Itu karena aku hanya menunggu waktu yang tepat," ucap Hero mencari alasan.


"Jadi Bagaimana Lin?" tanya Hero.


"Aku mohon beri aku waktu untuk berpikir Pak," sahut Melinda.


"Ah baiklah, kalau begitu setelah kamu berpikir baik-baik berikan jawabannya padaku," ucap Hero yang tidak ingin memaksa Melinda untuk langsung menjawabnya.


Selesai makan Hero mengantar Melinda sampai di depan Gang, sebenarnya Hero ingin mengantar Melinda sampai rumahnya tapi apalah daya jam sudah menunjukan pukul 13:00 dirinya harus kembali ke kantor.


"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai bertemu di kantor besok," ucap Hero.


"Darimana kamu," ucap Ayah Melinda mengejutkan Melinda.


"Linda jalan sebentar," sahut Melinda.


"Ke mana? kenapa kamu jalan-jalan bukannya kepalamu sakit?" tanya Ayah Melinda.


"Melinda em, ke" sahut Melinda gugup.


Ayah Melinda langsung tersenyum melihat Putrinya yang sudah besar, Melinda pasti takut berkata yang sebenarnya kalau dirinya habis dari berkencan.


"Kamu masuk dan istirahatlah, lain kali kalau mau berkencan bilang saja ke Ayah, atau kalau perlu bawa saja kemari pacarmu Ayah ingin melihatnya," ucap Ayah Melinda sambil tersenyum.


"Em, kalau begitu Melinda masuk dulu Yah," sahut Melinda.


Andai Ayahnya tau sama siapa dirinya jalan tadi, Ayahnya pasti sangat marah dan tidak akan Ayahnya menyuruh dirinya membawanya ke rumah.


Keesokan harinya.


Di kantor Melinda serasa terus diperhatikan, benar saja Melinda yang yang memperhatikan sekelilingnya melihat Hero yang duduk disalah satu tempat duduk temannya.

__ADS_1


Melinda menjadi salah tingkah sendiri dirinya tau Hero sedang menunggu jawaban darinya.


"Woy, kenapa diam saja," ucap Nanda mengejutkan Melinda.


"Is kamu ini bikin kaget saja," bisik Melinda.


"Kalau kamu ditembak orang yang kamu suka apa jawabanmu?" sambung Melinda.


"Tentu saja aku terima, tapi kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu jangan-jangan kamu habis ditembak ya, katakan pria gila mana yang menembakmu ," sahut Nanda setengah berteriak.


Hero yang mendengar teriakan Nanda langsung menghampirinya, Hero berdiri tepat di samping Nanda sambil tersenyum menyeramkan.


"Pak Hero kenapa Bapak ke sini?" tanya Nanda.


"Tidak ada apa-apa, tadi aku hanya dengar ada yang mengataiku gila kira-kira yang mana orangnya ya," sahut Hero.


"Tunggu-tunggu aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang pria gila mana yang nembak Melinda, Haaaaa" Nanda menutup mulutnya.


"Jangan-jangan Pak Hero yang nembak Melinda," teriak Nanda membuat satu ruangan menatap ke arah mereka.


"Nanda," panggil Melinda, matanya melotot kesal.


"Maaf maaf, aku kelepasan." Nanda menundukan kepalanya berulang kali.


Hero yang tidak ingin semakin menjadi pusat perhatian bergegas pergi, berbeda dari Hero Melinda yang menahan malu karena banyak yang melihatnya langsung menutupi wajahnya dengan berkas di depannya.


Nanda sialan, ember sekali mulutnya." dalam hati Melinda.


"Maaf Mel, aku tidak bermaksud." bisik Melinda seakan tahu Melinda membicarakan dia dalam hati.


Sepulang kerja Melinda bergegas pergi meninggalkan Nanda, rumah mereka yang tidak terlalu jauh membuat keduanya biasa berangkat dan pulang bareng tapi kali ini Melinda yang kesal memutuskan pulang sendiri.


Melihat Melinda yang meninggalkannya Nanda langsung mengejarnya, Nanda tidak berhenti meminta maaf pada Melinda yang berjalan tidak mempedulikannya walau sudah mendekati rumahnya.


"Ayolah Mel jangan marah, aku benar-benar gak sengaja teriak," ucap Nanda.


"Malas, kamu pasti sengaja," sahut Melinda sambil terus menatap rumahnya yang tinggal beberapa langkah.


"Benaran aku tidak sengaja teriak bilang kamu ditembak, percaya ya," ucap Nanda.


"Melinda ditembak siapa?" sahut suara Ayah Melinda dari belakang keduanya.


Melinda dan Nanda serentak memutar badan, keduanya sama-sama terkejut melihat Ayah Melinda berada di depan mereka.

__ADS_1


"Nanda kamu ember," teriak Melinda yang langsung berlari ke rumahnya, Melinda masih tidak bisa memberitahu ayahnya yang sebenarnya.


__ADS_2