
Dari luar Melinda bisa mendengar suara yang tidak asing, suara itu adalah suara Natan pria yang ngantar pulang lalu pagi ini memberikan bunga, ntar yang isinya denger Natan seperti akrab dengan ayahnya.
"Aku pulang," ucap Melinda yang berdiri di depan pintu.
"Anak Ayah sudah pulang sini sini, Ayah ingin memperkenalkanmu dengan Natan, dia... ."
"Hay Mel," sapa Natan membuat ayah melinda kebingungan.
"Kalian saling kenal?" tanya ayah melinda mencoba memastikan.
"Dia yang semalam mengantar aku pulang, aku juga sudah mengatakan pada Ayah kalau mau pindah kerja dan aku akan pindah ke perusahaannya," ucap Melinda.
"Ahhhhhh, ternyata kalian benar-benar saling kenal baguslah," sahut Ayah Melinda.
"Ke depannya aku titip Melinda padamu ya," sambung Ayah Melinda.
"Om tenang saja," sahut Natan sambil tersenyum.
Semanis-manisnya senyuman Natan masih tidak bisa mengalahkan manisnya senyuman Hero, Melinda yang tiba-tiba memikirkan Hero langsung lah menepuk menepuk pipinya pelan.
"Apa yang aku pikirkan Kenapa bisa aku menyamakan senyuman keduanya," gumam Melinda.
"Kalau begitu permisi dulu aku mau mandi," ucap Melinda.
"Mandi yang cepat setelah itu masak makan malam lebih banyak," sahut Ayah Melinda.
"Tidak perlu, sebenarnya aku datang kemari karena Mau mengajak Melinda makan malam di luar Jika dia tidak keberatan," ucap Natan.
" Tentu saja dia tidak akan keberatan Bukankah begitu Melinda," sahut Ayah Melinda menjawab mewakili putrinya tanpa meminta persetujuan.
berbeda saat dengan Hero kali ini ayah Melinda benar-benar merestui jika anaknya pacaran dengan Nathan, Nathan pria yang baik-baik dan bisa dipercaya hanya pria sepertinya yang pantas untuk menjadi calon suami putrinya.
"Tentu saja tidak," ucap Melinda sambil tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan Natan dan ayahnya.
Dengan tergesa-gesa Melinda yang selesai mandi berdandan secukupnya, Melinda sadar dirinya sudah sangat cantik dari lahir dan tidak perlu menggunakan riasan terlalu tebal, menggunakan sedikit bedak dan lipstik saja sudah cukup untuknya.
Setengah jam kemudian Melinda keluar dan duduk di samping Ayahnya, Melinda hanya diam dan tidak mrngatakan apapun sedangkan Ayahnya sibuk berbicara dengan Natan.
"Kamu sudah siap?" tanya Ayah Melinda.
__ADS_1
"Sudah dari satu jam lalu," ucap Melinda membuat Natan yang mendengarnya tersenyum.
"Hahahaha, putriku memang sangat suka bercanda," sahut Ayah Melinda.
"Ya sudah kalian berdua pergilah," sambung Ayan Melinda.
Setelah berpamitan Melinda dan Natan berjalan bersama-sama ke arah mobil, keduanya hanya diam sesaat sampai mobil menjauh meninggalkan rumah Melinda.
"Ayah mu masih sama seperti dulu, dia ramah baik hati dan selalu perhatian pada anaknya," ucap Natan.
"Aku rasa semua Ayah pasti begitu," sahut Melinda.
"Tapi sepertinya tidak menurutku apa hanya ayahmu yang begitu, aku sendiri juga memiliki ayah tapi dia tidak terlalu peduli padaku," ucap Natan.
"Hahahaha, kenapa aku malah menjadi bercerita tentang pak Tua ku," sambung Natan.
"Oh ya, kamu mau makan di mana?" tanya Natan.
"Aku bukan orang yang pemilih, aku ikut pilihan Pak Natan saja," ucap Melinda.
"Apa aku sudah setua itu sampai kamu memanggil ku bapak?" tanya Natan.
"Baiklah kalau begitu aku akan memanggil Bapak maksudku memanggilmu Natan saja," sahut Melinda.
"Itu jauh lebih nanti depan daripada Kamu memanggilku bapak," ucap Natan.
20 menit kemudian sahabat parkir mobilnya di sebuah restoran ternama yang ada di kota, Natan yang turun lebih dulu langsung membuka pintu untuk Melinda dan membuat Melinda beranggapan dirinya seperti Tuhan Putri.
"Terima kasih Pak," ucap Melinda.
"Pak lagi?" sahut Natan.
"Maafkan Aku," ucap Melinda.
"Hahahaha, tidak apa-apa tidak apa-apa tapi lain kali panggil saja seperti yang kau katakan tadi," sahut Natan yang langsung menarik tangan Melinda masuk ke dalam restoran.
Masuknya Melinda dan Natan membuat satu pasang mata tak berhenti terus menatap keduanya, Hero yang senang semua ingin mengambil cuti dan pergi ke Amerika mengurungkan niatnya satu malam, Hero sama sekali tidak menyangka dirinya harus bertemu Melinda di saat seperti ini tapi kenapa melinda menggandeng tangan seorang pria pikirnya.
"Pelayan," panggil Natan.
__ADS_1
"Aku mau pesan ini, ini dan yang ini," ucap Nathan sambil menunjuk beberapa yang ada di menu.
"Bagaimana dengan mu Mel?" tanya Natan lagi.
"Aku ikut saja pesan yang sama dengan milik Pak Natan juga boleh," ucap Melinda.
"Baiklah, masing-masing Dua porsi,' sahut Natan di sambut anggukan kepala pelayan yang bergegas pergi.
Hero yang melihat Melinda duduk bersama orang yang tidak dikenal hanya merasa tidak tenang, Hero tidak mau mimpi indah terjadi apa-apa sebagai mantan kekasih sekaligus mantan kakak dirimu Dirinya hanya mau mindah mendapatkan yang terbaik.
"Sekarang sama siapa lagi kamu pergi?" ucapan Hero mengejutkan Melinda.
Melinda menatap Hero penuh heran Kenapa dia berada di restoran yang sama dengannya, Melihat tatapan Hero Melinda bergegas memutar kepalanya.
"Siapa dia Melinda?" tanya Natan.
"Dia CEO di perusahaan lama tempatku bekerja," ucap Melinda.
"Oh Pak Hero, maaf aku tidak mengenalimu karena kita memang tidak pernah bertemu," sahut Natan.
"Tidak pernah bertemu? Apa kamu yakin?" tanya Hero.
"Bukankah kita... ."
"Maaf Pak Hero, aku sudah resmi berhenti dari perusahaanmu sore tadi dan kita sekarang tidak memiliki hubungan apapun, Tolong jangan campuri urusanku," ucap Melinda.
"Kamu terang-terangan berkata seperti itu padaku?" tanya Hero.
"Memangnya kenapa? kita memang sudah tidak memiliki hubungan apapun? jadi aku mohon Jangan menggangguku lagi," ucap Melinda.
"Tapi pria yang saat ini berada di depan bukan orang baik, kamu tidak bisa mempercayai sembarang orang begitu saja," sahut Hero.
"Mempercayai Siapa itu urusanku, tapi Perkataanmu memang benar tidak seharusnya dari awal aku mempercayai mu, apa sudah puas sekarang Kalau sudah tolong minggir jangan mengganggu makan malam kami," ucap Melinda.
"Aku akan menyingkir jika kamu mau mendengarkan perkataanku, pria ini bukan pria baik-baik Jika kamu pergi sekarang aku juga akan pergi tidak akan mengganggumu lagi," sahut Hero.
"Sudah cukup, jika memang dia tidak baik dia tidak mungkin menolongku semalam berbeda dengan seseorang yang malah pamer kemesraan dan menghina orang lain, aku bisa membedakan Siapa yang jahat dan yang baik jadi kumohon jangan pernah menggangguku lagi," ucap Melinda.
perkataan Melinda membuat Hero kecewa, dirinya memang salah sebelumnya Tapi saat ini yang dirinya lakukan untuk kebahagiaannya sendiri, Melinda harus tahu kalau Natan bukan pria baik-baik seperti yang diperkirakannya.
__ADS_1
"Apa mau pergi saja," ucap Natan sambil tersenyum mengejek Hero.