Mencintai Mantan Kakak Tiriku

Mencintai Mantan Kakak Tiriku
Ternyata Ibunya


__ADS_3

Di salah satu rumah sakit jiwa Ibu Hero terus mengamuk memaksa ingin bertemu dengan Melinda, Ibu Hero memukuli suster yang merawatnya berulang kali hingga membuat semua suster tidak ada yang mau menjaganya.


"Kalian semua yang gila aku tidak gila, aku harus keluar dari sini aku ingin bertemu dengan Putri ku, Keluarkan Aku dari sini atau kubunuh kalian semua!" teriak ibu Hero.


Setelah mendengar kabar seperti itu Hero bergegas pergi ke rumah sakit jiwa, sampai di sana dirinya yang mau memasuki ruangan khusus Ibunya terus mendengar suara teriakan. Suara teriakan Ibunya meminta Melinda menemuinya membuat Hero hanya menggelengkan kepala sambil berjalan memasuki ruangan Ibunya.


"Ibu tenanglah," ucap Hero yang langsung memeluk Ibunya.


"Hehehe, Anakku sudah datang. Kamu pasti akan mengabulkan permintaan Ibumu ini kan Nak, hehehehe," ucap Ibu Hero.


"Apa yang Ibu minta?" tanya Hero walau sebenarnya dirinya sudah tahu apa yang diinginkan ibunya sebagai permintaannya.


"Aku mau dia datang kemari, aku ingin berbicara dengannya," sahut Ibu Hero.


"Tapi Bu, Melinda masih berada di rumah sakit," ucap Hero.


Buuuuug buuuuug buuuuug.


Ibu Hero langsung memukuli dada Hero, begitulah Ibunya setelah mengalami gangguan jiwa jika keinginanya tidak dituruti pasti akan langsung main tangan.


Buuuug buuuug buuuug.


"Dasar anak tidak berbakti, kenapa kamu tidak bisa diharapkan," teriak ibu Hero.


"Aku tidak mau tau, aku mau dia ada di sini," teriak Ibu Hero.


"Pergi kamu, bawa dia kemari," teriak Ibu Hero lagi.


Haaaaaaaaah.


Hero menghela nafas panjang sambil berjalan keluar, Hero sangat bingung apa yang harus dilakukannya, jika tidak dituruti ibunya akan terus berteriak dan membuat semua perawat kebingungan, tapi tidak mungkin juga dirinya bisa membawa Melinda yang saat ini berada di rumah sakit ke rumah sakit jiwa.


Kriiiiiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing.


Baru sampai depan pintu Hero mendengar ponselnya berdering, seketika Hero menghentikan langkahnya dan mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


"Hallo Pak, aku mau kasih kabar aku sudah pulang ke rumah semalam, besok aku sudah mulai masuk kerja," ucap Melinda yang menelpon Hero.

__ADS_1


"Baguslah kalau sudah pulang," sahut Leo dengan suara pelan.


"Pak Hero ada masalah apa? kenapa suara bapak terdengar lemas?" tanya Melinda cemas.


"Aku tidak apa-apa, tapi sebenarnya aku butuh bantuan mu," ucap Hero.


"Bapak katakan saja, selagi aku bisa aku akan membantu Pak Hero," sahut Melinda cepat.


"Kalau begitu aku akan menjemputmu besok pukul 09:00, besok kamu tidak perlu masuk kerja," ucap Hero.


"Baik Pak," sahut Melinda.


Pagi hari keesokan harinya Melinda terpaksa berbohong pada Ayahnya kalau kepalanya masih sedikit pusing, Melinda tidak bisa mengatakan pada Ayahnya kalau dirinya akan pergi bersama Hero, masih menjadi misteri kenapa Ayahnya sangat membenci Hero.


Melinda yang sudah ditunggu di depan gang bergegas pergi, Melinda menghampiri mobil Hero yang terparkir tidak jauh dari gang rumahnya dan bergegas masuk ke dalam.


"Maaf Pak, Bapak pasti menunggu lama," ucap Melinda sambil masuk dan duduk di samping Hero.


"Tidak juga," sahut Hero pelan karena suaranya serak.


"Kalau begitu apa yang bisa ku bantu Pak?" tanya Melinda.


"Bertemu Ibunya Pak Hero, ta tapi," sahut Melinda tiba-tiba menjadi gugup.


Melinda berpikir dirinya dan Pak Hero tidak memiliki hubungan apapun tapi kenapa dirinya harus bertemu dengan ibunya, pikiran Melinda terus melayang-layang dan ingin sekali rasanya dirinya turun begitu saja dari mobil.


"Tidak boleh nolak, aku sudah terlanjur berjanji semalam," dalam hati Melinda mencoba menepis pikirannya.


"Aku akan berusaha bersikap baik, Pak Hero tenang saja," ucap Melinda.


Tak berselang lama Hero memberhentikan mobilnya di depan rumah sakit jiwa, Melinda memutar matanya sambil berpikir bukannya Pak Hero mengajaknya bertemu Ibunya kenapa Pak Hero malah membawanya ke rumah sakit jiwa.


Belum sempat bertanya Hero langsung turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Melinda, Hero bahkan membantu Melinda turun dari mobil.


"Ayo masuk," ucap Hero menggandeng tangan Melinda.


Melinda mengikuti Hero yang menggandengnya tanpa bicara, belum sempat Melinda bertanya kenapa mereka datang ke rumah sakit jiwa Hero menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan.

__ADS_1


"Tunggu di sini sebentar," ucap Hero yang langsung masuk ke dalam ruangan Ibunya.


Hero menatap Ibunya yang duduk meringkuk menggenggam erat selimutnya, Hero yang tidak ingin membuat Ibunya emosi berjalan pelan ke arahnya dan berjongkok tepat di depannya.


"Bu, aku membawanya bertemu Ibu tapi ku mohon jangan sakiti dia," ucap Hero.


"Kamu membawanya, di mana dia aku mau melihatnya," sahut Ibu Hero penuh semangat.


Melihat ibunya yang bersemangat seperti itu Hero merasa sangat senang walau pikirannya tidak tenang, Bagaimana dirinya bisa tenang karena dirinya sudah membawa Melinda ke ibunya, Hero takut ibunya tiba-tiba saja menyerang Melinda tanpa alasan.


Hero berjalan keluar untuk memanggil Melinda, setelah dijelaskan sedikit oleh Hero Melinda memberanikan diri memasuki ruangan.


"Melinda, iya kamu benar-benar Melinda, Aku senang kamu baik-baik saja," ucap Ibu Hero yang langsung menghampiri Melinda dan memeluknya.


Melinda merasa sangat terkejut saat Ibu Hero berlari memeluknya, Melinda masih ingat wanita yang memeluknya sekarang adalah wanita yang sama sebelum dirinya tidak sadarkan diri.


"Benar, aku Melinda Bu," sahut Melinda sambil tersenyum.


"Hehehehehe, hahahaha, apa kamu dengar dia memanggilku Ibu. Lihatlah usahaku tidak sia-sia." ucap Ibu Hero sambil membusungkan dadanya bangga.


"Kamu pasti bisa cuci piring, bersih-bersih, dan memasak. Benarkan," sambung Ibu Hero.


"Iya, aku bisa semuanya," sahut Melinda.


"Itu semua karena aku, hehehehe. Usahaku tidak sia-sia," ucap Ibu Hero sambil berjalan ke kasurnya.


"Kamu keluar saja, sepertinya Ibuku mau tidur," ucap Hero menepuk pundak Melinda.


"Baiklah," sahut Melinda yang beranjak keluar.


Di depan ruangan Melinda masih tidak menyangka ternyata Ibu Hero mengalami gangguan kejiwaan, Melinda ikut bersedih melihat Hero yang harus benar-benar sabar.


"Tapi kenapa waktu itu Ibu Pak Hero datang ke rumah, kenapa Ayah juga tidak menyukainya," ucap Melinda sambil berpikir keras.


Semua makin terlihat penuh misteri bagi Melinda sebenarnya siapa Hero dan kenapa ibunya juga bisa mengenalnya, lalu apa maksud perkataanmu yang bisa dilakukannya saat ini karenanya, Melinda benar-benar berharap bisa mengetahui semuanya.


Rasa penasaran yang terus dirasakannya membuat Melinda ingin segera mencari tahu semuanya, Melinda berpikir dirinya harus bisa secepatnya mengetahui semuanya agar tidak lagi penasaran.

__ADS_1


"Banyak jalan menuju Roma, Aku juga yakin banyak cara untuk mengatasi rasa penasaran ini," ucap Melinda.


__ADS_2