
Rosa tak mengerti dengan perubahan sikap Fabian yang di nilai berubah. Selama ini yang Rosa tahu Fabian tak pernah cuek pada dirinya selalu ada saja pembahasan yang membuat dirinya betah untuk mengbrol panjang lebar dengannya, namun perubahan sikapnya hari ini ada sesuatu yang berbeda dan entah apa itu. Meski dalam hal ini sebenarnya Rosa juga tak mau mengambil banyak curiga karena bagaimana pun Fabian punya kehidupan sendiri. Rosa hanya merasa jika Fabian mungkin saja sedang sibuk dengan pekerjaannya, hampir satu jam setengah film itu pun selesai namun Fabian tak kunjung kembali ke toilet apakah toilet penuh sehingga begitu lama Fabian pergi, rasa penasaran itu pun menggebu di hati Rosa hingga Rosa keluar dari pintu teater bioskop. Dan Rosa menggali rasa penasaran dengan datang ke toilet yang ada di bioskop dengan menunggu didepan saja tanpa masuk ke dalam. Hingga diri Rosa mencoba bertanya pada seorang cleaning servis yang ada disana.
"Pak apa ada orang di dalam sana?" Tanya Rosa.
"Tidak ada lagi mba, mba cari siapa" jawab cleaning service pria itu.
"Oh tidak, baiklah terimakasih" jawab Rosa pergi meninggalkan toilet.
Hingga saat itu Rosa masih belum lihat keberadaan Fabian, namun saat dirinya tengah ingin keluar di sebuah bangku dekat penjualan pop corn terlihat Fabian yang sedang asik menelpon seseorang sambil tersenyum sendiri.
Rosa pun menghampiri hingga Fabian menyudahi obrolan ditelepon saat ini.
"Aku cari om Fabian kemana mana ternyata ada di sini" kata Rosa emosi.
"Oh kamu marah" kata Fabian yang menatap ke arah Rosa sambil mengerutkan kening dan melipat tangan di dada.
"Kenapa di sini" kata Rosa.
"Baiklah kalau gitu aku masuk, kita nonton ya" ajak Fabian berdiri yang segera ingin beranjak.
"Gak usah film nya juga udah selesai, mau nonton"
"Oh sudah selesai, secepat itu kah filmnya" kata Fabian yang merasa tak bersalah sedikitpun.
"Gak cepat lama kok satu setengah jam, yang lama itu om Fabian yang kemana aja"
"Jadi kamu marah karena saya di sini. Rosa om itu gak suka film romansa seperti tadi itu terlalu cengeng" kata Fabian yang mencari alasan dan tak mau disalahkan.
"Tadi aku kan udah tanya, om mau film apa dan dengan mudah om jawab bebas mau film apa aja. Ya aku yang pilih film sudah selesai kenapa om baru bilang" jelas Rosa yang masih marah.
"Oh ya, apa aku bilang seperti itu"
"Tau ah"
"Rosa apa yang kamu mau sudah om penuhi, kamu mau nonton om temani, kamu mau apa om berikan bahkan om yang bayari. Masih kamu menggap buruk om ini di mata kamu" kata Fabian yang ceramah di depan Rosa.
"Aku tidak minta di bayari" kata Rosa yang masih marah.
__ADS_1
"Oke kamu mungkin tak minta di bayari tapi satu hal lagi Rosa. Kan pada dasarnya yang mau nonton bioskop itu kamu, yang mau nonton itu kamu kenapa harus om yang ribet sih. Lagi pula om ini bosan sebenarnya nemenin anak kecil seperti kamu ke mall. Mana ada coba pria yang mau, selain om ini sadar gak sih kamu Rosa. Masih mending om mau temani" kata Fabian yang menatap gadis belia di hadapannya.
"Oh, jadi om keberatan.. pantesan om ini gak punya pacar, om terlalu kaku" kata Rosa.
Fabian pun langsung tertawa menatap wajah lucu dari anak gadis yang sedang marah pada dirinya.
"Pacaran, itu soal perasaan dan komitmen. Kamu akan mengerti nanti, yaudah kalau gitu kita keliling mall aja ya. Ada sesuatu yang om ingin tanyakan pada mu" kata Fabian mengandeng tangan Rosa.
Hingga Rosa pun yang tadinya kesal mendadak tidak kesal lagi saat Fabian mengajak ke sebuah toko perhiasan. Rosa bukan materialistik hanya saja dengan datang ke toko mas yang ada di mall itu seperti sesuatu yang tak terduga.
"Om mau ngajak aku kesini untuk apa?" Tanya Rosa.
"Aku ingin beli sesuatu"
Tiba-tiba Fabian memilih sebuah cincin yang Rosa sendiri di pinta untuk mencoba.
"Cobalah"
"Aku pakai"
"Wah bagus ini sangat pas di jari ku om" kata Rosa.
"Iya pas, sangat cocok dan indah, aku beli satu yang ini. Tolong bungkus"
"Jadi ini untuk ku"
"Bukan, maaf bukan. Kamu terlalu dini untuk memakai cincin itu. Nanti kalau kamu sudah dewasa kamu akan pakai cincin itu"
"Ma-maksudnya om?" Tanya Rosa yang tak mengerti karena di awal Rosa sudah merasa bahagia dengan cincin yang saat ini menjadi pilihannya.
"Rosa, cincin itu untuk melamar wanita yang om cinta"
Seketika apa yang menjadi ucapan Fabian seperti sambara petir di siang bolong sungguh hal paling menyakitkan di mana yaitu orang yang dirasa di cinta justru malah mempunyai pilihan wanita lain.
"Jadi"
"Om sudah punya pacar"
__ADS_1
"Tapi siapa?"
"Talia, wanita yang berasal dari masalalu om"
"Bukankah itu hanya masa lalu tapi untuk apa?"
"Dia memang masa lalu, tapi dia adalah awal di mana om mengerti cinta. Apa yang om alami saat amnesia itu hanya jeda pemisah antara aku dan dia. Tapi tidak untuk ke depannya. Ya, cinta memang terkadang datang terlambat tapi dia adalah orang yang om cintai dari dulu dan saat ini"
Rosa pun langsung tertunduk mendengar apa yang di ucapkan Fabian, ya selama ini Fabian hanya baik saja pada diri Rosa tapi bukan sebagai orang yang dicintai.
Melihat air mata yang mau terjatuh namun Rosa tahan karena Rosa tak mau jika Fabian jika Rosa sebenernya mencintai dirinya.
Melihat wajah Rosa yang kaku dan membisu bukan sebuah kode untuk Fabian bahwa Rosa mencintai, justru malah sebuah kata yang membuat hati Rosa semakin sedih.
"Kelak suatu saat nanti kamu dewasa kamu akan di belikan juga cincin ini mungkin lebih bagus dari ini, kamu akan mendapat cinta sejati mu. Kamu akan mendapatkan semua hal dan paling yang penting adalah seperti hal nya saat ini apa yang om tengah rasakan"
"Apa?" Tanya Rosa sekilas dan menunduk.
"Kamu seperti yang sudah kembali menemukan cinta sejati" jawab Fabian.
Dada Rosa sesak sangat dalam mana kala itu yang di lontarkan sungguh menyayat hati.
"Om aku permisi"
"Loh kamu mau kemana?"
"Perut ku sakit, om pulang lebih dulu seperti nya akan lama"
"Lalu kamu, aku tidak mungkin meninggalkan mu"
"Aku bisa sendiri"
Rosa langsung berlari kuat dalam keadaan kesedihan terdalam yang tengah ia rasakan, air mata yang sedari tadi tertahan itu ingin segera terjatuh.
Hingga saat itu Rosa yang ijin pergi ke toilet melainkan berlari pulang dengan taksi.
Tanpa terasa saat di taksi air mata itu pun tumpah air mata cinta karena merasa sakit dan kecewa, ya Rosa tahu dirinya tak pernah mengungkapkan rasanya namun sudah jelas di depan mata bahwa memang hanya cinta di masa lalu Fabian lah yang ada di hatinya.
__ADS_1