Mencintai Pacar Ibuku

Mencintai Pacar Ibuku
Tak lagi ada


__ADS_3

Perasaan kekesalan teramat saat ini yang tengah ia rasakan, berikut emosi jiwa dan raga yang begitu teramat terasa. Bagaimana tidak, Talia tahu hal paling membuat dirinya kesal adalah sebuah hadiah teruntuk wanita yang bernama Rosa. Rosa sudah bukan lagi sebut Rosa bagi Talia Rosa adalah wanita tengik yang telah berani masuk ke dalam kehidupan dirinya dan sebuah malapetaka karena ingin merebut pujaan hatinya yakni Fabian orang yang paling di cinta.


"Tai kucing kurang asyeem, wanita kampret dasar tengik berani sekali dia mencuri start diriku, aku yang mati-matian ingin bercinta saja gagal. Eh dia datang secara tiba-tiba dan di berikan sebuah onderdil birahi yang sangat bagus. Waaah apa wanita ini sudah tidur dengan Fabian ku, kalau iya aku kubur dia hidup-hidup. Kali ini aku tak bisa dan membiarkan wanita manapun datang dengan lancang mengambil Fabian ku seorang" ucap Talia kesal sangat dalam bahkan dirinya ingin sekali memakan manusia saat itu. Wajah marah dan mulut cemberut nya sudah tergambar sangat terlihat.


Tiba-tiba kedatangan Fabian ke mobil yang di dalamnya ada Talia seperti hal paling di tunggu oleh Talia untuk memberikan sebuah penjelasan dengan bikini yang ada di tangan Talia saat ini.


"Apaaan ini!!!!" Kata Talia dengan suara kasarnya dan melempar bikini ke wajah Fabian.


Fabian pun kaget saat melihat Talia yang marah saat itu.


"Pantas saja daritadi itu rahasia, pantas saja sungguh kecewa aku padamu rupanya kamu sudah sangat jauh ke dalam rasa yang ada. Sungguh kamu sudah tidur dengannya kan!"


"Dengan siapa?"


"Jangan bohong, tentu Rosa kan! Kamu tahu di tas ini tertulis nama Rosa dan isinya bikini mau berdalih dan tak mengakui apalagi,semua sudah cukup jelas!" Talia emosi.


"Jadi kamu mau apa? Mau marah? iya, sumpah demi apapun aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun termasuk Rosa" kata Fabian mengungkapkan.


"Aku tidak kenal siapa Rosa jadi jelaskan Rosa ini siapanya kamu?" Tanya Fabian.


"Rosa itu adalah anak panti asuhan yang sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri, tidak lebih" kata Fabian menjelaskan.


"Lalu kenapa ada bikini untuk dirinya hah? Kenapa?" Kata Talia.


"Baiklah jujur yang sejujurnya itu untuk Rosa karena permintaan dirinya. Dia mau ke Bali, dan dia meminta aku membelikan dia bikini apa itu salah. Aku pun membelikan nya ya asal saja, karena kebetulan ada ya aku belikan. Talia Rosa sudah aku anggap adik, tak pantas kamu cemburu"


"Bagaimana kalau kamu mencintainya"


"Hah? Cinta!!! Sama anak kecil itu maksudnya? Talia.. Talia.. selera wanita ku ya kamu. Ya kamu saja Talia, tak ada yang lain yang baik dan cantik cuma kamu. Kamu marah dengan hadiah ini, jika kamu mau aku akan belikan seribu bikini bahkan seribu candi jika kamu mau" kata Fabian tegas dan menantang Talia.


"Jadi ceritanya mau nyogok nih" kata Talia menyipitkan mata menatap Fabian.


"Ya gak gitu sayang, aku bicara apa adanya saja. Belasan tahun aku menjomblo antara bimbang di hati, ada kejanggalan tentang masa lalu yang belum tuntas bagiku diriku ya buat kamu. Bagi ku kamu adalah masa lalu dan masa depan buat aku" kata Fabian memberikan penjelasan agar Talia bisa memaafkan dirinya.


"Serius"


"Iya" kata Fabian tersenyum.


Lalu seketika Talia pun mulai percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Fabian. Dan masih menaruh rasa percaya meski dalam hal ini Talia masih ada harus waspada, karena bisa saja Fabian di rebut oleh Rosa bila ingat surat cinta itu yang pernah Talia baca.


Hingga tangan Talia di genggam erat oleh Fabian saat itu dengan cukup erat dan dalam.


"Bahkan? Saat ini aku punya hadiah untuk mu"kata Fabian yang saat itu tersenyum simpul.


"Apa? Kamu lagi gak bohong kan"


"Gak lah mana pernah aku bohong, aku akan membelikan rumah untuk kita. Rumah itu bisa kita tempati bersama setelah menikah tapi untuk saat ini kalau kamu mau ditempati dulu bisa saja" kata Fabian.


Alangkah terkejutnya Rosa mendengar itu.


"Tapi itu atas nama ku kan" kata Talia yang berharap lebih.

__ADS_1


"Ya bisa aku akan membuat atas nama dirimu sayang" kata Fabian.


"Terus ada lagi nih?" Kata Talia yang malah berharap suatu yang lebih.


"Apa sayang?" Tanya Fabian mesra.


"Harus ada kolamnya rumah itu"


"Kolam ikan maksud kamu?" Tanya Fabian menatap Rosa bingung.


"Bukan, kolam renang lah. Udah gitu aku maunya rumahnya dua lantai"


"Wah ini sih bakal mahal rumahnya" kata Fabian.


"Heum standarnya aja buat kamu, kamu kan sukses, dan anak orang kaya masa seperti itu aja di bilang mahal sih. Ya paling tidak kan enak kalau ada kolam renangnya bisa bercinta di kolam kaya di novel novel" kata Talia.


"Heuum iya iya kita cari yang ada kolam nya sekalian sama?"


"Sama apa?" Kata Talia menatap tajam.


"Sama bikin ****** di atas kolam"


"Ih kamu mah jorok deh masa ****** sih"


"Heheh canda sayang" kata Fabian yang kini memegang stir kemudi untuk melanjutkan perjalanan.


"Kalau ada kolamnya kan aku jadi pengen nyanyi" kata Talia.


"Bila ingin melihat ikan di dalam kolam, tenang kan dulu airnya sebening kaca. Bila mata tertuju pada gadis pendiam caranya tak sama menggoda janda lincah" kata Talia tesenyum sambil menatap Fabian.


Hingga kaya gadis pendiam mengingat kan dirinya pada Rosa.


Jika Talia seperti janda lincah lalu Rosa justru malah seperti gadis pendiam, batin Fabian saat itu.


Seketika Fabian malah tesenyum mengingat rosa yang saat ini tak dengan nya.


"Kamu kenapa senyum-senyum" tanya Talia.


"Tidak, tidak apa-apa" kata Fabian tesenyum sambil mengingat wajah Rosa.


Fabian sengaja berbohong demi menjaga perasaan Talia bahwa sebenarnya saat ini yang di dalam pikiran Fabian adalah senyum dari Rosa. Tapi sekali lagi berkali kali Fabian menyadarkan dirinya bahwa itu hanya rasa sayang sebagai kakak untuk adik dan itu tak lebih.


Hingga...


Keduanya pun memutuskan untuk pergi ke warung bakso yang tengah viral saat ini yakni bakso beranak, bakso yang sangat enak dan banyak peminatnya. Dan pastinya porsinya yang cukup banyak untuk di makan seroang diri. Meski dalam hal ini Talia lah yang sangat antusias dalam makan bakso beranak. Hingga berkali-kali Talia sebelum makan dia bahkan sempat memfoto dan meriview seperti apa bakso beranak itu.


"Jadi jaman sekarang itu orang kalau makan bakso bukannya berdoa tapi posting dulu ya" ucap Fabian.


"Ya sambil makan sambil posting hehhe, kamu mau gak?" Tanya Talia.


Fabian pun menggeleng kepalanya.

__ADS_1


Hingga saat itu Fabian pun di ajakan makan seperti terasa enggan entah kenapa dirinya merasa kenyang padahal belum makan. Namun pada akhirnya..


"Bungkus satu saja ya pak" kata Fabian kepada tukang bakso saat itu.


Fabian yang saat itu merasa teringat pada Rosa dan tak ada salahnya membelikan Rosa satu porsi untuk wanita yang masih lugu itu.


"Di bungkus? Kamu mau juga" tanya Talia.


"Iya aku ingin coba satu tapi di bungkus" kata Fabian saat itu.


Fabian pun tidak memberitahu pada Talia soal dirinya yang diam-diam membelikan satu porsi bakso untuk Rosa.


Hingga saat setelah selesai makan bakso. Fabian pun mengantar Talia lebih dulu menuju rumah kontrakannya, dan setelah itu.


Baru lah Fabian secara diam-diam menemui Rosa tanpa sepengetahuan Talia.


Menuju tempat yang di tuju yakni sebuah panti di mana Rosa tinggal, belum sampai saja ada perasaan deg deg aan yang entah apa dan kenapa. Apalagi bila mengingat bikini yang akan Fabian berikan, entah bagaimana ekspresi Rosa. Sungguh membuat Fabian penasaran, dirinya akan bahagia, terkejut atau segera akan memakai nya sungguh tak bisa dibayangkan.


Tapi bila ingat gadis cantik nan ayu itu memakai nya pasti akan lebih menakjubkan, ah berkali kali Fabian hanya berusaha untuk menyadarkan semuanya. Pada dasarnya sekalipun ada rasa tertarik itu hanya perasaan naluri kakak pada adik dan tak akan pernah bisa lebih.


"Rosaa tunggu lah aku untuk datang padamu, apalagi aku bawa bakso beranak dan bikini ini aku tak sabar melihat ekspresi mu nanti, pasti kamu akan mengatakan 'apa? Om fabian membelikan ini padaku, oh om Fabian kamu baik sekali seperti malaikat' eh pasti ujung ujungnya kamu akan mencium ku hehehe dasar gadis kecil itu sungguh eksepsif dan sering tak sadar cium pipi orang. Ehm jadi tak sabar" kata Fabian fokus menyetir dan membayangkan wajah Rosa.


Hingga dirinya sampai dan memakirkan mobil di depan panti dengan penuh semangat Fabian membawa semua yang di bawa saat itu untuk segera bertemu Rosa dan melihat wajah yang lucu dan menggemaskan nya itu.


Tapi...


"Permisi Bu Dian, aku ingin menemui Rosa Bu" ucap Fabian dengan sebuah hadiah dan bakso yang ia bawakan untuk Rosa.


"Oh ya ini juga ada hadiah untuk anak panti lainnya berupa makanan yang aku beli di jalan sebelum sampai sini berupa roti dan martabak manis" kata Fabian yang juga sudah menyiapkan sedikit makanan kecil yang sudah di siapkan.


"Terimakasih nak Fabian, tapi? Memang Rosa tidak bilang" Kata Bu Dian.


"Bilang apa Bu?" Tanya Fabian.


"Iya nak Fabian, Rosa sudah tidak di sini" kata Bu Dian.


"Lalu dia kemana Bu?" Kata Fabian tak menyangka.


"Dia sudah ikut pergi dengan ayah kandungnya" ucap Bu Dian sungguh Fabian tak menyangka.


"Ikut pergi, kemana?" Tanya Fabian tak menyangka.


"Ibu juga tidak tahu lebih jelasnya tapi yang pasti ia sudah ikut dengan ayah kandungnya" jelas Bu Dian.


Tiba-tiba saja hati Fabian merasa sakit saat mendengar Rosa tak lagi ada di panti itu. Fabian pun tertunduk tak menyangka dengan apa yang ia dengar dan memejamkan mata tak percaya


"Beberapa Minggu yang lalu sudah diketahui siapa ayah kandung dari Rosa. Dan sebelum nya Rosa memang sempat ragu tapi setelah itu akhirnya dia mau ikut juga, karena Rosa merasa itu memang jalan hidup nya dan takdirnya"


Hati Fabian pun merasa teriris bagaimana tidak hadiah yang sudah ia siapkan dan ia berikan nyatanya tak bisa ia berikan karena Rosa tak ada.


Tapi jauh dari itu ada perasaan paling sakit yaitu bukan hadiah yang tak tersampaikan tapi Rosa yang kini tak lagi ada.

__ADS_1


__ADS_2