
Nabila dan Hendra mengalihkan pandangan mereka yang tadinya fokus pada makanan yang mereka santap, mereka langsung fokus pada Oma Gwen
"setelah kalian menikah, kalian akan menetap di kediaman Oma" perkataan Oma Gwen bukan sebagai permintaan tapi titah yang harus diikuti. Oma Gwen berkata masih dengan pandangannya yang fokus pada makanan, Oma Gwen tidak terpengaruh dengan tatapan Nabila dan Hendra dengan pupil mata mereka sudah membesar mendengar perkataan Oma.
bukan apa-apa, sebelumnya mereka sudah melakukan kontrak, kalau setelah menikah nanti, mereka akan tinggal di apartemen Hendra yang memiliki 2 kamar, artinya mereka akan tidur di kamar masing-masing, tapi mendengar perkataan Oma yang terdengar seperti perintah untuk tinggal di rumah besar, otomatis mereka akan tidur di kamar yang sama.
Nabila memandang Hendra dengan kode agar Hendra berkata kepada Oma bahwa mereka tidak menyetujui perkataan Oma. Hendra yang mengerti arti tatapan Nabila menganggukkan kepala tanda setuju dengan Nabila. Nabila tersenyum karena Hendra mengerti maksudnya
"Baiklah, kalau itu yang Oma inginkan" ucap Hendra santai tanpa peduli dengan pandangan protes dari Nabila, Hendra hanya tersenyum kecil karena berhasil membuat Nabila kesal akan tingkahnya.
"Syukurlah kalian setuju, Oma pikir tadi kalian akan protes" senyum Oma Gwen merekah mendengar persetujuan cucunya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Oma Gwen sudah tau segala rencana dari Hendra dan Nabila, oleh sebab itu, Oma Gwen mengajak mereka untuk tinggal di kediaman Oma.
Setelah keputusan Oma saat makan siang dan sikap Hendra yang menyetujui perkataan Oma membuat Nabila hanya diam tanpa berniat untuk berbicara, dia akan berbicara saat Oma Gwen bertanya padanya.
Hendra bukannya tidak tau keadaan hati Nabila, tapi dia berpura-pura tidak peduli dan masa bodoh, sesungguhnya dia senang karena setelah menikah nanti dia akan sekamar dengan Nabila, bahkan rencana untuk tinggal di apartemen dengan kamar terpisah adalah ide dari Nabila sendiri.
Sesampainya di rumah besar, Oma langsung ke kamarnya, meninggalkan Nabila dan Hendra di ruang tamu, setelah Oma masuk ke dalam kamarnya, Hendra bergegas pergi meninggalkan kediaman Oma karena masih banyak pekerjaan yang harus segera dia kerjakan sebelum dia nantinya cuti untuk menikah.
"kenapa?" Hendra pura-pura tidak tau apa yang akan disampaikan Nabila, padahal sebenarnya dia sudah tau kalau Nabila sangat kesal dengan ulahnya tadi.
"kenapa kenapa, memangnya kamu tidak merasa salah ya?" Nabila kesal dengan tingkah Hendra yang sangat menyebalkan
__ADS_1
"salah? memangnya aku salah apa?" Hendra kekeuh tidak merasa bersalah
Nabila menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya sebagai bentuk menenangkan hatinya, menurut Nabila jika berbicara dengan Hendra memang harus memiliki kesabaran lebih.
"kamu.. kenapa setuju dengan perkataan Oma tadi?" Nabila mulai bertanya dengan suara setenang mungkin kepada Hendra, takut Oma nanti mendengar percakapan mereka
"perkataan Oma yang mana?" Hendra masih saja suka melihat wajah kesal Nabila
"ihh.. kamu ini nyebelin banget" Nabila tambah kesal dengan tingkah Hendra yang berlagak beg*
Nabila melihat disekelilingnya sebelum melanjutkan perkataannya kepada Hendra
__ADS_1
"itu, kamu kenapa setuju dengan perkataan Oma untuk tinggal di sini setelah menikah nanti? kamu kan tau kita sudah buat perjanjian untuk tinggal di apartemen dengan kamar terpisah, kamu sadarkan kalau kita tinggal di rumah Oma, Otomasi kita tinggal di kamar yang sama, dan aku tidak mau itu terjadi" Ucap Nabila mengeluarkan segala unek-unek nya sejak tadi