
Setelah mendengar isi hati Nabila yang terdengar seperti Omelan untuk Hendra
"terus kenapa kamu tidak protes tadi?" Hendra malah balik bertanya kepada Nabila
"ya, kan tidak mungkin aku melawan perkataan Oma" ucap Nabila seperti bingung juga harus berkata apa.
"kalau begitu sama, aku juga tidak mau melawan perkataan Oma, dosa tau melawan perkataan orang tua" balas Hendra dengan sok bijak,
"tapi kan kamu cucunya" Nabila tidak mau kalah
"terus kalau aku cucunya Oma, aku tidak dosa gitu melawan perkataan Oma?" balas Hendra kembali membuat Nabila kehabisan kata-kata
"yaa tidaklah" Nabila bingung sendiri, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hendra tersenyum kecil melihat tingkah Nabila yang kehabisan kata untuk mendebatnya
Saat Hendra hendak berbalik masuk kedalam mobilnya, Nabila kembali mengehentikan langkahnya
"tunggu dulu, aku belum selesai bicara" ucap Nabila
__ADS_1
Hendra kembali berbalik kepada Nabila
"tapi kan kamu bisa protes sedikit sama Oma, kamu bilang saja sama Oma, kalau kita ingin tinggal di apartemen mereka untuk belajar mandiri" ucap Nabila kembali
"ya udah, kamu saja sama yang bicara sama Oma, aku lagi tidak mood berdebat dengan Oma" Hendra berucap dan berlalu masuk kedalam mobil meninggalkan Nabila
"tapi.. tunggu.. tunggu dulu.. ish.. dasar cowok menyebalkan" Nabila tambah kesal dengan tingkah Hendra yang langsung pergi padahal dia masih mau bicara.
Nabila menghentakkan kakinya saking kesalnya dengan tingkah Hendra
Di sisi lain dari tempat Nabila berdiri sepasang mata memperhatikan dan mendengar semua pembicaraan antara Hendra dan Nabila.
Mendengar laporan dari kepala pelayan yang merupakan orang kepercayaan Oma yang menjadi mata dan telinga untuk Oma..
Oma hanya tersenyum mendengar semua laporan dari orang kepercayaannya.
"kamu, terus pantau gerak-gerik kedua cucuku itu" titah Oma kepada orang kepercayaannya
"baik nyonya" ucap kepala pelayan dengan santun dan bergegas keluar dari kamar Oma meninggal Oma sendiri di kamarnya
__ADS_1
"semoga saja setelah menikah nanti Nabila bisa mencintai Hendra" harap Oma dalam gumamnya.
...****************...
Sementara itu, hingga malam tiba Hendra masih di kantor untuk menyelesaikan segala pekerjaannya, padahal besok adalah hari pernikahannya.
Rendi yang melihat Hendra sedang serius dengan pekerjaannya jadi segan mengganggu, tapi karena mengingat besok adalah pernikahan bos sekaligus sahabatnya, Rendi memberanikan diri untuk mengingatkan waktu kepada Hendra
"Bos, sepertinya sudah terlalu malam bos bekerja, memangnya bos belum mau pulang istirahat?" tanya Rendi selembut mungkin
"aku belum lelah, lagian masih banyak berkas yang harus aku kerjakan, kamu kenapa? sepertinya dari tadi gelisah melihat aku kerja, apa kamu tidak senang aku kerja? biasanya juga aku kerja lembur bahkan sampai subuh" ucap Hendra masih dengan matanya yang fokus pada berkas di tangannya.
"bukan begitu bos, tapi kan ini sudah mau tengah malam, bos kan besok akan menikah" ucap Rendi
Hendra tiba-tiba terdiam mendengar perkataan Rendi.
ya, dia lupa tentang pernikahannya besok, dia lupa bahwa besok dia sudah berubah status dari lajang menjadi suami,
mengingat kata "suami" membuat Hendra salah tingkah sendiri, apalagi bayangan Nabila yang mengenakan dress pengantin tadi selalu terbayang-bayang di kepala Hendra. oleh sebab itu Hendra fokus bekerja sampai lupa akan pernikahannya besok karena dia ingin mengalihkan perhatiannya dari Nabila ke pekerjaannya.
__ADS_1