Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 39. Ternyata


__ADS_3

Perjalanan menuju ke kampung Reni sekitar 6 jam. Di kursi belakang Yudi dan Reni tengah tertidur. Sedangkan Hasna di samping Radi berusaha menemani sang suami.


" Tidur saja Has?"


" Kasian kakak melek sendiri."


" Lagian ini kan siang, kakak nggak akan ngantuk. Nanti kalau waktunya zuhur kita berhenti untuk istirahat."


Hasna mengangguk, tak lama ia pun tertidur. Radi tersenyum melihat istri kecilnya itu langsung tertidur saat dia menyuruh nya.


Baru kali ini Radi melakukan perjalanan jauh dengan seorang wanita. Meskipun tidak berdua namum sungguh membuat Radi bersemangat.


" Anggap saja liburan atau honeymoon. Ngomong ngomong soal honeymoon kayaknya harus ngajuin cuti deh. Kasian juga nih bocah sumpek pasti ngerjain skripsi."


Radi tersenyum simpul memikirikan kemana dia akan mengajak sang istri sekaligus mahasiswanya itu berlibur. Radi mengusap wajah Hasna dengan lembut. Matanya berpindah ke bibir ranum sang istri.


" Astagfirullaah ... Inget lagi . Huft ... "


Radi menarik tangannya dan kembali fokus melihat ke arah jalan. Ternyata bibir Hasna merupakan candu baginya.


Di kediaman Dwilaga, Aryo buru buru pulang dari kampus. Ia mencari sang anak yang tumben tumbenan bolos mengajar.


" Assalamualiakum bund ... "


" Waalaikumsalam ... Lho yah kok udah pulang jam segini."


Aryo mengerutkan alisnya, ia pulang juga gara gara sang istri tidak mengangkat panggilan darinya. Aryo khawatir karena Radi pulang tiba tiba, takutnya di rumah ada yang kenapa napa."


" Kok malah cemberut yah."


" Bunda sih, di telpon nggak diangkat di chat juga nggak dibalas. Tadi tuh ayah dapat laporan. Radi tiba tiba pulang karena ada urusan urgent. Nah ayah takut ada sesuatu di rumah."


Sekar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menyadari kesalahannya.


" Maaf, handphone bunda taruh kamar."


" Huft ... Lalu kenapa Radi pulang. Mana tuh anak."


" Radi ikut Hasna nganter Reni pulang ke rumah nenek kakeknya. There is something surprising."


" Apa itu?"

__ADS_1


" Ternyata Reni bukan anaknya Yudi yah."


Arya membulatkan matanya ia sungguh terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Sekar. Meskipun Aryo merasa ada yang aneh dengan wanita yang menjadi istri Yudi saat ini, namun ia sungguh tidak menyangka akan hal tersebut.


" Bukan anak Yudi gimana."


" entah Bunda juga tidak tahu pasti, tadi Reni sendiri yang bilang seperti itu."


Aryo membuang nafasnya kasar kelihatannya kehidupan rumah tangga besanya itu sedikit rumit. Tapi Aryo bersyukur Hasna adalah anak yang baik. Meskipun keluarganya sedikit berantakan tapi Hasna tidaklah menjadi gadis yang brutal atau di luar kendali.


" Tadi bunda sempat dengar kata Reni sebelum Melati meninggal, Melati sempat mendatangi kediaman Priska yang ada di kampung. Mungkin Yudi dan Hasna ke sana ingin menyelidiki hal tersebut."


" Ya jika seperti itu, kemungkinan itu lah yang saat ini mereka lakukan. Lalu putramu?"


" Tentu saja ikut sepertinya dia udah mulai bucin. Nyatanya selama ini tidak tidak pernah bolos mengajar tiba-tiba dia bolos mengajar karena ingin ikut Hasna."


Aryo pun mengangguk. Ia menyetujui ucapan sang istri. Hal tersebut karena dia paham betul siapa putranya. Ketidakhadiran Radi di kampus pun menjadi berita yang mengejutkan bagi beberapa dosen yang lain dan tentu saja mahasiswanya. Biasanya mau hujan badai, petir gledek sekalipun Radi tetap akan berangkat mengajar.


🍀🍀🍀


Seorang pria tengah duduk sendiri termenung. Ia sedang meratapi kegagalannya dalam mengutarakan perasaan hatinya terhadap wanita yang dicintai.


Para karyawan yang berlalu lalang tidak tampak olehnya. Udin sedikit bingung dengan ulah sang Bos. Kemarin saat menanyakan Hasna sang Bos begitu bersemangat. Tapi kini mukanya ditekuk bak cucian kusut.


Dipta mengacak rambut nya dengan kasar. Para karyawannya menatap bingung dengan ulah sang Bos.


Tak ... Tak ... Tak ...


Suara hentakan sepatu mendekat ke arah Dipta. Pemilik sepatu itu pun berhenti dan duduk di depan pria yang tengah galau itu.


" Long time no see Ta."


Dipta menengadahkan wajahnya menatap ke arah suara itu berasal. Suara tersebut adalah milik wanita yang dia kenal. Suara yang pernah menemani hari-harinya. Suara itu pun juga yang pernah ia kecewakan.


" Eh ... kamu. Sejak kapan kamu di sini? Bagaimana kabar mu sekarang? Kok kamu tahu aku di sini?"


Wanita yang duduk di depan Dipta itu tersenyum simpul.


" Kau tidak pernah berubah, selalu bertanya pertanyaan yang sangat banyak sebelum aku bisa menjawab satupun. Dan untuk tahu kau di sini? Itu sangat mudah. Siapa yang tidak mengenal kafe mu ini."


" Hehehe maaf ... Tapi kamu tahu kafe ini milikku mengapa juga baru sekarang datang?"

__ADS_1


Dipta manggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita itu sangat tahu kebiasaan kebiasaan nya.


" biasa lah Ta, banyak pekerjaan sehingga aku baru sempat mampir sekarang."


" Irene ... Aku mau minta maaf."


" Untuk ??"


" Untuk aku yang pernah membuatmu kecewa. Aku yang tidak sadar pernah membuat hati mu sakit."


Irene heran dan bingung dengan ucapan pria yang pernah ada di hatinya tersebut. Sudah lebih dari 5 tahun dan tiba tiba Dipta mengungkit akan hal itu.


" Kamu kenapa Ta?"


" Aku baru tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang dan ternyata orang itu tidak menyukaiku."


" Kamu ditolak?"


Dipta mengangguk. Rasanya Irene ingin tertawa tapi melihat wajah Dipta yang sendu ia pun urung.


" Lalu bagaimana rasanya."


" Haish sudahlah. Kau ingin mengejekku bukan?"


" Hahaha tidak, ayolah bagaimana rasanya?"


" Rasanya sungguh sakit. Seperti ada pedang yang membelah hatiku. Seperti ada batu yang begitu berat menghimpit dadaku."


Irene terdiam. Ia cukup tahu itu. Tapi dulu saat Dipta menolaknya ia tidak merasa terlalu sakit. Entah apakah dulu dia hanya sekedar suka atau nyaman saja. Namun yang ia tahu pasti Irene belum ke tahap cinta dan sayang kepada Dipta.


" Oh ayolah ... sudah lah jangan membahas itu lagi. Sudah cukup. Apakah mau pergi bersama?"


Dipta memicingkan matanya? Ia sedikit heran dengan wanita super sibuk di depannya itu yang tiba tiba mengajaknya keluar.


" Nona dosen yang terhormat, apakah Bu Dosen tidak sedang mengajar?"


" Hari ini aku free, jadi ayo kita jalan. Sudah lama kita tidak berjalan jalan bersama."


" Okeeeh ... Good idea. Sepertinya kita akan bernostalgia ... Bukan bukan ... Bernostalgila tepat nya."


Keduanya tertawa bersama. Ya sebelum Irene mengungkapkan perasaannya kepada Dipta, mereka adalah sahabat baik. Namun setelah Dipta mengetahui perasaan Irene kepadanya keduanya pun menjauh. Mereka sama sama sibuk dengan urusan mereka masing masing.

__ADS_1


Dan sebenarnya selama itu pula keduanya tidak pernah dekat dengan lawan jenis manapun. Hingga Dipta menaruh rasa kepada Hasna dan Irene jatuh hati kepada Radi.


TBC


__ADS_2