
Hari ini Yudi bertekad untuk mendatangi alamat yang diberikan oleh Reni saat berkunjung ke kampung halamannya. Dengan bermodalkan aplikasi pencarian alamat di smartphone miliknya, Yudi akhirnya bisa sampai di lokasi tersebut. Butuh waktu 2 jam untuk Yudi bisa menemukannya.
Pria itu langsung turun dari mobilnya dan berjalan ke arah rumah yang sudah di beritahukan Reni. Yudi mengangkat tangannya dan mengetuk pintu tersebut.
Tok tok tok
" Ya tunggu sebentar."
Suara seorang pria menyahut dari dalam rumah. Terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat.
Ceklek
" Anda?"
Bardi sungguh sangat terkejut dengan pria yang berdiri di depan pintunya. Meskipun tidak pernah bertatapan langsung tapi Bardi sangat tahu dan paham siapa dia.
" Bolehkah saya bertanya sesuatu?" ucap Yudi tenang.
Bardi mempersilahkan Yudi untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu. Ia pun meminta Yudi untuk duduk di kursi. Bardi pun ikut duduk di sana, ia sedikit tertunduk melihat jari kaki kaki nya di bawah. Yudi paham bahwa pria di depannya itu sangat gugup dengan kehadirannya yang tiba tiba.
" Jangan tegang, santai saja. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal. Saya harap anda tidak berkeberatan dengan pertanyaan saya."
Bardi mengangguk, ia tidak pernah menyangka bahwa Yudi akan menemuinya secara langsung.
" Apa benar kamu adalah pria yang mengirimkan foto foto saya kepada Melati istri saya?"
Bardi mengangguk, ia mengiyakan pertanyaan Yudi.
" Lalu apakah kamu terlibat dengan kecelakaan Melati."
Bardi seketika menggeleng dengan begitu cepat. Ia memang mengirimkan foto foto itu. Tapi dia tidak pernah tahu menahu mengenai kecelakaan istri pria yang ada di depannya itu.
" Sumpah demi Tuhan tuan, saya sama sekali tidak tahu mengenai kecelakaan istri anda. Saya mengakui kesalahan saya mengenai foto foto itu. Tapi jujur saya tidak tahu mengenai kecelakaan itu. Saya bisa pastikan itu tuan. Memang Priska mendesak saya untuk menyerahkan foto foto anda kepada istri anda. Tapi ~"
" Di mana wanita itu!"
" Sudah pergi tuan. Dia pergi bersama pria nya."
" Astagfirullaah, dasar wanita jal*ng. Benar benar wanita tidak tahu diri."
__ADS_1
Yudi terkejut mendengar penuturan Bardi. Rupanya Priska tak hanya memiliki satu pria. Ia membuang nafas nya kasar. Jika Bardi tidak ada hubungannya dengan kecelakaan Melati lalu siapa kira-kira. Yudi yakin bahwa kecelakaan Melatih adalah hal yang disengaja. Setelah ia mendengar cerita bahwa Melati datang ke kampung maka disitulah ia yakin bahwa kematian Melati itu bukanlah karena kecelakaan semata.
" Oh iya tuan, anda harus berhati hati. Priska menargetkan putri anda."
" Apa? Awas saja, jika dia berani menyentuh putriku maka aku akan membuatnya menyesal seumur hidupnya."
Yudi sungguh geram dan marah dengan apa yang diucapkan Bardi. Ia berpikir apakah akan menyewa jasa detektiv untuk mengawasi putrinya sekaligus mencari tahu dimana Priska kini berada.
" Baiklah, terimakasih atas semua informasi mu. Aku meninggalkan nomor telpon ku. Jika kamu mengetahui keberadaan Priska hubungi aku. Oh iya lupakanlah wanita itu dan mulai lah hidup yang baru. Temuilah Reni, kasihan dia."
Bardi mengangguk, saat nama putrinya disebut ada rasa sakit di hatinya. Bahkan dadanya terasa begitu sesak.
" Terimakasih tuan sudah merawat putri saya selama 18 tahun ini. Dan saya minta maaf, jika saya tidak memberikan foto foto itu mungkin istri anda~"
" Sudahlah tidak usah di pikirkan. Yang lalu biarlah berlalu. Tapi aku tetap tidak bisa melepaskan wanita itu jika dia memang ada campur tangan mengenai kematian Melati."
Yudi meninggalkan rumah Bardi. Sedangkan Bardi ia tengah bersiap siap untuk kembali bekerja sebagai supir taksi online. Namun ketika ia hendak memasuki mobilnya tiba tiba Priska datang menemuinya.
" Bar, tunggu. Apakah kau ingin pergi?"
" Ya, waktunya aku untuk bekerja. Ada apa?"
" Bar, bolehkah aku tinggal di sini?"
Bardi memicingkan matanya lalu ia tersenyum sinis. Raut wajah Bardi terlihat jelas mengejek Priska.
" Wohooo, apa aku tidak salah dengar bukankah kemarin kau berkata tidak sudi tinggal di rumah ku. Aaah, apa mungkin pria mu itu mengusir mu?"
Priska mengepalkan tangannya dengan erat. Bukan Ridwan yang mengusirnya melainkan istri Ridwan. Ya, Ridwan adalah seorang pria beristri. Ia menikah belum lama ini.
" Tidak usah mengejek Bar. Kau mengizinkan apa tidak aku tinggal di sini."
" Tidak, aku tidak sudi menampung wanita jal*ng seperti mu."
Bardi lalu memasuki mobilnya dan segera pergi meninggalkan Priska yang sungguh merasa kesal.
Priska mengumpat marah karena diacuhkan Bardi. Tak berselang lama sebuah mobil mendekat. Namun rupanya Priska tahu siapa pemilik mobil tersebut.
" Mau apa?"
__ADS_1
" Sayang, please. Jangan marah. Aku sungguh tidak mencintai dia. Aku hanya ingin kamu sayang."
" Bulshit. Omong kosong."
Priska nampak marah, namun Ridwan tidak kehabisan akal untuk membujuk Priska. Ia pun membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu dan rekasi Priska langsung tersenyum.
" Bagaimana?"
" Baiklah kali ini aku akan memaafkan mu."
Keduanya memasuki mobil masing masing dan pergi ke suatu tempat. Tanpa sadar dari belakang Bardi mengikuti keduanya. Ia harus bisa menemukan dimana Priska tinggal. Entah mengapa, ia merasa ikut bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di keluarga Yudi. Terlebih ia tahu bahwa Priska begitu membenci Hasna putri dari Yudi.
Mobil Priska dan Ridwan berbelok di sebuah perumahan. Mereka menghentikan mobil mereka disebuah rumah. Bardi dengan cepat mengambil foto foto keduanya menggunakan ponsel lalu mengirimkannya kepada Yudi.
Sedangkan Priska sungguh sangat senang dibawa Ridwan ke sebuah rumah. Ia seketika langsung memeluk Ridwan.
" Mengapa tidak bilang kalau punya rumah lain?"
" Sengaja, aku mau kasih surprise kamu. Eeeh kamu nya udah ngambek duluan."
Priska tersenyum kecil ia pun langsung meraup bibir Ridwan. Mereka pun sudah bergelut di atas sofa ruang tamu dengan baju berserakan.
" Jadi, kapan kamu akan melakukannya?"
" Tunggu, mereka sedang pergi. Tapi putri tiri mu itu sungguh cantik. Bolehkah aku bermain dengannya sebelum menghabisinya?"
" Terserah padamu. Mau kau apakan dia terserah. Yang penting buat dia menyusul ibunya seperti yang kau lakukan dulu."
Ridwan tersenyum lebar. Dia jadi tidak sabar menanti saat itu. Beberapa kali mengikuti Hasna menjadikan ia sungguh penasaran dengan gadis itu ditambah Ridwan adalah penikmat one night stand .
Keduanya pun kembali melakukan penyatuan lagi. Sungguh hal yang tidak pantas. Bardi yang sedari tadi mencuri dengar merasa menyesal pernah mencintai wanita itu. Ia pun segera berlari dan menaiki mobilnya.
" Aku harus segera memberitahukan ini kepada Tuan Yudi. Ya, harus."
Brummm
Bardi langsung melesat pergi ke perusahaan Yudi untuk melaporkannya langsung.
TBC
__ADS_1