
Yudi mendatangi kantor polisi terkait penangkapan Priska dan Ridwan. Dia dihubungi oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan mengenai Priska. Tidak hanya Yudi tetapi Bardi pun juga dipanggil untuk menjadi saksi.
Keduanya kini duduk bersama sedang menjalani pemeriksaan. Yudi menceritakan semua hal yang ia ketahui. Begitu juga dengan Bardi. Ia pun menyerahkan rekaman yang dia ambil saat di rumah Ridwan sebagai salah satu bukti untuk kasus ini.
" Terimakasih saudara Yudi dan Bardi. Saya harap ada bukti lain lagi untuk lebih menguatkannya. Kasus kecelakaan ini sudah lumayan lama, saya khawatir hanya akan menguap begitu saja."
Yudi mengangguk mengerti. Rupanya ia harus mencari bukti rekaman kamera pengawas untuk membuktikan kejahatan Priska. Meskipun wanita itu menggunakan orang lain sebagain eksekutor namun otak nya tetap adalah dia. Yudi tidak mau Priska lepas dengan mudah.
" Pak, bisakah saya menemui wanita tersebut? Ada beberapa h yang perlu saya konfirmasi," pinta Yudi kepada pak polisi.
Yudi pun diantar menuju sel tempat Priska di tahan. Wanita yang biasanya selalu cantik itu kini terlihat begitu berantakan.
Priska tersenyum saat Yudi menemuinya. Ia beranggapan Yudi akan mengeluarkannya dari tempat dingin itu.
" Mas, kau datang? Kau akan mengeluarkan ku bukan?"
Yudi tersenyum sinis. Sungguh ia sangat muak dengan wajah dibuat buat nya Priska.
" Aku ingin bertanya, apa yang kau katakan pada Melati saat istriku mengunjungi mu?"
Mendengar Yudi menyebut kata istri pada wanita yang telah meninggal itu membuat darah Priska mendidih. Sungguh dia tidak suka Yudi mengatakan hal tersebut.
" Heh dasar naif. Wanita yang sudah mati masih saja kau kenang kenang."
__ADS_1
Yudi sungguh kesal dengan ucapan Priska. Rasanya ia ingin meremat mulut wanita itu saat ini juga.
" Huft, sekali lagi aku tanya. Apa yang kau katakan kepada Melati saat dia berkunjung ke rumah mu. Katakan!!"
" Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya bilang kau yang merayuku dan memaksaku. Aku juga mengatakan kalau aku tidak tahu bahwa kau sudah menikah. Aku juga mengatakan bahwa aku baru mengetahui bahwa kau punya istri belum lama dan kau tidak mengizinkan kami menemui mu di kota karena takut istrimu itu tahu."
Yudi mengepalkan tangannya erat. Wajahnya memerah menahan marah. Pantas saja Melati tidak mau menemuinya di saat saat terakhir hidupnya. Ternyata ucapan Priska lah yang membuat Melati bersikap seperti itu.
" Jahat kau Pris. Kau benar benar wanita jahat. Bagaimana mungkin kau bisa menyakiti hati sesama wanita dengan fitnah mu itu. Apa kau ini sungguh wanita Pris. Kau lebih pantas disebut sebagai iblis Pris. Aku sungguh menyesal pernah hidup dengan mu aku harap Reni tumbuh dengan baik, dan tidka seperti ibu nya ?"
" Aku tidak peduli! Yang aku pedulikan hanya kamu mas. Hanya kamu. Aku sungguh mencintai mu mas Yudi. Sungguh."
" Cinta mu neraka bagiku Pris! Membusuk lah kau di tempat ini. Segeralah taubat kau wanita jahat."
Yudi melenggang pergi. Meninggalkan Priska yang masih berteriak memanggil namanya. Pria itu tergugu, air matanya seketika luruh tak terbendung. Ia sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Priska. Mengapa ia sungguh tega melakukan fitnah tersebut.
" Apakah tuan baik baik saja?"
" Ya, aku tidak apa apa. Terimakasih Bardi kau sudah banyak membantu."
" Tidak apa apa tuan. Ini merupakan bagian dari penebusan rasa bersalah saya. Saya merasa ikut bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di keluarga tuan."
Yudi mengangguk. Ia sejenak berpikir, bagaimana orang yang baik seperti Bardi bisa terikat dengan Priska. Bahkan bisa memiliki Reni. Namun Yudi tidak mau mengorek lebih dalam. Itu bukanlah urusannya.
__ADS_1
Keduanya pun keluar dari kantor polisi bersamaan. Mereka berpisah di tempat parkir dan menuju tempat tujuannya masing masing. Bardi hendak kembali lagi menerima orderan dan Yudi, dia akan mendatangi sebuah tempat.
Yudi melajukan mobilnya secepat mungkin agar segera bisa sampai di tempat yang dituju. Yudi ingin mengunjungi Melati. Ia ingi mengunjungi pusara sang istri tercintanya yang pergi membawa kesalahpahaman.
Yudi tertunduk lesu di samping pusara sang istri. Bahkan ia kini sudah kembali menangis. Namun secepatnya ia menghapus air matanya. Ia tak ingin membasahi tanah kubur milik istrinya dengan air matanya. Yudi pun mengusap nisan milik Melati.
" Assalamualaikum sayang, maafkan aku. Sungguh aku minta maaf. Andaikan aku bercerita padamu lebih awal. Ya Allaah Mel mengapa secepat ini kau meninggalkan aku. Mel, apa kau tahu? Hasna putri kita sudah menikah. Di hari pernikahannya ia begitu cantik, sama seperti dirimu waktu dulu. Jika waktu bisa ku putar kembali aku tidak ingin bersama mu agar kau bisa di dunia ini lebih lama. Semua ini gara gara aku. Maafkan aku Mel, sungguh aku minta maaf."
Yudi terus mengucapkan kalimat penyesalannya. Meskipun itu percuma karena yang sudah meninggal tak akan pernah hidup lagi, namun Yudi tetap melakukannya. Paling tidak kini dia tahu mengapa almarhumah istrinya itu tidak berkenan menemuinya disaat terakhir hidupnya.
" Baiklah Mel, rupanya aku harus pulang dulu. Apa kau tahu sayang di rumah begitu sepi. Aku sungguh merindukanmu berada di rumah. Aku rindu masakan mu, aku rindu senyuman mu. Aku merindukan segala hal yang berhubungan dengan mu. Aku pulang dulu Mel, aku akan ke sini lagi nanti. Assalamualaikum sayang."
Yudi mencium nisan milik Melati sejenak sebelum ia benar benar pergi meniggalkan pemakaman itu.
Rasanya sangat berat untuk pergi dari sana. Yudi sungguh ingin lebih lama, namun ia tidak bisa melakukannya. Pekerjaan yang begitu banyak sungguh menyita waktunya. Biasanya setiap hari kamis Yudi akan mengunjungi makam Melati, namun beberapa waktu ini dia hanya berkunjung dua minggu sekali.
Lagi sekarang, ia harus mencari bukti keterlibatan Priska dengan kecelakaan Melati. Ia tidak akan membiarkan Priska mendapat hukuman yang ringan. Tapi kemana Yudi akan mencari? Hingga ia teringat oleh sebuah nama.
" Ya, orang itu pasti bisa membantuku. Aku yakin. Tidak mengapa jika mengeluarkan uang lebih banyak. Tapi kau bisa membuktikan kejahatan Priska di pengadilan."
Yudi berjalan menjauh keluar dari pemakaman. Ia memasuki mobilnya dan melesat pergi dari tempat pemakaman umum tersebut.
Setelah Yudi benar benar pergi ada seseorang dengan busana muslimah mendekati makam Melati. Ia membawa sebuket bunga matahari, bunga kesukaan Melati dan menaruhnya di atas pusara. Ia pun berjongkok di sebelah pusara tersebut. Hijab lebarnya yang menyentuh tanah tidak terlalu ia perhatikan. Ia lalu membuka kacamata hitam nya dan menyimpannya ke dalam tas.
__ADS_1
" Apa kabar? Maaf lama tidak menemui mu. Aku bawakan bunga favoritmu."
TBC