Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 60. Adik?


__ADS_3

Tok tok tok


Yudi terjingkat, ia begitu terkejut mendengar pintu rumahnya di ketuk. Yudi pun beranjak dari duduk nya lalu berjalan menuju ke pintu.


Ceklek


Ia membuka pintu itu perlahan. Di depan pintu tersebut terlihat seorang wanita yang berdiri memunggungi nya. Yudi mengerutkan keningnya. Siapa wanita ini, mengapa malam malam begini bertamu? Itulah yang ada dalam pikiran Yudi hingga wanita itu membalikkan tubuh nya.


Mata Yudi membelalak, nafasnya naik turun tidak beraturan. Dan yang jelas dadanya begitu sakit seperti dihimpit oleh batu besar saat melihat wanita yang ada di depan nya itu.


" Melati??? Ba-bagaimana mungkin. Tidak tidak. Pasti aku berhalusinasi."


Yudi menggeleng nggelengkan kepalanya dan mengucek kedua matanya. Wanita yang ada di depannya sungguh mirip dengan Melati. Namun Yudi sebisa mungkin menjaga kewarasannya melihat wanita yang hampir sama dengan mendiang istrinya itu. Ia tidak boleh bertindak ceroboh.


" Ma-maf, si-siapa anda?"


Yudi bertanya tergagap. Sedangkan wanita tersebut tersenyum simpul. Senyuman yang mirip seperti milik Melati. Sungguh Yudi seperti dibuat gila dengan wanita yang ada di depannya itu.


" Selamat malam kakak ipar?"


Deg


" Kakak ipar? Sebenarnya kau siapa?"


Jantung Yudi berdetak kencang. Bukannya menjawab, wanita itu malah duduk di kursi yang berada di teras rumah Yudi tersebut. Yudi yang masih kebingungan pun ikut duduk. Ia kembali melihat wajah wanita itu sekilas. Memang begitu mirip dengan Melati, tapi tetap mereka adalah dua orang yang berbeda. Ada beberapa sisi yang sangat membedakan wanita itu dengan mendiang istrinya.


" Kakak ipar? Apa kau adik Melati? Selama ini aku tidak pernah tahu Melati punya adik, dan setahu ku Melati adalah anak tunggal. Seandainya kau memang adik Melati mengapa kamu tidak hadir saat pemakaman Melati dna juga saat ayha mertua meninggal?"


Wanita itu membuang nafasnya kasar, ia kemudian mulai bercerita siapa dia sebenarnya. Yudi sungguh melongo. Ada sisi tidak percaya dalam diri Yudi. Namun melihat tingkat kemiripan 85% dari wanita tersebut terhadap istrinya maka Yudi pun sedikit percaya.


Wanita yang memiliki nama Jasmine itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya dan menyerahkan kepada Yudi. Yudi pun meraihnya. Itu adalah sebuah foto masa kecil melati. Tampak dua orang anak kecil berfoto sambil berangkulan.

__ADS_1


" Berapa usia kalian terpaut?"


" Sekitar 3 tahun. Kami memang terlahir beda ibu. Ibu kak Melati meninggal dan ayah menikah dengan ibu ku. Namun kedua orang tua kami berpisah saat usia ku 10 tahun. Aku ikut dengan ibu ku setelah itu kami jarang bahkan hampir tidak pernah berhubungan. Terakhir mendapat kabar ayah meninggal tak lama setelah itu Kak Melati juga meninggal. Saat pemakaman kak Melati aku datang tapi tidak ada seorang pun yang tahu karena aku menutupi wajah ku dengan cadar."


Yudi mencerna setiap apa yang dikatakan oleh Jasmine. Ia kemudian berpikir mengapa wanita itu datang sekarang dan bukannya dari kemarin kemarin saat Melati masih ada.


" Lalu apa yang kau inginkan? Mengapa kau tiba tiba datang?"


" Meminta hak ku. Sebagai putri ayah ku aku juga berhak atas aset peninggalan ayah."


Yudi membulatkan matanya. Ia sungguh tidak menyangka adik tiri istrinya itu datang hanya karena harta.


" Ooh begitu, baik pulanglah dulu. Aku akan mengurusnya nanti. Aku minta akte kelahiran mu sebagai bukti bahwa kau memang anak kandung ayah mertua ku. Jika benar aku pun akan memberikan hak mu."


Jasmine mengangguk, ia pun berpamitan dan melenggang menuju mobil. Yudi mendengus, ia hanya menggelengkan kepalanya. Lagi lagi soal harta, ia pikir saudari tiri istrinya itu akan menanyakan tentang Hasna atau menanyakan tentang perihal Melati namun ternyata harta lah yang dibahas.


Yudi kembali masuk ke dalam rumah sambil terus berdecak tidak percaya dengan apa yang Jasmine katakan. Sedangkan di sisi lain, Jasmine yang berada di dalam mobil miliknya hanya bisa menangis tersedu. Berkali kali ia memukul stir kemudinya. Bahkan kepalanya pun ia hantuk hantukkan di sana.


Jasmine mengusap kedua matanya yang sudah basah. Ia pun menyalakan mobilnya dan mengemudikan nya dengan cepat.


" Mama?"


Hasna yang baru memasuki halaman rumah sang papa dibuat terkejut dengan wanita yang begitu mirip dengan mama nya itu. Ia hendak keluar dari mobil sang suami namun urung.


" Mungkin salah lihat, tapi siapa wanita itu. Mengapa malam malam begini dari keluar dari rumah papa?" gumam Hasna pelan.


" Kenapa sayang?" tanya Radi.


" Eh, nggak kak. Nggak kenapa napa," jawab Hasna cepat.


Keduanya turun dan masuk ke dalam rumah Yudi. Tak lupa keduanya mengucapkan salam, ya malam ini meraka akan menginap di rumah Yudi. Mengingat Yudi yang sendirian membuat Radi berpikir untuk lebih sering menginap di rumah sang mertua tersebut. Jika di rumah bundanya ramai maka tidak dengan rumah papa. Maka dari itu Radi memutuskan hal tersebut, dan tentu saja Hasna sangat senang bisa kembali ke rumah sang papa.

__ADS_1


" Pa, tadi Hasna melihat ada wanita keluar dari rumah sekilas wajahnya mirip dengan mama. Entah hanya perasaan Hasna saja atau gimana?"


Kini ketiganya duduk di ruang makan sambil menikmati makanan yang tadi dibawa oleh Hasna dan Radi.


Yudi mengambil nafasnya dalam dalam dan menceritakan kedatangan Jasmine. Radi dan juga Hasna terkejut terlebih mengenai poin penting tentang hak yang diminta wanita tersebut.


" Ya udah pa berikan saja. Jika memang itu adalah hak Tante Jasmine."


Yudi mengangguk mengerti sedangkan Radi tersenyum lebar. Istri kecilnya itu sungguh memiliki pemikiran yang dewasa.


Di tempat lain, Jasmine yang baru saja sampai di rumahnya sudah dikejutkan oleh seorang wanita yang keluar dari rumah. Ia ingin menangis tetapi air matanya rupanya sudah kering melihat perlakuan sang suami.


" Sudah puas bermainnya hah?"


Jasmine berteriak nyalang, ia sungguh tak tahan lagi dengan kelakuan sang suami. Jika bukan karena putrinya dia sudah tidak sudi bertahan dengan rumah tangga yang bagaikan neraka ini. Tapi sepertinya ia sudah tidak sanggup lagi makan hati tiap hari.


" Belum, lalu apa maumu?"


" Talak aku! Tak sudi aku hidup serumah dengan pria brengsek sepertimu!"


" Kau yakin! Kau tidak akan takut putri kita kecewa!"


" Lebih baik dia kecewa sekarang dari pada dia tahu ayahnya adalah pria bejat tukang main wanita!"


" Ibu???"


Seorang gadis menatap nanar pertengkaran kedua ornag tuanya. Ia mendengar semuanya. Ia bahkan juga melihat wanita dengan baju seksi keluar dari rumahnya.


Jasmine tentu saja terkejut melihat putrinya berdiri di depan pintu. Ia seketika berlari hendak menghampiri sang putri. Tapi rupanya gadis itu lari lebih dulu dan lebih kencang. Jasmine kesulitan mengejarnya. Dia hanya berteriak pias memanggil sang putri.


" El ... Elisa!! Jangan pergi nak!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2