
Bardi langsung masuk ke dalam perusahaan Yudi setelah dia memarkirkan mobil. Ia sungguh harus memberitahu Yudi apa yang baru saja dengar itu. Ia pun bahkan berlari karena ingin segera menemui Yudi.
" Mbak, apakah tuan Yudi nya ada?"
" Ada pak, bapak siapa?"
" Dilantai berapa ruangan tuan Yudi?"
" Itu pak dilantai paling atas."
Bardi langsung menuju lift dan segera menekan nomor lantai dimana ruangan Yudi berada. Ia bahkan sangat tidak sabar ingin segera menemui Yudi.
Tring
Pintu lift terbuka Bardi langsung saja masuk ke ruangan Yudi membuat sekertaris Yudi terkejut.
" Tuan Yudi," ucap Bardi.
Sang sekertaris yang sangat terkejut karena kedatangan Bardi ikut masuk ke ruangan Yudi. Ia sungguh merasa tidak enak karena tidka berhasil menahan tamu.
" Maaf pak beliau ini langsung masuk. Saya jadi tidak bisa memberi tahu bapak kalau sedang ada tamu," jelas sang sekertaris.
" Tidak apa saya kenal dengan beliau kok, kembalilah bekerja," ucap Yudi bijak dan tidak ingin memperpanjang masalah.
Bardi masih berdiri di sana. Ia sungguh merasa tidak enak pasalnya benar apa yang dikatakan sekertaris radi kalau Yudi tengah ada tamu.
" Maaf tuan, maaf sekali saya tidak tahu kalau anda sedang tamu. Saya harus segera menyampaikan ini."
Yudi mengangguk paham. Ia pun mempersilahkan Bardi untuk duduk terlebih dahulu. Yudi kemudian meminta Bardi untuk menjelaskan hal apa penting apa yang akan disampaikan hingga ia terlihat begitu terburu dan tampak begitu khawatir.
Bardi kemudian mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman video yang tadi ia dapatkan. Mata Yudi membulat sempurna. Ia sungguh terkejut begitu juga tamu yang ada di ruangan Yudi.
" Ya Allaah Yud, itu pembunuhan berencana."
" Astagfirullaah Melati sayang. Iya Mas Aryo. Benar mas, dan sekarang mereka atau tepatnya wanita iblis itu menargetkan Hasna mas. Ya Allah mas aku harus bagaimana. Hasna sedang di luar kota bersama Radi. Aku takut mereka berdua kenapa napa. Ya Allaah mas, gimana ini."
__ADS_1
Yudi sungguh panik, ia bahkan berkali kali mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya Aryo juga merasa cemas dan khawatir namun ia berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak ingin menambah ketakutan di dalam diri Yudi.
" Oh iya Yud, waktu kapan tau aku lupa kata Radi Hasna pernah diikiti oleh orang misterius. Apa mungkin mereka adalah orang yang sama?"
" Astagfirullaah mas, kenapa Hasna nggak bilang. Ya Allaah, lindungilah putriku."
Bardi merasa ikut bersalah, meskipun dia tidak melakukannya tapi ada rasa sesal dalam diri Bardi. Sedangkan Aryo dia teringat sesuatu. Sebelum Radi dan Hasna menikah, ia meminta tolong kepada putra keduanya untuk mencari seseorang yang bisa melindungi Hasna. Aryo pun segera menghubungi Dika.
" Assalamualaikum mas, apa mas lagi sibuk?"
" Waalaikumslama yah, nggak kok. Mas lagi di rumah. Kebetulan hari ini libur. Ada apa yah?"
" Mas, apakah sudah jadi mencari orang untuk menjaga Hasna?"
" Oh itu, tenang saja yah. Tidak usah khawatir. Semua bakalan aman. Bahkan orang yang mas minta selalu mengikuti kemanapun Hasna dan Kak Radi berada."
" Apakah akan terjamin keselamatannya?"
" Untuk kali ini mas bisa jamin yah, tenang saja. Jangan khawatir. Kalau terjadi apa apa mas adalah orang yang pertama tahu. Dan mas jamin mereka berdua aman."
Aryo bernafas lega. Ia pun menutup panggilan telponnya. Dan tak berselang lama ia mendapatkan pesan dari Dika berupa foto foto liburan anak dan menantunya. Aryo kemudian memperlihatkan gambar-gambar tersebut kepada Yudi.
Yudi sungguh lega mengetahui putrinya baik baik saja. Kemudian Bardi pun menyela, ia menanyakan bagaimana akan bertindak selanjutnya mengenai Priska dan pria itu. Yudi membuang nafasnya kasar. Ia tidak boleh gegabah langsung melaporkan semua ini kepada polisi. Selain video kedua orang itu, Yudi harus menemukan bukti kuat mengenai kecelakaan 4 tahun silam itu.
" Aku harus cari bukti lain untuk menguatkan semua ini Bar?"
" Apakah tuan sudah cek cctv 4 tahun silam? Siapa tahu ada petunjuk."
Yudi menggeleng, cctv waktu itu hilang. Mungkin itu juga ada campur tangan Priska saat dia masuk ke rumah nya.
Yudi memijit pangkal hidungnya. Priska jelas terlibat, dia benar benar akan membuat perhitungan kepada wanita ular itu. Tapi dia harus benar benar memiliki bukti kuat.
Semuanya terdiam memikirkan cara untuk membawa Priska ke hotel prodeo. Namun sesaat Yudi melihat ke arah Bardi. Ia ingin bertanya sesuatu.
" Bar, apakah kau tidak apa apa jika ibu dari anak mu dijebloskan ke penjara?"
__ADS_1
" Tidak masalah tuan. Dia berhak mendapatkan hukuman yang setimpal."
" Lalu Reni?"
" Nanti saya akan menjelaskan dengan perlahan. Dia anak yang mudah mengerti. Meskipun saya tidak mengenalnya secara dekat tapi saya sedikit tahu tentang hal itu."
🍀🍀🍀
Di tempat lain Priska dan Ridwan masih menikmati permainan mereka. Entah mereka itu memang maniak atau apa, yang jelas keduanya sama sama gila karena tidak ada puasnya. Bahkan kini mereka bermain di kamar mandi.
" Ugh sayang kau sangat luar biasa. Aku sungguh tidak bisa berhenti. Oughhh," cercau Ridwan.
" Aaakh ... Bisakah lebih cepat lagi. Ini sangat enak Rid. Tidak ada yang bisa melakukan ini selain milikmu. Ituuuh terasa begitu besar dan penuh Rid."
Priska tang berpegangan pada ujung bath up merasa sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh Ridwan hingga mereka melakukan pelepasan untuk kesekian kalinya.
Peluh bercampur air menyatu dalam tubuh keduanya. Kini Priska dan Ridwan berendam kembali di bath up tersebut.
" Rid, kalau aku hamil bagaimana?"
Ridwan sugguh terkejut. Ia bahkan sampai membalikkan tubuh Priska agar menghadap kepadanya.
" Apa kau tidak KB Pris? Bukannya aku tidak mau kau hamil tapi usia mu sudah tidak baik untuk hamil."
Priska tertawa dengan keras. Ia sungguh merasa lucu dengan ekspresi wajah Ridwan yang terkejut.
" Dasar kau ini. Kalau aku ingin punya anak dengan mu sudah dari dulu kali Rid. Sorry banget aku nggak pengen punya anak. Reni adalah sebuah kesalahan besar dalam hidupku."
Ridwan membelai wajah Priska. Berhubungan dengan Priska lebih dari 15 tahun entah mengapa tak membuat Ridwan bosan. Malah menurutnya Priska adalah candu baginya. Bahkan sang istri pun tak mampu membuatnya melayang seperti saat bersama Priska.
" Pris, maukah kau hidup berdua denganku?"
" Maksudmu?"
" Mari kita menikah, aku akan menceraikan istriku. Setelah kita berhasil menyingkirkan gadis itu mati kita menikah dan pergi dari kota ini bagaimana?"
__ADS_1
Bukannya menjawab, Priska malah menyerang bibir Ridwan dengan begitu rakus. Mereka apun kembali mengulang sesi panas mereka. Tanpa tahu bahwa saat ini mereka tengah berada dalam pengawasan seseorang.
TBC