Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 45. Pemanasan


__ADS_3

Hasna menepuk kepalanya pelan. Ia lupa membawa baju ganti, yang tertinggal di sana hanya handuk saja. Hasna sedikit merasa bingung. Ia malu jika harus keluar hanya menggunakan handuk. Meskipun mereka sudah di tahap saling berciuman tapi masih berhenti di sana dan belum ke tahap yang lainnya.


" Keluar nggak ya. Kak Radi udah keluar dari kamar belum ya?"


Hasna terus bermonolog namun akhirnya ia pasrah. Ia akan keluar dengan handuk saja.


Ceklek


Hasna membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Ia memindai seluruh isi kamar. Hasna membuang nafasnya penuh kelegaan saat sang suami tidak ada di sana. Ia pun berjalan mantab menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.


" Dari tadi baru keluar juga."


" Eh kak! "


Hasna sungguh terkejut mendengar suara Radi. Suaminya itu baru saja datang dari luar kamar.


Tidak hanya Hasna, Radi pun terkejut dengan tampilan Hasna kali ini. Tubuh Hasna hanya berbalut handuk sepanjang paha dan bahunya terekspos sempurna. Ditambah rambut basah Hasna yang masih menetes dileher dan bahunya menambah tampilan Hasna begitu seksi dan menggoda bagi Radi.


Radi menelan saliva nya kasar. Jakunnya naik turun melihat sang istri. Muncul sebuah gejolak dalam diri pria dewasa itu. Gejolak yang tidak pernah muncul sebelumnya meskipun ia sering melihat wanita wanita cantik yang berpakaian minim bahan.


Radi mendekat, ia mulai mengikis jarak dengan Hasna. Aroma sabun dari tubuh Hasna menyeruak hingga ke indra penciuman Radi. Hasna seperti diberi mantra untuk diam. Dia sama sekali tidak bergerak saat Radi mendekat ke arah nya.


" Kak!"


Satu kata itu lolos juga dari mulut Hasna. Namun Radi bergeming. Ia tidak mendengar panggilan sang istri. Radi mendekatkan wajahnya persis di depan wajah Hasna.


" Apa kau sedang menggodaku?"


Hasna menggeleng dengan cepat. Ia mencengkeram handuknya dengan erat.


" Apakah dosen killer ini mau menyeruduk ku? Ya Allaah apakah sekarang waktunya? Apakah dia akan meminta hak nya. Haduuuh aku harus bagaimana?"


Hasna bermonolog di dalam hati. Banyak sekali pertanyaan yang muncul terhadap apa yang akan suaminya lakukan itu.


Radi semakin mendekat. Ia pun menempelkan bibirnya di bibir ranum milik sang istri. Tubuh Hasna menegang seketika. Ciuman yang ia rasakan kali ini sunggung amat berbeda. Hasna merasa ciuman Radi begitu menggebu.


Radi memegang kedua bahu Hasna dengan kedua tangannya ia mengusap lembut bahu mulus itu lalu beralih ke punggung. Satu tangan Radi memegang tengkuk Hasna untuk menahannya.


Radi terus ******* bibir Hasna dan menerobos rongga mulut. Ia kemudian membimbing tangan istrinya untuk mengalungkan ke leher nya. Radi kini meraih pinggang ramping Hasna dan mendekatkan tubuh keduanya hingga menempel sempurna.


Radi bisa meraskan dua bulatan kenyal milik Hasna menekan dada bidangnya. Nafas Radi memburu ia melepas pagutan nya dan beralih mencium leher sang istri.

__ADS_1


Shhhh ....


Hasna mendesis. Ia merasa tubuhnya semakin panas. Puas dengan leher istrinya Radi beralih ke bahu sang istri. Dia menyesap kedua sisi bahu Hasna sambil tangannya mulai meraba paha mulus istrinya.


Nafas Hasna sempat tertahan saat tangan besar Radi menyentuh paha miliknya. Secara tidak sadar ia pun mendes*h ketika bibir Radi berada di bawah leher nya.


Tiba tiba Radi menghentikan semua aktivitas nya. Ia sedikit membuat jarak dengan Hasna.


" Maaf ... Aku seharusnya bertanya padamu dulu."


Pria itu kemudian berlalu. Ia keluar dari kamar dengan cepat. Hasna hanya bisa terbengong melihat kepergian sang suami.


" Eh ... Kok kabur jadinya."


Hasna membuang nafasnya kasar ia pun kembali menuju ke lemari dan mengambil baju lalu memakainya.


Radi berjalan ke dapur ia mengambil air mineral dan menenggaknya hingga tandas


Hah ... Hah ... Hah...


Seperti habis selesai lari maraton, nafas Radi begitu terengah engah.


" Astagfirullaahhaladzim."


Radi sungguh terkejut mendengar suara Hasna. Ia bahkan sampai terjingkat.


" Ya Allaah Has. Kau sungguh mengagetkan aku."


" Kak aku bukan hantu mengapa begitu pucat."


Radi duduk di kursi ruang makan lalu diikuti oleh Hasna. Radi kembali teringat kejadian tadi. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Hasna tau apa yang dipikirkan si suami.


" Kak ... Udah sholat zuhur?"


" Belum."


" Ayo kita sholat dulu."


Keduanya menjalankan empat rokaat bersama. Radi mengimami dengan khusyu hingga salam tanda sholat berkahir.


Hasna meraih tangan Radi dan Radi mencium kening Hasna.

__ADS_1


" Has ... Maaf yang tadi ya. Seharusnya aku minta izin padamu terlebih dulu."


" Kak, aku yang minta maaf. Sebagai istri seharusnya aku tahu kewajiban ku. Baiklah mari kita berkomunikasi dengan baik lagi."


" Jadi apakah kau mengizinkannya jika aku meminta nya?"


Hasna mengangguk, Radi pun seketika langsung memeluk istrinya dan mencium pucuk kepala itu dengan sayang.


" Mari lakukan dengan perlahan. Yang tadi ku rasa tidak buruk untuk pemanasan."


Hasna mencubit pelan pinggang Radi, wajahnya memerah. Tidak dipungkiri ia juga menikmati setiap sentuhan sang suami.


🍀🍀🍀


Di rumah Bardi, Priska terus saja bermuka masam. Membuat pria itu sungguh kesal.


" Apa yang kau inginkan Pris?"


" Aku ingin kau bisa menghabisi bocah ingusan itu."


Bardi berdecak kesal. Ia sungguh pusing mengikuti keinginan wanita yang ada di depannya itu. Berhubungan dengan Priska dengan sangat lama membuatnya paham betul dengan tingkah polah Priska.


" Kau tahu, kau tidak akan mendapatkan apapun Pris. Berhentilah!"


" Tidak, aku tidak akan membiarkan anak wanita sialan itu hidup dengan bahagia. Tidak ibunya tidak juga anak nya."


" Kau sungguh gila Pris. Lakukanlah sendiri apa yang kau mau. Aku sungguh tidak bisa lagi mengikuti keinginan mu itu."


Bardi keluar dari rumah. Ia sungguh semakin tidak mengerti dengan apa yang ada dalam otak wanita itu. Bardi dulu sungguh mencintai Priska tapi sepertinya tidak dengan Priska. Wanita itu sungguh terobsesi dengan Yudi. Hingga dia tega menjebak Yudi dengan kehamilannya.


Ya waktu itu Bardi akan berterus terang kepada kedua orang tua Priska namun Priska menolak. Ia malah sengaja ingin menggaet pria kota yang baru datang ke kampungnya kala itu.


Bardi sungguh merasa sakit hati. Darah dagingnya akan dijadikan anak pria lain. Namun karena cinta nya pada Priska, Bardi membiarkan hal itu karena Priska berjanji akan mengizinkannya menemui Reni.


Tapi semuanya omong besar. Priska sama sekali tidak menepati janjinya. Hingga suatu ketika ia sudah muak berada di kampung. Ia akhirnya meminta Bardi untuk mengirimkan foto foto Yudi saat menemuinya dan Reni kepada Melati.


Bardi tadinya menolak namun Priska memberikan tubuhnya secara cuma cuma. Tentu saja Bardi langsung setuju. Setelah itu Bardi dan Priska pun sering melakukan percintaan di belakang Yudi.


Bardi pun mengirimkan foto kebersamaan Yudi dengan Priska dan Reni di kampung. Hal itulah yang membuat Melati langsung menuju ke kampung tersebut untuk mengkonfirmasi kebenaran dari foto tersebut.


TBC

__ADS_1


__ADS_2