
" Apa tuang percaya jika nona Vika selingkuh, tapi sepertinya tidak mungkin, Nina tidak pernah keluar dari mansion Bahakan saat tuan koma nona tinggal di apartemen dengan Vincen dia tidak pernah keluar " kata Dirga yang merasa janggal.
" kamu benar, selidiki semua Dirga jika benar ini perbuatan Risma dan Vinsen untuk menyingkirkan Vika ,mereka akan tau akibatnya nanti " perintah Ardi dengan marah.
" baik tuan " jawab Dirga.
mobil Ardi meninggalkan hotel kembali ke perusahaannya melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
sampainya di perusahaan Ardi langsung menuju ruangannya menggunakan lift menuju lantainya, sampainya di ruangan Ardi langsung duduk di kursi kerjanya.
Ardi sangat serius memperhatikan laporan perusahaan sampai tidak sadar jika sudah waktunya makan siang,.
" tok tok tok " suara ketukan pintu.
" cklek" pintu terbuka otomatis masuklah dirga dengan membawa beberapa berkas laporan perusahaan.
" tuan ini laporan yang harus anda tanda tangani" Dirga menyerahkan beberapa map.
" HM " jawaban Ardi.
" tuan saya sudah mengecek cctv kafe xx tempat bertemunya nyonya Risma dan nona Vika " kata Dirga.
" saya tidak melihat nyonya Risma mendatangi cafe itu " kata Dirga.
Ardi langsung melihat Dirga " jadi benar Vika selingkuh atau dia suka bermain dengan laki-laki" tanya Ardi.
Dirga tersenyum mendengar perkataan Ardi " nona Vika bukan orang yang seperti itu tuan, seperti Tyang tuan tahu.
Nina vika tidak pernah meninggalkan mansion dan juga apartemen saat tuan koma, dia fi kurung di sana bukan, bahkan saat di mansion dia tidak pernah keluar dari sana,dua selalu menuruti perintah anda dan tuan Vinsen, dia takut peninggalan orang tuanya akan di hancurkan oleh tuan atau tuan muda Vincen, kalo menurutku ini sudah di rencanakan " Daren menjelaskan.
Ardi membenarkan perkataan Daren, memang sejak dia sembuh dan di rawat jalan Vika selalu menemaninya dan tidak pernah keluar dari mansion kalo tidak dengannya, sedangkan Vincen tidak memperdulikan dirinya, " lalu apa ya g membuatmu berfikir tentang Vika tadi sudah terencana " tanya Ardi.
Daren tersenyum " karena setelah saya selidiki ternyata kafe tersebut milik sahabat tuan muda Vincen" jelas Daren.
" milik sahabat Vincen " tanya Ardi.
" iya tuan kafe itu mili xico, dia juga dulu yang ikut taruhan dengan Vincent masalah taruhan Vika, menurutku kita bisa memanfaatkan anak itu " jelas Daren.
Ardi terdiam sebentar lalu tersenyum tipis " atur pertemuanku dengannya " perintahnya.
" baik tua. " jawab Daren.
__ADS_1
" tuan sudah waktunya makan siang, anda ingin makan siap di resto atau seperti biasa tuan " tanya Daren.
Ardi biasa makan siang di kantornya bersama Daren dengan menu ke suakanya yaitu masakan rumahan yang di jual di kantin kantor atau nasi Padang yang tidak jauh dari kantornya dan tentu saja mengutuk ob atau Daren sendiri yang membeli menu makan siangnya.
" seperti biasa " jawab Ardi
" baik tuan " Daren langsung keluar dari ruangan Ardi dan kembali keruangan nya dan langsung menelpon ob untuk memesan makan siang di kantin untuk mereka dan juga menghubungi asisten xico.
setelah mendapatkan jawaban Daren pergi ke ruangan Ardi,
"tak tak tak " suara sepatu Daren
" tok tok tok" Daren mengetuk pintu Ardi .
pintu terbuka lalu masuklah Daren dan mengatakan " tuan ternyata xico sedang pergi berlibur dengan tuan muda Vincen " kata Daren langsung
" rupanya mereka sedang merayakan keberhasilan menjual Vika " kata Ardi
" kita tunggu saja mereka sampai kembali, untuk mantan istriku buat dia kembali ke kotanya" perintah Ardi
Daren menganggukkan kepalanya beserta dengan jawaban " baik tua. " jawabnya
SEMINGGU KEMUDIAN
Waktu itu hari Minggu Ardi libur dari pekerjaannya dan waktunya di habiskan bermain dengan cucunya sedangkan Vika hanya merenung sambil duduk di Tan mansion sehingga tiba tiba suara seseorang dengan keras.
dia mendekati Vika dan langsung menamparnya dengan keras sehingga membekas di pipi Vika.
" plak plak "
" jadi ini kelakuanmu saat aku tidak ada " kata Vincen marah
sementara Vika hanya diam menunduk tidak ingin putranya melihat dia menangis.
Vika menarik nafasnya dan memegang tangan Vincen mengajaknya ke dalam kamar.
" ayo mas kita bicarakan di kamar, tidak enak jika kita berdebat di depan anak dan mertua " ajak Vika
" alaaah . . . Jagan jadikan anak untuk menutup kelakuanmu ******, kamu sudah hidup cukup di sini untuk apa kamu menjual dirimu ke lelaki tua ha. . .
aku tidak mau punya istri sepertimu kita cerai, tandan tangani surat ini " kata Vincen dan ang memberikan ke Vika dengan kasar
__ADS_1
Vincen masuk ke kamarnya dan lari keluar dari mansion karena malu banyak pembantu dan anaknya di sana.
Ardi hanya diam dan menunggu informasi dari Daren mengenai xico.
waktu sudah menunjukan puku setengah enam sore, Ardi yang sedang duduk di sofa ruang tamu melihat Vika yang memasuki mansion.
" dari mana kamu " tanyanya dingin.
" maaf dad saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, dari awal anak Dedy tidak menerimaku walau aku sudah memiliki anak dengan-nya
apalagi perlakuan dia selama ini hanya menganggap saya hanya sebagai pembantu dan pengganggu, dan yang kejadian minggu lalu saya sudah jujur bahwa saya tidak tahu apa apa, yang saya tahu saya hanya ingin bertemu dengan mommy dan berakhir di kamar hotel dalam keadaan tidak sadar, jadi saya akan menyetujui perceraian ini" kata Vika
" baguslah kalau begitu, sekarang ambil semua barang kamu lalu cepat keluar dari sini " kata Vincen yang baru turun dari lantai dua.
Vika tidak menjawab dia langsung pergi ke kamarnya dan mengambil barang miliknya , lima belas menit kemudian dia keluar dengan tas besar di tangannya .
" dad sebelum saya pergi bolehkah saya bertemu dengan virlan sebentar " izinnya ke ardi
" pergilah " kata Ardi
Vika pergi ke kamar virlan bertemu untuk terakhir kalinya,melihat Vika sudah masuk kekamar virlan bersamaan dengan datangnya Dirga dengan membawa pesan Ardi tadi.
" tuan " sapa Dirga dengan menundukkan kepalanya
Dirga memberikan map ke pada Ardi, Ardi memeriksa ISIS di dalamnya dengan teliti lalu menganggukkan kepalanya.
" terima kasih Dirga " kata Ardi
dua puluh menit kemudian Vika keluar dari kamar virlan berjalan mendekati Ardi dan mengatakan perpisahan
" aku pergi Dedy ,maaf jika pernah mengecewakanmu dan yang lainnya, aku titip putraku ke padamu dan aku tidak ingin ayahnya yang merawatnya aku lebih percaya kepadamu ". kata Vera dengan derai air mata
Vika mencium tangan Ardi lama, lalu melanjutkan perkataannya " apa yang dulu Dedy janjikan ke padaku maaf aku tidak bisa menerimanya lebih baik Dedy memberikan itu semua ke virlan karena dia lebih berhak "
Vika mendekat ke Vincent mengambil surat cerai yang ada di tangannya dan menandatanganinya.
" kita sudah resmi berpisah ,sekarang kamu bebas semoga kamu menemukan kebahagiaan " kata Vika pergi menuju pintu keluar mansion
" tunggu " teriak Ardi
...****...
__ADS_1