
Callista berjalan dengan menundukkan wajah, lalu ia melirik dan mengangkat sedikit kepalanya, antara penasaran serta takut dengan pria yang akan menjadi suaminya.
Jantung Callista semakin berderu, dalam angannya, pria di depannya tentu saja berbeda dengan pria-pria yang ada di kehidupannya, dan pastinya pula pria yang ada di hadapannya berbeda dengan semua pria yang di sebut manusia.
Namun, yang paling mengejutkan adalah, ketika Callista dapat melihat sedikit wajah pria itu, pria Vampire itu berbeda dari ekspektasinya, bahkan dari bayangannya yang telah berhari-hari memikirkan sosok pria Vampire yang akan menjadi suaminya.
Sosok Vampire yang ada dalam angan-angannya adalah sosok yang memiliki wajah menjijikan, dan tubuh seperti monster yang kotor.
Di luar dugaan Callista! Mata pria Vampire yang ada di hadapannya berwarna keperakan dan begitu indah, dalam bayangan Callista mata Vampire pasti berwarna merah darah menyala dan menakutkan.
Kemudian yang berbeda lagi dari bayangan Callista adalah, "Kenapa taringnya pun tidak terlihat? Tidak, Vampire itu tidak memiliki taring, apakah dia adalah Vampire dengan jenis yang berbeda?"
Yang paling mengejutkan jantung Callista adalah, pria Vampire itu sangat tampan. Benar-benar sangat tampan.
Meski wajahnya sedikit pucat namun tidak sepucat Vampire yang pernah Callista baca di dalam buku sebelumnya.
Tapi, tetap saja pria itu terlihat pucat dibandingkan dengan manusia, dan hal yang paling mencolok adalah, Vampire itu memiliki tubuh yang tinggi dengan wajah tampan.
Callista termangu, sejenak ia lupa bahwa dirinya kini benar-benar menatap pada wajah pria Vampire itu, hingga seolah sedang terjerumus dalam ketampanannya. "Apakah aku sedang terhipnotis oleh ketampanannya, aku tidak bisa memalingkan wajah dan tidak dapat menahan diri untuk tidak memandanginya, aku terus saja ingin menatap wajah yabg tampan itu."
Callista pun akhirnya tersentak kembali ke dunia nyata ketika merasakan bahunya di cengkram oleh Abigail dengan sangat kuat.
"Ulurkan tanganmu!" Perintah Abigail ketus.
Callista masih kebingungan, apakah tangannya akan di hisap darahnya. Tentu saja Callista bergidik ngeri.
Perlahan, dengan rasa takut yang menggerogoti dirinya Callista pun mengulurkan tangannya sembari menunduk dan memejamkan mata.
Meski pria Vampire itu sangat tampan namun kini ketakutan akan gigitan Vampire lebih mendominasi dirinya.
Tangan Callista di sambut dengan sentuhan lembut dari pria Vampire itu.
"Aku Lucas Demian."
Callista terkejut, karena Vampire itu memiliki tangan yang lembut dan hangat, bukannya dingin. Seharusnya Vampire memiliki tubuh yang dingin seperti es bukan?
"Ca... Callista Fernando."
__ADS_1
Kini Callista dapat melihat wajah Lucas dengan jelas dari dekat, mata Lucas berwarna abu-abu sedikit bersinar keperakan berbeda dengan warna mata para manusia, namun anehnya mata itu begitu indah dan memikat.
Lalu bulu matanya sangat panjang dan tebal untuk seorang pria. Bibirnya sensual dan sexy, rahangnya kuat, hidungnya mancung, setiap bagian dari tubuh yang melekat pada diri Lucas membuat Callista tidak bisa berkata apapun, semua itu sempurna!
Dia bahkan belum pernah melihat manusia memiliki bentuk wajah dan tubuh seperti itu. Tapi Lucas memiliki semua keindahan dan kesempurnaan, dan sekali lagi, Callista ingat bahwa Lucas bukanlah manusia, dia adalah Vampire.
"Tidak bisa, aku tidak boleh percaya dengan wajah penuh tipu daya itu, Vampire tetap lah Vampire, mereka mampu membuat manusia terperdaya, Vampire mampu membuat hati manusia lemah, dan bersedia menyerahkan diri mereka." Kembali Callista berperang batin dengan dirinya.
Lucas kemudian berdiri dan menyentuh lagi tangan Callista, kali ini lebih erat dan sedikit menggengamnya.
Callista hampir berteriak karena terkejut, detak jantungnya berdebar lebih keras. Lucas kemudian menuntunnya untuk berdiri tepat di sebelahnya.
Setelah Lucas melepaskan tangannya, anehnya Callista merasakan angin dingin menyentuh tangannya dari bekas genggaman Lucas, ya dia ingat bahwa sekarang adalah musim salju.
Tangan Callista merasakan udara yang dingin menggantikan kehangatan saat tangan Lucas menggenggamnya, saat itulah Callista benar-benar percaya bahwa kulit Vampire itu tidak dingin.
Callista membaca dalam buku, bahwa vampire adalah berdarah dingin, dan bisa lebih dingin dari mayat. Dalam artian berdarah dingin yang kompleks! Sifat, insting, darah, dan tubuhnya.
"Tapi anehnya, tangan Lucas tidak dingin sama sekali. Mengapa itu? Kenapa tangannya hangat? Ya, dia pasti Vampire dengan jenis yang berbeda."
Pada saat itu Callista memiliki niat ingin mencari referensi buku lain tentang jenis-jenis Vampire.
Lucas memandang datar dan dingin pada Abigail.
"Aku akan membawanya, kau bisa menandatangani itu." Kata Lucas.
Kemudian seorang pengawal maju dan memberikan sebuah kertas yang sudah di tulis tangan dengan rapi.
"Nama saya adalah Lazarus, pengawal ksatria Tuan Lucas. Ini adalah perjanjian hitam anda bersama Tuan Lucas, bahwa anda menginginkan kekayaan dan kekuasaan serta kecantikan, namun dengan itu Tuan Lucas menerima imbalan seorang gadis perawan, setelah kesepakatan ini anda tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan Nona Callista."
"Saya mengerti, saya menerimanya, saya menerimanya." Kata Abigail antusias, keserakahan di wajahnya tentu sudah tidak bisa di sembunyikan lagi.
Air mata Callista menetes, lehernya tercekat sedih, andaikan ayahnya dulu tidak menikah lagi pasti hidupnya tidak akan menjadi seperti neraka.
Dan dengan demikian, seperti yang diharapkan oleh sang ibu tiri, pernikahan itu berakhir dengan tergesa-gesa, dan di lakukan begitu cepat.
"Aku tidak menginginkan pernikahan ini, tapi tidak ada yang bisa ku perbuat, semakin aku melawan, semakin ibu tiriku akan menyiksa dan menekanku."
__ADS_1
Callista menunduk dan menghapus air matanya, ia juga menghela nafasnya begitu berat, dan itu membuat Lucas melirik padanya.
"Dia terlihat seperti kelinci kecil yang tak berdaya." Batin Lucas.
Lucas kembali menawarkan tangannya lagi, Lucas tidak bisa melihat Callista menunduk takut dan sedih.
Tentu saja, pikiran berbeda pada Callista, menurutnya mau tidak mau ia harus menyambutnya, bukankah sekarang Vampire itu suaminya. Lagipula Callista tidak ingin memprovokasi dan menyulut amarah sang Vampire.
"Kami akan membawa Nona Callista pergi ke kerajaan, tepatnya Kekaisaran Vampire, di bagian Selatan dan mulai hari ini hubungan anda dengan Nona Callista terputus." Kata Lazarus.
"Baik Tuan." Kata Abigail.
"Callista jadilah penurut dan jangan merepotkan orang lain!" Geram Abigail dan melotot pada Callista.
"Apa kau tuli?" Kata Lucas.
"Ya.. Ya... Tuan?" Tanya Abigail ketakutan tak mengerti.
Mata Lucas seketika berubah menjadi merah darah, menatap pada Abigail. Wajah Lucas berubah menjadi sangat menyeramkan seperti ingin menerkam Abigail.
"Kau tidak lagi memiliki hubungan dengan Nona Callista, tidak perlu mengatakan omong kosong, tutup mulutmu." Kata Lazarus mewakili Lucas.
Di sisi lain, pandangan mata merah Lucas seperti serigala yang siap mencabik-cabik Abigail.
"Ten... Ten... Tentu Tuan. Saya akan menutup mulut." Kata Abigail menutup mulut dengan kedua tangannya.
Begitu dekat pandangan mata itu, hingga membuat Abigail terjatuh ke lantai karena takut akan mata merah darah itu yang begitu tajam.
Dan tak berapa lama mata merah milik Lucas berubah menjadi abu-abu keperakan kembali dan melihat pada Callista.
"Ayo." Ajak Lucas.
Sedikit gemetar, Callista mengulurkan tangannya di tangan Lucas yang besar dan hangat. Matanya menggembung tapi tentu saja Callista harus menahannya, ia tidak mau membuat Vampire itu tersinggung.
Callista menatap Abigail, sang ibu tiri, meski dia hanya ibu tiri, tapi hanya dialah satu-satunya yang Callista kenal. Namun, sang pangeran Vampire tetap membawanya menuju pintu karena kini Callista telah menjadi tumbal miliknya.
Callista akan pergi jauh dari rumah sangat jauh dan tidak akan pernah kembali lagi. Untuk terakhir kalinya Callista memandangi mansion tua milik ayahnya, ia kembali teringat kenangan-kenangan manis yang indah pada masa kecilnya bersama ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Betapa rumah ini dulu begitu hangat." Kata Callista dengan lirik dengan mendongak ke atas.
bersambung