
"Apa sangat takut denganku? Callista."
Suara Lucas rendah, dan dalam, menggema di dalam gerbong kereta kuda mewah yang akan membawa mereka menuju Kekaisaran Vampire tepatnya kerajaan Selatan.
Kereta kuda yang memiliki tirai dengan warna merah darah dan keemasan membuat nuansa sudah menjadi sesuatu yabg berbeda dari biasanya untuk Callusta yang sering tidur di loteng tanpa alas.
Callista yang masih terus meras tegang dan gemetar pun terkejut, punggungnya bergidik karena suara datar dan dalam milik Lucas. Jemari Callista mencengkram dan meremas kuat-kuat gaun pengantinnya.
Suhu dingin yang menerpa pun membuat jari-jarinya semakin terasa kaku dan susah di gerakkan.
Dengan rasa takut yang terus menyeruak dari dalam tubuh dan benaknya, Callista melirik Lucas yang duduk di sampingnya.
Wajah tampan Lucas benar-benar sempurnya.
"Andaikan dia bukan Vampire." Batin Callista.
"Ti... Tidak, Sa... Saya tidak takut." Kata Callista dengan suara terpotong-potong.
Tentu saja itu bohong, Callista bahkan berulang kali ingin pingsan karena lemas menekan ketakutannya, dia sedang duduk di samping pria buas yang siap kapan saja menerkam leheenya dan menghisap habis darahnya.
"Ta... Tapi, berapa lama perjalanan kita." Callista mencoba untuk bertanya, mencari topik, apakah sang Vampire bisa diajak bicara atau tidak.
Dan itu adalah obrolan pertama yang Callista buat, dia berusaha sekuat mungkin untuk memecah keheningan dan berpura-pura bersikap biasa, apalagi udara dingin dan suasana hening yang ada di dalam kereta membuatnya semakin mencekam.
Malam itu dingin dan hening, suara roda-roda kereta yang melewati bebatuan dan salju yang tebal membuat semuanya semakin terasa aneh, dan terasa menenggelamkan rasa keberanian Callista, apalagi yang duduk di samping Callista adalah Vampire penghisap darah manusia.
"Mungkin 5 hari dan bisa lebih." Kata Lucas.
"Ta.. Tapi... A... Aku membaca buku, Vampire bisa terbang hingga menyamai dengan kecepatan cahaya. Ke... Kenapa Vampire naik kereta?"
Perlahan rasa penasaran Callista menggelitikinya dan ingin bertanya meski juga mencoba menaklukkan rasa takutnya yang meningkat.
Callista perlu melemaskan otot-otot tubuhnya yang menegang, karena itu membuatnya cepat sekali lelah.
Tidak ada lagi yang bisa Callista lakukan selain menerima semua yang ada di depan matanya. Tidak ada jalan untuk kembali.
Jika Callista melarikan diri, dia tidak memiliki tempat bersembunyi. Jika pun Callista melarikan diri dan dapat bersembunyi pasti Vampire itu akan dengan cepat menemukannya.
Callista juga harus siap, jika suatu saat nanti darahnya akan kering karena di hisap oleh suaminya.
Pertanyaan Callista membuat Lucas tersenyum sangat tipis, dan itu membuat ketampanan Lucas semakin bersinar memukau hingga membuat Callista lupa untuk bernapas.
__ADS_1
"Ketampanannya begitu menyilaukan." batin Callista.
"Biasanya memang tidak perlu naik kereta." Jawab Lucas.
"La-Lalu kenapa, sekarang kita naik kereta…?"
"Karena, kau pasti akan takut jika aku langsung mengajakmu terbang."
Callista diam menyadari bahwa ternyata Lucas memikirkan ketakutannya, membuat Callista sedikit aneh dan berfikir kenapa Lucas dengan cepat begitu perhatian dengannya.
Kini, ketakutannya agak berkurang, mengetahui bahwa pangeran Vampire, yang tak lain adalah suaminya, setidaknya memperhatikannya dan berbicara dengan lembut.
Bahkan, Callista merasa suaminya jauh lebih lembut dan lebih baik daripada Abigail sang ibu tiri yang selalu menyiksanya.
Callista ingat bagaimana Abigail mengurungnya tanpa makanan, Callista ingat bagaimana Abigail tidak pernah berbicara lembut, membentak, mengumpat, berteriak dan berkata kasar semua kalimat dan suaranya hanyalah berisi cacian dan makian bahkan dengan kalimat-kalimat kotor.
Yang paling membuat Callista sakit dan sedih adalah, bagaimana Abigail yang selalu mengutuk dan mencemoh almarhum ibunya sebagai wanita rendah yang tidak bermartabat.
"Te... Terimakasih Tuan." Kata Callista terbata.
Gadis itu cukup lega dan mulai tenang, mendapati bahwa Lucas memilih untuk menemaninya di dalam kereta untuk melalui perjalanan panjang menuju Kekaisaran Vampire.
Padahal Lucas bisa saja pergi lebih dulu dan meninggalkannya bersama pengawalnya, sehingga Lucas bisa sampai hanya dengan beberapa jam.
"Hm... Bukankah aku sudah memberitahumu siapa namaku?" Suara Lucas menjadi sedingin es.
"Y...Ya Tuan." Jawab Callista gugup.
"Kalau begitu cukup panggil aku dengan nama itu."
"Ya? Ap...Apa benar itu bo.. Boleh? Pangena Lu-Lucas?"
Alis Lucas berkerut, pertanda tidak senang, dan tidak suka mendengar sebutan itu dari mulut Callista membuat tubuh Callista kembali gugup dan bergidik.
"Apa yang salah? Apa aku salah lagi?"
"Jangan memanggilku pangeran, cukup panggil namaku."
"L-Lu-Lucas...?" Callista memanggil nama Lucas dengan nada bertanya.
"Ya, seperti itu, terdengar jauh lebih baik."
__ADS_1
Callista mengucapkan dengan kesusahan, ada rasa aneh di dalam benaknya ketika ia harus memanggil nama orang yang memiliki kedudukan tinggi tanpa memakai kata awalan, seperti Tuan atau Pangeran dan sejenisnya.
Callista kembali melihat bagaimana sikap suaminya pada dirinya.
Lucas begitu lembut, tidak terlalu banyak bicara namun menunjukkan bahwa dia pria yang perhatian, yang paling Callista rasakan adalah Vampire seharusnya adalah makhluk buas yang kasar dan tidak memiliki perasaan, namun Lucas berbeda dari apa yang Callista khayalkan tentang sosok :ampire buas yang haus darah.
Sosok Vampire yang Callista bayangkan bahkan memiliki bentuk rupa menyeramkan dengan mata belok besar seperti bibatang, taring besar dan mulutnya penuh berisi darah, lalu wajahnya di penuhi bulu dengan hidung seperti serigala, belum lagi wajah-wajahnya di tumbuhi oleh bulu-bulu halus.
Callista kemudian melirik tangan kekar namun juga halus milik Lucas, jemari-jemari Lucas panjang dan lentik, apalagi tangan itu saat menyentuhnya sama sekali tidak dingin, lalu tidak memiliki kuku-kuku panjang yang runcing.
Lucas Vampire yang memiliki wajah mempesona, sangat tampan dan berwibawa dalam satu wajah.
"L-Lucas... Sebelum saya mati boleh kah saya meminta satu permintaan, agar kelak tubuh saya bisa di semayamkan di samping makam kedua orang tua saya." Callista memberanikan memberikan wasiatnya sembari meremas kedua tangannya.
Dengan ketakutan yang memuncak kembali, Callista harus meminta itu, ia ingin mati dengan tenang, berkumpul dengan ayah dan ibunya, kemudian bisa bertemu lagi dengan mereka di surga.
Lucas menatap tajam Callista, membuat Callista pun dengan cepat menunduk. Callista merasa terintimidasi hanya dengan tatapan Lucas.
"Aku tidak akan pernah menghisap darahmu." Suara Lucas lembut seperti ia sedang menenangkan ketakutan Callista.
Seolah Lucas tahu bahwa istrinya benar-benar ketakutan dan mencoba untuk berpura-pura biasa saja.
Callista tersentak dan melotot, melihat pada kedua tangannya yang mengepal dan gemetar di atas kedua pahanya yang juga gemetar.
"Para Vampire tidak akan ada yang berani menghisap darahmu, bahkan aku sendiri tidak akan menghisap darahmu, bahkan sekalipun kau memberikan ijin." Kata Lucas.
Lucas kemudian menyandarkan kepala nya di dinding kereta, matanya pun tertutup.
"Itu seharusnya cukup untuk meredakan ketakutanmu padaku Callista." Suara Lucas sedikit terdengar sedih.
Callista menggigit bibirnya tetapi sebelum dia bisa mengatakan apapun, Lucas melanjutkan.
"Sekarang aku adalah suamimu, ketika aku melihatmu, aku sudah bersumpah pada diriku sendiri dan seseorang untuk melindungimu." Suara Lucas rendah namun sedikit tegas.
Kemudian, Lucas membuka matanya dan melihat kepada Callista.
"Jadi, berhentilah takut padaku Callista, aku tidak akan menyakitimu, itu sedikit membuatku terluka dan sedih ketika melihat istriku terus menerus gemetar ketakutan." Imbuh Lucas.
"Berjanji pada seseorang akan menjagaku? Siapa? Apa itu Abigail?"
Callista memandang wajah Lucas, pria itu masih menyandarkan kepalanya di dinding kereta, namun pandangannya tepat di depan wajah Callista.
__ADS_1
Lucas berusaha sekuat mungkin untuk tidak menyakiti Callista meski hanya dengan kata-katanya, ia juga berusaha untuk berbicara lebih banyak dari biasanya.
bersambung