MENIKAH DENGAN PREDATOR

MENIKAH DENGAN PREDATOR
EPISODE 4


__ADS_3

Perjalanan sudah semakin jauh, dan kini kereta mereka sudah memasuki wilayah perbatasan.


Malam pun semakin larut dan hening, hanya suara roda kereta yang terdengar, Callista melirik suaminya yang juga hanya menutup mata dan menyandarkan kepalanya di dinding kereta.


Callista mulai merasa tubuhnya kian letih, kepalanya juga pusing disebabkan dengan rentetan tubuhnya yang terhuyung-huyung karena jalanan yang dilalui kereta tidak rata, apalagi tekanan mental yang dia rasakan selama sebelum dan saat pernikahannya dengan Vampire.


Bahkan, beberapa hari Callista tidak tidur memikirkan bagaimana wujud Vampire yang akan ia nikahi. Callista tidak tidur dan membaca banyak buku di sela-sela pekerjaan rumahnya, ia membaca banyak buku tentang bagaimana menghadapi Vampire dan seperti apa wujud Vampire.


Karena terlalu lelah, Callista pun mencoba untuk tidur, namun ia tidak menemukan posisi yang nyaman, sama sekali tidak nyaman apalagi punggungnya terasa terbakar karena pegal, Callista berusaha menopang tubuhnya yang kian lelah. Kepalanya selalu terpentuk dinding kereta. Namun Callista tidak pernah sedikitpun mengeluh.


"GEDUBRAAKK!!! BRAAKK!!!"


Tiba-tiba kereta berguncang, mungkin karena jalanan yang penuh dengan bebatuan, dan berhasil membuat kepala Callista terbentur sangat keras.


"Aak!" Pekik Callista.


Lucas membuka mata dan terlihat khawatir. Tangannya terulur maju namun kemudian ia menariknya kembali.


"Aku sudah mengalami semua kisah buruk dalam kehidupanku, dan aku tidak boleh mengeluh tentang semua ini. Benturan ini tidak memiliki arti apapun di bandingkan dengan tendangan, pukulan, dan jambakan dari abigail." Batin Callista.


Namun, sepertinya jalanan menjadi semakin rusak dan penuh bebatuan, kereta tidak kuat berjalan lagi di tanjakan yang terjal.


Membuat kuda-kuda itu panik dan stress, kuda-kuda saling mengeluarkan suara-suara mereka.


"BRAAKK!!! GUBRRAAKKK!!! GEDUBRAAKK!!!"


Sekali lagi kereta terguncang keras dan itu cukup parah membuat roda satunya rusak dan amblas terselip bebatuan, alhasil kereta pun tidak bisa lagi berjalan.


Callista terkejut, keadaan yang tiba-tiba itu membuat Callista tidak siap, tubuhnya terpental karena kereta yang miring, namun dengan tanggap dan cepat Lucas menarik pinggang Callista dan menyelamatkannya dalam pelukannya yang erat.


Satu tangan besar Lucas sudah cukup melingkar di pinggang Callista dan menariknya ke dalam dada bidang Lucas.


Wajah dan mata mereka saling bertemu, membuat Callista tegang dan takut namun juga takjub dengan ketampanan Lucas.


Kedua tangan Callista mensarat di atas dada bidang Lucas,


"Aku mendapatkanmu tepat waktu, sebelum kau jatuh dan memeluk lantai kereta." Kata Lucas.


"Te...Terimakasih... Lu..Lucas.."


"Suara Lucas bahkan datar dan dalam, begitu sempurna, mengapa tuhan memberikannya kesempurnaan ini." Batin Callista yang tidak berkedip menatap ketampanan Lucas.


Wajah mereka begitu dekat. Tubuh mereka pun saling menempel rapat, anehnya tubuh Lucas justru sangat hangat, membuat Callista nyaman.


"Pangeran, roda kereta terperosok cukup dalam, dan para kuda pergi." Terdengar suara Lazarus yang menjadi kusir dari depan kereta kuda.


"Ya." Kata Lucas memberi tanggapan pada Lazarus.


Kemudian Lucas melihat kembali pada wajah istrinya yang cantik.


"Sepertinya kau sangat nyaman di dalam pelukanku istriku?" Lucas memandang Callista dengan tatapan lembut.

__ADS_1


"Aah... Maafkan saya..."


Callista hendak mendorong Lucas, namun Lucas belum bersedia melepaskan Callista.


"Gantilah kalimat mu dengan santai, kau tidak sedang berbicara dengan majikanmu Callista." Wajah Lucas menjadi sedikit tidak senang.


"Ya... Maafkan aku..."


"Berhentilah meminta maaf Callista. Kau tidak melakukan kesalahan besar. Aku akan mengecek keluar. Sepertinya roda kereta rusak parah, jika tidak bisa diperbaiki sekarang, kita harus menginap dan melanjutkan perjalanan besok pagi hingga kereta benar-benar bisa di gunakan dan kita mendapatkan kuda-kuda lagi."


Callista terhenyak dalam kenyamanannya di dalam pelukan hangat Lucas. Dan Callista juga hendak ikut keluar namun Lucas menahannya untuk tetap duduk di dalam kereta kuda yang sedikit miring.


"Kau tidak di perbolehkan untuk keluar, tunggu di sini."


"Ke... Kenapa?"


"Karena, di luar sangat berbahaya." Sahut Lucas dengan suara yang dalam dan tegas.


Callista hanya bisa mendengarkan perintah itu, karena dalam hatinya ia masih takut pada Lucas.


Samar-samar Callista mendengar beberapa orang mengobrol.


"Tunggu, bukankah seharusnya hanya ada 3 orang? Lucas, aku dan satu lagi yang bernama Lazarus.Tapi, suara-suara ini... 1 2 3, mereka yang ada diluar sana seolah ada 4 orang, dari mana mereka datang." Kata Callista menghitung dengan jarinya.


Sedangkan keadaan di luar sendiri terjadi sedikit perdebatan.


Vampire bisa terbang bahkan secepat kilatan cahaya, karena Callista adalah manusia Lucas tidak ingin membuat Callista takut, dan Lucas membuat keputusan jika mereka harus melakukan perjalanan menggunakan kereta.


"Pangeran, bagaimana jika membuat Nona Callista pingsan, kita berada di tengah hutan tidak ada penginapan di sini Pangeran. Tidak ada masalah jika kita mencari kuda dan mengangkatnya kemari, tapi memperbaiki kereta kuda juga membutuhkan waktu lama." Ujar Zilom memberikan pendapatnya.


Sedangkan Felom saudara kembar Zilom, hanya diam, dia adalah pengawal yang selalu harus menertibkan kelakukan Zilom, Felom sendiri selalu menerima perintah dan melaksanakan perintah tanpa banyak kata.


"Menurut saya, tidak masalah memperbaiki keretanya. Saya akan perbaiki itu." Kata Lazarus.


Lazarus sendiri adalah pengawal yang paling sedikit berbicara dan melakukan perintah tanpa banyak kata pula, dia yang paling memiliki akal sehat dan penuh pertimbanga.


"Baiklah Lazarus, jika kau setuju, buatkan tenda untuk Callista istirahat dan perbaiki keretanya, Zilom dan Felom kalian tetap berjaga menjaga jarak dari kami, jangan biarkan binatang-binatang mendekat. Berikan perlindungan agar bau Callista tak tercium Vampire lain."


"Baik pangeran." Kata mereka serentak.


Tak berapa lama akhirnya Lucas kembali masuk.


"Sepertinya kita akan bermalam di sini, Lazarus akan mendirikan tenda untukmu. Selama kita beristirahat disini, dia akan memperbaiki keretanya."


Callista terdiam, namun raut wajahnya seolah memikirkan sesuatu dan tidak menerima keputusan itu.


"Apa yang ada dipikiranmu?" Tanya Lucas.


"Apa kau tidak bisa membawaku terbang, aku membaca di dalam buku Vampire bisa terbang mengajak orang lain juga?"


Lucas mengernyit, membuat dahinya mengerut.

__ADS_1


"Tentu saja bisa, tapi di luar turun salju yang cukup lebat, kau tidak akan kuat dengan suhu dingin dan anginnya."


"Tidak, aku sudah terbiasa dengan dingin, aku lebih memilih supaya kita lebih cepat sampai. Ku pikir, tubuhku sudah semakin lelah, aku tidak tahu lagi sampai kapan bisa bertahan, ada yang aneh dalam tubuhku, selain itu...."


Setelah kereta mereka terhenti, berkali-kali suara lolongan serigala terus bersahut-sahutan membuat Callista merasa terancam.


Lucas masih mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang akan diucapkan oleh istrinya.


"Selain itu, suara-suara itu membuatku khawatir. Seolah mereka semakin dekat dengan kita."


"Tidak ada yang berani menganggumu bahkan menyentuhmu, tapi aku lebih suka jika malamku tanpa tidur, daripada menjadi penyebab perkelahian di sini dengan para binatang itu, dan membuat mu menjadi ketakutan karena para serigala yang berdatangan."


Seolah mendapatkan sinyal hijau, Callista mendongak dan wajahnya terlihat lega.


"Tapi, apa kau yakin?"


Callista mengangguk dengan mantap.


"Tunggu di sini."


Lucas kembali keluar dan memanggil para Ksatrianya lagi.


"Callista meminta kita untuk terbang, dia mulai kelelahan."


"Yuhuui, terimakasih Nona Callista yang ajaib, tubuhku sudah sangat kaku menunggu kereta berjalan begitu lambat seperti kura-kura." Zilom memijit bahu dan menggerak-gerakkan bahunya lalu berlari-lari kecil.


"Tapi, kita akan terbang dengan pelan." Perintah Lucas.


"Baik pangeran." Kata mereka.


Lucas kemudian mengambil beberapa mantel yang ada di dalam koper Callista dan membawanya masuk ke dalam kereta.


"Pakai ini." Kata Lucas sembari memakaikan mantel-mantel itu.


"Kenapa berlapis?" Tanya Callista.


"Di luar sangat dingin." Kata Lucas.


Kemudian Lucas melepaskan mantel miliknya dan langsung memasangkan pada Callista, mantel itu sangat besar untuk Callista.


"Ini terasa sesak, untuk apa aku memakai mantel sebanyak ini?"


"Aku tidak mau makhluk lain mencium bau tubuhmu." Sahut Lucas.


Setidaknya Callista memakai 3 mantel, dan Lucas menarik tudungnya hingga menutupi seluruh kepala Callista.


Saat itu juga, Callista melihat peran suaminya benar-benar ada untuknya, Lucas memerankannya seolah-olah pria itu sangat mencintai Callista.


"Mengapa kau begitu perhatian, dan baik padaku." Batin Callista.


"Siap?" Tanya Lucas.

__ADS_1


Callista mengangguk.


bersambung


__ADS_2