
Namun semua yang ada di dalam pikiran Callista salah, ketika Callista duduk, ia melihat daging steak yang sudah matang.
Kemudian Callista mengedarkan matanya lagi ke beberapa menu yang ada di hadapannya, ada soup jagung, soup asparagus, beberapa ikan yang sudah di fillet dengan di goreng tepung lalu di siram saos dan tentuny masih banyak lagi makanan lainnya yang sudah di masak matang, semua itu membuat bau harumnya tentu saja menyentak hidungnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Kata Lucas, tangannya terulur maju mengambil piring besar milik Callista.
"Dia selalu bertanya apa yang aku pikirkan, dia benar-bebar tidak bisa membaca pikiran dan hatiku." Batin Callista.
Ketika Lucas mengambil piring miliknya yang berisi steak, Callista melirik apa yang akan Vampire itu lakukan, ternyata di luar dugaannya, Vampire itu mengiris daging steak miliknya menjadi beberapa bagian dan hingga potongan terkecil yang pas untuk masuk ke dalam mulut Callista.
Kemudian Lucas menyerahkan piring besar itu kembali di hadapan Callista.
"Makanlah."
Lucas kemudian sibuk mengiris daging steaknya sendiri.
"Kenapa aku melihatnya bukan seorang Vampire melainkan seorang pria." Lagi-lagi Callista berperang dengan batinnya.
Callista menusuk daging yang sudah di potong oleh Lucas menggunakan garpu, dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Astaga!" Mata Callista membulat.
Lucas melihat wajah Callista yang syock.
"Apa makanannya tidak enak?" Tanya Lucas khawatir.
Namun, Callista masih diam, ia sibuk mengunyah dan menelannya.
"Aku akan menyuruh para pelayan mengganti makanannya."
"Tidak! Maksudku, ini adalah makanan yang terenak yang pernah ku makan seumur hidupku!" Kata Callista dengan mata berkaca-kaca.
"Apa? Seumur hidupmu?"
"Ya, aku hampir tidak memiliki rasa pengecap di lidahku karena ibu tiriku selalu memberikan makanan basi, atau pun nasi yang sudah kering lalu aku memasaknya, aku mencampur nasi kering itu dengan air agar lunak dan bisa dimakan." Callista melanjutkan menusuk daging steak itu lagi.
Lucas mengepalkan tangannya dan melanjutkan mengiris steak miliknya.
"Kau bisa memakan punyaku."
"Bolehkah?"
Lucas mengangguk dan mengambil piring milik Callista yang sudah kosong dan menaruh piring miliknya di hadapan Callista.
"Apa kau juga mau makan soupnya? Soup jagung dan soup asparagus bagus untuk pemulihan kesehatanmu."
Lucas mengambil sendok dan kemudian mengambil sedikit soup jagung lalu menyuapi Callista.
Gadis itu dengan polosnya membuka mulut dengan masih ada sedikit sisa daging di dalam mulutnya.
"Astaga ini juga enak. Aku sangat menyukainya." Callista menutup matanya sembari memperlihatkan wajah berbinar yang bahagia.
Kemudian ia mengelap air matanya yang menggembung dengan punggung tangannya, dengan makanan-makanan yang enak di hadapannya ia merasa sedang ada di surga.
Lucas tersenyum melihat Callista akhirnya bisa lebih nyaman dan bisa bahagia.
Tangan Lucas terulur dan menghapus sisa saus di sudut bibir Callista dengan lembut membuat Callista membuka mata dan tersentak.
"Kau masih takut?"
Callista menggelengkan kepala dengan pelan, karena ia sendiri ragu apakah dirinya masih takut atau tidak, beberapa saat ia tenggelam dalam makanan enak.
__ADS_1
"Ta... Tapi... Apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu?"
"Ya."
"A... Apa semua pelayan di sini awalnya, mereka juga istrimu?"
Lucas mengangkat satu alisnya naik, dan kemudian tersenyum seperti geli mendengar pertanyaan Callista, Lucas menutupi mulutnya yang tersenyum dengan sedikit punggung tangannya.
"Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum." Batin Callista.
"Tidak, kebanyakan mereka memang di tumbalkan, namun tidak satupun yang aku jadikan istri, mereka semua yang di tumbalkan langsung menjadi pelayan di sini."
"Lalu... Kenapa aku...?"
"Kau berbeda Callista..."
"Berbeda?" Callista mengernyitkan alisnya tak mengerti.
"Sebenarnya sebelum pertemuan kita saat pernikahan malam itu, kita pernah bertemu Callista."
"Kita? Pernah bertemu? Kapan? Dimana?"
"Saat itu kau mencari ayahmu."
Callista mengingat-ingat kejadian dimana dan kapan saat ia mencari ayahnya.
"Apakah... Saat kuda ayahku lari dan sampai di rumah tanpa kereta dan ayah juga menghilang? Pada saat itu ayahku terjatuh dan kata dokter ayahku terkena serangan jantung."
"Ya, aku melihatmu berlari mencari ayahmu."
Callista menunduk.
"Saat itu banyak serigala yang ingin memangsa ayahmu, aku datang terlambat, aku berdiri di sampingnya yang sudah terbaring penuh dengan darah, namun sebelum meninggal ayahmu selalu memanggil namamu, saat itu aku datang ingin menolongnya, namun ayahmu berpesan padaku jika aku harus menolong anaknya yang bernama Callista, aku harus menyelamatkannya, dia ingin kau menjadi pelayan di istanaku. Ayahmu tahu bahwa kau kesulitan menjalani hidupnya bersama wanita itu."
"Seperti janjiku pada ayahmu, aku akan menjagamu Callista."
Callista memandang Lucas.
"Jadi, kenapa kau ingin menjagaku, kau tidak mengenal ayahku dan aku."
"Ayahmu adalah pelayan dapur di istana Raja Vampire ke IV."
"Ap... Apa... Ayahku adalah pelayan dapur dari raja Vampire IV, Raja vampire itu adalah ayahmu?"
Lucas mengangguk.
"Dan... Sebentar lagi tahta itu akan turun padaku, setelah aku mengumumkan pernikahanku denganmu."
"Kau... Akan menjadi raja Vampire?"
Lucas mengangguk.
"Maaf baru menceritakan ini padamu, aku tidak ingin kau terus bersedih dan berlarut-larut menyalahkan ayahmu karena telah menikahi wanita itu, ayahmu sangat menyayangimu Callista. Dia juga telah menyesalinya."
"Bagaimana kau.. Bisa tahu?" Callista akhirnya tidak dapat membendung air matanya.
"Suatu hari ketika aku berkunjung di halaman belakang, ayahmu sedang duduk di taman selepas ia memasak hidangan makan malam. Kami mengobrol sebentar, saat itu tidak ada yang berani mendekatiku namun ayahmu berbeda. Ayahmu bercerita, jika anaknya selalu mengurung diri di dalam kamar, lalu ia menemukan buku harianmu, ia membaca jika kau menulis bahwa semua penderitaannya di sebabkan oleh ayahnya yang menikah lagi. Saat itu ayahmu tahu jika kau telah mendapatkan siksaan, ketika Ayahmu ingin menceraikan wanita, Ayahmu tertimpa musibah lebih dulu."
Callista semakin menangis, isak tangisnya semakin menyakitkan, suaranya terdengar memendam kesakitan luar biasa dan ingin sekali meluapkannga, kini ia merindukan ayahnya.
"Aku tidak tahu jika dia memperhatikanku..." Air mata Callista semakin deras.
__ADS_1
Lucas mengelus punggung dan rambut Callista dengan lembut.
"Aku akan buktikan pada ayahmu bahwa aku akan melindungimu. Hari ini kau harus ikut denganku ke Istana utama, karena aku akan mengumumkan pernikahan kita di sana."
"Tapi aku... Apakah tidak apa-apa jika manusia ada di sana?"
"Aku akan menjagamu, para Vampire tidak akan ada yang berani menyentuhmu."
Callista terdiam, mau ataupun tidak dia tetap harus menghadiri acara itu bersama Lucas, apalagi Lucas mengatakan itu adalah acara untuk memperkenalkan dirinya sebagai istri Lucas.
Callista kemudian menundukkan kepalanya.
"Kau sudah kenyang?" Tanya Lucas sembari mengelap air mata Callista.
Callista mengangguk.
Kemudian Lucas memberikan isyarat tangan pada para pelayan untuk datang.
"Dandani istriku, kami akan pergi ke istana utama." Kata Lucas.
Kemudian para pelayan itu mengajak Callista pergi ke kamar dan mulai mendadaninya.
Tidak ada satupun di antara para pelayan itu yang melayani Callista berbicara satu sama lain, seolah-olah mereka adalah robot yang hanya siap dengan segala perintah.
"Maaf siapa namamu?" Tanya Callista kemudian pada seorang pelayan yang sedang merapikan rambut Callista.
"Aah... Maaf Nona, apakah saya melakukan kesalahan?" Tanya gadis itu dengan wajah takut.
Callista menggeleng, ia pun terkejut kenapa sikap pelayan itu sangat berlebihan.
"Aku hanya bertanya padamu, siapa namamu? Kau terlihat masih sangat muda."
"Oh maafkan saya Nona, saya Tifani."
"Tifani?"
"Ya Nona."
"Apa kau juga...."
"Ya Nona, saya menjadi tumbal untuk kakak laki-laki saya."
"Kakak laki-laki?"
"Dia... Kakakku... Tidak bisa lagi bertahan pada kondisi kesehatannya, dan sudah tidak kuat hidup menderita karena kemiskinan, setiap hari harus menerima hinaan dan pukulan dari orang-orang, saya bersedia menjadi tumbal demi dirinya bisa hidup bahagia."
"Jadi?"
"Jadi... Saya yang menawarkan diri saya sendiri untuk menjadi tumbal. Awalnya saya pikir saya akan menjadi santapan para Vampire namun sesampainya di sini saya terkejut banyak sekali manusia yang semua nya menjadi tumbal dan tidak menjadi makanan para Vampire."
"Apa semua Vampire seperti Lucas?"
Tifani menggeleng.
"Hanya Tuan Lucas dan pengikut setianya, sisanya mereka masih haus dengan darah manusia, anda akan tahu sedikit demi sedikit."
Setelah selesai menggunakan gaun yang sangat indah dan rambut Callista juga selesai di tata, semua pelayan takjub melihat kecantikan Callista.
Kemudian para pelayan hendak membawa Callista pada Lucas.
"Nona, jika saya boleh berpesan pada anda, jangan terkejut jika nantinya di sana anda melihat banyak manusia menjadi budak hawa naffsu dan di kuras darahnya oleh para vampire, tetap di samping Tuan Lucas." Bisik Tifani di telinga Callista.
__ADS_1
Seketika Callista mengeratkan genggamannya, ia menjadi sedikit gusar, hal mengerikan apa yang ada di Istana Utama.
bersambung