Menunggu Kamu Pulang Dari Pesantren

Menunggu Kamu Pulang Dari Pesantren
Makin Jauh


__ADS_3

Jam pelajaran pun telah selesai. Semua Siswa dan Siswi SMP Harapan Kita mulai meninggalkan kelas mereka masing - masing. Begitu pun dengan Baim dan teman - teman nya.


"Akhirnya pulang juga" kata Yuda temannya Baim.


"Hem... mana bosen gue dari tadi tuh pengen cepet pulang. Eh iya, Baim hari ini gak ada kumpul OSIS kan." kata Raka menjawab ucapan Yuda dan bertanya juga pada Baim.


"Ada, ayo gue mau temuin pacar gue dulu." kata Baim menjawab ucapan Raka.


"Yaela mana udah seneng gue bisa pulang cepat. Ini malah harus kumpul. Baim bisa di cancel besok gak kumpulnya, males nih gue kalau harus kumpul hari ini." kata Raka menjawab ucapan Baim.


"Gak bisa rapat hari ini udah di tunda terus. Jadi gak bisa kalau di tunda lagi. Kalian mau ikut gue gak temuin pacar gue. Kalau mau ayo cepat. Bisa - bisa gue di omelin karena lama temuinya. Lo tau sendiri kan Alika kalau udah marah, gue gak bisa bujuk dia dengan mudah. Jadi, sekarang lo berdua kalau mau ikut langsung ikutin gue aja. Jangan banyak bicara lagi." kata Baim pada mereka berdua.


Mereka berdua kini mulai sibuk berbicara.


"Beda ya, kalau udah punya pacar mah. Temen sendiri di acuhin." kata Yuda.


"Hem... begitulah Baim. Kita berdua mah apa atuh di banding Alika." kata Raka.


"Woy, jangan pada sibuk bicara kaya gitu. Ayo cepetan, gue tunggu kalian di kelas nya Alika. Oke, gue duluan." kata Baim dari kejauhan pada Raka dan Yuda.


"Gue rasa pertemanan kita bertiga nih makin jauh deh semenjak Baim jadian sama si Alika. Lo berpikiran yang sama gak seperti yang gue rasakan ini." kata Raka pada Yuda.


"Hem... gue bahkan udah ngerasa jauh sama si Baim semenjak dia bilang suka sama cewe." kata Yuda menjawab ucapan Raka.


"Terus sekarang kita harus kaya gimana?" kata Raka.


"Entahlah gue gak tau." kata Yuda.


Bug...


"Hey, kalian bicara pada serius banget sih. Lagi bicarain apa sih?" kata seseorang yang menepuk punggung mereka berdua dari arah belakang.


"Hem... ini Mir lagi sibuk bicarain si Baim." kata Yuda.


"Lah, si Baim memangnya kenapa?" kata Seseorang itu yang ternyata bernama Mira.


"Ini loh, si Baim udah berubah semenjak jadian sama si Alika. Lo ngerasa juga gak sih Mir. Kalau kita berdua sih, memang ngerasa banget malahan." kata Raka yang seketika mewakili ucapan Yuda untuk menjawab ucapan Mira.


"Hem... si Baim ya, gue rasa memang udah beda sih. Dia sekarang lebih sibuk ke Alika jarang banget kumpul sama kita kan. Apalagi kalau jam istirahat, gak pernah tuh kita kumpul lagi, malah dia minta izin buat ketemu si Alika. Gue rasa memang udah kehilangan sosok Baim deh." kata Mira menjawab ucapan Raka.

__ADS_1


"Hem... apa mungkin kita pisahin mereka ya. Gue bener - bener ngerasa kehilangan banget nih." kata Yuda yang berniat untuk memisah kan Baim dan Alika.


"Jangan aneh - aneh Yud, ntar kalau kita udah pisahin mereka, Baim semakin jauh gimana coba?" kata Mira.


"Bener banget Mir, si Yuda ini kalau bicara suka sembarangan." kata Raka.


"Gue kan cuman kasih saran aja. Lagi pula belum tentu kan kalian setuju." kata Yuda.


"Hem... tapi saran mu ini Yud, bikin gue was - was. Gimana jadi nya ya kalau kita bertiga nih beneran berniat buat pisahin Baim sama si Alika. Belum kebayang gue jadinya akan seperti apa nanti." kata Raka.


"Kalau kaya gitu, gak perlu deh lo bayangin. Ntar, bisa - bisa lo stress terus gila deh. Kan, gak banget gitu. Kalau gue denger seorang Raka gila karena ngebayangin buat pisahin Baim dan Alika. Hahahaha..." kata Yuda menjawab ucapan Raka dengan tertawa di ujung kalimatnya.


Krik... Krik...


"Garing banget sih Yud, gak lucu juga ko. Bener gak Raka, Yuda nih garing bicaranya." kata Mira.


"Bener banget Mir, garing kaya kerupuk." kata Raka.


"Ya udah deh lupain aja. Ayo mau temuin si Baim gak nih." kata Yuda.


"Kayanya langsung ke aula aja deh. Kalau harus ke kelas nya si Alika ntar makin lama. Jadi nunggu di sana aja. Kumpulnya juga di sana kan, bukan di kelas nya si Alika." kata Raka.


"Ya udah deh gue ikut aja. Soalnya memang males sih liat dua orang yang bucin kaya mereka itu." kata Yuda.


"Males apa iri boss." kata Mira.


"Males Mira, buat apa juga gue iri. Hubungan mereka itukan..." kata Yuda seketika di potong oleh Raka.


"Udah lah jangan terus bicara. Ayo langsung ke aula." kata Raka yang memotong ucapan Yuda.


"Kuy lah." kata Mira.


"Oke" kata Yuda.


Setelah itu, mereka bertiga pun mulai pergi meninggalkan tempat mereka saat ini untuk berjalan menuju aula.


Sementara Baim yang menuju kelas Alika. Kini telah sampai di kelasnya itu.


"Cie... yang di jemput ayang. Tuh liat ayangnya udah ada." kata Debi menggoda Alika.

__ADS_1


"Hem... kita mah apa atuh, gak punya ayang jadi gak ada yang jemput. Sedihnya." kata Keysa.


"Cup... cup... ntar aku cariin ayang ya. Biar gak sedih lagi. Mau ayang kaya gimana nih? biar langsung di cari." kata Debi sambil mengelus - ngelus punggung Keysa.


"Pengennya yang lebih dari pacar Alika, terus dia tuh baik banget dan royal. Bisa gak Deb." kata Keysa.


"Bisa, bisa ntar aku hubungi ya biro cari pacarnya. Hanya itu kan kriteria yang kamu mau." kata Debi.


"Iya itu aja. Berapa lama ntar dapet konfirmasi nya. Soalnya udah gak sabar nih mau pamer ayang." kata Keysa.


"Tunggu aja paling juga gak sampai dua bulan ko udah dapet tuh pacar." kata Debi.


"Lama dong, bisa yang secepat kilat gak. Hari ini cari besoknya langsung nemu." kata Keysa.


"Bisa, tapi agak tak sesuai sama keinginan. Gimana masih mau kaya gitu?" kata Debi.


"Em... tak sesuainya hanya sedikit kan." kata Keysa.


"Tergantung, soalnya memang agak susah kalau mau cepet terus bisa dapet yang sesuai." kata Debi.


"Gitu ya, em... ya udah deh aku pilih paket yang satu minggu aja." kata Keysa.


"Bentar, bentar kalian berdua nih bicarain apa sih. Ko jadi pada ngawur." kata Alika yang ikut dalam pembicaraan mereka.


"Ini biasa lah, lagi bisnis. Biar dapet cuan cepat." kata Debi.


"Bisnis apa?" kata Alika.


"Bisnis cari pacar." kata Debi.


"Memangnya ada." kata Alika.


"Ada, kamu mau ikutan." kata Debi.


"Nggak, aku kan udah punya pacar. Jadi nggak akan ikut bisnis itu." kata Alika.


Tak lama setelah itu terdengarlah suara yang memanggil Alika.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2