Menunggu Kamu Pulang Dari Pesantren

Menunggu Kamu Pulang Dari Pesantren
Berlari Terbirit - birit


__ADS_3

"Yank, kamu jangan percaya ya ucapan mereka. Lagi pula mana ada hantu di jam segini." kata Alika mencoba meyakinkan Baim bahwa ucapan teman nya itu tidak benar.


Namun karena Baim sudah terlanjur percaya. Ia kemudian langsung berlari terbirit - birit meninggalkan Alika yang saat ini hanya diam mematung melihat kepergian Baim.


"Hahaha... lucu banget sih, ternyata pacar yang kamu bangga - bangga in itu, ternyata takut juga sama hantu. Hahaha..." kata Debi dengan tertawa terpingkal - pingkal.


Tak jauh berbeda dengan Keysa, ia pun juga tertawa dengan terpingkal - pingkal melihat Baim yang berlari seperti itu.


"What? Baim takut sama hantu. Gue kira dia gak takut. Mana udah gue puji dan bangga - bangga in dia, gak takut sama hantu. Konyol banget kan gue." kata Alika yang mulai tersadar.


"Sabar beb, kamu salah banggain orang." kata Debi mencoba menenangkan Alika.


"Ayo Baim lebih cepat lagi larinya. Jangan sampai tuh hantu tangkap lo." kata Baim saat ia sedang berlari kencang sambil menyemangati dirinya.


"Kasian banget sih, bestie kita ini yang ketipu dengan sikap tenang dan cool nya Baim. Dikira gak takut sama hantu. Ternyata saat di bohongin ada hantu malah lari terbirit-birit. Sabar ya beb." kata Keysa pada Alika.


"Hem... sepertinya memang harus sabar. Ayo beb kita susul Baim. gue mau marahin dia." kata Alika menjawab ucapan mereka berdua sambil mengajak mereka untuk cepat menyusul Baim.


"Loh biasanya juga bilang sayangnya aku. Kenapa sekarang bilang Baim." kata Debi yang merasa aneh dengan ucapan Alika. Sehingga ia bertanya pada Alika.


"Gue lagi kesel, jadi panggil nya kaya gitu. Udah jangan di permasalahan. Sekarang kita susul aja Baim nya. Gue beneran pengen marah nih atau kalian mau jadi pengganti Baim untuk gue marahin." kata Alika pada kedua temannya.


"Not... Not... lebih baik susul Baim aja." kata Keysa menjawab cepat ucapan Alika.


"Ya ucapan key benar, gue juga gak mau kalau harus gantiin si Baim. lebih baik susul dia aja." kata Debi menjawab ucapan Alika.


"Ya udah, ayo jangan banyak berpikir lagi. Gue udah beneran emosi." kata Alika dengan menggebu - gebu karena sudah emosi. Bahkan tarikan napas nya pun tidak normal seperti biasanya. Kini malah semakin cepat karena terlalu banyak menahan emosi.

__ADS_1


"Ayo." kata mereka berdua secara bersamaan.


Mereka bertiga langsung bergegas menyusul Baim. Berbeda dengan Baim yang saat ini telah sampai di Aula.


Brak...


Pintu aula ia buka dengan sangat cepat sehingga suara pintu pun mengejutkan orang - orang yang ada di aula.


"Aduh buset, jantung gue hampir mau copot." kata Revan.


"Lebay banget sih lo Van, masa karena mendengar suara pintu aja bisa sampai copot tuh jantung." kata Cici


"Gue yang cewe aja gak sampai kaya gitu kaget nya. Walau aga sedikit kaget sih. Tapi gak sampai bilang jantung mau copot." kata Cici melanjutkan lagi ucapan nya.


"Gimana gak bilang kaya gitu. Posisi gue deket banget sama pintu. kalau gue gak tanggap, udah kena tuh pintu sama muka gue. Pasti kaget lah. Gimana kalau posisi gue, lo rasain juga." kata Revan yang malah emosi saat menjawab ucapan Cici.


"Lah Van ko jadi ngegas sih bicaranya. Iya deh iya gue salah. Gue juga pasti bilang kaya gitu. Maaf ya gue salah bicara sampai buat lo bicara kaya gitu ke gue." kata Cici yang saat ini merasa bersalah pada Revan.


"Ye... gue kira beneran, lo marah ke gue. Udah panik banget gue barusan. apalagi liat lo yang marah kaya gitu. Gue kan jadi takut. Tapi, beruntungnya lo hanya bercanda." kata Cici menjawab ucapan Revan.


"Lo ini aneh deh Ci, masa di bercandain malah bilang beruntung. Aneh banget tau, baru lo aja deh yang bilang kaya gini saat di bercandain. Biasanya kalau cewe di bercandain itu dia akan marah. Nah, lo malah merasa beruntung. Aneh gue, lo sebenernya cewe atau bukan sih." kata Revan yang terheran - heran dengan jawaban Cici. Bahkan Revan pun sempat mempertanyakan tentang Cici itu cewe atau bukan. Memang aneh bukan pertanyaan Revan ini. Sesuai banget dengan jawab Cici.


"Maksud lo apa Van, lo kira gue bukan cewe apa hanya karena bilang beruntung di bercandain. Lo kan bisa liat, rambut gue panjang, terus gue juga pake rok. Masa masih di bilang bukan cewe. Percuma dong gue pake rok kalau gue masih di bilang bukan cewe." kata Cici menjawab ucapan Revan.


"Iya juga ya, ko gue baru kepikiran. Hem... tapi ko kita malah sibuk memperdebatkan hal ini sih. Bukan nya bertanya pada Baim kenapa dia harus buka pintu seperti itu. Ini malah sibuk membicarakan dan mempertanyakan hal lain. Bener - bener aneh nih." kata Revan menjawab ucapan Cici.


"Ya ampun ko baru sadar ya. Ya udah, kita tanya aja ke Baim." kata Cici menjawab ucapan Revan dan menyetujui ucapan Revan.

__ADS_1


"Lo yang tanya ya." kaya Revan.


"Iya gue yang tanya." kata Cici.


"Ayo" kata Cici melanjutkan lagi ucapannya.


"Iya ntar gue nyusul." kata Revan.


"Kapan?" kata Cici bertanya pada Revan.


"Setelah selesai ini, baru gue nyusul." kata Revan sambil menunjukan alat - alat yang akan di gunakan untuk kumpul hari ini.


"Alat - alat nya di tinggalin dulu aja. Bisa di lanjutin nanti. Ayo, gue hitung sampai tiga kalau lo gak susul gue. Gue gak akan bantu lo lagi." kata Cici sambil mengancam Revan.


"Gini banget sih Ci, iya deh gue tinggalin tapi lo harus bantu gue nanti." kata Revan.


"Iya bawel, gue pasti bantu lo. Bukannya sedari tadi juga gue bantu lo ya. Masa gak di anggap sih." kata Cici sambil memutarkan bola matanya.


"Bukan gak di anggap Ci, tapi karena..." kata Revan yang malah terdiam tak melanjutkan ucapannya.


"Kelamaan bengong, Ntar bisa - bisa kemasukan roh halus. Udah ayo, kita tanya ke Baim." kata Cici yang langsung menarik tangan Revan.


"Gak sampai segitunya juga kali Ci, roh halus juga mikir - mikir dulu kalau mau masuki tubuh orang. Gak mungkin pilih tubuh gue." kata Revan membalas ucapan Cici.


"Itu menurut lo, tapi beda lagi kalau menurut roh halus. Dimana dia ingin masuki tubuh orang di situ dia akan bereaksi mendapatkan target. Ar..." kata Cici sambil menakut - nakuti Revan di ujung kalimat yang ia ucapkan dengan mengangkat kedua tangannya saat mengadakan kata Ar.


"Lo ceritanya nakutin gue Ci sampai tangan lo di angkat kaya gitu." kata Revan menjawab ucapan Cici.

__ADS_1


"Menurut lo gimana?" kata Cici malah menjawab ucapan Revan dengan sebuah pertanyaan.


Bersambung...


__ADS_2