Menunggu Kamu Pulang Dari Pesantren

Menunggu Kamu Pulang Dari Pesantren
Tanpa Merasa Bersalah


__ADS_3

Belum juga reda rasa terkejut Revan dan Cici. Tiba - tiba pintu tersebut di gebrak dengan sangat kencang. Membuat keduanya shock kembali.


Brak...


"Liat Baim nggak?" kata Alika seseorang yang menggebrak pintu tersebut.


bahkan ia tanpa merasa bersalah langsung bertanya pada Revan dan Cici yang berusaha menormalkan detak jantungnya.


"Buset nih orang, gak tau diri atau gimana sih. Bukannya minta maaf malah langsung di todong pertanyaan." kata Cici yang berbicara di dalam hatinya.


"Mereka berdua beneran cocok pacaran. Kelakuannya aja sampai sama persis kaya gini. Tapi bedanya Baim langsung pergi setelah buat gue dan Cici hampir kehilangan jantung karena shock. Sementara Alika malah tak perperasaannya langsung bertanya kaya gitu. Beruntung lo cewek Lik, kalau lo cowok udah gue dampar muka lo." kata Revan yang tak jauh beda dengan Cici sama - sama berbicara di dalam hatinya.


"Yey... ditanya malah pada bengong. Udah lah percuma juga gue tunggu. Lo berdua pasti nggak akan jawab. Permisi gue masuk dulu." kata Alika yang langsung memasuki Aula tanpa menunggu Revan ataupun Cici menjawab ucapan nya.


Tap... Tap...


Langkah kaki itu pun terdengar dari yang keras sampai kecil, lalu tak terdengar sama sekali karena Alika sepertinya telah menghentikan langkah kakinya itu.


"Liat tuh, mereka berdua mentang - mentang orang berpengaruh di sekolah sampai seenaknya kaya gitu lagi sikapnya." kata Cici meluapkan kekesalannya pada Revan.


"Hem... kita mau gimana lagi Ci, marah juga percuma. Udahlah lebih baik kita lupain aja." kata Revan.


"Kalau bicara gitu sih gampang. Tapi lupain nya susah, apalagi sampai melekat dipikiran. Kaya sekarang, gue nggak bisa lupa Van." kata Cici yang masih tak bisa meredakan amarahnya.


"Apalagi kalau sampai nih, pintu di gebrak keras yang ketiga kali. Gue nggak akan tinggal diam. Gue bakalan labrak mereka." kata Cici dengan menggebu - gebu.


Jika saja ia kereta api mungkin sudah mengeluarkan asap. Tapi berhubung ia bukan kereta api, sehingga ia tak akan mengeluarkan asap tersebut.


"Semog..." kata Revan yang malah menggantung dan menghilang karena tiba - tiba pintu kembali di gebrak.


Brak...

__ADS_1


Kedua teman Alika lah yang menggebrak pintu tersebut dengan sangat keras. Karena mereka menggebrak pintu berbarengan. Sehingga secara otomatis suara pintu itu terdengar sangat keras.


"Lo berdua liat Alika sama Baim nggak, huh... hah... huh... hah..." kata salah satu teman Alika langsung menodong mereka dengan pertanyaan lagi. Sambil nafasnya naik turun. karena mereka berjalan sangat cepat bahkan nyaris berlari sehingga napas mereka bisa seperti itu.


"Lo berdua nggak tau diri apa? bukannya minta maaf atau apa kek, ini malah langsung kasih gue sama Revan pertanyaan." kata Cici yang sudah tak tahan lagi untuk tak meluapkan emosinya. Sehingga kedua teman Alika kini menjadi sasaran empuk kekesalan yang ia punya.


"Lah gue kan cuman tanya, kenapa lo malah sewot gitu bicaranya. Sampai melotot lagi." kata teman Alika yang bertanya tadi langsung menjawab ucapan Cici.


"Lo pikir sendiri, lo berdua nih. Lo sama lo nggak ngerasa salah gitu." kata Cici sambil menujuk mereka berdua dengan telunjuk kanannya secara bergantian.


"Memang kita berdua salah apa? kita kan hanya tanya ke lo." kata temannya Alika langsung menjawab ucapan Cici.


"Ckckck... kalian nggak sadar salah kalian itu apa? sudah gue duga kalian memang tak pernah merasa bersalah dan selalu ingin menang." kata Cici membalas ucapan mereka.


"Lo kenapa sih malah bikin puyeng. Langsung ke intinya bisa kan, jangan berbelit - belit kaya gini." kata teman Alika yang sedari tadi hanya diam. Kini mulai membuka suara.


"Lo juga gak tau salah lo apa?" kata Cici tak percaya juga dengan sikap teman Alika ini.


Cici yang sudah semakin geram. Kini mulai mengangkat kedua tangannya dan mendekatkan tangannya pada rambut teman Alika yang pertama kali berbicara pada ia dan Revan.


Namun, sebelum hal itu terjadi Revan dengan sigap langsung menarik tangan Cici.


"Ci stop, lo jangan kaya gini. Kemana Cici yang gue kenal yang nggak pernah buat masalah. Udah orang - orang seperti mereka nggak perlu lo hadepin. Lebih baik kita yang waras yang ngalah." kata Revan mencoba menenangkan emosi yang Cici rasakan saat ini.


"Hem... nggak segampang itu Van, mereka berdua udah sangat keterlaluaan. Gue nggak rela kalau mereka berdua di lepasin gitu aja." kata Cici membalas ucapan Revan.


"Jadi lo maunya kaya gimana? Gue sama dia minta maaf sama lo. Gitu yang lo mau, hah." kata temen Alika yang bicara kedua kali pada Cici.


"Harusnya dari tadi lo berdua bilang kaya gitu. Sekarang lebih baik lupain aja. Lagian mana mungkin sih, lo berdua mau merendahkan diri buat minta maaf." kata Cici.


"Mana ada kaya gitu. Sorry udah buat lo emosi. Jujur gue takut saat liat kemarahan lo. Ternyata dari wajah lo yang terlihat baik tersimpan wajah yang sangat takut untuk dilihat ketika lo marah kaya gini. Gue sama temen gue minta maaf untuk itu. Walau lo nggak kasih tau gue dan temen gue kesalahannya apa. Tapi, gue di sini merasa bersalah, apalagi melihat lo yang meluapkan emosi seperti barusan." kata temennya Alika yang pertama kali bertanya pada Cici, ia pun langsung membalas ucapan Cici.

__ADS_1


Bahkan sampai di luar pemikiran Cici. Cici sendiri sampai di buat takjub dengan jawaban ia. Selain takjub, ada rasa bersalah juga karena langsung menuduh yang bukan - bukan pada mereka.


"Gue juga minta maaf karena ikut terbawa emosi." kata teman Alika yang berbicara kedua kali dengan Cici.


"Gue udah maafin kalian berdiam. Dan maafin gue karena sempat membuat kalian berdua emosi juga bahkan sampai menuduh kalian yang bukan - bukan." kata Cici membalas ucapan mereka berdua.


"Wajar sih kalau menurut gue, lo bicara kaya gitu ke kita. Apalagi lo yang terlihat baik bisa semarah itu. Gue yang harusnya..."


"Udah, kalian cari Alika sama Baim kan. Tuh mereka berdua ada di sana." kata Cici yang langsung memotong ucapan teman Alika sambil ia pun mengarahkan telunjuknya pada Alika dan Baim yang sedang berbicara.


"Iya, makasih. Ngomong - ngomong nama lo siapa? sorry gue lupa - lupa ingat sama anggota OSIS dan gak terlalu kenal semua."


"Gue Cici, dan ini teman gue Revan." kata Cici menyebutkan namanya dan juga nama Revan pada kedua teman Alika.


"Senang bisa kenal kalian." kata tekan Alika hampir bersamaan.


"Oh iya, kalian dari kelas mana?" kata teman Alika yang kedua kali berbicara pada Cici.


"9" kata Cici.


"Oh" kata teman Alika hanya menjawab satu kata saja ucapan Cici.


"Kalau kalian sekelas sama Alika?" kata Cici bertanya pada mereka berdua.


"Hem... iya." kata teman Alika yang kedua kali berbicara pada Cici.


"Nama kalian berdua siapa?" kata Cici bertanya lagi pada mereka bedua


"Nama gue..." kata teman Alika yang pertama kali bertanya pada Cici.


Baru saja teman Alika itu ingin menjawab ucapan Cici. Tiba - tiba terdengar suara Alika yang memanggil mereka. Sehingga ucapan itu tak jadi teman Alika lanjutkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2