Menunggu Kamu Pulang Dari Pesantren

Menunggu Kamu Pulang Dari Pesantren
Buang - Buang Waktu


__ADS_3

"Hey... kalian sini. Kenapa tetap di sana?" Kata Alika sambil melambay - lambay kan tangan, meminta mereka berdua untuk menemui dirinya.


"Iya Lik, bentar." Kata teman Alika.


"Udah yuk, tinggalin aja. Buang - buang waktu kalau kita tetap berdebat sama nih orang." Kata teman Alika yang menjawab Alika barusan pada teman yang satunya lagi.


"Bener juga yang kamu bilang itu. Waktu kita kan berharga. Ya udah deh, yuk ke sana." Kata teman Alika yang satunya lagi.


"Yuk." Kata teman Alika yang menjawab Alika tadi.


Mereka berdua pun, kini mulai pergi meninggalkan Cici yang sudah emosi.


"Argh... kesel banget gue sama tuh orang dua. Bukannya minta maaf malah langsung pergi. Mentang - mentang udah di panggil, mereka malah pergi gitu aja. Argh... untung gue nggak jambak juga tuh rambutnya." Kata Cici yang sudah emosi jiwa.


"Sabar Ci tahan, lo jangan emosi gini." Kata Revan mencoba menenangkan Cici agar tak emosi.


"Udah abis rasa sabar gue Van, lo bisa liat kan gimana sombongnya meraka." Kata Cici yang masih emosi. Bahkan sampai meninggikan suaranya saat menjawab ucapan Revan.


"Iya gue tau, tapi kalau lo tetep emosi kaya gini. Lo emang ngga sayang sama suara lo. Terus kalau tenggorokan lo sakit karena teriak - teriak. Mereka juga ngga akan peduli. Jadi, mending lo sudahi teriak lo itu Ci. Sayang banget suara lo terbuang sia - sia." Kata Revan mencoba membuat Cici tersadar.


Cici pun mulai terdiam setelah mendengar ucapan Revan barusan. Mungkin saat ini ia sedang memikirkan ucapan yang Revan bilang padanya atau bisa juga sedang mempertimbangkan ucapan Revan.


Setelah tiga menit, barulah Cici mulai mengeluarkan suaranya lagi.


"Em... iya deh, gue ngga akan teriak lagi. Tapi, ini bukan berati gue ngalah dari mereka. Melainkan karena gue ngga mau suara gue terbuang sia - sia. Sesuai dengan yang lo ucapkan itu." Kata Cici menjawab ucapan Revan.


"Iya gapapa, setidaknya lo udah mau berhenti teriak pun, gue udah seneng. Soalnya kalau lo teriak tuh, telinga gue sakit Ci." Kata Revan yang mulai membuat mood Cici kembali tak baik lagi.


"Apa? lo nggak salah ngatain gue kaya gitu. Dasar ya, gue kira lo beneran peduli, ternyata ada udang di balik batu." Kata Cici sambil meletakkan tangannya di pinggang.

__ADS_1


"Hehehe... canda kali Ci. Gue tuh, pengen hibur lo. Eh, lo malah salah paham. Sorry ya, udah buat lo emosi lagi." Kata Revan yang langsung meminta maaf karena merasa bersalah.


"Hem... ya, ya. Terserah lo aja, gue nggak peduli." Kata Cici bersikap acuh.


"Aduh Ci, jangan gini lah. Gue canda ko barusan. Maaf ya, please maafin gue." Kata Revan yang mulai panik.


"Udah lah, jangan bahas ini lagi. Lebih baik kita lanjutin ini." Kata Cici yang langsung mengalihkan pembicaraan.


"Hem... ya udah deh, sebagai permintaan maaf gue. Ntar, abis selesai kumpul. Gue traktir lo. Gimana, lo mau kan?" Kata Revan menajwab ucapan Cici.


"Iya, tapi gue yang nentuin lo harus traktir gue apa." Kata Cici menjawab ucapan Revan.


"Iya, gue setuju." Kata Revan yang tak ambil pusing. Sehingga ia langsung setuju saja ucapan Cici. Tanpa memikirkan hal yang akan ia dapatkan dari rencana Cici yang tersembunyi.


"Bagus nih, rezeki. Gue bisa manfaatin Revan buat beliin gue banyak hal. Hahaha... tunggu aja pembalasan gue dari canda yang lo lakuin barusan Van. Biar lo jera dan nggak akan ulangi lagi hal ini ke gue." Kata Cici di dalam hatinya.


"Mati gue, kenapa harus setuju gini sih. Gue yakin nih, Cici pasti udah rencanain sesuatu buat nguras abis duit gue. Ah... bodoh nya gue." Kata Revan di dalam hatinya.


"Lik, gue kesel tau." Kata temen Alika memulai pembicaraan.


"Kesel kenapa?" Kata Alika yang penasaran.


"Tuh sama cewe itu." Kata temennya Alika sambil menunjuk Cici.


"Loh ko bisa kesel. Emang cewe itu ngapain kalian berdua." Kata Alika yang merasa aneh.


"Kita berdua hanya sedikit mengejutkan tuh cewe. Tapi, tau ngga lo..." Kata teman Alika yang sengaja terdiam.


Alika pun mulai mengelengkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan temannya itu. Dan sebagai tanda bahwa ia tidak tahu.

__ADS_1


"Nggak." Kata Alika singkat.


"Ya iya lah Lik, lo ngga tau. Gue aja belum selesai kasih tau lo. Tapi, lo udah jawab." Kata temannya Alika menjawab ucapan Alika.


"Gue kira lo tunggu jawaban gue dulu. Baru lo lanjutin lagi ucapan lo setelah gue jawab. Sorry deh, gue ngga tau." Kata Alika menjawab ucapan temannya.


"Hem... iya gue maafin. Lagian ini juga gue yang salah, karena terlalu lama berhenti bicaranya. Gue lanjutin aja deh ya, biar lo bisa tau." Kata temannya Alika menjawab ucapan Alika.


"Makasih, ya udah lanjutin gih. Gue udah penasaran bingit nih." Kata Alika menjawab ucapan temannya.


Dengan cepat temannya Alika pun mulai memberitahu Alika mengenai kejadian tadi.


Kedua temannya Alika begitu sangat antusias ketika mereka memberitahu Alika mengenai sikap Cici tadi terhadap mereka berdua.


Sampai tak terasa, kini mereka berdua pun telah selesai memberitahu Alika.


"Jadi gitu Lik ceritanya. Kita berdua kan jadi emosi." Kata temannya Alika saat ia telah selesai memberitahu Alika.


"Hem... cukup membuat emosi juga ya tuh cewe. Terus, kalian berdua ngga sampai di jambak kan." Kata Alika menjawab ucapan temannya.


"Ngga Lik, kalau beneran nih. Kita berdua di cambak sama tuh orang, kita juga nggak akan tinggal diam kali. Kita pasti lawan tuh orang juga." Kata temannya Alika menjawab ucapan Alika.


"Bener banget tuh, masa iya Lik kita berdua pasrah aja, rambut kita di Jambak. Nggak mungkin gitu juga kan. Pasti kita lawan juga." Kata teman Alika yang lainnya.


"Hem... iya juga ya. Kalau kalian pada diam saat di jambak yang ada ntar kalian berdua di anggap lemah tak berdaya. Karena saat di jambak aja malah diam bukan melawan atau menghindar. Itu kan aneh banget kalau sampai kalian berdua tetap diam tak ada pergerakan sama sekali." Kata Alika menjawab ucapan temannya itu.


"Hem... udah pasti Lik, kita berdua langsung lawan bahkan kalau bisa kita berdua langsung buat tuh cewe kapok nggak berani lagi ninggiin suaranya di depan kita." Kata temannya Alika yang sudah emosi.


"Iya, iya gue percaya deh. Kalau teman gue ini paling bisa buat lawan nya tumbang." Kata Alika menjawab ucapan teman nya.

__ADS_1


"Harus dong Lik, lo tuh harus percaya. Kita berdua pasti akan kasih tuh cewe pelajaran." Kata teman nya Alika yang satu nya lagi.


Bersambung...


__ADS_2