
"Sayang, ko masih diem aja di sini. Udah selesai kan belajarnya." kata Baim ternyata seseorang yang memanggil Alika tersebut.
"Udah malah dari tadi selesainya juga." kata Alika menjawab ucapan Baim.
"Ko gak ke Aula. Kenapa masih di sini?" kata Baim menjawab ucapan Alika dengan sebuah pertanyaan.
"Sengaja sayang, biar kamu temui aku terus jemput aku kesini." kata Alika menjawab ucapan Baim.
Sontak ucapan Alika tersebut membuat teman - teman Alika pun terbatuk - batuk.
Uhuk... Uhuk...
"Keselek nih denger suara orang yang bucin."
"Coba minta minum dong. Ini bener - bener kesemek. Uhuk... Uhuk..."
"Mana ada keselek jadi kesemek. Kamu nih ada - ada gajah."
"Lah memang aja bisa jadi gajah ya. Caranya kaya gimana?"
"Pikirin aja sendiri."
"Hehehehe... lucu banget sih kalian. Kalau mau bucin cepet punya pacar gih." kata Alika pada teman - teman nya.
"Tenang, dalam berapa tadi aku bisa punya pacar tuh. Kalau ikut biro cari jodoh."
"Satu minggu."
"Nah, iya satu minggu. Jadi, kamu tunggu aja. Aku juga bisa bucin."
"Oke, aku tunggu deh kebucinan kamu sama pacar biro kamu itu."
"Sip... tunggu aja oke."
"Oh iya Baim, ko kamu pilih Alika sih. Gak pilih yang lain aja gitu. Alika kan orangnya nyebelin."
"Jaga bicara kamu. Sayang jangan dengerin dia ya. Aku gak kaya gitu ko."
"Kamu jangan buka aib aku dong. Sut... ini rahasia kita."
"Hem... tak apa Alika nyebelin. Lagi pula saya suka ko sikap Alika yang seperti itu." kata Baim menjawab temannya Alika.
"Bohong ya, biar Alika gak marah." kata temannya Alika yang tak percaya dengan ucapan Baim.
__ADS_1
"Kenapa saya harus bohong, itu gak bohong sama sekali ko." kata Baim menjawab ucapan teman Alika.
Kemudian teman Alika pun saling berbisik.
"Apa bener yang di ucapkan Baim itu. Kamu kan jelas - jelas tau kalau sikap Alika itu nyebelin nya minta ampun."
"Lagian orang bucin di tanya kaya gitu."
"Lah, udah pasti jawabannya akan seperti itu. Kalau kamu mau jawabannya sebaliknya. Coba tanyain ke orang yang baru putus. Aku yakin seratus persen pasti jawabannya kebalikan dari yang Baim bilang."
"Kalau itu mah semua orang juga tau kali. Tapi, ada juga loh yang masih memuji - muji mantannya."
"Apa iya, ada yang seperti itu."
"Hem... katanya sih seperti itu. Mungkin karena masih cinta tapi malah sengaja di lepas."
"Kaya burung dong yang di lepas dari sangkar nya. Terbang nan jauh di sana."
"Ko jadi aneh sih, kamu udah minum obat kamu kan."
"Obat apa?"
"Obat yang bisa buat kamu kembali nyambung saat berbicara. Soalnya barusan ucapan kamu itu gak nyambung sama sekali."
"Kenapa gak cari kabel aja. Terus sambungin deh."
"Ya udah nih sambungin coba."
"Apaan sih, ko jadi garing."
"Eh, bentar deh. Ini kenapa kita sibuk bisik - bisik ya."
"Kayanya karena kita berdua jomblo jadi gak bisa bicara secara langsung. Kaya teman kita yang satu ini nih." kata temannya Alika ambil menunjuk Alika.
Saat temannya Alika sibuk berbisik. Alika dan Baim pun sibuk saling pandang dan berbicara dari hati ke hati. Dari tatapan mereka tersebut.
"Gak bosen sih yank, liat wajah kamu." kata Baim pada Alika.
"Masa sih, tapi aku juga gak bosen liat kamu." kata Alika menjawab ucapan Baim.
itulah salah satu ucapan yang mereka berikan saat saling tatap.
"Hey, udah dong tatap - tatapan nya. Ntar ada cicak loh." kata temannya Alika sambil menutup mata Alika dengan telapak tangan kanannya.
__ADS_1
"Ih... apaan sih, ganggu aja. Temen lagi seneng juga." kata Alika menjawab ucapan temannya dengan kesal.
"Justru karena itu, biar gak terlalu mendalam. Gak baik kan saling tatap. Lebih baik kalian berdua nih, liat wajah aku yang manis aja. Aku jamin kalian akan meleleh." kata temannya Alika dengan begitu percaya diri memuji dirinya sendiri.
"Apa manis? yang ada wajah kamu tuh pahit." kata Alika menjawab ucapan temannya.
"Kopi jadi pahit." kata temannya Alika menjawab Alika dengan cemberut.
"Ya, sejenis itu lah. Coba aja kamu bayangin. Kalau kamu semanis gula. Semut - semut pasti deketin kamu. Tapi, ini kan gak ada. Jadi kamu ini sebenarnya pahit atau manis. Bisa bedain kan." kata Alika menjawab ucapan temannya sambil membandingkan manis dan pahit.
"Standar lah, ada manis mungkin ada pahit juga." Kata temannya Alika menjawab ucapan Alika.
"Pertanyaannya juga gak ada standar, kamu ini ko aneh sih." kata Alika menjawab ucapan temannya.
"Udah, udah kita langsung ke aula aja yuk. Kasihan kalau kita datang terlalu lama. Pasti udah banyak yang kumpul di sana." kata Baim yang kemudian melerai ucapan Alika dan temannya.
"Hem... ya udah yank, yuk langsung pergi aja." kata Alika sambil menarik tangan Baim.
"Alika ko kita di tinggal sih. Jahat bener sama temen sendiri juga." kata temannya Alika pada Alika yang telah pergi bersama Baim.
"Lagi pula kalian berdua gak akan ke sasarkan. Ayo cepetan dong jalannya. Kalau mau bareng." kata Alika menjawab ucapan temannya.
"Hem... kalian berdua aja yang pergi duluan. Kita mah nyusul." kata temannya Alika menjawab ucapan Alika.
"Oke, kalian nih pengertian banget. Thank ya, udah izinin kita berduan." kata Alika pada temannya.
"Tapi, inget jangan keterlaluan berduannya. Ntar, orang ketiga nya setan loh. Gak takut emangnya." kata temannya Alika menjawab ucapan Alika.
"Nggak, kan ada Baim. Jadi, gak takut." kata Alika dengan tenangnya menjawab ucapan temannya itu.
"Terus kalau Baim ternyata takut gimana? masih mau andalkan Baim sebagai pawang." kata temannya Alika menjawab ucapan Alika.
"Em... gak mungkin lah seperti itu. Yank, kamu gak takut hantu kan." kata Alika menjawab ucapan temannya sambil bertanya juga pada Baim.
"Nggak ko yank, kamu tenang aja." kata Baim dengan percaya dirinya menjawab ucapan Alika.
Walau dalam hati ia memang takut dengan hantu. Tapi, gak mungkin dong ia bicara yang sejujur nya pada Alika. Mau di taruh di mana muka nya kalau sampai Alika tau hal itu. Sehingga pada akhirnya baik pun berbohong pada Alika.
"Tuh, kalian bisa denger sendiri kan, kalau sayang ku ini gak takut sama hantu." kata Alika menjawab ucapan temannya.
"Iya deh iya percaya. Tapi, Alika itu di pinggir kamu ko ada sesosok makhluk kasat mata ya. Bener gak." kata temannya Alika pada Alika dan pada temannya Alika yang lain.
"Hem... iya bener banget. Mana serem lagi." kata temannya Alika menjawab temannya Alika itu.
__ADS_1
Saat itu juga, wajah Baim pun mulai memerah, badan nya gemetar, mulutnya seakan terkunci. Tak kala mendengar ucapan dari temannya Alika tersebut.
Bersambung...