
Setelah pernikahannya di negeri Sakura selesai keduanya selenggarakan. Tuan Kino dan Tamarin terlihat lebih bahagia.
Tuan Kino bahkan saat itu tidak sabar ingin menjelajahi tubuh molek wanita nya. Ya, Tamarin sudah sah menjadi istri nya. Tidak ada yang perlu Tuan Kino risaukan lagi terkait cinta terlarang mereka. Skandal itu sudah usai dan berganti dengan lembaran baru.
Honey moon mereka sungguhlah sangat membahagiakan. Aksi panas yang menggairahkan itu tidak hanya sekali mereka lakukan namun berulang-ulang.
Tidak satu dua hari mereka bermalam di negeri Sakura. Satu minggu yang mereka habiskan dan semuanya indah untuk mereka lalui bersama. Menanam benih cinta mereka berdua dengan sukarela dan terlebih halal bagi mereka adalah hal yang di damba.
Tidak lama setelah kepulangan nya dari Jepang Tamarin hamil. Tuan Kino sangat bahagia, karena calon buah hati nya kali ini berjenis kelamin laki-laki dan sedikit banyak akan mengobati kepergian Fox sekaligus menggantikan Fox memimpin perusahaan nya nanti.
Berbeda dengan Nyonya Mint yang masih tidak henti meneteskan air mata dan berteriak histeris dalam waktu bersamaan di rumah sakit jiwa. Dia masih sering menyakiti dirinya sendiri. Bunuh diri adalah hal yang sering dia lakukan, namun sial nya tertolong dan tertolong hingga dia bosan melakukan nya.
Membenci Tamarin dan Kino melebihi apapun. Wanita itu bahkan tertawa saat hidupnya harus hancur ditangan mereka.
Nyonya Mint yang masih terus menjalani perawatan terkait mental nya yang depresi berat. Lain halnya dengan Fox.
Fox terselamatkan. Salah seorang dokter bedah menyelamatkan jiwa dan raganya. Sekuat tenaga memulihkan keadaan nya. Memperjuangkan denyut nadi nya.
Namun sayang, harapan nya entah sampai kapan. Fox masih koma dan dokter Cha-cha tidak bisa memperkirakan kapan pria yang terbaring itu akan bangun dan membuka mata.
Tit ... tit ... tit ...tit
Suara elektrokardiogram adalah benda setia yang menemani Fox dimana dia tengah terbaring dalam keadaan lemah.
Ya, dia koma setelah mobil Rubicon yang dia kemudi terjun ke jurang curam yang dibawahnya terdapat aliran sungai deras.
Ruangan sunyi ini selalu sepi. Hanya dokter Cha-cha yang selalu masuk guna memeriksa kondisi Fox. Dokter bedah yang menangani operasi pria dari putra tunggal bos ayah nya.
Flashback on.
"Hah? Mobil itu ada orang nya?" salah seorang wanita muda yang dengan sengaja berjalan ratusan meter guna menggeluti hobi nya. Naik gunung dan menjelajahi alam dengan berjalan kaki adalah hobi sekaligus pelarian ternikmat nya. Karena dengan lelah dia bisa langsung lelap tertidur sesampainya di rumah. Tidak ada kesempatan pikiran harian memadati isi kepala nya. Merayap dan meminta untuk dipikirkan atau diselesaikan saat itu juga.
Wanita itu kemudian berlari mendekat dan mulutnya bertambah menganga. Merapikan rambut ikal tebal nya lalu mengikat dengan karet gelang yang sengaja dia lingkarkan di pergelangan tangan nya.
__ADS_1
Berpikir lalu berjuang keras mengeluarkan sosok makhluk hidup di dalamnya, yang sudah dia duga berjenis kelamin laki-laki.
"Aaaaa..." teriak wanita itu yang ketakutan melihat wajah Fox rusak penuh luka. Banyak sekali serpihan kaca yang tertancap di bagian wajahnya. Membuat wanita itu tersengal tiba-tiba nafasnya dan sejenak memberhentikan perjuangan nya menarik tubuh pria yang dia temukan itu dari dalam mobil. "Apa dia masih hidup? Atau sudah mati?" tanya nya pada diri sendiri. "Bagaimana kalau dia mati?" Wajah perempuan itu mendadak gugup menjalar ke takut. Menengok ke sekeliling, teriak pun tidak ada yang mendengar. Hutan rimbun, semak-semak yang tingginya mengalahkan pagar istana kepresidenan. Menjerit sampai tenaga habis juga sia-sia, percuma.
Wanita itu masih berjibaku dengan sisa tenaga yang awalnya super menjadi klemar-klemer, tak bertenaga. Menjelang senja, hanya terhitung puluhan meter dia bisa membawa pria yang baru dia temukan dalam keadaan lebih tepatnya mengenaskan.
Dilihat dari kecelakaan nya saja yang melihat tingginya jurang di sisi kanan nya, hanya mukjizat jika pria ini selamat. Namun Cha-cha harus berikhtiar menyelamat kan nya. Tubuh pria ini sudah terendam air entah berapa hari. Jika saja hujan terus mengguyur dan air sungai tidak berkurang malah bertambah. Tanpa kata taruhan selamat atau tidak, pria ini sudah diketahui pasti tidak selamat.
Sekarang saja, dirinya ragu menyelamatkan pria ini. Namun setidak nya, keluarga yang menanti keberadaan jasad pria yang dibawa nya ini, mungkin berharap bisa menguburkan jasad entah apa sebutannya bagi mereka, kakak, adik, suami, om, ayah atau apapun itu dengan pantas.
Sampai malam hari, dokter Cha-cha baru sampai di rumah sakit. Perjalanan dari hutan sampai rumah sakit hanya satu jam sebenarnya. Yang lama adalah proses mengevakuasi pria ini seorang diri.
"Siapkan semuanya!" Dokter Cha-cha yang menyuruh perawat untuk menyiapkan ruangan guna memeriksa pria asing yang dia temukan itu.
"Baik dok."
Setelah semuanya siap. Dokter Cha-cha sekuat tenaga memacu jantung pria yang kini terbaring di tempat tidur pasien. Walau awalnya bukan hanya kata menyerah saja, melainkan harus diikhlaskan alias tidak akan berhasil diselamatkan. Tapi kembali lagi. Mukjizat itu benar-benar turun untuk pria ini.
Flashback off.
Dua kelopak mata itu terbangun bersamaan dan seketika. Membuka penuh menatap langit-langit kamar yang serba putih. Satu persatu bagian tubuhnya dia coba untuk gerakkan, jari-jari kekarnya perlahan terangkat dari tidur panjangnya. Mata nya juga beredar lebih namun tak menjumpai siapa pun kecuali alat-alat serius yang melekat di bagian dada dan juga ruangan layak nya rumah sakit.
Cukup lama Fox berjuang menelaah semuanya. Otak kiri dan kanan nya menyelam jauh ke belakang namun satu pun tidak ada cuplikan-cuplikan.
Satu menit berikutnya, dokter Cha-cha masuk ke ruangan itu dan seketika berhenti langkah. Melihat dua bola mata yang terbiasa terpejam dan tengah tertidur saat dia masuk dan berkunjung ke ruangan ini.
"Hei ... kamu sudah sadar?" tanya dokter Cha-cha berdiri di sisi kanan tempat tidur laki-laki itu.
Pria itu memejamkan mata sebagai isyarat. Tenggorokannya masih tercekat dan sulit untuk untuk mengeluarkan kata.
"Sebaiknya kamu minum terlebih dahulu." Dokter Cha-cha yang mengambilkan air mineral untuk diberikan kepada pria di hadapan nya.
Setelahnya meminum. "Aku dimana?" tanya nya parau dan nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Kamu di rumah sakit. Tepat satu tahun kamu koma. Apa ingatan kamu tidak buram?"
"Aku masih belum mengingat apapun."
"Tidak apa-apa. Perlahan-lahan, nanti kita coba."
Pria itu setelahnya terdiam. Mencoba menyelam namun belum mendapatkan gambaran. Namun berikutnya dia mengingat ibunya. "Ibu," imbuhnya.
"Ibu? Kamu mengingat ibu kamu? Tidak apa-apa, jangan terlalu di paksa. Aku yakin kamu akan mengingat semuanya. Karena semua sel syaraf membutuhkan waktu untuk bekerja dan terhubung pada syaraf lain nya. Apa kamu mengingat nama kamu?" celetuk dokter Cha-cha lebih dekat dengan pria itu.
Pria itu menggeleng.
"Okay, no problem. Butuh waktu untuk semuanya. Sekarang istirahatlah."
Pria itu mengangguk pelan.
Namun Fox malah tidak bisa tidur. Otaknya penuh, nafasnya sesak tatkala satu gambar dalam bayangannya menyeruak dan membuka tabir untuk ingatan-ingatan dia selanjutnya.
Fox mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan nya. "Arrgh...!" kemarahan nya menjadi dan menyakiti dirinya sendiri, dengan menangis terduduk melipat lutut sembari menarik rambutnya.
"Dokter Cha-cha. Pasien anda berteriak histeris dan menangis," ujar salah seorang perawat dengan gugup.
Dokter Cha-cha lalu bangkit dan menuju ruangan pria itu. "Kamu nggak apa-apa? Aku mohon tenanglah!" seru dokter Cha-cha dengan lembut, menyentuh punggung laki-laki itu.
"Ayah," ucapnya dengan menatap dokter Cha-cha.
"Kamu mengingat ayah kamu?" tanya nya dokter Cha-cha namun sayang, pria itu menunjukkan wajah amarah saat dia menyebut kata ayah kepadanya.
"Ayah ku menghancurkan semuanya," lirihnya membuat dokter Cha-cha ternganga.
"Maksud kamu apa?"
BERSAMBUNG
__ADS_1