
Choco merasa satu rencana nya berjalan dengan baik. Seperti nya semesta mendukung. Dia mulai mendengarkan banyak percakapan di dalam rumah besar itu.
Bahkan suara Candy yang sering terdengar di telinga nya, membuat Choco berdesir dan merindukan bocah manis itu.
Choco kemudian mengirimkan buket bunga untuk Tamarin. Menyuruh tukang ojek online mengantar nya ke rumah besar itu.
Tet
Bunyi bel pagar tinggi menjulang itu.
"Apa?" seru security yang berjaga.
"Mau antar bunga."
Security kemudian mengambil bunga yang diberikan oleh ojek online dan membaca untuk siapa bunga itu ditujukan.
"Oh, untuk nona Tamarin," ucapnya seraya berjalan masuk ke dalam rumah. "Pagi nona Tamarin," sapa security saat menemui istri Tuan nya.
"Pagi."
"Ada kiriman bunga untuk nona Tamarin." Security yang memberikan buket bunga tersebut kepada Tamarin.
"Terimakasih."
Tamarin kemudian mengambil kartu ucapan kecil yang terselip di atas bunga tersebut.
Hai...
Aku merindukan mu...
Membuat Tamarin heran mengapa tidak ada nama pengirim nya. Namun tetap saja dia membawanya dan meletak kan nya di kamar, karena dia pikir dari suami nya.
Hingga petang menjelang dan Tuan Kino pulang dari kantor. Melihat buket bunga di atas ranjang milik istrinya.
"Bunga ... Dari siapa?" tanya Tuan Kino sembari melonggarkan dasi pada kerah kemeja kantornya.
"Bukan nya dari Daddy?" tanya balik Tamarin.
Tuan Kino menggeleng dengan tangan kanan membawa dasi yang sudah terlepas dari kerah kemeja nya.
Dia bahkan membaca nya dan melirik ke arah istrinya saat membaca untaian kata si pengirim bunga.
"Kalau di lihat sih, dari pengagum rahasia kamu," imbuh Tuan Kino yang sedikit cemburu karena ternyata istrinya diam-diam memiliki fans fanatik hingga mengirim bunga yang disukai oleh Tamarin.
"Kalau begitu aku akan menyuruh bibi membuang nya, jika ternyata bukan dari Daddy."
Tamarin yang kemudian membawa buket bunga tersebut keluar kamar dan menyuruh bibi membuang nya.
Semua itu tidak luput dari pendengaran Choco. Dengan alat penyadap itu, Choco dengan sangat jelas mendengar percakapan keduanya.
"Kamu membuang nya Tamarin ... Aku pikir akan terjadi cekcok mulut sebentar, sayang nya tidak. Kalian tidak mempan karena mungkin untaian kata pada kartu ucapan itu tidaklah seberapa. Kita lihat saja besok. Apa respon kalian?" seringai licik Choco terbit. Sudut bibirnya terangkat penuh menang.
Dimana keesokan harinya, setelah mereka sarapan pagi bersama dan Tuan Kino hendak berangkat ke kantor. Tukang ojek online yang di suruh Choco mengantar buket bunga lagi.
"Buat siapa?" tanya Tuan Kino yang mengetahui jika ada tukang ojek online sedang memberikan bunga untuk security nya.
__ADS_1
"Nona Tamarin tuan," jawab security.
"Biar aku yang berikan." Tuan Kino yang kemudian mengulurkan tangan nya untuk mengambil buket bunga serupa seperti yang kemarin. Dia kemudian membaca kartu ucapan yang terselip di buket bunga tersebut.
Hai...
Aku merindukan tubuh mu...
Apa kamu tidak merindukan aku?
Aroma wangi mu pada ceruk leher mu semua bagai candu bagi ku ... Tamarin.
Dada Tuan Kino seketika terasa sesak. Mata nya masih terpaku pada kartu ucapan yang dikirim tanpa nama itu. Kepalanya semakin berasap hingga dia memutuskan kembali masuk ke dalam rumah yang sudah sejak tadi Tamarin perhatikan dari kejauhan.
Bukan lagi memanggilnya Baby, Tuan Kino yang dada nya sudah mendidih tiba-tiba marah besar. "Kamu baca ini!" Tuan Kino menyerahkan kartu ucapan di bunga tersebut. "Dari siapa jangan bohong padaku Tamarin!" imbuhnya dengan intonasi bertambah.
Tamarin bahkan tidak tahu mengapa ada seseorang berbuat seperti ini. Dengan ekspresi wajah tidak percaya, Tamarin sedih ketika suaminya tidak percaya padanya.
"Jawab Tamarin? Siapa? ... Laki-laki diluar sana yang pernah tid.."
"Stop! Jangan lanjutkan! Daddy pikir aku perempuan seperti apa? Daddy lebih percaya dengan pengirim bunga sialan ini ketimbang dengan istri Daddy sendiri?" Bersamaan di lemparnya dengan kasar bunga dalam genggaman suami nya itu.
Tamarin sedih lalu pergi dari hadapan Tuan Kino.
Tuan Kino sejenak berpikir. Menyesal dengan apa yang baru saja di lakukan nya. "Baby, aku minta maaf." Tuan Kino yang memeluk tubuh istrinya yang mulai gendut itu. "Iya ... Kamu benar, harus nya aku tidak percaya dengan pengirim bunga itu. Harusnya aku mempercayai mu, Baby," seraya memutar tubuh istrinya dan mengecup kening nya.
Sedangkan di lain tempat.
Bersamaan dengan berbaikannya mereka berdua, bersamaan pula gebrakan pada meja oleh keras nya telapak tangan Choco yang geram dan jijik dengan cinta keduanya.
.
.
Setelah meminta maaf pada Tamarin, Tuan Kino berangkat ke kantor nya. Sepanjang perjalanan dan berada di kantor, pikirannya tidak serta merta menghilangkan dari pertanyaan yang sejak tadi meng
ganggu kepalanya.
"Tuan, apa anda ada masalah?" tanya Lotte kepada Tuan Kino karena bos besarnya terlihat berbeda.
"Tidak ... Aku tidak apa-apa Lotte."
"Baiklah Tuan, pukul 10.00 WIB nanti akan ada meeting dengan PT. Sindu.
"Okay Lotte, kamu atur."
"Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi." Lotte yang kemudian keluar dari ruang kerja Tuan Kino.
Pukul 10.00 WIB tiba dan meeting di mulai. Namun tidak mengubah isi kepala Tuan Kino yang sedari tadi tidak tenang gara-gara perkara buket bunga. Meeting bahkan diambil alih oleh Lotte karena saking tidak fokusnya Tuan Kino dengan hari itu.
"Ada apa dengan anda Tuan?" tanya Lotte karena kali ini Tuan Kino terlihat tidak bergairah sejak kedatanganya ke kantor.
"Pergi saja ke ruangan mu, jangan menguntit aku. Aku butuh waktu sendiri," jawab nya tidak suka dan malas berbicara dengan siapa pun.
Hingga siang berganti petang. Tuan Kino pulang dari kantor dengan raut wajah lesu. Entah mengapa rasa tidak percaya muncul mendadak saat bait kata pada kartu ucapan dari buket bunga pagi tadi mengusik di pikiran nya.
__ADS_1
Tamarin bahkan bisa merasakan jika suami nya berbeda sikap setelah kesalahpahaman nya tadi pagi terkait pengirim buket bunga.
"Daddy tidak percaya pada ku?" tanya Tamarin memastikan jika kepercayaan suaminya tertanam penuh pada nya.
"Aku lelah, aku malas bahas perkara siapa pria yang berani kurang ajar menulis demikian."
Tamarin yang meraih jemari kembaran Brad Pitt, meminta nya mengelus perut yang semakin terlihat besar itu. "Kalau Daddy lelah, biasanya Daddy akan pamit tidur pada adik Candy," bujuknya dengan lembut. "Lupakan bunga itu dan lebih baik kita tidur," imbuhnya dengan membawa telapak tangan suaminya ke pipi kanan nya dan menyuruhnya mengusap-usap.
Perasan cemburu itu seketika musnah. Tamarin selalu memiliki cara untuk meredakan amarah nya. Tuan Kino kemudian meraih batas pipi wanita nya, *****@* bibir tebal Tamarin hingga keduanya bertukar saliva.
Sedangkan Choco. Mata Choco berkaca mendengar des@han Tamarin yang jelas di dengar oleh telinga nya lewat alat penyadap yang dipasang nya. Merasa dikhianati oleh keduanya, tidak semudah mengeja kata untuk terlihat baik-baik saja.
Malam berakhir dengan pagi dimana suasana kembali hangat. Tuan Kino bahkan berhasil melupakan perkara siapa pria yang mengagumi istrinya. Kepalanya sudah enggan memikirkan hal yang tidak-tidak dan memilih percaya sepenuhnya kepada Tamarin.
Sedangkan di tempat berbeda. Tepat nya di toko kue. Choco membelikan kue kesukaan Tamarin dan menyuruh tukang ojek online untuk mengantar nya. Seperti hal nya dengan buket bunga kemarin dan kemarin nya lagi.
"Maafkan aku mantan istri ku. Jika kepala dan perut mu akan merasakan sensasi yang berbeda setelah memakan kue dari ku," ucap Choco yang kemudian merogoh ponselnya. Memberi tahu pada bibi untuk sebaiknya dia yang menerima kue yang dikirim nya oleh ojek online.
Menyuruhnya pula supaya memotong kue tersebut dan memberikan potongan kue tersebut kepada Tamarin.
Choco juga menyuruh bibi memastikan jika Tamarin benar-benar memakan nya.
Semua perintah Choco dilaksanakan oleh bibi. Bibi tengah memotong kue dan meletakkan nya dalam piring. Membawanya dengan tangan gemetar saat menaiki anak tangga menuju ke kamar nona Tamarin.
"Apa yang terjadi dengan nona Tamarin setelah dia memakan nya?"
"Apa dia akan mati?"
"Lalu bagaimana jika ... Ah ... Tidak ... Tidak mungkin." Batin bibi yang berperang dengan keringat dingin yang mulai keluar di ujung hidung dan dahi nya.
Tok ... Tok
"Iya bi, masuk aja."
"Ini nona, sepertinya Tuan saking tidak ingin nya anda lapar. Kue kesukaan nona bukan?" seraya meletakkan potongan kue di hadapan Tamarin.
"Nanti saja bi, aku masih kenyang."
"Ini hanya sedikit, biar baby dalam perut tidak ngiler nona," bujuk bibi supaya Tamarin mau memakan nya.
"Okay." Tamarin yang kemudian memasukkan sendokan demi sendokan potongan kue kesukaan nya itu masuk ke dalam mulutnya.
"Bagaimana nona? Enak kan?" Bibi yang memastikan jika nona nya baik-baik saja setelah menghabiskan kue yang dibawakan nya.
Tamarin mengangguk.
Bibi kemudian pamit keluar kamar. Dia juga menginformasikan kepada pria pengancam jiwa raga nya itu jika tugas yang diberikan nya sudah selesai.
Namun berbeda dengan Tuan Kino yang terburu-buru ingin cepat pulang karena tiba-tiba perasaan nya tidak enak.
Dia bergegas bahkan setengah berlari meninggalkan kantornya untuk segera pulang ke rumah.
Sementara Tamarin berusaha memijit pelipisnya karena berdenyut hebat. Pandangan nya buram dan matanya berkunang-kunang dengan perut mual yang membuat nya lemas.
Tamarin perlahan keluar kamar hendak meminta pertolongan. Namun suara nya yang lirih karena menahan sakit kepala dan perut yang ingin muntah terus-terusan membuat nya hampir terjatuh dan berguling di anak tangga. "Baby..." Teriak Tuan Kino yang berlari saat melihat dari kejauhan jika ada yang tidak beres dengan istri nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG