
"Iya," jawab Choco singkat tidak mengerti apa maksud adiknya itu.
Bukan kah jasadnya tidak di ketemukan. Lalu apa maksud Candy?
Candy kemudian mengajak Choco masuk ke dalam rumah. Menarik pergelangan tangan Choco dan terlihat sekali keakraban keduanya.
"Mama ... ayo kita berangkat ke makam papa," seru Candy.
Tamarin terdiam. Dia tidak menyangka jika Candy menyeriusi nya.
Choco juga sama diam nya. "Ke makam papa?" batinnya bertanya.
"Ayo ma." Candy yang kemudian menarik pergelangan tangan mama nya.
"Iya sayang." Tamarin tidak memiliki alasan untuk mencegah nya. Jujur dia bingung bagaimana menjelaskan ke Candy perihal makam kosong yang di beri nisan dengan nama papa nya.
Ya, itu karena dulu Candy menangis setelah tahu Fox tewas dan jasad nya tidak di temukan. Itulah sebabnya mengapa Tuan Kino dan Tamarin akhirnya membuat makam kosong supaya jika Candy merindukan Fox, Candy bisa sewaktu-waktu mengunjunginya. Meskipun itu sama saja dengan membohongi putri nya.
Mobil yang ditumpangi ketiga nya akhirnya sampai di pemakaman.
Tamarin dan Candy sudah berjalan lebih dulu, sementara seluruh syaraf Choco melemah saat itu juga. Bola mata nya berkaca, air mata nya tertahan dan mengambang.
Semua menganggap dirinya sudah mati. Choco yang kemudian menyusul Tamarin dan Candy tidak kuat menyaksikan kesedihan Candy yang menangis di pusara makam nya.
"Papa... Candy rindu papa," ucap nya bocah manis itu yang membuat hati Choco ingin menangis.
Begitu juga dengan Tamarin. Tamarin juga tidak bisa membendung tangis nya. Dalam keadaan berdiri karena perut nya yang sudah agak besar, dia mengusap air mata nya dengan tisu, melihat putri nya yang begitu menyayangi Fox dan menganggap Fox adalah papa nya. Sedangkan kenyataan nya berbeda.
Namun seketika sedih itu sirna ketika Candy bercerita pada Fox jika sebentar lagi dia akan memiliki adik.
Mata Tamarin mengerjap tidak percaya. Jika hal itu pun disampaikan putrinya pada Fox di surga.
"Papa, sebentar lagi Candy punya adik. Candy tidak akan kesepian lagi. Candy janji untuk tidak menjadi kakak yang nakal. Begitu kan pa?" Candy yang terus mengajak bicara Fox seolah dia ada.
"Sayang, sekarang kita pulang ya. Besok-besok kita kunjungi papa lagi."
"Iya ma."
__ADS_1
Candy bangkit berdiri dan pamit papa nya. "Da da papa. Oh ya pa ... sekarang Candy punya om Choco yang jagain Candy dan mama. Ya kan om?" tanya Candy dengan lirikan mata ke arah Choco.
Choco tak menjawab apapun selain tersenyum. Tak ada anggukan dimana itu adalah janji baginya jika dia melakukan hal itu.
"Maafkan kakak mu ini Candy. Kakak hanya akan menjaga mu, tidak dengan mama mu ... Sekali lagi maaf," batin Choco.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah. Hati Choco berkecamuk perkara dendam nya yang sedikit banyak menemukan hambatan terkait semua celotehan Candy yang memiliki harapan besar bahwa dirinya dan Tamarin akan di jaga nya.
.
.
Hari demi hari Choco lalui bersama Candy dan menjaga Tamarin di rumah itu. Pagi itu dada nya seketika sesak, tatkala melihat keduanya nya tertawa bahagia saat Tamarin menemani Tuan Kino bermain di lapangan golf.
Terlihat sekali jika ayahnya mencintai Tamarin, karena Tuan Kino berulang kali mengecup dan mengelus perut Tamarin dimana itu adalah buah cinta mereka.
Sakitnya semakin nyata. Dengan begini dia sangat tahu bahwa wanita yang kini menjadi mantan istrinya adalah perempuan munafik dan tidak setia.
"Kalian berdua benar-benar pengkhianat," batin Choco dengan tatapan nanar nya.
Datang Candy yang berlari ke arah mereka dengan senyum lebar nya. Namun saat Tuan Kino tengah merentangkan kedua tangannya hendak menangkap Candy, Candy ternyata memilih berlari ke arah Choco yang sejak tadi berada di belakang Tuan Kino.
Sementara Tamarin dan Tuan Kino hanya bisa melongo menyaksikan kedekatan mereka berdua. Tuan Kino bahkan merasa cemburu ketika putri nya akhir-akhir ini menganggap Choco lebih dari seorang body guard.
Sepasang mata ketiga orang dewasa itu saling bertukar, tak terkecuali Choco. Dimana sejak tadi dia berjaga tidak jauh dari Tamarin dan Tuan Kino.
Candy lalu menarik tangan Choco dan mengajak nya bermain. Sedangkan Tamarin dan Tuan Kino yang terus memperhatikan mereka berdua.
Dert ... dert ...
Suara ponsel Choco bergetar. Lotte adalah orang yang melakukan panggilan tersebut. Dia mempertanyakan bagaimana kondisi rumah besar. Apakah sejauh ini aman atau ada teror lagi.
"Sejauh ini aman dan teror belum ada lagi," jawab Choco melalui sambungan telepon nya. Namun tidak pada batinnya yang mengatakan jika akan memberi mereka teror lagi supaya hidup mereka tidak akan pernah tenang.
"Okay, bagus lah. Selama aku masih mencari satu lagi body guard untuk membantu tugas kamu. Kamu harus tetap waspada pada keadaan. Karena takutnya mereka sedang menyusun rencana berikutnya untuk meneror keluarga Tuan Kino."
"Baik," jawab Choco.
__ADS_1
Lotte menyudahi pembicaraan melalui sambungan telepon nya. Begitu juga dengan Choco yang menutup ponsel nya dan tersenyum melihat Candy bermain. Biarpun isi kepalanya sudah tertera rencana berikut nya apa yang akan dilakukan nya.
Choco memerintah orang suruhan nya yang sudah sepakat untuk dia ajak bekerja sama. Yang tidak akan dicurigai oleh penghuni rumah ini karena profesi orang tersebut adalah tukang ojek online yang sekaligus merangkap menjadi tangan kanan Choco tentunya dengan imbalan besar.
Masih dengan tidak berhentinya Choco yang ingin memperhatikan sendiri bagaimana reaksi Tamarin dan Tuan Kino setelah mendapat kiriman lagi.
"Nona Tamarin, ada kiriman untuk anda." Petugas keamanan yang mengantar paket untuk Tamarin dan menyerahkan nya.
"Kiriman paket? Aku tidak pesan apa-apa."
"Tapi di sini tulisan nya kepada nona Tamarin dan alamat nya betul, nona," jawab lagi petugas keamanan.
Tuan Kino yang sejak tadi memperhatikan lalu bicara. "Ya udah di buka aja. Mana tahu kamu pas ngantuk pencet-pencet check out di aplikasi belanja."
"Apa an sih?" kesal Tamarin yang dibalas dengan Tuan Kino yang terkekeh kecil.
Tidak lama Tamarin kemudian membuka kotak tersebut. Biarpun firasatnya tidak enak karena memang setelah dia mengingat-ingat, dia sama sekali tidak melakukan pemesanan apapun secara online.
Saat membuka pun, Tamarin tampak takut dan sesekali menatap ke arah suami nya yang memberi isyarat anggukan supaya Tamarin membuka nya.
Satu detik setelahnya, Tamarin menjerit, spontan melempar kardus tersebut sembari menjauh dari benda itu. "Aaaa..." teriak nya terdengar hingga telinga Candy dan Choco.
"Mama." Candy yang menoleh ke arah Tamarin yang seperti tengah ketakutan. Bocah manis itu kemudian berlari menghampiri mama nya.
Sedangkan Tamarin masih tersengal dan menata ritme nafasnya yang tak karuan takut nya setelah melihat isi dari kotak kardus tersebut.
"Tenang Baby." Tuan Kino yang berusaha merangkul Tamarin yang ketakutan. "Choco! Kamu baca itu kertasnya!" Perintah Tuan Kino kepada Choco.
"Siap Tuan." Choco yang kemudian mengambil kertas tersebut dengan menutup hidungnya karena bau bangkai ayam yang menyengat.
"Baca!"
"Aku ... akan buat hidup kalian tidak tenang. Kalian berdua tidak akan pernah merasakan kata bahagia." Choco yang membaca tulisan dengan tinta darah ayam itu dengan penuh dendam dalam hatinya.
Sedangkan Tuan Kino dengan amarah yang semakin. Dadanya bergemuruh karena peneror itu benar-benar membuat hidupnya tidak tenang.
"Dasar pengecut! Berani-berani nya kamu mengancam ku!"
__ADS_1
BERSAMBUNG